
"Apa kau sudah siap? tidak ada yang ketinggalankan?" tanyaku padanya.
Lalu dia menggelengkan kepalanya. Ya, saat ini aku sudah berada di dalam mobil menuju bandara. Karena hari ini aku akan menghadiri acara pertemuan, seluruh kepala Negara yang bergabung menjadi anggota G-20.
Mengenai kejadian tadi malam itu benar-benar diluar rencana. Karena pasalnya tepat sore kemarin ibuku mengirimkan sebuah pesan. Bahwa ia akan datang, untuk menemui cucu dan menantunya.
Aku langsung panik, dan saat itu juga aku memerintahkan seluruh ajudan serta pembantu rumah tanggaku untuk segera memindahkan barang-barang Diandra ke kamarku tanpa seizin darinya. Biarkan saja dia marah nanti. Karena aku tahu betul sifat ibuku, sejak awal aku menikah dengan Lentera mendiam istriku.
Ibu akan selalu datang berkujung seperti hantu. Yang datang saat tengah malam dan menghilang kapanpun dia mau.
Jadi aku sedikit khawatir, saat mengingat aku dan Diandra sedang menjalani peran sebagai pasangan suami istri. Itulah sebabnya semalam kami kembali tidur dalam satu kamar dan berbagi ranjang.
Karena pasalnya, suami istri ya memang harus tidur di ranjang yang sama bukan beda kamar. Aku tahu dia pasti akan menolak, saat tahu jika ia harus tidur satu ranjang denganku.
Tapi apa daya, setelah aku mengatakan semua padanya mengenai ibuku yang suka datang diwaktu tak menentu. Jadilah, dia menurut. Mungkin yang diotaknya saat itu berpikir.
Jika saat itu sandiwara kami terbongkar, maka disaat itu juga ia akan melihat secara langsung guratan kekecewaan yang ada diwajah Dewa nanti. Dan dia tidak ingin melihat itu.
Namun baru saja 5 jam berlalu, aku bisa merasakan jika ranjang yang kami tiduri mulai bergoyang. Aku sempat berpikir sejenak, apa saat itu sedang gempa? atau sebentar lagi, gempa yang lebih kuat akan datang? Tapi ternyata aku salah.
Karena ranjang bergoyang itu disebabkan bukan dari gempa, melainkan Diandra yang terus begerak gusar di sampingku. Aku tahu, bukan hanya dia yang tidak nyaman untuk tidur satu ranjang dengan ku.
Tapi aku juga, namun daripada ibuku melakukan hal tak terduga nantinya. Aku hanya ingin melindunginya, dan juga Dewa anak ku dari rasa kecewanya nanti.
Hingga tak lama aku mendengarnya memanggil diriku, tunggu apa dia menyangka jika aku sudah tertidur pulas? oh yang benar saja. Aku juga tidak bisa tidur dengan nyaman, namun aku harus memaksakan diri agar tertidur.
Tapi sialnya, gairah hasratku membuncah yang sudah susah payah ku tahan sejak ia memakai piyamanya yang tipis dan seksi itu.
Hei! jangan salahkan aku. Karena aku lelaki normal pada umumnya, yang dimana juga bisa bergairah saat melihat wanita seksi, dan berkulit mulus seperti dirinya.
Namun otakku melarangnya, karena aku tidak mau jika esok harinya dia akan membenciku karena hasrat gairahku yang sudah trun on. Aku mencoba menetralkan diriku, seraya untuk meredamkan gairah lelakiku untuk tidak menyerangnya. Tapi lagi-lagi, itu gagal.
Karena didetik selanjutnya gerakkanya di atas kasur semakin membuat kepalaku menjadi pening mendadak. Aku berbalik menatapnya, yang sedang menatap langit-langit kamar.
"Astaga!! bisa diem gak! bisa roboh ini ranjang lama-lama, kalau kamu terus bergoyang seperti tadi!"
Dia hanya menerjap, lalu tak lama dia kembali bersuara. "Saya pindah aja deh ke kamar sebelah, lagi pula ibunya bapak gak akan mungkin datang tengah malem."
Namun saat aku hendak menjawabnya, tiba-tiba saja aku mendengar suara kendaraan yang ku yakin itu mobil ibuku. Dengan gerak cepat, aku kembali menariknya hingga ia kembali jatuh ke atas tubuhku.
