Mr. President & Me

Mr. President & Me
24



Gentapov


Sejak ia datang dalam kehidupan dalam kami, mataku tak henti-hentinya menatapnya terkadang sesekali aku mencuri pandangan ke arahnya. Melihat dan memandangi betapa cantiknya wajahnya dari setiap sudut.


Wanita pemberani yang behasil menggetarkan hatiku, wanita itu juga yang pertama kalinya berani membentak seorang petinggi Negara dihadapanku, tak membuat ke kagumanku menghilang begitu saja.


Wanita yang selalu bermain dan pintar mengasuh seorang anak, dan ia sesosok wanita hangat dan lembut bagaikan seorang ibu yang sesungguhnya.


Jika kalian bertanya, siapa wanita tersebut? Maka akan ku jawab dia Diandra, wanitaku. Entah sejak kapan aku mulai menyukainya, mungkinkah sejak aku bertemu dengannya dirumah sewanya?


Atau mungkin saat aku dan dia sama-sama menunggu Dewa dirumah sakit? Yang jelas berkat Dewa aku telah jatuh cinta, dia wanita pertama yang berhasil meluruhrantakan hati ini, getaran yang selalu dia berikan terasa sangat menyakitkan namun aku bahagia.


Melihat dia tersenyum, tawanya, tangisannya membuatku serasa ingin egois dan tak ingin melepasnya. Namun satu hal, di dalam pesawat pribadi milik kepresidenan. Aku tertampar oleh sebuah fakta, wanita itu miliknya.


Bahkan mereka sudah melakukannya. Dadaku serasa penuh dan sesak saat pertama kalinya, aku mendengar suara desahan mereka berdua yang mengalun di sana.


Inginku dobrak dan menghajar Deva pada saat itu namun, lagi-lagi aku bertanya pada diriku. Siapa aku? Dan apa hakku? Aku tahu semua hal yang menyangkut tentang mereka bukanlah hak ku, karena aku lah yang memberikan ide gila tersebut.


Sebuah ide dimana, dia harus berperan bersama wanitaku menjadi seorang pasangan suami istri. Dihadapan media, ataupun sang anak. Terkadang aku merutuki diriku sendiri, saat mengingat betapa bodohnya ide tersebut.


Bahkan aku juga sering memergoki Deva, tengah mengecup bibir atau kening wanita itu yang seharusnya aku yang melakukaknnya. Bukan ia. Tapi malam ini entah mengapa hatiku tidak tenang, rasanya sangat sakit dan gelisah.


Hingga akhirnya aku memberanikan diri melepon Kevin, yang saat itu mengawal dan menemani wanitaku. Di detik selanjutnya Kevin mengangkat panggilan ku.


"Halo"


"Kevin kamu dimana?"


"Eum— ini aku, aku sedang menemani nona Diandra." Jawabnya dengan ragu.


Dari yang ku dengar ia meragu, yang membuat hatiku semakin bertanya-tanya.


"Kevin! Jawab yang tegas!"


"Arghh!! Nona Diandra meminta ku untuk pergi ke mall tanpa pengawalan, lalu baru sekitar 5 menit dari sana aku, aku.."


"KEVIN!!"


"MALL-NYA MENGALAMI KEBAKARAN!!" mataku membola saat mendengar ucapannya.sec


"DIMANA?"


"Lumine. Ia pergi kesana, dan mall itu kini mengalami kebakaran"


"Cepat balik!! Aku akan kesana!!"


Tut.. tut.. tut..


Aku langsung saja memutuskan sambungan kepada Kevin, saat aku mengetahui hal tersebut. Tanpa banya berpikir lagi, aku segera menyambar kunci dan jaket kulit milikku yang tergeletak di atas kasur. Secepat itu juga aku mengendarai mobil yang kupakai, membelah ke ramaian malam di Jepang.


Setibanya aku di sana, semua orang tengah dievakuasi. Aku berlari sambil terus memperhatikan orang-orang yang keluar satu persatu dari dalam gedung, namun aku belum melihat batang hidung miliknya.


Hingga tak lama aku melihat Kevin yang sepertinya ia juga mencari sesosok yang sama. Hatiku terus-menerus tidak tenang. Hingga ku putuskan untuk mencarinya di dalam.


Beberapa petugas pemadam mencoba menghalangiku masuk, namun tak aku hiraukan. Aku terus berusaha untuk menerobos masuk, hingga akhirnya aku berhasil lolos dan masuk ke dalam gedung yang sudah hampir kebakar dilalap habis oleh sijago merah. Aku membuka jaketku, lalu ku tutupi hidungku dari asap hitam yang hampir memenuhi gedung ini.


Aku tak bisa melihat apapun di depan sana, jadi ku putuskan terus berjalan dan mencarinya. Berkali-kali, aku menghindari api dan beberapa reruntuhan bangunan toko yang sudah hangus terbakar.


