
#Flashback
Author pov
Setelah kejadian penyergapan akhirnya Genta mengendong Dewa dan segera berpamitan kepada Diandra dan Mutia, lalu kini perlahan dia mulai melangkah keluar dari sana. Namun, belum sampai mereka benar-benar pergi Diandra memanggilnya kembali.
"Hei, kau!! tunggu sebentar?"
Genta menoleh, "ini milikmu ketinggalan." Sebuah benda pipih milik Genta yang dia tunjukan pada Genta sang ajudan.
"Apa? kau sudah melihat isi, dari benda tersebut?" Seketika tubuhnya menegang.
Dia menerjap kaku, lalu dia tergagap. "S--sedikit, aku tidak sengaja melihatnya."
"Seharusnya kau tidak melihatnya? ini pelanggaran namanya?!" dia marah.
"Pelanggaran katamu?!"
"Ya, kau sudah tidak sopan membuka ponselku tanpa persetujuan dariku terlebih dahulu?" Diandra merotasi matanya.
Astaga, bagaimana bisa dia tahu jika itu miliknya tanpa harus menyentuh ponsel tersebut. Benar-benar keterlaluan pria itu.
"Dengar!! bagaimana aku bisa tahu jika itu adalah milikmu, tanpa harus ku sentuh? kau pikir aku seorang cenayang! yang tanpa menyentuhpun aku bisa melihat isi ponselmu?! benar-benar!! kau ini."
Genta berdecak sebal, "apa yang kau lihat di dalam sana?"
"Saat, aku menyentuh layarnya secara otomatis layar ponselmu terbuka otomatis. Dan di sana sudah menampilkan sebuah video rekaman ulang cctv yang terjeda. Apa aku benar?"
"Ya, aku memang habis menonton video tersebut? apa kau menyalakan video itu?"
Diandra mengangguk, "ya aku sedikit penasaran. Karena di video sana menampilkan Dewa yang sedang mengobrol dengan sorang wanita, lalu aku sedikit penasaran dengan pria yang berada cukup jauh dari mereka berdua. Karena jika bisa aku tebak sepertinya--" ucapnya terjeda.
"Iya, kau benar. Merekalah dalang dibalik hilangnya Dewa seharian ini. Aku memang sedang mengawasi wanita dan pria misterius itu? karena sepertinya, mereka juga terlibat dengan kecelakaan yang menimpa ibu negara, ibunya Dewa." Diandra menyerit bingung.
"Kenapa kau memberi tau semuanya padaku?"
Genta mengedikan bahu acuhnya, "hanya ingin." Karena aku bisa merasakan, jika kau akan menjadi wanita dan seorang ibu yang akan selalu melindungi, bapak dan juga kedua anaknya. Sambung Genta di dalam Hati.
Authorpov end
#flasback off
"Siapa pria itu? ko gue kaya gak asing ya, sama pria itu?" monolog gue.
Tiba-tiba saja sekelebat ingatan itu muncul kembali, sejak pikiran gue terisi oleh pria misterius itu. Tapi siapa dia? kenapa pria itu selalu muncul di saat si Mr. kaku tidak ada? Tunggu? bukannya Genta pernah bilang kalau?
#flashback
Author pov
Malam setelah mengantarkan Dewa, baik Diandra dan Genta hanya ada keheningan di dalam perjalanan. Hingga, tak lama Diandra memulai percakapannya.
"Ekhem, bolehkah aku bertanya sesuatu?"
Genta menoleh sejenak, lalu ia kembali lagi memfokuskan pandanganya. "Ada apa? apa yang ingin kau tanyakan?"
"Itu.. Soal pria yang kita lihat tadi sebelum keluar dari istana, kau mengenalnya?"
Genta menghelapasnya, "ya, dia kekasih dari calon tunangan Mr. president?"
"Apa?! Maksudmu calon tunanganya memiliki kekasih gelap?"
Ia hanya mengangguk sebagai jawabanya, "Wahh.. sulit dipercaya!! Dia menjebaknya?"
"Tidak. Tapi situasilah yang telah menjebaknya, untuk menerima semua ini?"
Diandara menyerit, "maksudmu?"
"Setelah kematian sang istri, pikirannya terbagi menjadi dua. Dia semakin sulit, berpikir dan mempercayai dirinya sendiri. Sampai akhirnya, dia memerintahkan ku untuk mencari semua bukti atas kematian sang istri. Namun semua menuju pada partai politiknya. Dan sayangnya, partai politik yang menaunginya berada dibawah kepemimpinan ayah dari Lisa."
