Mr. President & Me

Mr. President & Me
09



"Diandra, bangun." Itu Mutia, temen gue.


Alasan kenapa dia manggil gue, karena saat ini gue masih bergumul manja dengan selimut tebal gue. Tapi gue tidak menyahuti, gue cuman bergerak merenggangkan otot gue lalu kembali tidur.


"Tsk, bangun elah."


Gue sedikit membuka kelopak mata gue, ,"ape sih Mut? Ganggu aja orang tidur.” Setelahnya gue kembali tidur.


Sumpah gue masih banget mengantuk, abis semalem itu setelah dianter Genta balik. Gue gak bisa langsung tidur, jadi gue putusin buat main game mobile yang ada diponsel gue. Eh, tapi gak tahunya. Gue malah ketiduran pas lagi seru-serunya main game itu.


Bugh!


Gue tersentak kaget, saat Mutia menepuk bokong gue dengan kencang. Sumpah pedes bener tabokkan-nya ****!! Gue menjerit, "AWWW!! MUTIIII!!!"


"Bangun, awas aja tidur lagi!" gue mengeram kesal.


"Lagian elu ngapain sih, bangunin gue?" Mutia menghela napasnya.


Dia menolehkan sedikit kepalanya ke arah pintu kamar yang terbuka, "ada tamu noh, buat lo?"


Gue mengkerutkan alis mata, "tamu? Siapa?" tanya gue heran.


Mutia mengendikkan bahunya, lalu dengan malas gue beranjak dari kasur dengan mata yang masih sedikit memejam. Sumpah mata gue masih berat banget ini.


Gue menggaruk kepala gue yang terasa gatel, saat setelah gue keluar dari kamar. Gue bisa melihat, ada seorang anak laki-laki lagi duduk sambil sesekali dia menyesap susu yang berada di gelas tersebut.


"Mama ko bangunnya siang? Emang mama Diandra gak pergi kerja?" katanya saat melihat gue berjalan menuju pantry dapur.


"Ehm,, mama kerja siang Dewa?" Wait, mama? Dewa? Seketika gue menoleh dengan cepat, lalu gue sedikit menyipitkan kedua matague untuk memfokuskan pengelihatan gue.


Tak lama mata gue membola. Lah, ngapain ini anak pagi-pagi udah nyasar kemarin. Gue menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan jika gue sedang tidak dalam berhalusinansi. bener ini, rumah sewa gue ama muti? Lah terus, ini anak? Nongol dari mana? monolog gue.


Gue menelisik tubuh Dewa dari atas kebawah, dia rapih pake baju seragam sekolah. Pake sepatu cats berwarna hitam, dan ada tas besarnya juga di sampingnya bergambar dua cacing berwarna merah dan kuning.


Oh kayanya dia mau berangkat kesekolah deh. Batin gue bersuara, namun saat kata sekolah terlintas entah kenapa kata itu terniang diotak gue. Sekolah? Sekolah? Sekolah.


Gue menoleh dengan refleks saat gue mulai menyadari penyebabnya, "Dewa kamu bolos sekolah ya?"


Dia menggeleng, engga, mama. Dewa cuman kabur. Balasnya dengan santai bahkan sesekali dia menyesap kembali susunya.


Sedangkan gue cuman bisa menganga tak percaya, saat jawaban itu terlontar.


Astaga, ini anak. Kenapa demen banget buat gue selalu dalam masalah, terutama masalah dari keamanan kepresidenan. Gue mendesah lirih.


***


Setengah jam berlalu, saat ini gue lagi berada di dalam bus menuju kesekolah Dewa. Kalian tahu alasan apa yang membuatnya berani membolos? Ini. Hanya demi ini? Dua lembar voucher gratis, untuk memasuki area wahana permainan disebuah taman rekreasi tersebut.


Astaga benar-benar! Dan yang lebih parahnya lagi. Dia ambil lembaran voucher gratis ini dari dalam laci meja belajar sang kakak. Gue cuman bisa geleng-geleng kepala saat mendengar penuturannya.


Dia bilang sudah berbulan-bulan sang kakak membuat janji kepadanya, dengan mengatakan akan mengajaknya pergi kesebuah taman rekreasi bermain disaat sang kakak senggang. Tapi hingga detik ini, janji itu hanya sebuah janji.


Karena pasalnya, sang kakak sangat sibuk dengan kegiatannya; pergi kesekolah hingga tengah hari, lalu setelah pulang akan langsung berangkat les musik hingga sore, dan pada pukul 7 malam sang kakak akan kedatangan guru les privat di dalam istana kepresidenan.


Jadi dengan berat hati gue mengatakan akan mengajaknya pergi ketempat tersebut. Gila! Diandra memang gila.


“Tante, kenapa bus ini mengarah ke sekolah?" gue tak menjawab.


