Mr. President & Me

Mr. President & Me
32



Devapov


*flashback*


Setelah tadi aku kehilangan jejaknya. Kini kulangkah kan kakiku dengan tergontai, rasa lelah dan lemas tak berdaya kini kurasakan.


Kepalaku mendadak menjadi pening seketika, mungkin akhir-akhir ini aku kelelahan sebab karena aku harus bulak-balik kerumah sakit dan kantor pemerintahan.


Baru kemarin malam, aku bisa pulang kerumah. Namun tetap saja aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Saat perkataan wanita itu terngiang dikepala ku.


"Kenapa aku harus memilih ayah bukan ibu?"


"Kehidupanmu sangat beruntung Lentera!!"


"Kau memiliki segalanya saat bersama ibu, dan aku hanya meratapi nasib miskinku karena telah memilih ayah."


Aku mendesah lelah dan dalam. Ku pijat pelipis keningku, saat rasa pusing semakin berdenyut. Namun saat, aku sedang menimati waktuku untuk beristirahat.


Suara daun pintu terketuk. Ku perintah ia untuk segera masuk. Setelah ia memunculkan batang hidungnya aku tersenyum senang.


Ya, dia adalah seseorang yang sudah ku anggap seperti abangku sendiri. -Saga- nama yang selalu ditakuti dan takkan ada satupun yang bisa melawannya.


Dia pemimpin partaiku, sekaligus investor yang memberikan banyak uang untukku hingga saat sekarang aku sudah menjadi pemimpin dari Negeri ini.


Dia mendaratkan bokongnya tepat disofa empuk di dalam ruanganku ini. Aku berdiri dan melangkah mendekat. Dengan penuh rasa tidak bersemangat, ku sandarkan punggungku.


Sambil sesekali ku terus pijat pelipis kepalaku.


"Kau, sudah mempersiapkan. Siapa yang akan menjadi patner kerjamu untuk pemilihan presiden periode ke-2?"


Aku mendesah kesal, "bisakah kita kesampingkan itu dulu. Aku sedang pusing hari ini," ucapku dengan kesal.


"Tidak bisa! kau harus segera pilih patner yang akan menjadi wakil president untuk menemanimu ... dan, kau juga harus segera mencari wanita yang akan menjadi ibu Negara kita ini selanjutnya!" tolaknya dan aku yang mendengar semua penolakannya, mampu membuat kepala ku bertambah pening.


"Untuk, wakil presiden. Ku percayakan padamu bang. Siapapun aku tak masalah, asalkan jangan terlalu berumur. Itu akan membuatku kesulitan nantinya. Lagi pula, akan terlihat tidak pantas jika seorang pemimpin negara memilih pasangannya, yang bahkan usianya hampir sama dengan usia ayahku. Aku tidak mau itu terjadi. Kau tahu sendiri. Aku ini pemimpin muda dan tampan, walau sudah punya dua orang anak. Aku masih kuat dalam hal itu." ujarku dengan bangga.


Saga merotasi mata jengah, "ya.. ya.. ya.. baiklah! akan ku carikan pasangan yang sesuai dengan kriteriamu untuk kau ajak kerjasama menjadi wakilmu dalam kampanye yang akan diadakan 3 bulan lagi."


"--- tapi kau juga harus gerak cepat! carilah ibu negara untuk menggantikan Diandra." Ya, dia benar aku harus mencari kandidat untuk ibu negara selanjutnya.


Di saat aku sedang hanyut dalam pikiranku, akan pertemuan kami tadi. Tiba-tiba dia kembali bersuara.


"Bagaimana jika Lentera saja. Biarkan mereka tahu jika Lentera masih hidup dan selamat dari kecelakaan pesawat."


"Tidak! jangan. ... Jangan dia. Cari saja yang lain?"


Dia menaikan satu alisnya, "Kenapa? apa kau masih ragu padanya? seperti yang kau ceritakan pada kami di grup malam itu?" Aku hanya mengangguk sebagai jawabannya.


"Lalu siapa, yang menurutmu sesuai?"


*Flashback off*


Aku mendesah pendek. Saat percakapan tadi terus melayang, apa iya aku harus memperlihatkan Lentera. Jika ia sebenarnya masih hidup?