Dan kemudian, aku memeluk pingangnya posesif. Aku tahu dia memberontak saat itu, namun sayangnya aku tidak mengubris perkataanya, hingga setelahnya.
Ceklek
Ibu datang, dan bersuara. Setelah, aku dan ibuku saling berdebat. Aku bisa merasakan, jika Diandra sedang menahan napasnya. Aku sedikit menyungingkan senyumanku, apalagi saat merasakan tubuh kakunya yang tak bergerak.
Hingga dia tidak menyadari jika ibu ku sudah pergi dari sana. Aku langsung kembali bersuara, "Hey, bernapaslah. Mama sudah pergi."
Aku terkekeh kecil, saat merasakan jika ia kembali bernapas di atas tubuhku. Namun, tanpa diminta tiba-tiba saja aku merasakan jika tubuhku mendadak menjadi panas.
Aku langsung saja, bersuara untuk memintanya bangun dari atas tubuhku. Wajahnya yang merona membuatku semakin gemas oleh tingkahnya, dan refleks aku mengecup bibirnya sekilas.
Lalu kemudian aku sedikit menggodanya, "Jangan melamun, nanti kalau kamu kesurupan. kan saya yang repot?"
Tapi lagi-lagi aku malah mendengar ia bertanya alasan ibu bisa seperti itu. Jujur aku memang belum menjelaskan alasan besar dibalik sikap ibuku.
Karena aku berpikir mungkin saja, ia akan cemburu nantinya. Namun dia kembali bertanya alasanyanya jadilah, aku menceritakan secara jujur. Dan aku berharap, hatinya tidak sakit nanti saat setelah mendengar kejujuran ku.
Setelahnya ia meminta agar ia kembali ke kamarnya namun, otakku tiba-tiba saja berputar dan mengatakan jika bisa saja nanti ibuku kembali masuk kedalam kamar ini padahal bohong.
Ya, aku membohonginnya agar ia yang hendak pergi dari kamar ku saat itu enggan, untuk kembali ke kamarnya. Dan nyatanya itu berhasil. Tapi, lagi-lagi kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya.
Hingga membuat ranjangku benar-benar roboh, dan hancur seketika. Astaga, sebenarnya dia itu wanita atau bukan sih? kenapa tenaga sangat besar, bahkan ranjangku saja bisa roboh dibuatnya.
***
Pagi ini, ibuku kembali membuat ulah dengan perkataan konyolnya. Yang mengatakan pada anak-anak ku jika, kejadian robohnya ranjang kami tadi malam itu karena aku dan Diandra sedang usaha untuk membuat seorang adik untuk Dewa putra ku.
Tapi entahlah, kenapa tiba-tiba saja selera makanku menghilang. Lalu aku bangkit dan berjalan kembali ke kamar. Aku bisa mendengar jika ibuku menggerutu kesal.
Tapi aku hiaraukan karena aku juga sama kesalnya, saat mendengar perkataan-perkataan frontal ibuku yang berbicara dihadapan kedua anakku. Saat aku kembali turun dan hendak melewati mereka yang masih duduk dimeja makan itu. Langkah kakiku terhenti.
Apalagi kalau bukan ibuku yang memanggilku dan bersuara, "Kau mau kemana?"
"Mau kerja lah ma, karena hari ini akan ada pertemuan antara sesema kepala Negara di Jepang untuk membahas G-20. Kenapa?"
Ibu gue tersenyum sesaat, "lalu Diandra?"
Tunggu? kenapa denganya? oh, aku tahu pasti ibu ingin mengatakan jika aku harus mengajaknya. Pikirku sambil menatapnya.
Lalu setelah itu akhirnya aku menyetujui, saran ibuku untuk mengajak Diandra ikut turut hadir dalam pertemuan kali ini. Semoga saja, dia tidak akan melakukan hal yang aneh selama disana. Semoga!
Beberapa jam berlalu, kini aku dan Diandra sudah berada di dalam pesawat. Karena pasalnya tadi selama perjalanan dari rumah menuju bandara, tidak ada yang banyak dibicarakan.
Kecuali, aku yang mendengar cerita heboh Diandra yang sedang menghubungi temannya. Karena yang bisa aku tangkap dari obrolan mereka, sepertinya mereka sudah berjanjian untuk pergi berbelanja karena sedang ada sale besar-besar disalah satu mall.
