
Setelah gue rapih dan sudah mandi pastinya, kini perlahan gue mulai menuruni anak tangga menuju meja makan.
Dari sini gue bisa melihat jika Deva dan kedua anaknya, sedang menikmati sarapan pagi bersama. Gue tersenyum sejenak, lalu tak lama Dewa bersuara.
"Mam kenapa berdiri aja di sana? ayo sini, kita sarapan bersama?" itulah Dewa anak gue.
Astaga, kenapa gue jadi merasa jika Dewa benar-benar seperti anak gue sendiri.
Gue mengangguk kecil, seakan membalas ajakannya. Tapi, disisi lain gue juga bisa melihat Deva yang sedari tadi sedang terkekeh kecil.
Gue menyerit bingung, 'kenapa sih nih orang? Ketawa sendirian, wah gak beres nih otaknya?' batin gue bersuara.
Tak lama dia berdeham, "Telat setengah jam! besok-besok saya tidak akan mentolerir jika kamu telat bangun untuk sarapan pagi. Karena disini, sarapan itu penting dan wajib hukumnya. Kau mengerti?" gue merotasi mata malas.
Heol!! yang benar saja!
Hanya karena bangun telat, dan tidak sarapan tepat waktu juga masuk ke dalam peraturan istana.
Apa jangan-jangan, hanya untuk sekedar buang air besar saja juga sudah diatur hanya beberapa menit saja dalam rumah ini? benar-benar, si Mr. kaku.
"Ada apa dengan dirimu? memangnya ada yang salah denganku?"
Dia menggeleng, "Iya, karena kau sangat lucu."
Gue menatapnya, namun saat gue hendak bersuara Gitra lebih dulu bersuara.
"Papih, apa papih melihat es krim cake punya ku dikulkas?"
Mata gue melotot tak percaya, "tidak, mungkin saja ada tikus pala item dirumah ini."
Sialan, gue dibilang tikus pala hitam.
"Memangnya kenapa, Gitra?" pura-pura bertanya.
Dia bersedakap dada, "karena sudah sejak lama aku ingin makan es krim cake itu. Bahkan aku rela sudah menyisikan uang jajan hanya untuk es krim itu. Hah, menyebalkan."
Gue menggigit bibir bawah gue, ini semua salah gue. Karena perut gue yang saat malam itu kelaparan.
Eh, tunggu jika itu kue milik Gitra berarti? gue menoleh dengan cepat ke arah si Mr. kaku. Ah, menyebalkan gue pikir itu hanya mimpi. Jadi, ciuman itu? Argh..
"Kenapa kau menatapku seperti itu? aku tau kalau aku sangat tampan."
Gue menaiki satu alis mata, "Dih, pede banget. tampan dari mana?" jeda gue.
Lalu tanpa sengaja, gue melihat Dewa yang sedang minum menggunakan sebuah sedotan. Gue langsung aja ambil sedotan yang sedang dewa pakai.
"Nih tampan, kalau dilihat dari ujung sedotan." sambung sambil memeragakan seperti orang yang sedang melihat bintang menggunakan teleskop.
Saat perkataan itu terucap, semua orang tertawa bahkan kedua anaknya juga ikut menertawakannya, sedangkan Deva? dia melotot ke arah gue. Bodoamat gue gak takut!!
***
Kini waktu menujukan pukul 10 pagi, waktu setempat. Gue, Gitra dan Dewa kini sedang berada di beranda lantai 2 di istana kepersidenan.
Sambil dengan posisi duduk bersantai disofa panjang, sedangkan Dewa dia sedang merebahkan tubuhnya diatas badan gue.
Lalu dimana Gitra, gadis itu tengah duduk santai sambil membaca buku novel favoritnya.
Bahkan sesekali, anak itu menggerakan badannya untuk mengayunkan ayunan yang sedang dia naiki. Hingga tak lama Dewa mulai bersuara.
"Mama," gue menurunkan padangan gue menatap Dewa.
"Iya ada apa, sayang?"
Gue menyerit bingung, "Loh kan bukannya memang harus mengadakan acara perlombaan setiap tahunnya?"
