
"Dewa, kamu pulang ya?"
"Engga mau tante," jawabnya dengan bibir yang mengerucut di akhir.
Gue berjalan mendekat, "kenapa gak mau? Kan di sana ada keluarga Dewa, lagi pula kita baru kenal. Kamu gak tahu, kalau nanti misalnya kamu tante jual ke orang. Atau tante ambilin organ dalem kamu buat tante jualin ke pasar gelap?" dia menggeleng.
"Emangnya tante bisa ngelakuin itu?" what? Gue ditantang ama ini bocah.
"Bisa aja, kan di sini ada tante Mutia. Dia itu pembunuh berdarah dingin dan gak berperasaan sama anak-anak." Bohong gue dan gak lama bocah itu ketawa.
Gue menyerit, "tante ketahuan banget bohongnya, Ahahaha."
Dih ini anak, sedangkan Mutia yang di sebrang sana udah ngasih tatapan maut. Seperti orang yang sedang mengatakan, 'sialan lo! Ngatain gue pembunuh berdarah dingin.' Gue cuman bisa menyengir kuda, sebagai balasannya.
"Pulang ya, nanti tante beliin apa aja yang Dewa mau?" bujuk gue.
Ya, gue harus pulangin ini anak sebelum semua jadi kacau kaya kemarin. Tapi lagi-lagi ini bocah mempoutkan bibirnya sambil bersedakap marah. Terus tak lama, Mutia menarik tangan gue untuk sedikit menjauh dari anak itu.
"Gini aja, kita tunggu sampe anak itu tidur pules. Terus diem-diem kita bawa dia balik kerumahnya." Cetus Mutia.
Gue langung memeluk Mutia, "aduh Mut kenapa baru sekarang, otak lu bekerja. Jadi kan gue gak perlu pusing kaya begini." Kata gue dan itu dibalas dengan pelototan tajam dari Mutia.
"Hehehe.. Sorry."
Bener kata Mutia, tunggu sampe ini anak tidur baru kita bawa pulang. Astaga, kenapa gak kepikiran dari tadi? Gue merutuki diri sendiri, emang kadang otak gue jadi ke bawa lemot kalau udah main bareng sama Galang and the geng. Dan kini perlahan, senja mulai menghilang diperaduan.
Malam ini gue, lagi bersiap untuk balik lagi ke istana kepresidenan. Karena pasalnya, sejak seharian ini anak bungsu Mr. Presiden yang bernama Sadewa ini masih ada sama gue. Dan bahkan ini anak, masih keukeh engga mau pulang kerumahnya. Alhasil mau tidak mau, gue sama Mutia bersepakat untuk nunggu anak ini sampai tidur dulu.
Baru deh gue bawa dia pulang, dan saat sambil menunggu gue juga mencari kartu nama si ajudan pribadinya itu. Walau gue sudah berusaha mencoba cari nomer telepon ajudan pribadinya, yang bernama Genta itu.
Tapi sialanya, gue lupa naruh kartu nama itu dimana. Alhasil gue nekad aja, semoga mereka gak salah paham lagi sama maksud kedatangan gue. Perlahan gue mulai menggendong Dewa seperti bayi koala.
"Hati-hati ya lo, jangan sampe nimbulin masalah." Gue mengangguki perkataan Mutia.
Gue mulai melangkah keluar meninggalkan rumah sewa, setelah gue ada di depan jalan gue langsung menghentikan taksi dan taksi itupun berhenti. Setelahnya, gue memberitahu si supir itu untuk menuju lokasi tujuan. Saat lokasi tujuan gue terucap, ekspresi si supir kaya orang bingung.
"Eneng, serius mau pergi ke istana kepresidenan malem-malem begini. Bukannya kalau malam, di sana itu sudah tutup ya untuk jadwal kunjungannya." Gue cuman bisa tersenyum.
Percuma juga masalahnya, kalau gue jelasin dia akan butuh waktu yang lama dan panjang hanya untuk sekedar cerita. Lagi pula, dia bakal tahu nanti kalau anak yang lagi gue gendong ini anaknya presiden. Dan dia bakal nyangka gue nyulik ini anak lagi, aduh makin rumit.
"Eoh itu, saya ada urusan pribadi dengan salahsatu ajudannya. Yang kebetulan suami saya." Laki mana yang elu akuin jadi suami lu Diandra.
