Mr. President & Me

Mr. President & Me
21



Devapov


Aku Deva, seorang pemimpin di suatu Negara yang memiliki banyak ke indahan di dalamnya. Termasuk keindahan para wanita-wanitanya.


Negara ku tidak terlalu luas, namun cukup banyak dipuja oleh orang asing karena kesetaraan rakyatnya dan ditambah pendapataan kami yang cukup tinggi. Mampu membuat rakyat ku bahagia.


Aku memimpin Negara ini, hanya seorang diri tanpa ibu Negara disampingku. Ya, karena istriku telah berpulang kepadaNya.


Aku sudah kehilangan istriku sejak 3 tahun silam, dimana kecelakaan pesawat yang ditumpangi istriku meladak saat perjalanan pulang. Aku sempat mengalami depresi setelah mengetahui kecelakaan itu terjadi, tapi dengan baik aku menyembunyikannya agar tidak ada satupun yang tahu jika aku sempat sakit setelahnya.


Aku sangat yakin ini semua adalah permainan politik dari lawanku. Diam-diam aku meminta Genta untuk menyelidiki kasus kecelakaan mendiam istri ku. Dan selama penyelidikan itu berlangsung aku tidak pernah menduga akan hadirnya sesosok wanita dalam kehidupan ku kembali.


Wanita bar-bar dan selalu pembangkang dimataku itu bisa meluluhkan hati putra bungsuku, entah apa yang membuat putra ku jatuh hati padanya dan merasa nyaman saat berada disampingnya.


Namun yang jelas, wanita itu sangat ia sayangi. Perlahan tapi pasti, putra ku semakin menempel padanya. Hingga tak kusangka dia meminta permintaan konyol, dimana dia ingin wanita itu menjadi ibunya dan istri untukku.


Rasanya aku ingin menolak permintaanya, namun saran dari Genta membuatku sedikit berpikir saat itu. Genta bilang, jika semua bukti sudah ditangan. Dan ia juga mengatakan, aku bisa memanfaatkan situasi ini untuk mengungkapkan siapa dalang dibalik kecelakaan istriku.


Jadi aku menerima permintaan konyol tersebut, dengan membuat sebuah kontrak perjanjian di sana. Perjanjian jika kami hanya memerakan peran sebagai pasangan suami istri, hanya dihadapan media dan juga putraku.


Tapi setelah 2 minggu tinggal bersama dengannya, ada sebuah gelenyar asing yang sering datang menyerangku saat itu. Rasa yang dulu pernah terjadi saat mendiang istriku masih hidup, saat itu pertama kalinya aku melihat dirinya menggunakan pakaian tidur yang tipis dan terkesan seksi.


Tengah berjalan menuruni anak tangga, bahkan dia sama sekali tidak menyadari posisiku yang saat itu sedang duduk sambil menikmati secangkir kopi di dalam kesunyian.


Mata ku terus mengikuti kemana dia berjalan, dan setelahnya dia membuka lemari pendingin itu.


'Apa? apa dia lapar?' pikir ku saat itu.


Baru pertama kalinya ku melihat, seorang perempuan yang bangun ditengah malam hanya karena lapar. Bahkan mendiang istriku, dan para wanita yang sering ku ajak tidur akan selalu menolaknya dengan alasan 'makan malam itu tidak baik.' lalu mereka kembali bersuara 'nanti aku bisa gemuk.' ya, itulah yang sering kudengar.


Tapi dia tidak, dengan lahapnya dia menyantap kue favorit milik putri sulungku. Aku berdiri, bersandar ditembok sambil terus mengamatinya.


Jika diperhatikan ia sangat cantik disaat sedang menyantap kue itu. 'astaga apa dia sengaja meninggalkan krim kocok itu?' dalam hati aku berbicara. Lalu tak lama otak ku mendadak menjadi liar.


Aku terus menggigiti bibir bawahku, saat lidah dengan erotisnya menyapu permukaan bibirnya. Otakku yang mulai tidak waras itu, akhirnya ku alihkan dengan berbicara padanya.


Namun lagi-lagi seolah dia memang sengaja meninggalkanya atau memang dia tak menyadarinya, semakin membuat hasratku bergejolak ditambah adik kecil ku yang tiba-tiba menjadi trun on.


Ku kecup bibirnya lalu ku jilat sudut bibirnya yang terkena krim kocok itu. Lalu setelahnya, dia pingsan. Ya, wanita itu pingsan setelah aku mengecup dan sedikit menjilat sudut bibirnya menyapu bersih sisa krim kocok yang tertinggal.


Tanpa banyak bersuara lagi, ku gendong ia kembali ke kamarnya. Tapi anehnya esok paginya, dia bersikap seolah tidak ada yang terjadi di antara kita berdua.


Aku sesekali tersenyum, saat memikirkan bagaimana reaksi lucunya saat ku kecup bibirnya yang manis itu. Namun didetik selanjutnya senyumanku luntur saat putriku bersuara.