Tapi entah mengapa, disisi lain hatiku menolaknnya. Ku pejamkan sekilas mataku untuk meredakan beban pikiranku yang semakin berat. Lalu tak lama aku menoleh pada brangkar rumah sakit. Dimana Dewa anak ku masih terbaring.


Saat tadi aku sedang berbicang dengan saga. Tiba-tiba sekertarisku, masuk dan memberitahu jika Dewa sempat mengalami kejang. Walau anak itu sedang koma, tapi terkadang tubuhnya bergelejat tidak karauan. Saat setelah diberikan obat pada dokter yang menanganinya.


Jujur, saja awalnya aku panik saat melihat tubuh anakku, bergerak kejang. Namun sekarang aku tahu, itu adalah effek dari geger otak yang dialaminya.


Mampu membuatku terduduk lemas. Apa separah itu saat ia terjatuh, lalu kenapa harus Dewa anakku. Aku bangkit dan berjalan mendekat ke arahnya.


Saat tiba di depan ranjangnya. Ku dudukan bokongku disisinya. Ku usap surainya dengan sayang. Ku terus pandangi wajahnya. Hingga tanpa sadar, aku bergumam sendiri.


"Kau sangat mirip dengan ibumu? kau hanya mewarisi wajah tampan ayahmu. Sedangkan mata, bibir dan hidung milik ibumu. Tapi apa kau tahu, sejak ia datang kembali pada kita. Dia sedikit berubah. Mungkin kau benar, saat itu jika kau tidak menyukainya karena dia bukan ibumu. Buktinya dari kau terjatuh, sampai detik ini dia tidak pernah datang atau sekedar menemanimu dirumah sakit. Berbeda dengan mama Diandramu, ayah benarkan? Mama Diandramu.." aku membuang napas ku saat aku tak sanggup melanjutkan perkataanku.


"---dan tadi pagi, sebelum ayah pergi ke kantor. Ayah melihat mama kesayangmu itu, sepertinya dia akan pergi? apa dia akan meninggalkan negeri ini? atau dia hanya sedang menenangkan diri? ... Hah, ayah merindukannya. Dirinya selalu cerewet dan selalu buat suasana rumah menjadi ramai, mampu membuat ayah merindukan akan kehadirannya. Kau jugakan boy? Cepatlah bangun, jika nanti kau sadar maka kau akan mendapatkan apa yang selama ini kau inginkan. Karena papih, sangat mencintainya. Namun terkadang papih terlalu pengecut untuk mengungkapkannya. Papih harus apa Dewa? papih mu ini payah, dalam hal cinta. Benarkan?"


Aku terus mengobrol dengan Dewa, seakan dia benar-benar mendengarkanku. Saat aku mencium keningnya, airmataku menetes. Ini terlalu berat untuk ku tanggung seorang diri.


Sedangkan aku butuh seseorang untuk menjadi sandaranku, namun ia justru malah aku usir. Hanya karena emosi sesaatku. Bagaimana, jika dia tak bersalah?


Karena orang yang datang dengan pintu yang dibuka secara kasar adalah ibuku. Aku mendecak, "Ibu! ibu itu apa-apaan sih!"


Dia tidak menjawab, namun saat aku hendak bersuara kembali dia malah menyalahkan televisi yang berada diruang inap Dewa ini.


"Lihat?! Kau yang apa-apaan? ini apa Deva? kau membohongi ibumu, dengan melakukan peran bersama wanita sialan itu!"


Ku alihkan intensitas pandangku ke arah televisi, setelahnya bisa ku pastikan mataku terbelalak. Dan secara otamatisnya tubuhku berdiri tegap. Ya, sebuah hotline news yang menggemparkan negeri ini.


Penyamaranku, terbongkar saat aku melakukan perjanjian gila dengan Diandra dulu. Namun otakku berpikir, siapa yang berani membongkarnya? Diandra? atau Genta?


Karena hanya kita bertiga yang tahu akan kontrak palsu itu. Namun belum sepenuhnya ku berpikir ibuku kembali berkata.


"Apa dia yang memaksamu melakukan ini! jika ya, cari dia dan jebloskan dia kepenjara. Selanjutnya kau harus memberikan penjelasan, jika itu semua rencana jahat si wanita sialan itu. Termasuk pada apa yang dia lakukan pada putramu."


