
Sungai seine dimusim gugur seperti saat ini. Sangatlah sepi, tidak seperti disaat musim semi ataupun panas. Pemandangan indah yang selalu menjadi sport favorit untuk pemuda-pemudi yang bercinta.
Memang berada di depan mataku. Jarak dari kantor menuju tepian sungai seine, hanya berjarak beberapa meter kedepan mampu menghipnotisku.
Cokelat panas yang ku letakan di atas nakas, sudah ku tandaskan lebih dulu. Memang yang lebih nikmat dimusim dingin seperti ini hanyalah minuman serba panas. Sejenak, ku alihkan intensitas mataku menatap pemandangan diluar.
Ya, memang benar aku berkerja di kantoran, tapi lebih tepatnya bekerja dirumah mode terbesar di Kota Paris. Karena gedung mereka yang besar mirip dengan gedung perkantoran.
Mampu membuat siapa saja mengetahui gedung tersebut, terutama pencinta fashion sepertiku.
Louis Tan, siapa yang tidak mengenal brand mahal dan ternama dunia itu. Menjadi tempatku mencari uang, disaat yang lain bermimpi menjadi bagian dari Louis Tan. Tapi justru merekalah yang memperkerjakan aku. Dan aku sangat beruntung bisa masuk menjadi karyawan designernya.
Tanganku terus bergerak untuk menggambar sebuah pola, lalu perlahan berubah menjadi sebuah rancangan baju. Setelahnya aku ingin memberikan sentuhan warna agar terlihat indah, dan menajubkan.
Namun baru setengah aku merwarnai rancangan bajuku. Seseorang datang, dan mengatakan jika seorang tamu sangat menyukai rancangan milikku. Aku menganggukinya.
Lalu, aku beranjak dan segera menemuinya. Setibanya dibawah tubuhku terdiam kaku, saat melihat siapa yang ingin menemuiku. Dia, pria dimalam itu. Pria yang ku tolong karena mobilnya tergelincir oleh jalanan yang dingin. Dia tersenyum lebar padaku hingga.
"Kenalkan dia perancang yang membuat jaket tebal, yang anda kenakan saat ini tuan." katanya menggunakan bahasa Perancis.
Dia mengangguk, "Hai, senang bisa bertemu denganmu?"
Aku tak membalas jabatan tangannya, sungguh lidahku sangat keluh saat ini. Aku menerjap berkali-kali. Lalu, dia meminta sedikit waktu pada para pegawai yang tadi melepaskan jaket tebal yang ku buat 3 bulan lalu.
Dia berjalan mendekat. Lalu dia kembali bersuara.
"Apa kabarmu? Apa semua baik-baik saja?" tanya dan aku masih asik terdiam ditempatku.
Aku menggeleng kecil, untuk membuyarkan keterdiamanku. "ada apa? apa yang kau lakukan kemari?"
Wajahku aku normalkan kembali, dengan datar dan dingin. Aku berjalan melewatinya, saat tangannya hendak akan menyentuhku. Aku bisa mendengar dia menghela napas lelahnya, lalu tak lama dia kembali bersuara.
"Aku ingin mengobrol denganmu?"
Aku menghentikan langkahku, "ya sudah katakan saja disini. Aku tidak punya banyak waktu."
Dia melangkah, lalu dia menarikku untuk ikut duduk disofa yang disediakan oleh pemilik rumah mode ini. Setelah duduk, ku geser sedikit posisi dudukku agar kami tidak terlalu dekat.
Namun sayangnya, dia malah bergerak mendekat dan mengkikis jarak kami yang sengaja aku buat menjauh. Hingga akhirnya, dengan kesal aku bangkit.
"Bisa tidak! kau menjauh sedikit. Aku merasa sangat risih!" dia merunduk, lalu tanpa bersuara dia bergerak menjauh dan memberikan jarak di antara kami.
Setelahnya, aku kembali duduk dengan bersedekap dada. "Jadi? apa yang ingin bapak bicarakan sama saya?"
"Jangan panggil bapak? panggil aja Deva."
Aku menggeleng, "engga. Maaf saya gak bisa. Saya bukan lagi berperan saat ini, tapi hubungan saya dan bapak sudah berakhir 5 tahun yang lalu. Jadi tidak sopan jika, saya panggil anda tanpa embel-embel bapak di depannya."