Kemudian setelah 5 menit aku berusahan mencarinya, akhirnya aku menemukan dia yang sudah tergelepak tak sadarkan diri dilantai.


Dengan cepat aku berlari mendekat, dan langsung menyandarkan tubuhnya didadaku, astaga dia sudah benar-benar lemas.


"Diandra, Diandra." Panggilku untuk membangunkannya. Namun sayangnya dia tetap tidak bangun.


Lalu aku kembali bangkit dan berjalan keluar sambil menggendong dirinya, sesekali aku berhenti saat balok-balok api yang tiba-tiba jatuh dihadapan ku.


Selanjutnya aku kembali melangkah, namun sialnya baru saja aku melangkahkan kakiku sebuah balok datang dari arah depan.


Langsung saja aku berputar untuk melindungnya, tapi sialnya balok kayu yang sudah terbakar itu mengenai pungguku.


Aku sedikit meringis, saat rasa panas dan nyeri datang bersamaan. Aku yakin bajuku robek karena kebakar oleh balok yang sudah menjadi arang panas.


Setelah cukup meringis, aku kembali berusaha bangkit. Walau rasa sakitnya masih mendera tubuhku. Namun kubaikan, karena aku ingin wanitaku ini selamat.


Hingga tak lama akhirnya aku berhasil keluar dari sana, bahkan aku juga bisa merasakan jika disekujur tubuhku mengalami luka bakar. Setelahnya para pemadam dan medispun datang, mengambil Diandra dan meletakannya ditandu.


Sebagian lagi memintaku untuk ikut kerumah sakit, agar mereka bisa mengobati luka bakarku. Aku menyetujuinya, namun saat aku hendak berbaring ke brankar aku bisa melihat Deva dengan tatapan yang marah atau entahlah itu.


Yang jelas aku akan melindunginya jika ia tak mampu untuk melindunginya, walau jika itu harus membayarnya dengan nyawaku sekalipun aku akan tetap melakukannya.


Gentapov end


***


Authorpov


3 hari kemudian,


Sinar mentari perlahan mulai memasuki sela-sela tirai dikamar pasien, bahkan sinarnya perlahan mulai mengenai wajah dua insan yang tengah tertidur disatu ranjang yang sama.


Jari-jari tangannya mulai bergerak kecil, menandakan jika ia akan segera bangun dari tidur yang panjang. Bola tanya yang masih terhalang oleh kelopak matanya juga mulai bergerak, hingga sang kelopak mata itu membuka sedikit demi sedikit untuk membiaskan cahaya yang masuk ke dalam retinanya.


Setelah matanya terbuka lebar, matanya kembali menyelusuri ruangan yang asing untuknya. Hingga tak lama dia menangkap satu pemandangan, dimana disampingnya terdapat seseorang yang ia kenali sedang tertidur pulas dengan satu tangan yang melingkar posesif ditubuhnya. Wanita itu tersenyum sejenak, menatap wajah tegas dari pria itu sangat mengasikkan.


Perlahan tangannya mulai bergerak menyentuh setiap lekukkan yang ada pada wajah pria tersebut, namun gerakkan berhenti saat jarinya mulai menyentuh bibir tebal milik sang pria.


Dia terkekeh kecil, saat mengingat bagaimana bibir ini dengan nakalnya mengecup bibir miliknya saat dia sedang tidur. Dengan gemas ia menyentilnya.


"Ini bibir nakal yang suka mencuri kecupan tiap malam," gumamnya lalu dia terkekeh.


Lalu dia beralih pada mata, "kalau yang ini. Mata genit yang suka curi-curi pandang walau ujung-ujungnya ketahuan." Astaga sepertinya dia benar-benar menyukai semua yang ada pada diri pria ini hingga tak lama.


"Kalau ini tangan yang nakal yang akan memelukmu dengan posesif." Tunggu itu bukan Diandra yang bersuara, melainkan Devalah yang bersuara.


Ya, Diandra tersentak saat tangan nakal Deva kembali mengeratkan rengkuhanya pada pinggang Diandra. Lalu dia kembali berkata, "aku tidak suka jika ada yang menyentuhmu selain aku." Tegasnya.


Diandra menyerit, "Maksudnya?"


"Kamu itu. Masih kurang jelas apa?... saya tidak suka kamu disentuh oleh orang lain selain saya, karena kamu milik saya." Diandra menerjap.


Lalu dia menarik sudut bibirnya, "Memangnya sejak kapan saya jadi milik bapak. Bukankah bapak tidak menyukai saya?"


Chup~


Tanpa diduga Deva mengecup bibir Diandra singkat lalu bersuara, "Saya menyukaimu. I love you."


Oh apa ini? Apakah Deva mulai mengakui perasaanya? Atau Deva yang membuat pengakuan sekarang?


Karena pasalnya setelah mengatakan itu dia kembali menyembunyikan wajahnya di dalam cengkuk leher Diandra. Dan Diandra dia buat gemas olehnya.


Authorpov end


TBC