Ibuku berjalan mendekat, "Ibu beri waktu kau 3 hari, jika tidak ibu yang akan mencari wanita sialan itu. dan satu hal lagi, 3 bulan lagi. Kau akan ikut dalam calon pemilihan presiden dan wakilnya untuk periode kedua masa jabatanmu. Jika kau sampai tidak bisa lolos, maka akan ibu pastikan wanita itu menanggung semuanya."


Lalu dia berbalik dan berjalan menuju keluar dari ruangan inap ini. "Apa malam itu, kau memakan permen yang dibawa?"


Deg!


Aku menoleh menatap ibuku, "Seperti dugaan ibu kalian pasti memakannya, dan melakukannya. Ibu harap dia tidak akan hamil. Jika dia positif dan ketahuan hamil maka, sudah bisa dipastikan kau tidak akan mampu kembali menjabat untuk dua periode selanjutnya."


Astaga!


Aku benar-benar lupa, soal itu. Saat dimana aku lepas kendali saat kami di Jepang. Dan jika dihitung-hitung, ini sudah 2 bulan berlalu sejak insiden itu terjadi. Apa dia hamil saat ini?


Tapi tidak mungkin dia hamil, karena aku ingat saat itu dia meminta untuk dibelikan pil kontrasepsi. Ya, mungkin saja spermaku sudah busuk saat ia meminum pil itu.


Tapi, bukankah aku juga yang mengambil dan melarangnya untuk tidak meminum pil sialan itu kembali? Aku acak rambut frustasiku, saat dimana aku berusaha untuk mengingat semua yang telah terjadi.


Hingga, "Pak! bapak harus segera memberikan klarifikasi, tentang isu tidak benar itu!"


Aku mengangguk, lalu ku rapihkan sejenak rambutku yang sempat berantakkan sebelum ku putuskan untuk menghadapi wartawan.


Namun saat hendak aku keluar dari kamar inap ini, seorang wanita yang tak ku inginkan kehadiranya masuk. Dia berjalan mendekat, lalu dia berkata.


"Kau mau keluar dengan penampilan seperti ini? apa mereka takkan semakin manaruh kecurigaan padamu nanti?" aku menatapnya tajam.


"Oh, ayolah Deva. Kau sudah memberikan pelajaran pada ayahku dengan cara yang sangat benar. Tapi untuk kali ini biarkan aku yang akan membantumu?"


Tanganku pengepal dengan sempurma, saat dia dengan kurang ajarnya. Memberantakkan rambutku kembali.


Bahkan dia mengendurkan dasi yang tadi ku kencangkan. Namun saat tangannya akan menyentuh kancing kemeja atas ku, aku tepis tangannya. Sehingga membuat wanita itu sedikit terkejut.


"Ouch, kau kasar Deva. Tapi aku suka," ucapnya dengan nada sensual.


Ku tegaskan rahangku, "Kau mau apa, Lisa?"


"Aku hanya mau menjadi pendampingmu, sebagai ibu Negara. Mengantikan dua wanita yang tak layak itu. Diandra dan Lentera?"


"Cih, tidak akan. Karena aku akan mengakatan yang sebenarnya jika--" dia memotong ucapanku.


Sebelum dia berkata, ia tarik sudut bibirnya. "Jika, Lentera masih hidup? atau jika Diandra, sudah mencelakai anakmu saat masa kontrak peran gila itu berakhir?"


"Apa maumu?!"


"Akan ku beritahu sesuatu, bagaimana jika Lentera bukanlah Lentera yang sebenarnya? bagaimana jika dia adalah saudara kembarnya lah yang sedang menyamar menjadi kembarannya yang asli?"


Aku menyerit, "kau tahukan anak kembar itu memiliki tingkat kemiripan yang 99% akurat. Dan .. oops! aku lupa. ... Kau tidak pernah tahu itukan. Jika selama ini, mendiang istrimu yang sebenarnya ..." dia menjedanya.


"Memiliki saudra kembar," lanjutnya sambil berbisik ditelingaku.


Deg!!


Tidak! tidak mungkin?!


Devapov end.


TBC