Deva menghela napas panjangnya, "Baiklah, jika kamu mau kita berbicara seperti ini."
Ku angguki ucapannya, dan ia malah membuang napas beratnya. Aku sedikit mengerutkan dahiku. Namun tak lama ku datarkan kembali, wajahku saat dia menatapku.
"Aku tak pernah menyangka, jika kau akan menjadi seorang designer. Karena yang saya tahu. Kamu itu penggila diskon dan penggila berbelanja tapi sekarang--"
Ku sela ucapannya, yang semakin merancu, "Bisakah kau langsung berbicara pada intinya. Jika tidak. Lebih baik aku akan--"
"Baiklah, maafkan aku. ... Huft, aku ingin kita kembali seperti dulu lagi. Kali ini berperan sungguhan menjadi suami istri yang sah dimata agama dan hukum tentunya."
Aku tertawa sarkas, "Apa kau bilang? kembali? suami istri? untuk apa? untuk reputasimu, lalu setelahnya kau kembali akan mengusirku?!"
Deva menunduk, "Maaf saya tidak bisa. Lagi pula kau sudah terlambat!"
"Terlambat untuk?"
Aku menunduk sambil memainkan cincin yang melingkar dijari manisku, dengan gugup aku terus bergumam dalam hati. Terlebih pernyataannya, membuat luka dihatiku terbuka kembali. Dan aku hanya bisa tertawa lirih. Hingga tak lama, aku sadar jika Deva memperhatikanku.
Lalu pandanganya jatuh pada jari manisku kini. "Apa dia? sudah menyatakan perasaanya?"
Aku mendongak, menatapnya penuh tanya.
"Ya, saya sudah bertunangan dengannya." kataku sambil ku tunjukan cincin pertunanganku dengan Genta.
"--- Dia datang 2 tahun yang lalu, disaat saya masih berjuang seorang diri untuk melupakan bapak disana. Dia datang, membawa perubahan pada diri saya dan orang itu jugalah yang membuat saya tidak mampu mengatakan 'tidak' pada ketulusan yang dia beri selama ini. Dan saya sudah bahagia dengannya. Saya harap bapaka juga bahagia dengan wanita itu."
Deva masih tak berkedip mendengar seluruh pernyataanku. Diam-diam airmata rindu yang sejak tadi ku sembunyikan selama 5 tahun lolos begitu saja. rasanya sangat sakit, sakit akan semua kenangan yang pernah dia katakan dulu.
"Lagi pula, bukankah bapak sendiri yang bilang jika pernyataan cinta bapak sama saya semua itu hanyalah peran." Deva masih diam, terlalu diam dan sunyi hingga membuatku merasa sedikit bersalah.
Tak lama suara serak Deva kembali terdengar, "Siapa? siapa dia? Genta, kah?"
"Deva sudahlah."
"Jawab saya!! siapa dia? Genta, kah?" Aku terlonjak kaget saat dia membentakku.
Aku memejamkan mataku sesaat, rasanya sangat sulit menjelaskan jika seseorang dalam keadaan tersulut emosi seperti Deva saat ini. Hingga.
"Ya, bapak benar. Dia Genta. Mantan ajudan kepercayaan bapak. Dan saya, cuman mau bapak tahu. Jangan terlalu berharap tinggi pada saya, kalau perlu berhenti berharap kita bisa bersama kembali."
Aku bangkit dari posisiku, "Deva sudahlah.. Pergi dari sini, aku dan kamu sudah berakhir. .. Aku harus kembali bekerja."
Grep!
Tiba-tiba saja dia memelukku tubuhku dari belakang, saat aku sudah memutar balik tubuhku dan bersiap untuk melangkah pergi.
Aku bisa merasakan, tubuhnya yang dingin namun napasnya yang hangat saat menyentuh permukaan kulitku. Semakin membuatku terlena. Tidak! aku harus bisa melepaskannya.
"Deva."
"Kapan?"
Aku menyerit, "apanya?"
"Kapan kalian akan meresmikan pernikahan kalian?"
Astaga! susah sekali rasanya menjauh dari dirinya. Aku mencoba, melepaskan pelukkannya. Saat aku sadari, aku mendapatkan tatapan aneh dari para pegawai yang bertugas dibawah sini.
Namun sialnya, tenaga yang kuat dan pelukkannya yang semakin erat tak mampu membuatku melepaskan diri dari kungkungannya.