Dia menggeleng pelan, "tidak. Sejak Mom meninggalkan kami, rumah ini sepi bahkan hanya untuk mengadakan perlombaan saja emang tidak pernah."
"Dewa sudahlah, jangan dibahas. Kau tahu sendiri jika papi memang sangat sibuk." sambung Gitra.
Dewa mendekus, "Tapi aku mau, kaya teman-temanku yang lain, setiap besoknya kesekolah. Meraka akan bercerita tentang apa yang mereka ikuti dalam perlombaan dihari kemerdekaan. Sedangkan aku? hanya diam saja." dan tak lama Dewa menangis kencang.
"Sudah ya, jangan menangis. Bagaimana kalau sekarang kita siapkan saja, lomba apa saja yang akan kita mainkan nanti. Dan hadiah apa saja yang harus kita siapkan. okey?" cetus gue.
Gitra menutup bukunya, "itu tidak mungkin tante. Jika mau melakukannya tante harus mendapatkan izin dahulu dari papi? jika tidak papih akan marah." jedanya.
"Lagi pula, memang siapa saja yang akan menjadi peserta lomba. Hanya ada aku dan Dewa itu tidak akan seru!" sambungnya.
Setelah mengatakan itu, Gitra turun dari ayunan dan berjalan keluar dari beranda.
Beberapa jam berlalu, dan kini gue sedang berusaha menyusun acara dan jenis hadiah apa yang akan gue berikan untuk para pemenang lomba.
Hingga tiba-tiba gue mengingat apa yang Gitra katakan.
"Itu tidak mungkin tante. Jika mau melakukannya tante harus mendapatkan izin dahulu dari papi? jika tidak papih akan marah."
Ah, benar. Gue harus minta izin dulu ke si Mr. kaku.
Heran aja lagi gue, ko bisa ya? pemimpin negara tidak merayakan hari kemerdekaan negaranya sendiri.
Padahal, kata Gitra setiap habis upacara pengibaran bendera, mereka hanya akan pesta kebun dihalaman belakang saja. Dasar pemimpin, wong edan.
Dengan malas gue menghentikan acara menulis gue, lalu tak lama gue beranjak bangun dan berniat berjalan ke lantai dua.
Dimana, ruang kerja si Mr. kaku itu berada. Dalam perjalan menaiki anak tangga, gue terus menggerutu. Kenapa nasib gue selalu, sial.
Tok! Tok! Tok!
Tidak ada jawaban, gue berusaha mengetuk pintunya kembali. Namun lagi-lagi, tidak mendapat respon.
Dengan kesal gue membuka pintu ruanganya, saat pintu itu terbuka gue bisa melihat wajah kesal dan tegasnya menatap dingin ke arah gue.
"Kamu budek ya? tadi sudah saya bilang, masuk. Kenapa masih mengetuk pintu dengan keras!" lah malah dia yang marah, emang gue denger dia ngomong apa?
"Maaf," cicit gue.
Dia kembali memalingkah wajahnya, "ada apa kau kemari?"
Gue menggigit bibir bawah gue ragu, "itu. Masalah untuk esok, bolehkah saya melakukan acara perlombaan untuk anak-anakmu?"
"Tidak." katanya tanpa menoleh.
Gue terkejut terheran-heran. Gila, ternyata bukan hanya muka yang kaku tapi hatinya juga kaku bahkan hanya untuk kedua anaknya.
Gue mendesah lelah, "Kau gila! Kau itu seorang pemimpin negara. Bagaimana bisa, kau tidak memeriahkan acara kemerdekaan negara yang kau pimpin bahkan hanya untuk kesenangan kedua anakmu? Kau tidak mau melakukannya, walau itu hanya untuk putri dan putramu?"
Dia menggeleng, sedangkan gue menganga tak percaya.
"Hah!! astaga, bapak macem apa kau?.. Baiklah, kalau kau tidak mau kau tidak perlu khawatir. Karena aku yang akan melakukannya, tanpa izin darimu?!"
Gue berbalik, lalu gue melangkahkan kaki keluar dari sana dan selanjutnya gue menutup pintu ruang kerjanya dengan cukup kencang.
Brak!!
TBC