Mr. President & Me

Mr. President & Me
37



5 tahun kemudian,


Helaian daun maple yang gugur turun ketanah menjadi tanda sebentar lagi musim salju akan tiba. Gemerisik terinjak oleh diriku dan juga Clara.


Semakin menjadi tanda bahwa hampir sebagian besar jalanan sore ini, sudah dipenuhi oleh helaian daun berwarna merah berpadu oranye tersebut.


Sejak tadi hanya ada keheningan di antara kami. Apalagi, kami berdua terkenal tidak terlalu akrab ditempat bekerja kami saat ini. Namun sialnya, sore ini aku harus berbagi taksi dengannya. Karena sebagian supir taksi sudah mengambil cuti mereka.


Ya, harus ku akui. Sebentar lagi, natal datang. Dimana, momen itu akan dihabiskan untuk berkumpul dan saling bertukar kado kepada sanak saudara.


Sedangkan aku tidak, aku seorang muslim. Namun akan selalu ada tetangga di apartemenku yang datang disaat malam datang, hanya untuk sekedar memberikan kue kering yang mereka buat ataupun hadiah sebagai mana bentuk rasa kasih sayang mereka terhadap sesama.


Aku bersyukur sejak ku putuskan untuk pergi dan meninggalkan negeriku, aku banyak belajar arti sebuah kesendirian dan berjuang tentunya. Hingga tak lama, aku mendengar suara helaan napas panjang dari Clara untuk memecah keheningan kami.


"Apa itu benar?"


Aku meliriknya, "tentang?!"


"Tentang kau yang seorang pembunuh?" aku tersenyum kecut.


Lalu tanpa ku sadari aku sedikit tersenyum simpul padanya, "Jika ya? apa kau percaya?"


Dia menggeleng, "tapi kenapa kau masih bertanya?"


"Hah!! aku hanya penasaran. Sejak 2 tahun aku mengenalmu, aku baru tahu jika selama ini kau menyimpan begitu banyak rahasia. Termasuk hal itu." tuturnya dan aku harus akui itu benar.


Selama aku tinggal dikota Paris, memang banyak sekali kenangan yang ku tinggal dan ku kunci jauh di dalam lubuk hati. Terkadang, aku merasa tidak pantas untuk menceritakaannya tapi terkadang aku butuh teman agar aku tidak kesepian.


Ya, walau baik Mutia ataupun Genta suka datang 2 minggu sekali ke Paris. Tapi tetap saja, waktuku akan jauh lebih banyak. Menghabiskan waktu seorang diri. Aku juga tidak mengerti bagaimana gosip itu bisa beredar.


Dimana, seseorang telah membuat gosip jika aku memeras seorang pemimpin di Negeriku hanya untuk hobby gilaku itu. Bahkan, yang lebih parahnya.


Mereka juga mengatakan jika, setelah kontrak penjanjian itu usai aku masih terus memerasnya. Bahkan disaat anaknya, dalam kondisi koma. Aku sangat tahu, siapa yang mereka bicarakan.


Tentu saja siapa lagi, jika bukan Deva. Dan ku dengar, dari mereka yang menonton televisi siaran Negera ku. Bahwa Deva sudah kembali menjabat, bahkan dia akan segera menikah dengan Lisa.


Awalnya aku sempat tidak percaya, namun setelah itu ternyata ada satu fakta yang terungkap. Jika Lentera yang selama ini aku lihat.


Bukanlah Lentera yang sesungguhnya, alias kembarannya yang sangat mirip menyerupainya. Ya, namanya adalah Sativa Alenna. Wajah mereka, porposi tubuh mereka dan cara mereka tersenyum sungguh tidak dapat dibedakan.


Hanya saja nasib merekalah, yang membedakannya. Sejujurnya sejak aku tinggal di Paris, aku memang lebih memilih untuk menghabiskan waktu untuk belajar dan bekerja tentunya.


Jadi tidak ada lagi waktu untukku sia-siakan, hanya untuk sekedar berbelanja atau bermain internet. Dan ya, aku kini sudah lulus dari sekolah designer. Sekarang akupun seorang designer, yang kapanpun aku mau, aku akan membuat baju khusus untukku seorang diri.


Hingga tak lama aku kembali berbicara.


"Ya, kau benar. Aku memang banyak menyimpan sesuatu dari kalian semua. Tapi percayalah, jika bukan aku pelaku yang sebenarnya?"