"Deva, aku mohon lepaskan!"
Dia menggeleng, "Aku tidak akan melepaskanmu. Sebelum kau mengatakan kapan kalian akan menikah!"
"Deva, please.. jangan seperti ini." Aku bisa merasakan tubuhnya yang bergetar.
Tunggu, apa dia sedang menangis dibelakangku?
"Katakan, kapan itu akan terjadi."
Aku mendesah lelah, "Beberapa bulan lagi, dalam waktu cepat tentunya."
"Aku akan berjuang, sampai titik darah penghabisan. Aku gak akan nyerah begitu saja."
Kening ku berkerut, "Apa maksudmu?"
"Saya bakalan dapetin hati kamu kembali, sebelum pesta pernikahan itu terjadi."
Deg!
"Kau gila!!"
"Ya, aku gila!! dan itu jauh lebih baik. Daripada aku harus melihatmu bersanding dengan orang lain dan bukan denganku." Deva mulai merenggangkan pelukannya.
Lalu perlahan lepas, setelahnya aku berbalik dan menatapnya. Namun aku terkejut, saat melihat dia tengah mengapus airmata kekecewaanya.
Luka diwajahnya benar-benar memperlihatkan jika, dia telah menyesali segalanya. Termasuk, pada hatinya yang terlalu pengecut untuk mengatakan semuanya padaku.
"Ini, surat terakhir dari Dewa untukmu." Dia mengeluarkan sebuah surat, lalu memberikannya padaku.
To : mama Diandraku tersayang
From : Dewa anakmu
Aku menyerit, saat melihat cop surat ini. Lalu aku menatapnya, seakan bertanya apa ini padanya.
"Itu surat terakhir yang dia tulis sebelum dia terjatuh dari lantai atas. ... Pelakunya sudah tertangkap, kau pasti tau siapa yang melakukannya?"
Ku geleng pelan, saat otakku memikirkan satu nama yang tidak mungkin. "Lisa?"
Dia menganggukinya, "Tidak! itu tidak mungkin."
"Semua terekam dalam cctv. Bahkan anak itu, juga tahu."
"Dewa?"
Lagi-lagi dia mengangguk, "Dia diam-diam, pergi untuk menyelidiki kegiatan Lentera palsu. Dan saking ia menaruh kecurigaanya, dia pergi ke pusat cctv yang berada diistana kepresidenan. Namun sayangnya, aksinya kepergok oleh Lisa dan Lentera palsu."
"... Mereka berdua, berusaha untuk menghilangkan bukti yang dipunya dan disimpan oleh anak itu. Dan semua terjadi, mereka berebut kotak hadiah yang mereka kira bahwa flashdisk itu ada di dalamnya. Mereka berusaha merebut kotak hadiah itu dari tanganya, namun sayang justru disaat itu mereka malah menghempaskan tubuh Dewa. Sehingga tubuhnya jatuh dan terguling dari tangga atas hingga menuju lantai bawah."
Seketika, kakiku mendadak menjadi jelly. Napasku tercekak. Duniaku runtuh seketika saat mendengar penuturannya. Astaga, Dewa anakku. Dan disaat itu juga otakku memutar sebuah klise, dimana anak itu bersikeras mengatakan jika Lentera saat itu bukanlah ibunya.
"*Aku yakin, wanita itu bukan mama Lentera. Dia palsu."
"Ya, semoga Tuhan mendengarkan perkataan Dewa. Jika benar dia palsu, maka Tuhan lah yang akan membuktikannya*."
Aku menggeleng kuat, saat pembicaraan itu memutar. Tidak! Jangan katakan jika anak itu melakukan penyelidikan seorang diri. Karena hanya untuk membuktikan padaku jika dia benar dan aku yang salah.
Aku mohon, seseorang tampar aku!! Aku meneteskan, airmataku saat klise itu terus berputar. Bahkan sesekali aku menatap mata Deva mencari celah kebohonganya.
Namun tidak aku temukan. Jadi beberapa malam ini dia selalu datang dalam mimpiku, itu karena dia sudah tidak ada di dunia ini. Benarkah itu!
"Kembalilah, saat kau ada waktu libur. ... Dia pasti akan sangat senang, jika kau datang mengunjungi peristirahatannya untuk yang terakhir. Karena dia sangat mengharapkan kedatangmu kembali. Diandra."
TBC