Si supir itu cuman melihat ke arah gue, melalui kaca spion yang mengarah ke kursi belakang. Lalu dia berkata. "Oalah.. si adek rindu toh sama ayahnya ya?" tebaknya.
Gue menghela napas lega, "Hehe,, iya nih." Balas gue kikuk.
***
Tidak lama kemudian, akhirnya gue sampe di depan pintu istana ke presidenan. Gue perlahan berjalan mendekat, ke mana yang jaga ini pintu. Gue melihat, ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan para penjaga.
Tapi karena gue berdiri di sini udah cukup lama, jadi gue masuk gitu aja ke sana. Dan ke betulan pintu pagernya tidak dikunci. Jadi gue dapet dengan mudah akses masuk ke dalam sana. Karena wilayah istana ke presidenan ini cukup luas dan terdapat 3 bangunan rumah, jadi gue bener-bener bingung mau masuk ke rumah yang mana.
Anehnya aja otak gue kaya muter sebuah klise ke jadian tadi pagi, Dimana salah satu penjaga mengatakan jika kita hanya boleh memasuki rumah pertama saja. Karena rumah kedua dan ketiga, adalah rumah yang dihuni oleh keluarga ke presidenan yang saat ini masih memimpin.
Ya, dan itu artinya gue harus berjalan melewati bangunan pertama rumah besar putih ini. Udara dingin dan pohon-pohon besar yang menghiasi area kepresidenan ini, sukses membuat bulu kuduk gue berdiri. Perlahan gue berjalan dengan rasa takut, apalagi saat suara hewan nocturnal mulai berbunyi.
"Aduh Dewa kamu bener-bener deh, kalau sampai nanti tante dipenjara cuman gara-gara kamu. Awas aja!" sambil sesekali gue mempercepat langkah kaki.
Setibanya gue di depan rumah kedua, perlahan gue mulai mengatur napas. Lalu gue hendak mengetuk daun pintu, tapi lagi-lagi pintu itu tidak terkunci. Ya, pintu terbuka saat tangan gue mulai menyentuh permukaannya. Astaga pada kemana sih para penjaganya.
"Aduh makin buat gue jadi kaya maling beneran ini." Gerutu gue.
Tapi bodoamat lah, yang penting setelahnya. Gue bisa pulang dan tidur dengan nyenyak, perlahan gue mulai melangkah masuk. Dengan melihat sekeliling gue berusaha mencari kamar ini anak. Saat tiba di sebuah lorong yang hanya berisi pintu-pintu semakin membuat kepala gue pusing.
"Oh ayolah, masa sekarang gue harus nebak pintu kamar Dewa yang mana?" kesel gue.
Gue mulai berjalan mendekati pintu pertama yang ada di kedua sisi gue, satu pintu tertutup rapat. Dan satu lagi pintu itu terbuka sedikit, gue lebih milih yang kebuka sedikit pintu kamarnya. Siapa tahu, ini kamar Dewa. Tapi sayangnya, gue malah melihat apa yang seharusnya gak gue lihat.
Sepasang kekasih yang lagi asik berolahraga dimalam hari. Ya, kalian pahamlah maksud gue. Gak perlu di jelasin lagi. Jadi gue putusin buat mengabaikan mereka yang lagi asik mengais kenikmatan malam yang dingin ini, supaya mereka saling menghangatkan. Ish, astaga Dra otak lu itu mesti dicuci ama baiklin ini sepertinya.
Akhirnya gue kembali berjalan ke pintu ke sebelahnya, namun saat gue hendak meraih gagang pintu itu. Suara berat dan dingin mengintrupsi gue buat terdiam kaku, "HEY, Siapa di sana? Kamu maling ya!!"
Deg!
Tubuh gue langsung terlonjak kaget, dan lebih lagi jantung gue bekerja dua kali lebih cepat. Ya, gimana gak mau berdegup lebih cepat. Karena pasalnya derap langkah kaki mulai terdengar mendekati gue.
Hingga, "Dewa??"
Gue berbalik dan membulatkan matanya, saat melihat wajah dingin dan kaku dari pemimpin negeri ini. Ya, dia adalah OSH si Mr. President. Ayah dari Dewa, bocah yang lagi gue gendong.
“KAMU MAU MENCULIK ANAK SAYA!!" tuduhnya.