
Tepat pukul 22 malam. Aku tidak bisa tidur sama sekali. Karena hidungku yang tiba-tiba mampet sebelah, sehingga itu cukup membuatku sulit bernapas.
Aku bergerak gusar, saat flu dan batuk menyerangku. Sehingga mampu membuatku terus membuka mata.
Aku yang merasa rungsing seketika bangkit dan mendudukan diri ku tegap. Ku tekan sebelah lubang hidungku, agar satu lubang hidungku yang mampet menjadi lancar.
Namun itu juga tidak berhasil, dan malah semakin membuatku menjadi pusing karena ku paksakan.
Ku tendang kesal selimut tebal yang menutupi sebagian tubuhku ke udara. Berulang kali ku hentak-hentak kaki. Sayangnya itu malah semakin membuat kasur ku menjadi berantakkan.
Dengan kesal bin sebel, aku beranjak dan memilih bangkit dari kasur untuk keluar dari kamar itu. Ku langkahkan kakiku menuju dapur, ku lirik sekilas jam dinding. Lalu kembali, ku alihkan pandanganku ke arah dapur.
Sesampainya di dapur aku segera mengambil dan mengisikan air ke dalam gelas untuk ku minum hingga tandas, namun saat baru setengah air itu masuk ke dalam tubuhku.
Aku bisa mendengar suara berisik dan gaduh dari arah teras depan. Karena penasaran, aku segera mendekati suara tersebut.
Saat aku sudah dekat, aku bisa mendengar suara Deva yang sedang mengobrol dengan teman-temannya. Hingga tak lama, aku menangkap satu suara yang tak asing memasuki pendengaranku.
"Jadi kau sudah mulai mencintainya?"
Ya, itu suara si dosen mesum nan akut -Mr. Loey, suami dari Stella sahabatku-. Aku menerjap berkali-kali, untuk apa ia datang kesini? lalu ada hubungan apa dirinya dengan Deva?
Namun belum semua itu terjawab, sebuah suara hulsky kembali terdengar dipendengaranku.
"Siapa?" ini jelas bukan Deva, melainkan suara pria yang memiliki bentuk hati pada bibirnya.
Mr, loey mengangkat satu alis matanya, "Itu, si wanita penggila belanja?"
Deva terkekeh, "maksudmu Diandra?"
Mr. Loey mengangguk, "Jangan gila, kalian. Hanya karena aku sedang berperan sebagai pasangan suami-istri, maka aku akan menyukainya. Begitu maksud kalian? Hei, kita semua bukan anak remaja lagi, dude. Bahkan hanya sekedar berciuman ataupun melakukan **** tanpa ada rasa cinta bisa kita lakukan. Jadi berhentilah memikirkan hal yang tidak-tidak."
Seorang pria yang sedari tadi hanya duduk menyesap sebatang rokoknya, kini bisa bernapas lega. "Lagi, pula. Kalian kan tahu, jika istriku Lentera sudah kembali. Jika kalian lihat, mereka berdua sangatlah berbeda. Yang satunya super cantik dan super elegan, lalu yang satunya tidak cantik, dan bar-bar. Kalian pikir aku menyukai wanita seperti itu? Come guys, aku juga seorang pria dan aku memiliki selera tinggi untuk wanitaku. Sama seperti kalian."
Sialan!
Deva tersenyum menyakinkan, "Aku baik padanya hanya karena rasa kasihan dan anak ku Dewa sudah menganggap dia sebagai ibu kandungnya. Dan setelah Dewa bisa mengenali ibu kandungnya lagi nanti, akan ku pastikan dia menjauh dari kehidupanku dan anak-anakku.."
Mr. Loey menghela napasnya, "syukurlah, ku pikir kau sudah tidak lagi waras!"
Dan mereka semua tertawa setelahnya. Namun mereka tak menyadari, jika percakapan mereka semua telah kudengar.
Seakan waktu telah berhenti berputar, mata ku terbelalak dengan sempurnanya. Saat mendengar perbincangan mereka. Astaga, Dra jadi selama ini elu hanya dipermainkan olehnya.
Seharusnya sejak dari awal, aku tidak boleh berharap lebih padanya Dra!
***
Waktu pertama kali ku lihat dirimu hadir, rasa hati ini inginkan dirimu. Hati tenang mendengar suara indah menyapa. Geloranya hati ini tak kusangka. Rasa ini tak tertahan.
Hati ini selalu untukmu. Terimalah hati ini Dari orang biasa, tapi cintaku padamu luar biasa. Aku tak punya bunga, aku tak punya harta. Yang kupunya hanyalah hati yang setia. Tulus padamu.
