Mr. President & Me

Mr. President & Me
23



Diandrapov


Sudah 2 hari ini kegiatan gue, hanya dihabiskan dengan berdiskusi, pergi beramal, lalu kembali pulang ke hotel. Begitu terus selama 2 hari ini. Dan saat ini gue sedang berada di dalam mobil yang sedang berjalan menuju hotel, tempat gue dan Deva bermalam setiap harinya.


Gue mengalihkan mata ke arah luar jendela mobil. Sesekali gue menghela napas berat, entah kenapa rasanya hari ini gue enggan untuk keluar dari kamar hotel.


Mungkin karena lelah atau mungkin karena lain? Entahlah yang jelas, gue pengen banget rasanya bermalas-malasan saja.


Kerlap-kerlip lampu jalanan dan gedung bertingkat menjadi tanda jika malam ini sangat indah, namun tidak bagi gue. Hingga tak lama, mata gue tertuju pada bangunan tinggi yang menarik perhatian gue.


Yaitu Lumine Ikebukuro adalah fasilitas perbelanjaan yang berada di samping Tobu Department Store.


Tobu departemen store adalah sebuah bangunan besar juga yang berada disini, namun Lumine lah yang lebih terkenal dikalangan anak muda.


Bahkan tobu departemen store juga terhubung langsung dengan Lumine, dan mereka juga memiliki akses langsung dari masing-masing jalur kereta dan itu memudahkan kita menuju tempat ini.


Gue cukup terkagum dan berbinar senang, dalam hati gue berucap syukur karena malam ini gue pulang belakangan. Jadi kalian tahu apa artinya itu, yap.


Deva tidak berada di sini dan gue bisa mampir setidaknya buat berbelanja. Tanpa banyak berpikir, gue langsung aja menghentikan mobil yang sedang membawa gue ini.


"Tapi nona, kita harus kembali?" Gue melirik tajam ke arah Kevin.


Seolah dia mengerti, tiba-tiba saja Kevin menunduk dan menghentikan mobil itu. Ya, ajudan Deva yang satu ini selalu takut kalau gue udah marah. Padahal gue cuman pura-pura marah aja. Biar, apa yang gue mau diturutin sama dia.


Setelah mobil kami berhenti, dia membukakan pintu dan mempersilahkan gue masuk. Namun saat dia hendak mengikuti gue masuk ke dalam gue melarangnya, "udah sana, kamu pulang aja?"


Dia menggeleng, "Tidak. Saya mohon izinkan saya mengawal anda nona. Saya tidak mau jika bapak marah sama saya nanti," mohonnya.


Ah.. gak bisa pokoknya, gue mau belanja sendiri.


Gue berkacak pinggang, sambil memasang wajah melotot gue. Lalu setelahnya, gue bisa melihat dia yang menghela napas beratnya. "Hah, baiklah ... tapi berjanjilah, segera telpon kami kalau nona kenapa-napa?"


"Ya, tentu pulanglah... aku bisa pulang dengan taksi nanti. Lagi pula aku membawa tas dan dompet ini." kata gue sambil menujukkan tas kecil yang sudah menyelempang dibahu gue.


Setelah kepergian Kevin, akhirnya gue bersorak riang. Dengan raut wajah bahagia kaki gue melangkah, sesekali gue bersenandung memandang interior indah dari bangunan ini.


Sumpah ya, gue emang pernah mendengar dari Galang sahabat gue. Jika Lumine adalah pusat belanja yang cukup terkenal dikalangan anak muda. Karena hampir disetiap toko disini, menjual produk-produk untuk kalangan anak muda di Jepang.


Jadi tak heran jika, walau waktu sudah menunjukan pukul hampir tengah malam. Bangunan ini masih buka dan ramai dikunjungi oleh kaum muda, pasangan yang sedang berkencan, atau apapun itu.


Kaki gue terus melangkah, menelusuri isi dari bangunan ini. Hingga tanpa sadar kaki gue berhenti, saat tiba disalah satu toko tas mewah nan mahal itu.


Bahkan mata gue jauh lebih berbinar, saat ada seorang pegawai di sana telah usai memasang spanduk yang bertulisan SALES 75% all produk. Dengan cepat gue masuk ke dalam toko tersebut.


Hingga setengah jam kemudian gue keluar dari toko itu dengan 2 bag paper besar di sisi kanan dan kiri gue. Astaga, surga dunianya untuk para shopaholic di sini!


Bukan hanya dua bag paper besar yang gue bawa, tapi sudah ada 8 bag paper dari besar dan kecilpun gue jinjing di sini kanan dan kiri gue.