'Maaf ya Dewa, tante harus bohongin kamu. Kalau gak kaya gitu pasti kamu bakalan nolak buat pergi kesekolah.' batin gue.


Setibanya dihalte, gue menggandeng tangan Dewa dengan erat. Ya, biar dia gak kabur. Tapi gue makin merasa jika si Dewa perlahan jalannya semakin memberat, apalagi saat kita tiba di depan gerbang sekolahnya. Pas gue mau lanjut jalan masuk ke dalam, eh ini anak malah berhenti.


"Dewa, ayo masuk?" Dia menekuk wajahnya.


"TANTE BOHONG!! KATANYA KITA MAU KEWAHANA BERMAIN. INI TUH SEKOLAH TANTE." Katanya sambil marah-marah.


Gue menghela napas berat, lalu gue berjongkok dihadapannya untuk mensejajarkan tinggi gue dengan Dewa. Sebelum gue berucap, gue mengambil napas dalam-dalam lalu kembali membuangnya secara pelan.


"Dewa, tante emang bilang seperti itu. Tapi tidak untuk hari ini. Kau tahu, ketika nanti kamu sudah dewasa kamu akan merasakan fase dimana kamu ingin kembali kemasa kamu saat ini. Itu sebabnya tante, gak mau, buat kamu sampai menyesal suatu hari saat nanti. Ketika kamu pergi membolos seperti ini. ehem.." nasihat gue dengan lembut.


Dia bergeming, sambil bersedekap dada. "Dewa sayang tante kan? Bukannya Dewa kemarin juga bilang ya, kalau Dewa ingin tante jadi mama pengganti buat Dewa dan kakak Gitra kan? Tapi sayangnya, tante gak mau, punya anak yang suka membolos. Apalagi, kalau anak itu nakal dan tidak mau menurut."


Seketika raut wajahnya berubah sendu, "Tapi tante janji ya, bakalan ajak Dewa ke wahana bermain itu? Plus," dia menjedanya.


"Tante juga harus janji, kalau tante harus mau nikah sama papih dan jadi mama pengganti buat Dewa? Okey, janji?" shit! Sepertinya gue udah salah ngomong ini. Sialan.


Sumpah, gue juga gak ngerti kenapa hati dan otak gue bisa gak selaras. Hati gue bilang kasian Dewa, sedangkan otak gue bilang. Elu mau nikah sama kulkas? Bayangin aja nanti kalau elu nikah sama si Mr. kaku, apa hidup lu bahagia?


Apa iya, dia gak akan sedingin dan sekaku itu? Dan banyaklah yang lainnya. "TANTE!! Ish.. malah bengong!" Gue menerjap saat suara keras Dewa terdengar.


Dia mengacungkan jari kelikingnya, "ayo janji?" Aduh Diandra pikirin dulu deh baik-baik.


Gue menggigit bibir bawah gue ragu. Lalu tanpa sadar gue mengaikatkan, jari kelingking gue dijari kelingking Dewa.


"YEYYY!! PUNYA MAMA BARU!!!!" serunya bergembira, sedangkan gue cuman bisa merutuki diri sendiri.


***


Setibanya dikampus, gue cuman bisa melamun akan nasib gue. Sial aja, kenapa gue harus membuat janji yang mungkin bisa gue ingkarin. Ahh.. Sial! Gue mengacak rambut gue frustasi. Dan lagi, gue kembali menghela napas berat.


Gue tersentak kaget, saat si Galang menyenggol lengan gue.


"Lu kenapa sih? Dari tadi diperhatiin. Itu rambut lo juga, kenapa macem kaya singa ngamuk." Gue merotasi mata malas.


Gue lagi gak mood buat ngeladenin si Galang, "oia, bukannya elu lagi cuti kuliah ya Dra?" gue cuman mangguk sebagai jawabannya.


"Terus ngapain di sini?" ini si Nadia bocah paling ngeselin, tapi kalau lagi ada maunya pura-pura baik.


"Ya, suka-suka dia dong." Sahut Stella yang baru aja tiba.


Nadia berdecak sebal, "cih, dasar simpenan dosen!" katanya sambil berlalu pergi.


"Apa lo bilang?!" Gue langsung mencegat tangan Stella.


Galang langsung natap tajem ke arah Nadia, eh. "Cabe, udah sono pergi. Elu juga sama? Sama-sama simpenan om-om. Kalau Stella dosen, nah kalo elu simpenan para koruptor." Ketusnya dan Nadia langsung merebut gelas yang hendak gue minum.


Byur!!


Kita semua melotot tak percaya, "SIALAN LO!! DASAR CEWEK MURAHAN!!" sarkas Galang.


Ya, minuman milik gue langsung dilempar ke arah muka Galang. Saat dia gak terima dikatain cewek simpenan para koruptor, tapi emang benerkan kenyataanya dia begitu. Dan alhasil, wajah dan bajunya basah.


TBC