Mr. President & Me

Mr. President & Me
39



Diandra pov


Aku terus memikirkan apa yang dikatakan oleh Deva pagi tadi. Sejujurnya aku tak percaya, jika Dewa sudah tiada. Hingga tak lama, daripada rasa penasaranku semakin tinggi.


Akhirnya ku putuskan untuk menghubungi Genta. Aku yakin dia pasti tahu sesuatu akan kematian anak itu.


Tut.. Tut.. Tut...


Aku menggigit kuku jariku, "ayo angkat ku mohon."


Namun hingga, panggilan keempat kalinya baru tersambung. Aku bisa mendengar suara serak seperti orang baru bangun tidur terdengar.


"Halo?"


"Genta? ini aku? bolehkah aku bertanya sesuatu?"


"Oh.. ada apa sayang? kenapa malam-malam kau menghubungiku? apa kau sedang rindu aku?"


"Genta, please aku sedang tidak ingin bercanda?"


"Ya baiklah, maafkan aku. kau ingin bertanya tentang apa?"


"Ini.. Ini pasal Dewa? ... Aku.. aku ingin mengetahui soal keadaan anak itu?"


Tak ada jawaban yang terucap dari mulut Genta. Aku tahu, dia pasti terkejut dan dia juga sedang menyembunyikan sesuatu.


"Ku mohon beritahu aku, soal keadaan anak itu yang sebenarnya!"


"Dewa? a-ada apa sama Dewa?"


"Plase aku mohon.."


Aku bisa mendengar helaan napas berat dari mulut Genta disebrang sana, "Kumohon Genta.."


"Iya, anak itu sebenarnya sudah tiada.. 5 tahun yang lalu.."


Seketika ponselku terlepas begitu saja. Saat kebenaran itu terungkap. Kenapa? kenapa tidak ada satupun orang yang memberitahuku tentang kematiannya.


Waktupun seolah ikut berhenti berdetak, air mataku turun sebanyak mungkin. Dadaku terasak diremat oleh sesuatu dan rasanya, sangat sesak. Aku terus menangis sejadi-jadinya.


Aku menangis terisak kuat, hingga teerdengar oleh Genta. Sedangkan dari sebrang sana. Aku bisa mendengar suara panik Genta yang mulai memanggil namaku.


"Sayang kau baik-baik saja!"


"Halo!! Diandra kau baik-baik saja?"


"Halo!! sayang kau mendengarku!"


"Halo.."


Bip


Sambungan itu ku putuskan secara sepihak, dan malam itu aku kembali merasakan akan kehilangan sesosok orang yang amat berharga dalam hidupku.


Esok paginya, ku langkahkan kaki jenjangku menuju sebuah hotel berbintang dipusat kota paris. Aku mendapatkan informasi dari Nana, bahwa Deva menginap diHotel tersebut. Saat tiba di lobi hotel, aku segera mendekat ke arah respsionis.


"Pagi Nona, ada yang bisa saya bantu?" katanya dalam bahasa Perancis.


Aku menormalkan napasku sesaat, "Aku ingin tahu, apakah ada pria bernama Sadeva yang menginap di hotel ini?"


Resepsionis itu terkejut heran, "Maaf tapi kami tidak bisa memberitahu soal informasi pribadi para tamu yang sedang menginap dihotel kami Nona."


"Aku mohon, aku sangat ingin bertemu dengannya?"


Wanita itu menggeleng keukeuh, "Maafkan kami tapi itu peraturan dari hotel kami."


"Aku mohon.." lirihku.


Hingga tak lama, seseorang menyentuh pundak ku. Aku berbalik, mataku menerjap dan tanpa sadar secara refleks aku memeluk tubuh pria itu. Pria yang sedari tadi aku cari keberadaanya.


"Diandra, ada apa kau kemari?" ya, suara itu adalah suara orang yang paling ku rindukan sejak lama.


Deva mengerutkan keningnya, "Hei, kenapa kau menangis?"


"Sudah jangan menangis," ujarnya sambil mengelus punggungku yang bergetar.


Tapi, baru saja kami saling berpelukan melepas rindu seseorang datang dan berkata.


"Tuan, mobilnya sudah siap. Dan pesawat akan pergi 2 jam lagi?"


Apa? Deva sudah mau kembali? Aku mendongak menatapnya terkejut, namun seolah dia tahu dengan ekspresi tatapanku.