Mungkin sepenggal, kalimat itulah yang bisa ku ungkapkan. Apalagi, jika bukan perkataanya yang masih mendengung diotakku. Bagaikan sebuah kaset kusut, yang tidak bisa dihentikan.
Kalimatnya, hinaanya dan.. kepalsuannya masih terus bersarang diotakku. Tanpa ku sadari, semalaman aku benar-benar tidak tidur.
Bahkan flu dan batuk, yang semula menyerangku kini menghilang entah kemana. Dan kini aku berada disebuah kafe, bersama Genta dan Dewa.
Tadi aku hanya berniat untuk keluar pergi bersama Genta, lalu saat dijalan aku mendapatkan pesan dari Deva yang mengatakan jika Lentera tidak bisa menjemputnya.
Jadilah, kini kami duduk makan es krim setelah lelah bermain disebuah mall. Aku hanya duduk dan menatap tak berselera ke arah es krim tersebut, hingga tak lama Genta bersuara.
"Kau kenapa? apa ada sesuatu yang terjadi?"
Genta menoleh dan menatap Dewa, "Dewa bisakah kau memesankan ice americano untuk paman?"
Dewa yang sedari tadi asik menyuapi es krimnya terhenti, "Emangnya, paman masih haus?"
Dia mengangguk, "Sini biar aku saja." ku sela obrolan mereka.
Namun saat aku hendak beranjak dia mencekalnya, "Tolong ya Dewa," anak itu memberengut tak suka.
Tapi pada akhirnya dia mengangguk dan bersedia memesankan minuman Genta yang diinginkan. Setelah kepergian Dewa, pria itu menarik tanganku untuk duduk.
Lalu tak lama dia kembali bersuara. "Apa semua ini, karena Lentera? aku dengar tadi, jika Lentera sudah kembali, benarkah itu?"
Ku angguki pelan pertanyaanya, "Apa dia kembali merebut posisimu?"
Kali ini ku jawab dengan gelengan kepala, "Huft.. Bukan begitu, dia bukan merebut posisinya. Tapi akulah yang harus segera mengembalikkannya," ku helakan napasku dalam-dalam, "... Karena bagaimanapun, itu adalah posisinya."
Genta hanya diam mentapku, "Keluarlah, sebelum semuanya terlambat." Katanya sambil mengenggam tanganku.
"Tapi aku--" ucapku terpotong.
"Ini paman, pesanannya." Dewa kembali, anak itu menatap tak suka saat Genta memegang tanganku.
Puk!!
"Jangan sentuh tangan mamah ku!" kesalnya sambil dengan mempoutkan bibirnya.
"Dewa," aku menggeleng pelan, lalu ku tersenyum saat melihat tingkahnya.
Kini aku dan Dewa sudah kembali pulang, setelah sempat pergi bermain menghabiskan waktu sore ditaman bermain cukup membuatku melupakan sejenak masalahku.
Namun tetap saja, saat kembali pulang perkataan merek kembali berdengung dengan hebatnya diotakku. Aku terlonjak kaget, saat Deva menatapku horor. Namun ku usahankan agar ekspresi takut berubah menjadi datar.
"Darimana kalian? kenapa lama sekali? dan lihat ini sudah jam berapa?" cecar Deva saat melihat Dewa dan aku baru saja pulang.
Saat hendak ingin ku jawab, Dewa sudah lebih dulu menyelak. "Kami abis pergi bermain ke mall, makan es krim dan sorenya kami pergi ke taman bermain."
Deva mengerutkan keningnya, "Dengan siapa kalian pergi?"
"Paman Genta. Dan.." Dewa mendekatkan tubuhnya ke arah sang papih.
Entahlah apa yang dia bisikkan, namun bisa ku lihat dengan jelas. Didetik selanjutnya, wajahnya memerah bak seperti kepiting rebus yang baru saja matang.
Kemudian aku bisa mendengar sedikit, jika dia menggerutu kesal seorang diri sambil berlalu meninggalkan kami yang masih terdiam ditempatnya.
Lalu aku mengalihkan pandanganku menatap Dewa yang sedang tersenyum jenaka, tak lama satu alis mata ku terangkat.
"Papih mu kenapa Dewa?"
Jika setelah ini kalian berpikir jawaban apa yang akan dikatakannya, maka kalian harus bersiap untuk tidak terkejut.
Bahkan aku saja yang mendengarnya, langsung mengangga tak percaya.
"Entahlah mama, sepertinya papih kekurangan organsme." jawabnya santai dengan mengedikkan bahunya acuh.
Aku menerjap berkali-kali, "Siapa yang mengajarkanmu, berbicara seperti itu Dewa?"
Anak itu berjalan mendahuliku, lalu berkata. "Uncle Loey, mama!" serunya.
TBC