Ia mengangguk, sedangkan Diandra terkejut bukan main. Bahkan ia merasa jika, seketika dadanya terasa penuh dan sesak. "Astaga, bagaimana mungkin.. ituh, ahh.."
Katanya dengan napas yang terngah-engah. Bahkan sesekali, dia mengelus dadanya yang sedikit terasa sakit. Genta yang melihat Diandra seperti itu, langsung menepikan mobilnya.
"Hei, kau baik-baik saja?"
"Hah, aku tak tahu.. kenapa rasanya sakit sekali, ah. Jadi ia membuang semua bukti yang sudah ia kumpulkan, hanya untuk mempertahankan tahtanya?" Genta menatap dalam.
"Ya mungkin. Aku tidak tahu apa yang terjadi? karena setelahnya pencarian bukti tentang mendiang sang istri dihentikan. dan semua saksi seketika menghilang." Astaga ini terlalu rumit.
Auhtorpov end
#flashback off
Gue mendongakan kepala gue menatap langit malam, namun tak lama pandangan gue kembali teralih saat suara brisik terdengar dari bawah. Mata gue perlahan menyipit, saat melihat 4-5 orang berpakaian serba hitam membawa seseorang digendonganya.
"GITRA?!"
"SIAPA DI SANA?!"
Gue refleks menutup mulut dan merosotkan diri gue agar tidak ketahuan. Buat apa mereka membawa Gitra, malam-malam begini? Ya, dia putri pertama Mr. president.
Tapi kenapa? dengan segenap keberanian gue, perlahan mulai sedikit menyembulkan kepala gue untuk kembali melihat. Dan sialnya gue melihat Lisa dibawah sana yang masih berpakaian tidurnya yang cukup tipis.
"Jadi dia benar-benar ingin menghilangkan semua keluarganya?" tanpa sadar gue mengepalkan tangan, saat gue bergumam.
Sret~~
"Owh shit! hampir aja." gerutu gue saat, hampir saja sebuah cahaya mengenai gue.
Lalu tak lama gue kembali lagi memunculkan sedikit kepala gue hingga, "kamu ngapain Diandra?"
"Kenapa kamu ngintip-ngitip seperti itu? siapa yang kamu intip?!"
Refleks gue menoleh, saat suara berat dari pria yang gue kenal itu memberikan intrupsi. Gue menerjap beberapa kali, lalu kembali menormalkan wajah gue yang tadi sempat terkejut.
Tapi bodohnya gue malah narik tangan si Mr. kaku untuk ikut bersembunyi, ketika dia sudah berdiri dihadapan gue. "Hustt.. jangan berisik nanti ketahuan?"
"Ketahuan? Ketahuan dari siapa?"
Gue gak menjawab, namun tangan gue menunjuk ke arah bawah sana. "siapa mereka?"
"Saya tidak tahu? tapi yang bisa saya lihat, hanya Gitra putri anda?"
Gue masih sibuk melihat gelagat mencurigakan dari orang-orang dibawahnya, namun sialnya si pria Kaku di samping gue malah bersuara keras dan membuat mereka yang dibawah kembali menoleh ke sini.
Dia menautkan alis mata, "Anak saya? memangnya anak saya mau dibawa kemana? dan--" dia menjedanya.
"Kenapa kamu tidak meneriakinya?!" gue merotasi mata jengah.
Astaga berisik bener ini orang!!
Karena gue udah kebawa emosi, tangan gue dengan refleks menutup mulutnya. Namun sialnya, saat gue berusaha untuk menutup mulutnya. Gue malah dibuat terdiam kaku, saat wajah kita saling berhadapan.
Dan sialnya itu sangat dekat, sehingga mampu membuat jantung gue bekerja gak karuan setelahnya. Ditambah lagi, seolah waktu mendukung kondisi kami saat ini. Ya, waktu seperti terasa telah berhenti berputar. Saat gue dan dia masih asik saling bertatapan tanpa berkedip sedikitpun.
Gue cuman bisa meneguk saliva secara kasar, apalagi kalau bukan wajahnya semakin dekat. Dan dekat, gue cuman bisa memejamkan mata saat itu.
Namun didetik selanjutnya gue malah dibuat malu, sama ini orang. "Kamu berharap dapat ciuman dari saya?" tanyanya sambil berbisik.
Mata gue melotot tak percaya, ingin ku berkata kasar dan mengatakan sumpah serapah kepadanya namun terhenti saat seseorang dibawah sana bersuara.
"SIAPA DI SANA?!"
Deg!
TBC