Mr. President & Me

Mr. President & Me
26



Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Tanpa kecerdasan, cinta itu tak cukup. -- B.J. Habibie.


***


Kini kami sudah kembali ke Negeri kami tercinta, karena pasalnya beberapa jam yang lalu. Tiba-tiba saja Deva mendapatkan panggilan, dari para anggota dewan pemerintah.


Mereka mengatakan jika, para investor asing berbondong-bondong mencabut nilai investasi mereka di Negara kami. Sehingga banyak dari mereka para pekerja harus rela di-phk secara masal.


Aku kini sedang duduk disofa empuk sambil sesekali memperhatikan Deva yang masih sibuk dengan berkas, dan beberapa panggilan yang masih setia menempel ditelinganya.


Aku mendesah pelan. Sungguh sebenarnya ada beberapa hal yang membuat aku merasa kasihan dengannya. Terutama akan fisiknya, aku yakin dia pasti kelelahan.


Aku menatapnya dengan rasa iba, pantas saja dia jarang meluangkan banyak waktu dengan kedua anaknya. Aku beranjak dari posisi dan mendekatinya.


Lalu perlahan tangan ku terulur menyentuh pundaknya. Dia tersentak kaget, lalu mendongak menatapku.


"Kau tidurlah duluan, aku masih banyak pekerjaan ... Apa kau sudah meminum obatmu?" aku tersenyum.


"Sudah, semua sudah ku lakukan."


"Maaf, maafkan aku. Karena ini kau jadi ku abaikan." lirihnya.


Aku menggeleng, "mau aku pijat?"


"Boleh. Tapi jangan kencang-kencang ya?" lalu ku angguki perkataanya.


"Memangnya kau pikir, aku hulk. Sekali ku pegang langsung remuk!" dia tertawa kecil.


Setelah mengatakan itu, tanganku perlahan mulai bergerak untuk memijat pundaknya. Melemaskan otot-otonya yang kurasa sudah kaku. Saat aku masih terus melakukan pijitan tersebut.


Dia semakin menyandarkan tubuhnya pada kursi kerjaanya. Bahkan sepertinya perlahan dia mulai menikmati pijatan yang ku berikan padanya. Hingga tak lama dia berkata.


"Terima kasih. Karena sudah hadir dalam hidupku. Aku tahu mungkin pertemuan awal kita tidak terlalu baik. Namun ku pastikan, itu akan menjadi akhir yang indah untuk ku dan kamu." aku hanya diam tak menjawab.


Rasanya tiba-tiba saja dadaku terasa penuh dan sesak. Bahkan mataku perlahan mulai mengabur, sebab bendungan air mata yang siap meluncur kapan saja. Ku alihkan pandangku menatap luar jendela. Lalu aku membalasnya.


"Kau ingat? Bukankah, bapak sendiri yang bilang saat perjanjian kontrak kita berlangsung. Saat itu bapak bilang--" ucapku terpotong olehnya.


"Hentikan! jangan bahas masalah kontrak konyol itu lagi" dia berbalik menghadapku "... dengar, saya tahu ini mungkin gila. Tapi pengakuan saya waktu itu, benar-benar tulus dari lubuk hati saya... Jadi, saya mohon. Pikirkan lagi, tanyakan itu pada hatimu? apakah kau juga mencintaiku? atau tidak?"


Hening. Semua menjadi hening seketika. Kami saling bertatapan dalam diam. Bahkan tangannya masih setia, menggengam kedua tanganku.


"Aku tidak tahu.. apakah aku mencintaimu atau tidak? ... hanya saja, masih ada keraguan dihatiku. Maaf," final ku.


Aku menarik undur kedua tanganku, yang dia genggam. Setelahnya aku berjalan, keluar dari ruang kerjanya. Saat pintu itu tertutup, aku menyenderkan tubuhku pada dinding kokoh istana kepresidenan ini.


Perlahan tanganku, mulai menyentuh dada ku yang entah kenapa berdegub tak karuan. Membuang napas dalam berkali-kali, saat rasa sesak itu datang. Tak mampu mengusirnya. Aku masih tetap bisa merasakan sakit itu.


Hingga tak lama, seorang pelayan datang menghampiriku. Dia membungkuk sejenak lalu, dia berkata. "Apa bapak, ada di dalam?"


Aku mengangguk. Lalu sedikit mengeser tubuhku, dan mengizinkan pelayan itu masuk ke dalam ruang kerjanya.


Setelah pelayan itu masuk, aku berniat untuk kembali ke dapur dan membuat sesuatu cemilan untuk anak-anak. Namun, baru saja di anak tangga ke 5.


Suara derap langkah kaki Gitra, terdengar. Anak itu berlari senang, saat melihat seorang perempuan sedang duduk manis diruang tamu.


