Mr. President & Me

Mr. President & Me
31



Devapov


Jari-jari ku terus mengetuk pelan di atas meja kerjaku. Aku menghela napas beratku. Ini sudah 3 minggu berlalu.


Sejak anak itu dinyatakan koma, oleh para tim medis. Kakiku lemas tak karuan. Rasanya aku ingin menolak semua kenyataan pahit ini. Namun tidak bisa, karena pasalnya.


Aku tidak mau sampai aku kehilangan mereka. Sudah cukup aku kehilangan Lentera dulu, walau kini dia sudah kembali. Tapi ada sisi lain diriku, yang juga ikut merasa kehilangan. Rasanya separuh dari jiwaku melayang pergi.


Bahkan akhir-akhir ini aku jauh lebih sering menyibukkan waktu dikantor pemerintahan. Namun saat kembali pulang, kembali hanya ada sebuah kesunyian yang menemaniku.


Sejak kembalinya dia dalam hidupku, ada sedikit rasa bahagia yang tercipta namun juga ada sedikit rasa penasaran yang menghinggap.


Entalah ada apa dengan diriku akhir-akhir ini. Mungkin karena kondisi Dewa putra ku yang saat ini terbaring koma dirumah sakit. Atau justru, aku sedang merindukan ia kembali.


Aku menyandarkan punggungku pada kursi kerjaku. Mengadah menatap langit-langit ruang kerjaku, seketika membuatku semakin merindukannya.


Namun siapa yang ku rindukan? tidak, jelas bukan dia? wanita bar-bar yang sudah mencelakai anak bungsuku.


Kenapa aku tak membuatnya masuk ke dalam penjara saja tadi? kenapa juga aku malah mengatakan itu murni kecelakaan, saat dimana para wartawan bertanya 'apa Diandra yang melakukan semua ini? apakah betul Diandra pelakunya?' disaat aku ingin mengatakan ya. Namun justru otakku berbelok.


Ya, tanpa sadar aku menjawab bukan. Terkadang, aku heran akan otak dan hatiku. Disaat ada wanita itu, aku malah tidak ingin mengakuinya.


Namun saat wanita itu pergi, justru aku terus merindukannya. Yang pada akhirnya membuatku terus menampik kenyataan itu.


Apa aku cemburu? maka jawabannya ya, aku cemburu padanya. Lalu apa aku marah karena dia mencelakai anakku? kalau ini aku tidak tahu. Karena disatu sisi, aku percaya padanya. Dia tidak mungkin melakukan itu.


Sebab dia dan Dewa saling menyanyangi. Tapi aku seperti tertampar oleh sebuah kenyataan, dia yang membawa putraku dari rumah dan pastinya dia juga ada dilokasi kejadian saat itu. Aku menghela napas lelahku.


Sungguh masih sangat jelas sekali dalam ingatanku malam itu, dia menangis. Menangis sesegukkan diberanda depan kamarnya 3 minggu yang lalu.


Satu malam dimana, sebelum tragedi itu terjadi. Apa aku seorang pengecut? apa aku takut kehilangannya? Ya, semua itu benar. Tapi sekali lagi, otakku tak pernah selaras dengan hati dan tindakanku.


Broom..


Aku mendengar suara decitan ban mobil terparkir digarasi. Aku melirik sekilas ke arah jam dinding. Pukul 11.30 malam, siapa yang baru saja pulang? pikirku.


Aku bangkit dan berjalan keluar, namun sebelum aku tiba dilantai bawah. Aku bisa melihat Lentera yang sedang berjalan mengendap-ngedap. Ku lipat kedua tanganku dengan tatapan menelisik ke arahnya.


'Hah.. sepertinya dia habis pergi ke club!' -batinku berkata.


Ya, lihat saja pakaianya yang mini dan ditambah lagi dengan sepatu heels-nya yang berkilap. Ini sudah ke 5 kalinya aku menangkap basah Lentera yang selalu pulang tengah malam bahkan, pernah sekali malam itu dia tidak pulang. Kemana sebenarnya dia pergi? hingga.


