Mr. President & Me

Mr. President & Me
40



Ku langkahkan kakiku setelah pesawat yang ku naiki mendarat. Aku terus berjalan keluar dengan mendorong dua koper besar milikku. Setibanya aku dipintu keluar bandara, ku edarkan pandanganku.


Hingga tak lama aku menangkap wajah yang sangat familiar. Aku berlari berhambur kedalam pelukkannya.


"Tumben pulang? biasanya, selalu bilang gue sibuk.. dan bla.. bla.. bla." ya, itu Mutia.


Sahabat yang tidak pernah tahu malu, bahkan mulutnya pun itu menjadi tajam. Setajam silet. Ku peluk dia dengan sangat erat.


Lalu tak lama aku bisa merasakan, tubuhnya yang memberontak dan terus berusaha melepaskan pelukkan itu berkata.


"Hey!! elu mau buat gue mampus! lepasin!! DIAANNNDDRRRAAA!!! uhuk, uhuk."


Saat aku mendengar dia yang terbatuk, segera ku lepaskan pelukannya. Dia menatapku dengan bengis, namun ku balas dengan cengiran kuda. Saat kami sedang asik bertengkar manja.


Tiba-tiba saja suara derap langkah kaki seorang pria terdengar. Dengan napas yang terengah-engah, diberdiri dihadapan kami.


Aku naikan satu alis mataku, "ma-maaf.. a-aku terlambat."


"Ck, ck, ck, parah lu nyuruh gue tunggu tapi malah gue jalan sendiri ujung-ujngnya!" kesal Mutia pada lelaki ini.


Hosh!! hosh!!


"Ini minum dulu, kau pasti hauskan?" dia tersenyum lebar padaku.


Lalu tak lama dia mulai menenggak satu botol air mineral, yang ku dapat dari pesawat tadi hingga tetes terakhir.


Aku tercengang saat melihatnya, hingga. "HYA!! KAU INI KENAPA SI. ABIS DARI MANA KAU!!"


"Bisa tidak, kau tidak memukul ku." Aku hanya mengeleng-geleng melihat kedua temanku ini saling berdebat.


"Sudahlah Galang, jangan marah-marah nanti jatuh cinta loh sama Mutia." goda ku pada mereka. Reaksi mereka semakin membuat ku gemas.


Bayangkan saja, seperti dua orang bocah berumur 5 tahun yang sedang kesal. Karena salah satunya berbuat curang atau kasar. Ya, semoga mereka berjodoh. ucapku dalam hati.


"Mut?" dia menoleh.


"Kenapa?"


"Apa ada, sesuatu yang elu rahasiakan dari gue. Selama gue tinggal dan menetap di Paris." Tubuh mereka tiba-tiba menegang.


Ya, aku bisa melihat gelagat aneh mereka ketika perkataanku terucap.


Lalu tak lama dia menggeleng, "Tidak. ... Tidak ada. Emangnya kenapa?"


Aku mendesah berat, "Engga papa ko, hanya bertanya. .. oia bagaimana dengan kabar Dewa?"


"Eoh! De-dewa.. Dia," ada jeda yang dia buat.


"Dia baik, ... bahkan dia sehat."


"Benarkah?"


Dia mengangguk kaku, "Syukurlah kalau anak itu baik."


Lalu ku alihkan pandanganku. Aku tahu Mutia sedang berbohong, entah kenapa dia merahasiakan kematian Dewa juga padaku.


Aku tidak mau berpikir negatif padanya, namun tetap saja. Dia sudah ku anggap seperti anakku. Bahkan Mutia tahu itu.


"Malam ini, elu mau tidur dimana Ndra?"


"Dimana saja, asalkan tidak berisik. Karena hari ini aku sangat lelah."


Ku pejamkan mataku, untuk melupakan semua kebohongan yang dibuat Mutia. Jangan berpikir aku benar-benar tidur. Karena nyatanya aku masih bisa mendengar, bisikkan dari Galang dan juga Mutia.


"Gimana Diandra terus nanyain anak itu?"


"Elu sih pake boong, udah jujur aja."


"Berisik banget sih lu! Kecilin apa suarannya."


Ya, kurang lebih seperti itu. Percakapan mereka, selama di dalam mobil. Hingga tanpa ku sadarin, rasa kantuk datang dan membawaku masuk ke dalam mimpi.


Paginya, aku terbangun karena cahaya matahari yang mulai menusuk retina mataku. Aku merentangkan tubuhku. Aku menoleh, mengedarkan pandangan saat pencahayaan mataku sudah normal kembali.


Tling!


**Nana : ini alamat makamnya aden Dewa, mba. Jangan bilang siapa-siapa ya mba?


Sipp, makasih banyak Na**.


Ya, dia Nana. Salah satu mantan ajudan Deva, yang kini bekerja sebagai bodyguard dirumah Deva. Aku baru tahu, jika selama ini dia benar-benar merasakan karma.


