Mr. President & Me

Mr. President & Me
Epilog



"Saya terima nikah dan kawinnya Nadira Diandra binti Erlangga Richard putri bapak untuk saya sendiri Orion Sadeva Hanada dengan mas kawin cincin berlian blue sapphire sebesar 25 karat dan uang tunai sejumlah 25 juta dibayar tunai."


"Bagaimana saksi? Sah?"


"Sah!!" jawab para saksi.


Ya, begitulah ijab kobul yang dibacakan oleh Deva. Dengan, lantang dan tegas. Karena pasalnya, hari ini adalah moment pernikahaan ku dengan Sadeva.


Mantan president Negara Weka-weka. Airmataku menetes, saat menyaksikan prosesi sakral tersebut. Dari layar telivisi yang terhubung dengan kamera yang merekam dibawah sana. Sebab karena pasalnya sebelum Deva, mengucapkan ijab kobul.


Aku tidak boleh keluar dari kamar pengantin ini. Sampai Deva selesai mengikatku dengan ijab kobulnya. Disampingku ada Gitra, yang sedari tadi duduk sambil memainkan gaun rancangan kami berdua.


Karena tepat seminggu sebelum pesta pernikahanku dengan Deva. Aku dan Gitra sepakat, jika gaun pengantin yang akan aku kenakan kini haruslah buatan kami berdua.


Dia mendongak dan tersenyum lebar padaku. "Mama, abis ini mama gak bakal pergi lagikan?"


Aku menggeleng, "Tentu tidak, karena sekarang rumahnya mama. Rumahnya Gitra juga."


Dia menepuk keningnya, "Oh iya, benar juga. Hihihi. ... Ha! andai Dewa masih hidup, dia pasti bakalan sangat bahagia. Bahkan saking bahagianya, Gitra bisa membayangkan seperti apa sikapnya kini. Yang pasti berlari, sambil berterik 'Yey.. Aku punya mama!!' ya pasti gitu."


Senyuman kami tiba-tiba luntur. Jujur, aku juga masih belum bisa melepaskan kepergian anak itu. Apalagi, saat seharusnya aku ada dan merawatnya.


Namun, disatu sisi saat itu, aku benar-benar disudutkan. Bahkan, rasanya sangat sakit saat perkataan Deva terus mengulang dengan nada yang dingin tak berekspresi saat itu.


Tok! tok! tok!


Ceklek!


"Diandra, ayo saatnya turun." salah satu panitia WO mendatangiku.


Aku menoleh, "Ya, sebentar lagi kami turun."


Setelah kepergian panitia WO tersebut. Aku menatap anak itu, yang sedang menunduk. Kutarik pelan dagunya lalu ku usap airmatanya.


Agar dia menatapku. Lalu ku tersenyum, dan berkata.


"Jangan menangis. Kau tahu, jika Dewa sampai kapanpun akan selalu ada disisi kita. Kalau kau terus bersedih. Maka adikmu yang kau sayang, juga akan menangis disana. .. Sudah ya, sekarang ayo tersenyum?" hiburku dan dia kembali tersenyum.


"Nah, itu baru anak mama. Cantik."


Dia menghapus airmatanya, lalu beranjak turun dari kursinya. Tak lama dia mengambil bouket bunga dan memberikannya padaku. Setelahnya dia menggengam tanganku, sambil berkata.


"Ayo, jangan biarkan papih menunggu."


Ku angguki perkatanya. Perlahan tapi pasti, kini aku sudah berada di ballroom terbesar dihotel ini.


Ku langkahkan kakiku perlahan di atas karpet merah yang terpasang. Di depanku ada Gitra, yang sesekali tersenyum pada para tamu undangan yang hadir. Hingga mataku, tak sengaja bertemu dengan matanya.


Pria itu. Genta, dia datang bersama teman-temanku. Jujur saja aku sudah tidak marah dengannya, namun hanya kecewa setelah sebuah rekaman suara yang sengaja direkam oleh Dewa.


#***Flasback


Hari Dimana, 2 hari setelah kedatangan Lentera yang memaksa Dewa harus menyusut siasat untuk mengungkapkan jika wanita itu palsu.


Ya, anak itu banyak sekali akal mulusnya yang mampu membuat orang berdecak kagum. Seorang anak, yang biasanya akan lebih memilih bermain dan pergi melakukan aktifitasnya bersama teman.


Namun tidak baginya. Dewa kembali membolos sekolah hari ini. Dia saat ini sedang duduk dibangku taman menunggu seseorang datang.