"Ekhem!" dia terkejut dengan tubuh yang menegap dengan sempurna.


Dia menatapku, "Darimana kamu? pulang dari club malam lagi?"


"Tsk, bukan urusanmu. ... Dengar, urusan saja sendiri masalahmu. Karena sejak wanita itu pergi, hidupku bebas tidak ada lagi yang akan merebutmu dariku. Sebab dia tidak pantas." aku bisa menebak jika Lentera sudah dalam keadaan mabuk berat.


"... Kau, tahu. Kehidupan kami, sangat berbeda. Dia beruntung karena menikah denganmu dan punya dua orang anak. Lalu aku, Argghhh!! ayah ku yang miskin tak mampu membuat hidupku bahagia sepertinya. Kenapa juga saat itu harus memilih ayah, kenapa tidak dengan ibu! HYAAAAAKKK!!! LENTERAAAAA BERSYUKUR LAH DIRIMU YANG BISA HIDUP ENAK DISINI!! KARENA SEJAK KECIL, AKU TIDAK PERNAH BISA MERASAKAN APA YANG KAU RASA!!"


Seketika aku terpaku. Kenapa dia berkata seolah dia bukan Lentera. Aku menerjap berkali-kali. Namun saat aku hendak bertanya.


Dia malah mengeluarkan isi perutnya ke arahku. Dengan cepat, aku papah tubuhnya menuju kamar mandi. Setelahnya ku baringkan dia di atas ranjang. Namun kembali, otakku memutar perkataanya.


Bukankah dia memiliki keluarga yang harmonis? Kapan orangtuanya bercerai? Memilih? Aku terus memperhatikannya, kedua alisku menaut bahkan keningku ikut berkerut. Saat aku semakin berpikir. Hingga di detik selanjutnya, aku memutuskan keluar dari kamar.


Entahlah, kenapa malam ini kakiku malah membawa ku berjalan menuju ruang kontrol. Di mana jejeran layar monitor yang memantau setiap pergerakan, dan rekaman dari CCTV yang terpasang disetiap sudut istana ini. Kududukan bokong ku disalah satu kursi.


Kutatap sejenak rekaman yang ditampilkan dilayar komputer. Dari satu layar ke satu layar lainnya, dengan teliti ku perhatikan rekaman itu.


Hingga, tak lama aku menangkap gambar dimana rekaman cctv yang menunjukan hari dimana pesta ulang tahun ku sedang berlangsung malam itu.


Cctv yang berada tepat disudut lorong yang mengarah, ke ruang pusat kendali dan keamanan ini. Aku sedikit menajamkan pengelihatanku.


Hingga, tanpa sadar aku mulai mengetahui siapa orang yang baru saja keluar dari ruangan pengendali cctv ini.


"Dewa? ngapain anak itu kemari?!"


***


Seperti biasanya, pagi ini hanya ada aku dan Gitra yang duduk dimeja makan. Sedangkan wanita itu. Dia masih tertidur pulas. Entahlah, aku tidak yakin kapan dia menjadi pemabuk seperti ini.


Ku angkat satu alis mataku. Saat melihat raut wajah Gitra yang berubah, menjadi cemberut seperti itu. "Gitra, ada apa sayang? apa sesuatu terjadi?"


Dia mendongak lalu ia mencebikkan bibirnya, "Flashdisk ku hilang pih.. Dan sejak kemarin aku mencarinya, tapi tetap tidak ketemu?"


"Sudah mungkin saja, kau lupa menaruhnya dimana?"


Dia mendecak, "Tidak mungkin. Aku itu selalu meletakkan kembali barang-barangku setelah dipakai. Jadi, tidak mungkin jika benda itu hilang begitu saja.. Kecuali," dia menjedanya.


"Kecuali," ku ulangi kata-katanya yang menggantung.