Namun saat gue hendak melangkah ke arah sebuah restoran. Perut gue tiba-tiba aja mules, jadilah gue berlari mencari toilet. Sialan! Lagi asik-asiknya malah kepingin buang air besar.


Namun saat gue lagi asik buang air besar, entah itu hanya perasaan gue atau memang benar terjadi. Karena saat itu gue mendengar suara histeris dari para pengunjung mall ini.


Mereka berteriak 'Kebakaran' namun bodohnya gue malah asik melanjutkan mengejan di toilet. Setelah merasa lega, gue membersihkan dan mengeflush kloset tersebut.


"Ko sepi sih?" tanya gue pada udara kosong.


Gue mencoba berlari, sambil menutup mulut dan hidung gue dari asap hitam yang mengumpul.


Uhuk! Uhuk!


Gue gak bisa melihat apapun di sini, dalam hati gue menyesali kenapa gue tidak membiarkan Kevin ikut bersama gue saat itu. Rasanya gue bener-bener ingin memutar ulang waktu, tapi apa daya.


Semua sudah menjadi bubur, gue tidak henti-hentinya terbatuk. Saat asap hitam itu, sepertinya mulai memasuki rongga paru-paru gue. Tanpa gue sadari, gue sudah terjebak di sana. Pikir gue saat ini, mungkin hidup gue akan berakhir setelah api ini padam.


"Deva.. Deva tolong aku.." lirih gue.


Semakin lama, dadak gue mulai merasakan sesak yang luar biasa hingga tak lama semua menggelap dan tubuh gue mulai terbaring lemah di atas lantai itu. "Maafin gue semuanya, terutama Dewa. Anakku." Dan setelahnya mata gue tertutup rapat.


Diandrapov end


***


Authorpov


Malam ini langit tanpak gelap, bahkan entah ada angin apa. Ia merasa jika malam ini akan ada sesuatu kabar, yang mungkin nanti tidak enak dipendengaranya.


Namun ia masih berusaha mengusir semua prasangka buruk itu, Deva masih menajang wajah bahagianya karena saat itu dia mengetahui jika Diandra hendak ingin meminum pil sialan yang merusak mimpinya.


Tapi waktu sudah menunjukan pukul 11 malam, batinnya terus bertanya. Kemana perginya wanita itu? Padahal dia tadi sempat menghubungi istri presiden Jepang dan sang istri presiden itu juga mengatakan jika wanita itu sudah pulang, dan bahkan acara amal juga telah usai? Lantas kemana wanita itu saat ini?


Dia beranjak dari kasurnya, dan berniat untuk bertanya para ajudannya. Saat setelah keluar, dia bisa melihat para ajudannya sedang berdiri mematung menyaksikan sesuatu yang belum ia sadari hingga.


"Adakah dari kalian yang melihat Kevin?" taka da respon apapun.


"Kalian dengar aku tidak!!" marahnya dan itu sukses membuat para ajudannya menoleh dengan menatap tak percaya.


Keningnya berkerut seketika, "Kenapa kalian-" ucapnya terpotong oleh sebuah suara dari televisi siaran langsung tersebut.


**Headline News


Lumine departemen store hangus dilalap sijago merah, kobaran api semakin tak terkendali. Menurut keterangan dari para saksi pengunjung masih banyak, yang terjebak di dalam sana. Dan menurut penuturan seorang saksi, jika ada salahsatu seorang korban di dalam sana adalah seorang Ibu Negara dari salah satu Negara yang sedang melakukan kunjungan ke Jepang.


Dug! Dug! Dug**!


Jantungnya semakin bekerja dua kali lebih cepat, tanpa banyak basa-basi. Dia menatap para ajudannya. Dia menggeleng pelan, saat seorang ajudannya mengganguk dan seolah mengiyakan pertanyaanya.


'Apa Diandra di sana?' dengan napas yang menggebu-gebu dia berlari, dan dibelakangnya diikuti oleh para ajudannya.


Namun saat hendak memasuki mobilnya dan berniat mengendarinya seorang diri, tangannya dicekal. "Tidak! Kami tidak akan membiarkan bapak pergi seorang diri, itu terlalu beresiko. Kami mohon-" dia menatap tajam ke arahnya.


Lalu dia mencengkram kerah kemejanya, "APA KAU BILANG?! KAU INGIN MEMBIARKAN ISTRIKU MATI!!" ajudan itu menggeleng.


"Lalu apa? APA!!" dia menjedanya, "aku akan menyelamatkannya. Karena dia 'istriku' dan ibu dari anak-anakku." Ada penekanan yang diucapkan saat kata 'istriku' terucap.


**Authorpov end


TBC**