Karena yang aku dengar, ternyata tim kampenyenya diam-diam melakukan penggelapan dana. Dan saat hasil akhir quickcon. Tenyata banyak suara, bodong yang masuk dalam perhitungan jumlah surat suaranya.


Aku tahu Deva tipikal orang yang seperti apa. Jadi tidak heran, jika pada akhirnya dia lebih mengikhlaskan jabatannya. Hanya demi berlari, datang melihat kondisi Dewa yang saat itu tiba-tiba kejang kembali.


Bahkan yang paling buat aku merasa sesak, cairan kuning ditubuhnya merembas bocor keluar. Cairan itulah, yang selama ini menahannya untuk tetap koma. Namun setelahnya, Tuhan berkata lain.


Dokter juga seorang manusia. Yang sebagaimana, semua berada ditangan sang Illahi pada akhirnya. Aku memejamkan mataku sejenak, lalu kulirik jam weker ku.


Pukul 8 pagi. Setelahnya aku bangkit, dan bersiap untuk mengunjungi pusaran anakku. Dewa.


***


Setibanya, aku dipusaran terakhir Dewa. Ku simpuhkan diriku, duduk menghadap batu nisan yang memajang namanya. Derai airmatakku mengalir dengan deras, menangisi kepergiannya.


Tanganku aku ulurkan menyentuh batu marmer itu. Lalu perlahan ku usap debu dan dedaunan kering yang mencoba menutupinya.


Tanganku, terus bergerak menyapu bersih semua kotaran yang ada disana. Hingga saat, tangan ini menyentuh rerumputan hijau yang hidup di atas pusarannya. Aku semakin terisak.


Tubuh gemetar hebat, menangisi kepergiannya. Aku terus merunduk sambil menangis, sungguh aku tak sanggup melihat batu marmer itu.


"Dewa," ucapku dalam tangis.


**Hiks!


Hiks**!


Bibirku gemetar hebat, saat nama itu akan ku ucap kembali. "D-dewa.. anak mamah. hiks.."


"Kenapa kamu pergi? kenapa kamu ninggalin mama?"


Derai airmataku, tak henti-hentinya mengalir. Terkadang, aku terbatuk-batuk saat tangisanku cukup kecang. Sehingga membuat tenggorokkanku sakit dan gatal.


Hingga beberapa jam berlalu, aku habiskan hanya untuk sekedar bercerita. Dan tanpa sadar, waktu sudah sore. Ku hapus airmataku, saat sebelum berangkat.


"Dewa mama pulang dulu ya? besok kita ngobrol lagi. Kamu gak akan takutkan sendirian disini? ... ya, anak mama sekarng sudah menjadi anak yang pemberani dan tidak takut apapun. Benarkan?" Monologku.


Kemudian, ku cium batu marmer yang kini telah mengukir namanya. Setelahnya ku letakkan bouket bunga kesukaannya, yang akan selalu dia sayang saat dia masih hidup dulu.


Aku berusaha tersenyum, namun airmataku tetap tidak mau berhenti. Sebelum benar-benar pergi dari sana. Aku menolehkan sejenak menatap pusarannya. Lalu aku kembali melangkah, menuju parkiran.


Saat tiba di depan mobilku. Aku membuka tas dan mencoba untuk mengambil kunci mobilku, yang kutaruh di dalamnya. Namun entah kemana perginya, kunci itu. Ku bongkar seluruh, isi tasku.


Hingga, saat aku masih asik membongkar dan mencari kunci mobilku. Aku mendengar suara seseorang meneriakkan namaku.


"MAAAMMMMAAAAA!!!" tubuhku menegang dengan sempurna.


Aku menggeleng pelan, saat suara teriakkan itu semakin jelas terdengar ditelingaku. Itu tidak mungkin! Tidak mungkin Itu Dewa. Aku memutar badanku, untuk memastikan siapa yang telah memanggilku.


Aku terkejut saat melihat Gitra yang berlari menghampiriku. Dan dibelakangnya tentu saja ada Deva, sang ayah. Namun belum sampai dia merengkuh tubuhku. Tubuhnya tiba-tiba saja oleng.


Brugh!!


Dia terjatuh, terselungkur ke tanah. Aku yang melihat itu, terkejut dan refleks aku berlari mendekatinya. Ku angkat dia, dan ku sapuh tubuhnya yang kotor karena debu tanah. Saat tatapan kami saling terkunci, anak itu tersenyum lebar dengan mata yang berkaca-kaca.


Hingga. "Mama, .. ini mama Diandra kan. Mama ku dan juga Dewa."


Aku mengangguk kecil, lalu didetik selanjutnya dia memelukku erat dan menumpahkan seluruh airmatanya dipundakku. Dan lagi, airmataku kembali turun.


Sedangkan Deva, dia hanya berdiri dari kejauhan menyaksikan drama isak tangis itu terjadi dengan tangan yang memegang kunci mobilku dijarinya.


TBC