Dia berkata, "Iya, aku sudah lama ada diNegara ini untuk mengawasimu. Tapi, satu yang ku tahu kau sudah bahagia bersama pria itu. Jadi aku ingin melepaskanmu bersamanya."


Aku menggeleng, "Tidak! kau harus bahagia bersamanya. Lagi pula kita sudah tidak ada hubungan apapun lagi. Jadi mari kita berdamai pada masalalu dan.. maafkan aku yang sudah pernah menuduhmu telah membunuh anakku."


Dia menjulurkan tangannya. Aku tak mau semua berakhir seperti ini. Tapi dia benar, kami sudah punya kebahagian kami masing-masing. Jadi apalagi yang tersisa. Aku balas jabatan tangannya.


"Mari kita berteman." balasku dengan setengah hati.


Dia tersenyum, lalu tak lama dia mengangguk. "Heum.. kita berteman."


Deva membalikan badannya dan melangkah pergi, namun sebelum benar-benar pergi dia berhenti dan berbalik sejenak. "Pulanglah, kalau kau sedang libur. Kau tahukan, seberapa besar cinta anak itu untukmu! ... Mama Diandra." finalnya sambil melambai ke arahku.


Setelah punggu itu menghilang, aku terjatuh duduk. Biarkanlah, aku menjadi tontonan para tamu hotel ini. Karena hari ini, aku hanya ingin mengeluarkan semua tangisanku.


Ya, tangisan penyesalanku. Kenapa? saat 5 tahun yang lalu aku tidak datang? padahal Nana sudah memberi tahuku, kalau anak itu terus memanggil namaku dalam komanya.


Kenapa? Kenapa Diandra?!


***


Senja mulai berganti dengan gelapnya malam. Langkahku tergontai tak berniat untuk pulang. Hingga tak lama, langkah kakiku terhenti. Aku bisa melihat mobil Genta sudah terparkir dengan rapih dihalaman rumahku. Lalu kemudian, pria itu muncul dan berlari mendekat ke arahku.


"Kau darimana saja seharian ini? kau tahukan seberapa cemasnya aku padamu? Kenapa dengan wajahmu? apa kau menangis seharian?" cecarnya.


Sedangkan aku, hanya bisa menutup gendang telingaku. Aku berjalan melewatinya tak berminat untuk menjawabnya, namun saat aku hendak masuk ke dalam rumah tanganku dicekal.


"Diandra kau mendengarkanku!!" bentaknya.


Aku mengehempas tanganku, "Untuk apa aku mendengarkan mu?!"


Genta terpaku saat mendengar teriakanku, "Untuk semua kebohongan yang akan kau ucapkan padaku, begitu?"


"Diandra?" Keningnya berkerut.


Aku tertawa sumbang, "Hahaha.. sudahlah, aku sudah tau semuanya."


"Hiks.. aku tahu, alasan kenapa kau datang? aku tahu alasan kenapa, kau merahasiakan kematian Dewa padaku? semua karena niat busukmu! aku benarkan."


Genta menggeleng pelan, "Pergi! aku pergi.. Aku tak mau menikah dengan pria pembohong sepertimu!!"


Ku lepaskan cincin tunangan yang melingkar di jari manis sebelah kiriku. Namun dia mencoba menahannya, "tunggu. Aku mohon,dengarkan penjelasan dariku dulu!"


"Penjelasan! penjelasan apalagi yang ingin kau katakan."


Ku lemparkan cincin itu ke arahnya, sambil berkata. "Pergi! aku muak dengan pembohong sepertimu!" sambungku.


Brak!!


Pintu tertutup kasar oleh ku. Lalu setelahnya, aku terduduk lemas bersandar pada pintu rumahku. Hari ini semua kebenaran terungkap setelah 5 tahun disembunyikan.


Sedangkan Genta, dia hanya menunduk pasrah. Ya, dia tahu sepandai apapun bangkai itu ditutupi, baunya tetap akan terendus juga.


Jadi inilah yang terjadi padanya, dimana niat buruknya dari awal memang sudah pasti akan tercium oleh Diandra suatu saat nanti.


"Maafkan aku Diandra." gumamnya Lirih.


Setelahnya, dia melajukan mobilnya melesat membelah gelapnya malam dikota paris dan ditemani rintik hujan yang turun. Dan aku hanya bisa menangis tersendu-sendu.


Di dalam gelapnya rumah, dan rinai hujan yang semakin lama semakin turun lebat membasahi kota paris. Biarkanlah, hujan ini menjadi tanda bahwa kenangan masalalu telah terhapus oleh waktu.


TBC