Dia menyerit, "lalu siapa pelakunya?"


Ku kedikkan bahuku asal, "entah. Yang jelas siapapun pelakunya, kuharap dia tidak akan pernah tenang dalam hidupnya."


"Kenapa kau berbicara seperti itu? memangnya siapa dia bagimu hingga, kau berharap seperti itu?"


"Sebab ia telah melukai anakku."


"WHAT?!!"


****


Malam harinya. Hawa udara dingin semakin menyebar, sangatlah dingin. Bahkan, tadi aku sempat melihat berita sekilas ditelevisi bahwa sepertinya salju pertama bulan ini akan segera turun.


Turunnya salju pertama selalu membuatku bersemangat. Karna ini adalah Paris, kota dengan sejuta warna dan cinta. Aku terus merapatkan jaket tebalku yang sudah ku kenakan hingga 3 lapisan di dalamnya.


Sesekali aku menggosok, kedua tanganku agar lebih hangat.


Seperti biasanya, sebelum pergi tidur. Aku akan pergi dahulu mengunjungi cafe milik Annisa teman kuliahku dulu. Namun baru saja aku hendak akan membuka pintu cafe milik Annisa, suara decitan ban yang tergelincir. Mampu mengalihkan intensitas mataku.


Astaga! apa baik-baik saja. Aku melangkah mendakati mobil tersebut. Lalu kutempelkan wajahku, untuk memeriksa keadaan orang yang berada di dalam mobil tersebut. Mataku membola, saat melihat sang pengemudi yang bersandar pada stir mobil.


Tidak! jangan bilang jika dia pingsan dengan bergerak cepat, aku ketuk kaca jendela mobilnya. Berkali-kali itu juga aku tidak mendapatkan respon, hingga akhirnya aku berlari masuk ke dalam cafe untuk meminta bantu kepada siapa saja karyawan cafe yang masih bertugas disana.


Lalu setelahnya, karyawan tersebut keluar bersamaku. Ia dengan cepatnya menyelipkan sebuah sendok disela kaca mobilnya, setelahnya ditekan dan Trak! kaca mobilnya pun pecah. Sehingga pintu mobil itupun bisa dibuka dari dalam.


Aku bergerak mencari celah, untuk bisa melihat kondisinya. Namun sayangnya, tubuh dari karyawan yang tadi membantunya terlalu besar dan tinggi sehingga aku yang lebih pendek darinya pun terhalangi.


"Tck, tinggi bener sih jadi orang!" gerutuku.


Hingga setelahnya, karyawan pria tadi berbalik sambil memapah tubuh seseornag yang tak asing untukku. Dan benar saat, wajah itu terlihat.


Seketika aku terpaku.


Tidak! kenapa harus dia? kenapa di dunia yang luas dan besar ini, harus lagi bertemu dengannya. Namun saat, dia hendak melewati ku dengan tubuh yang lemas dan wajah yang sedikit terluka akibat dia yang tergelincir. Mampu membuatku meneteskan airmata.


"Diandra~" panggilnya dengan lemah.


Sedangkan aku, hanya diam mematung ditempatku saat ini.


Tidak! aku mohon, jangan panggil aku. Jangan membuatku goyah! aku sudah melupakanmu Deva. Aku sudah bahagia dengannya. Kenapa? kenapa kau datang lagi dalam hidupku? Batinku berperang seorang diri.


"Hey, kenapa kau diam?" aku menoleh ke arah sumber suara.


Lalu aku langsung segera, berhambur ke dalam pelukkannya. Aku bisa merasakan, jika sepertinya dia tersentak kaget karena responku yang tiba-tiba saja langsung memelukknya. Hingga.


"Hey.. hey.. Kau kenapa?"


Aku menggeleng di dalam dekapannya, namun dia yang tak percaya mampu membuatku memandangnya. Dengan menangkup kedua pipiku, dia kembali berkata.


"Kau kenapa? jawab aku? Kumohon jangan berbohong." tegasnya.


Aku menatapnya dalam, "Dia, ... dia datang kembali!"


"Siapa?"


"... Deva!"


Di persekon selanjutnya, matanya membulat dengan sempurna. Lalu, napasnya berubah menjadi mengebu-gebu. Ya, pria itu adalah Genta. kekasihku!


TBC*