"Papih, apa papih melihat siapa yang telah memakan kue ku?" aku melirik dia sekilas.


Aku sangat yakin, saat pertanyaan itu terucap dia sangat terkejut. Karena dari ekspresi wajahnya saja sudah menegang dengan sempurna.


"Tidak! mungkin saja ada tikus pala hitam dirumah ini!" dia menatapku sinis. Namun aku abaikan, dan ku normalkan kembali sikapku.


Beberapa jam berlalu, dan kini suara ketukan pintu mengalihkan fokus ku pada lembaran-lembaran kertas ini.


Tak lama wanita itu memunculkan wajahnya dan berjalan ragu, aku kembali memfokuskan diriku pada lembaran kertas.


Hingga kemudian dia bersuara, dia meminta ku untuk mengizinkannya mengadakan sebuah perlombaan di halaman istana kepresidenan ini.


Jelas, aku melarangnya. Aku tak ingin kenangan pahit akan istri ku kembali muncul, karena sudah susah payah aku berusaha untuk mengikhlaskannya pergi. Tapi ia dengan mudahnya, meminta izin untuk melakukannya dan itu artinya dia ingin kenangan tentang mendiang istriku kembali terbuka.


Bahkan, dia dengan beraninya mengatakan. 'Baiklah, kalau kau tidak mau. kau tidak perlu khawatir. Karena aku yang akan melakukannya, tanpa izin darimu?!' perkataanya terus terngiang diotak ku bagaikan kaset kusut yang takkan berhenti sebelum meledak.


Benar karena setelah, dia kembali berkata dan perkataannya itu mampu membuatku bungkam.


'Sampai kapan, kau akan membuat anak-anak mu menderita hanya karena kau masih belum mampu untuk mengikhlaskannya. Jangan biarkan kenangan itu menyakiti dirimu dan juga kedua anakmu. Karena mereka masih butuh kesenangan bersama ayahnya.'


Sejak saat itu, entah apa yang membuat ku membenarkan perkataanya. Ya, aku akui setelah meninggalnya istriku aku memang sudah jarang mengobrol dan bersenang-senang dengan kedua anak ku.


Bahkan putra bungsuku saja, dia belum sempat melihat wajah ibunya. Karena saat kejadian itu berlangsung Dewa masih berusia 8 bulan. Jadi wajar saja aku selalu mendapat telpon dari sekolahnya.


Mereka mengatakan jika Dewa sering kabur dari sekolahnya, tanpa membawa tasnya. Setelah memikirkan semuanya, aku bangkit dari kursiku dan berjalan keluar.


Namun belum sempat aku menuruni anak tangga, aku melihat wanita itu tengah sibuk menulis dan mempersiapkan semuanya.


"Sepertinya dia benar-benar akan melakukannya?" gumamku.


Terkadang aku juga bertanya pada hatiku, seberapa tulus wanita itu mendekati putra-putriku. Namun ternyata sekarang aku sendirinya yang menjawab atas pertanyaan yang aku sering lontarkan pada diriku sendiri.


Karena wanita yang ada di depanku saat ini, benar-benar tulus menyanyangi kedua anakku. Lalu setelahnya dia berlalu dan keluar dari rumah ini, saat seorang ajudanku memanggilnya.


Perlahan aku mulai kembali melangkah, dan mendekati meja yang penuh dengan tulisanya. Ku raih selembar kertas yang penuh akan tinta tersebut, namun saat aku sedang asik membaca tulisanya dia kembali datang dan bersuara.


"Mau ngapain kamu? mau robek kertas itu?"


Aku terdiam tak menjawab, lalu setelahnya dia kembali berucap. Tepat sebelum dia menyelesaikan ucapanya, aku langsung menyelanya.


"Lakukanlah apapun yang kau mau. Sebab kau juga ibu dari mereka dan itu hakmu."


Konyol! entah dari mana perkataan itu ku dapat. Yang jelas itu meluncur begitu saja dengan mulusnya tanpa di sadari. Lalu setelahnya aku berjalan cepat kembali memasuki ruang kerjaku.


Setelah aku tiba di dalam ruang kerja ku, aku bersandar pada tembok. Dengan pintu yang terbuka sedikit. Aku memegang dada ku saat dimana jantungku berdetak lebih cepat, seolah aku habis melakukan jogging pagi.


Aku menoleh, saat mendengar suara mereka. Tanpa ku sadari sebuah senyuman melengkung dibibirku. Oh, sepertinya kini aku mulai jatuh cinta pada wanita itu. Wanita yang telah berhasil merebut hati kedua anak ku, dan juga hati ku. Tapi, bagaimana jika perjanjian itu selesai nantinya.


Akankah aku bisa melepasnya? aku berharap jika dia juga mencintaiku sebelum kontrak perjanjian itu usai.


TBC