Astaga! kenapa para wanita sangat suka dengan yang berbau diskon.
Selama dalam perjalanan dari Negara ku menuju Jepang, lumayan memakan waktu yang cukup lama yaitu 8 jam perjalanan.
Jadilah aku menyibukan diri, dengan berkas-berkas dari seluruh para anggota legistratif yang sedang menjalankan pronyeknya masing-masing.
Tapi tiba-tiba saja, Diandra mendekat dan duduk dihadapanku. Aku tahu sepertinya dia sangat bosan, hingga akhirnya aku menyuruhnya untuk lebih memilih tidur di dalam kamar sana.
Namun sebelum Diandra benar-benar masuk, aku berkata. "Apa kau punya permen?"
Dia menunjuk ke arah salah satu sudut kursi. Lalu setelah mengatakan dimana letak peremen tersebut, dia masuk kedalam kamar.
Aku berdiri dan mengambil permen tersebut, tanpa pikir panjang aku langsung membuka dan memakannya. Namun baru 5 menit permen itu aku masukan kedalam mulutku, tiba-tiba saja suhu ruangan berasa panas.
Ada sesuatu yang tidak bisa ku mengerti, kenapa rasanya aku sangat panas dan tubuhku mulai menggeliat. Aku bangkit, dan berniat untuk membasuh muka.
Saat aku masuk ke dalam kabin kamar. Tiba-tiba aku terpaku, saat pemandangan indah dan menggiurkan tersaji dihadapanku. Semakin, aku berusaha menahannya semakin itu juga tubuhku bergerak gusar.
Sampai akhirnya aku kalap, dan mulai menyerangnya. Aku takut dia sempat terkejut saat tiba-tiba aku menyerangnya dan melumatnya menuntut untuk. Bahkan aku juga, memindahkan permen yang ku makan tadi ke dalam mulutnya.
Sehingga tak lama dia kembali membalas ciumanku dengan penuh gairah. Setelah cukup bermain lama dengannya, akhirnya aku menyemburkan para kecebongku ke dalam rahimnya sehingga rasa hangat dan penuh mengumpul di dalam sana.
Ya, aku akui 5 ronde denganya membuat gairah ku benar-benar puas. Bahkan ada sedikit rasa bangga disela olahragaku tadi, bahwa aku baru mengetahui jika akulah yang pertama memasukinya.
Bahkan setelah selesai bercinta, aku bisa melihat sekilas ada bercak darah diseprai putih itu. "Terima kasih, kuharap kau tidak akan menyesalinya." monologku, lalu perlahan aku mulai mengikutinya yang sudah lebih dulu terlelap.
Hingga tak lama kemudian, aku mendengar suara ketukan pintu dari luar yang memanggil namaku dan mengatakan jika kami sudah mendarat di Jepang.
Aku menoleh ke arah Diandra yang sepertinya masih tertidur, akibat kelelahan bermain 5 ronde dengan ku. Jadi aku memilih untuk bangkit dan membersihkan diri lebih dulu.
Setelahnya aku rapih, aku menatapnya yang masih saja tertidur. Karena aku tidak tega membangunkannya, dengan cepat aku memakaikan kembali pakaiannya.
Lalu setelahnya aku meminta para ajudanku untuk mencarikan sebuah kursi roda. Ya, aku berniat membuat dia seolah sedang sakit, jadi tidak akan ada yang tahu jika ia hanya sedang tertidur karena kelelahan bermain bersamaku.
Sesampainya di hotel, aku menidurkan dirinya dengan perlahan. Aku menatap tak percaya ke arahnya.
"Gila! sebenarnya dia itu pingsan atau memang sedang tidur karena kelelahan?" aku bertanya pada diriku sendiri.
Saat melihat, Diandra yang masih tertidur pulas di sana. Tapi saat aku hendak keluar dari kamar hotel, mata ku menatap sebungkus permen yang tadi aku makan selama di pesawat.
Eh, tunggu? sepertinya aku pernah melihat, bungkus seperti ini? otakku berpikir keras hingga tak lama sebuah bohlam menyala terang di atas kepalaku. Ditambah, mataku membola dengan sempurna setelah mengetahui apa itu.
"Tidak? itu tidak mungkin? .. dari mana dia mendapatkan obat perangsang ini?" lagi-lagi aku bertanya pada diriku sendiri.
Devapov end
TBC