Aku hanya terdiam membeku saat Gitra mengucapkan nama seseorang yang sangat mustahil dalam benakku.


"MAMA!!" pekiknya.


Wanita itu berbalik dan tersenyum hangat khas dirinya. Aku menerjap berkali-kali. Tidak! aku pasti salah lihat! bagaimana bisa dia?


Hingga tak lama, aku bisa mendengar suara Deva yang berlari dengan semangat mendekati wanita itu. Bahkan, dia melewatiku seolah aku ini patung.


"Bagaimana bisa? kau," ucapnya sambil menelisik seluruh tubuh wanita itu. "... Kau, kau masih hidup. Lentera!"


Ya, wanita itu adalah Lentera. Cinta pertama dan terakhir, lalu aku? Mimpi burukku 2 hari yang lalu akhirnya menjadi nyata.


Wanita yang dia cintai, wanita yang mengubah dunianya di masalalu dan seorang wanita yang kini telah menjadi ibu dari anak-anaknya kembali.


Seakan ada sebuah lem yang menempel dikedua kakiku, aku masih tetap berdiri disana. Oh Tuhan, lihatlah. Betapa bahagianya kedua orang itu memeluk wanita yang berada dihadapannya.


Hingga tanpa ku sadari air mata yang sejak tadi ku tahan akhirnya mengalir.


"Mamah, kenapa diem aja disitu?" aku menoleh ke asal suara.


Dewa sedang menatap dengan penuh keheranan ke arah ayah dan kakak perempuannya, namun tak lama dia kembali menatapku penuh tanya.


Wanita itu tersenyum sejenak, lalu dia perlahan mulai berjalan ke arah Dewa. Hingga, "Hai, putraku." sapanya dengan lembut.


Dewa melangkah mudur, "Kau siapa?"


Wanita itu sedikit terkejut, dan menatap tak percaya pada Deva.


Hingga kemudian, Dewa berlalu melewati wanita ini. Dia berjalan ke arahku yang masih terdiam kaku.


Dipersekon selanjutnya, Dewa berkata.


"Mama, ayo bantuin Dewa belajar." ajaknya dan menarik tangan ku untuk memaksaku mengikutinya.


***


Kini aku sedang berada dikamar Dewa dengan pandangan kosong, aku terus terdiam. Hingga helaan napas kasar Dewa terdengar, "Kenapa melamun terus. Ajarin Dewa," aku menerjap.


"Eoh!! ... Eoh, maafkan mama sayang. Tadi sampai mana?" dia bersedekap dada.


"Hey, kenapa Dewa?" Dia mencebikkan bibirnya.


"Mama kenapa gak bisa fokus sih! Besok itu Dewa ada ulangan. Ayo, ajarin!" rengeknya.


Aku tersenyum, lalu kucubit pipi gemasnya. "Baiklah, pangeran."


Dia tertawa, namun disaat kami sedang tertawa. Sebuah ketukan dan suara dari seseorang membuat tawa kami menghilang. "Apa aku boleh masuk?"


Aku melirik sekilas ke arah Dewa, "Masuklah," jawabku.


"Hai, Dewa. Anak mama," katanya saat sudah sejajar dengan tubuh Dewa.


Anak itu melompat turun dari kursinya, "Dia mamaku. Kamu siapa?" tanyanya sambil memeluk kedua kakiku.


"Aku mama mu, ibu yang melahirkan Dewa." Dewa menggeleng.


Namun saat tangan wanita itu ingin menyentuh Dewa. Anak itu menepisnya, sehingga membuat wanita itu sedikit terkejut. "JANGAN SENTUH AKU! KAMU BUKAN MAMA KU!"


Astaga!


Sungguh aku terkejut, bukan main. Saat suara bentakkan Dewa terucap.


"KELUAR!! JANGAN GANGGU AKU!"


Aku memeluk tubuh Dewa berusaha, menenangkan anak itu. Ya, baru pertama kalinya. Aku melihat Dewa semarah ini.


Bahkan anak itu gemetar ketakutan, lalu tak lama Deva datang dan terkejut.


"Ada apa ini?!"


Saat aku hendak akan mengatakannya, wanita itu malah menangis. "Dewa.. Hiks, ini mama sayang.." dia menatapku tajam.


"Kenapa kamu menghasut anak ku? dia masih kecil, dan kamu bukan ibunya... Sayang, dia meracuni pikiran Dewa putra kita."


Aku menggeleng pelan, "BUKAN SALAH MAMA DIANDRA. TAPI DIA, DIA BERUSAHA MENYAKITIKU."


"DEWA CUKUP!!" Saat mereka hendak keluar aku bisa melihat, jika ia ber-seringai jahat diwajahnya.


Seolah, ia sedang mengatakan jika sekarang adalah waktunya ia kembali dan itu artinya aku harus pergi.


TBC