Ia menerjap, "Kecuali jika Dewa yang memainkkannya?"


"Ey, mana mungkin. Adikmu kan sedang koma sayang," ku usap surai hitamnya.


Saat mendengar perkataanku, dia semakin mengerucutkan bibirnya lesu. Seakan dunia sudah berakhir tanpa flashdisk itu.


"Terus siapa yang ambil!"


Ku angkat dia, dan ku dudukan di atas pahaku. "Sudah ya, nanti kau beli saja yang baru okey." bujukku namun dia menolak.


"Tidak! disana itu banyak sekali tugas sekolah, dan tugas-tugas dari tempat les ku yang belum sempat ku selesaikan. Jadi aku akan tetap mencarinya sampai ketemu!"


"Baiklah, kalau begitu.. Tapi hari ini jangan cemberut ya, nanti jelek." kataku sambil ku acak rambutnya gemas.


Namun saat aku mendongak, aku bisa melihat dari pantulan kaca lemari. Jika sepertinya ada yang sedang menguping pembicaraanku dengan Gitra.


Ku perhatikan gelagatnya yang cukup aneh, hingga ia keluar dari sana. Apa? Lentera? tapi, kenapa dia menguping? ku palingkan wajah ku menatap Gitra yang masih setia duduk dipangkuan ku.


Lalu tak lama, aku bisa mendengar suara wanita itu yang sepertinya semakin membuat rasa curigaku bertambah.


"HOAAAMM.. Good morning, my princess dan my princes!" dia mengecup kening Gitra.


Saat wanita itu hendak, mencium pipiku. Ku letakkan tanganku didepan mulutnya, lalu ku jauhkan sedikit wajahku. Ku tatap dia dalam-dalam, namun batinku berucap.


'Siapa kamu yang sebenarnya?!'


Dia menjauhkan tanganku, "Ish.. kenapa sih kamu? aku kan mau cium kamu?"


"Kamu bau! belum sikat gigi! ... Tuh, masih ada jigongnya!" ketusku.


Lalu ku putuskan untuk bangkit dan berjalan keluar dari rumah.


Pikiranku terus bertebaran pada wanita itu, tidak mungkin jika dia bukanlah Lentera? kenapa wajahnya mirip?


Dan kenapa dia tahu semua yang biasa dan disukai oleh ku dan kedua anakku? jika apalagi malam itu, dia tahu kegiatan apa yang pernah diam-diam ku lakukan saat dulu sebelum Dewa ada?


Aku mendesah panjang, lalu ku alihkan pandangku ke arah luar kaca jendela mobil. Saat, sedang asik melamun, tiba-tiba saja aku melihat wajah yang tak asing dari sebrang kaca jendela mobil.


Mataku berbinar senang saat melihat wajah cantiknya yang selama ini ku rindukan. Namun intensitas ku beralih, pada tiket dan paspor yang dia pegang.


"Tidak! ... Aku mohon jangan!!" saat aku sudah membuka hendel pintu mobil yang ku tumpangi.


Aku melangkah keluar, berniat untuk menghentikan taksi yang membawa ia pergi. Namun sayangnya, lampu lalu lintas sudah berganti warna menjadi hijau dengan cepatnya.


TINNN!!!


"WOY!! SUDAH BOSAN HIDUP LOHH!!" seseorang berteriak padaku.


"Tuan!! apa yang anda lakukan?!"


Aku menerjap, dengan dada yang bergemuruh. Ku alihkan pandangan ku menatap ajudanku, hingga tanpa kusadari aku menyuruhnya untuk mengikuti taksi itu.


"Cepat ikuti mobil itu."


Lagi-lagi, aku menyesali semuanya. Ya, mobil yang kami kejar menghilang dengan cepat. Yang artinya aku telah kehilangan jejaknya. Ku harap, dia tidak benar-benar pergi dari Negeri ini.


Devapov end


TBC