Kakinya terus saja berayun, agar rasa bosan yang hinggap segera menghilang. Hingga seseorang yang ditunggu datang.


"Hai Dewa." Genta menyapanya.


"Paman!! sini," ujarnya.


Genta mendekat, lalu dia duduk disebelah anak itu.


"Ada apa kamu ingin menemui paman?" Dewa menunduk.


Namun mata Genta, beralih pada seragam sekolah yang masih anak itu kenakan. Hingga tak lama dia mendesah lelah.


Dia mengganguk, "Why?"


"Paman, bisahkan paman membaca kobohongan seseorang untukku?"


Genta menyerit, "Siapa? siapa yang kau mau paman bacakan kebohongannya?"


Anak itu mengeluarkan sebuah ponsel dari tasnya, "Lihatlah paman. Ini bukan mama Lentera kan?"


Mata Genta membola, "I-itu? kau, darimana mendapatkannya?"


"Ruang kontrol cctv, paman. ... Paman, aku mohon lihatlah, benarkah ini mama Lenteraku. Ibu yang melahirkanku?"


Genta hanya diam, dan asik terus menatap layar ponsel itu. Hingga beberapa detik kemudian.


Genta menatapnya, "Memangnya kenapa? Apa sesuatu terjadi?"


Dewa mengganguk, "Aku ingin dia pergi. Jika dia bukan mama ku yang sebenarnya. Karena seperti yang paman tahu. Jika aku hanya ingin, mama Diandra seorang yang menjadi ibuku."


"... Jadi paman, apa benar dia ibu kandungku?" Genta diam, seperti sedang berpikir sejenak hingga.


"Ya, dia ibumu."


Dewa bangkit dari posisinya, "Tidak! paman pasti berbohong! sudah jelas dia bukan ibuku!"


"DEWA CUKUP!! TERIMA SAJA, JIKA DIA MEMANGLAH IBUMU!!"


Dia menggeleng, lalu ia menangis. "Bohong!! aku tidak percaya. Paman pembohong!!" Dewa terus menjerit.


Namun di detik selanjutnya, Genta mencekram bahunya. "Sadarlah!! karena ayahmu, cintaku pergi!! Karena ayahmu, dia lebih memilihnya bukan paman."


Deg!


Dewa menggeleng pelan, "Tidak. ... paman, tidak mungkinkan menyukai mama Diandra?"


"Iya, paman mencintainya. Paman, mencintai mama kesayanganmu itu."


#Flashback off***


Disitulah, aku tahu. Jika hari dimana aku bertemu dengannya. Ia hanya bersikap biasa saja. Sedangkan Dewa anak, itu bersikap tidak biasanya.


Bahkan terkadang, dia menjadi manja jika Genta inginkan sesuatu dariku. Dan setelahnya, hubungan kami berakhir.


3 minggu setelah, berakhirnya hubungan ku dengan Genta. Deva kembali mengisi hatiku, sikapnya jauh lebih berubah dari sejak awal aku bertemu dengannya.


Bahkan ada satu kata yang sangat aku suka, saat dia melamarku malam itu. Dibawah sinar bintang dan hanya ada kami bertiga dia berkata.


"Aku memang sudah bukan lagi menjadi pemimpin di Negeri ini. Tapi izinkanlah aku untuk menjadi pemimpin dihatimu dan di Istana pernikahaan kita nanti. Sebab aku tanpamu, tidak akan lengkap jika belum menjadi kita selama."


Dan kini pria itu sedang tersenyum bahagia, sambil menatapku yang sedang berjalan mendekat ke arahnya. Dia mengulurkan tanganya untuk menyambutku.


Aku membalasnya, dan kami berdiri dihadapan semua orang untuk tersenyum lebar penuh bahagia.


"Terima kasih, telah menjadi pelabuhan terakhir untukku."


Wajahku bersemu merah. Dasar pipi murahan, baru digombalin saja sudah merah. Hingga tak lama.


Chup~


Deva mengecup bibirku lama, dihadapan para tamu undangan yang sudah bersorak riang. Dan aku pun juga tak mau kalah darinya, aku membalas kecupannya dengan sedikit lumatan.


"Kau pria hebat, yang telah menjungkir balikkan kehidupanku. Kini aku tahu, bagaimana rasanya untuk pulang disaat kau menungguku disana. Terima kasih Sadeva."


Dia melepas lumatannya. "Aku mencintaimu selama aku masih bernapas."


"Aku juga, mencintaimu hingga maut yang akan menjemputku."


**THE END**