
2 hari berlalu..
Sejak kejadian itu, baik aku dan Deva hubungan kami semakin merenggang dan menjauh. Bahkan terkadang, ia seakan sedang menghindariku. Atau bahkan sebaliknya, aku yang yang berusaha menghindarinya.
Saat hubunganku merenggang, saat itulah aku bisa melihat Lentera memanfaatkannya. Aku mengadah menatap langit malam berbintang.
Entahlah, karena mungkin aku sudah hampir terbiasa tidur disatu ranjang yang sama dengannya. Atau mungkin saja ini hanya perasaanku. Ya, harus ku akui. Aku merindukannya.
Aku rindu, saat dia memeluk dalam tidurnya, aku rindu saat dia menyandarkan kepalanya hanya untuk sekedar bercerita. Tentang betapa lelahnya dia menjadi seorang pemimpin di Negeri ini.
Ku pejamkan sesaat mataku, namun justru air mataku lah yang meluncur begitu saja. Jujur saja, jika ada pilihan disini aku ingin memilih pergi. Tapi lagi-lagi Dewa, anak itu.
Dia, tidak mengizinkan siapapun dirumah ini untuk mengusirku. Anak itu terlalu memegang teguh pendiriannya. Dia masih menganggap, jiwa wanita itu bukanlah ibu kandungnya.
"Tidak ada yang boleh mengusir mama Diandra!" tegasnya.
Selama dua hari yang lalu itu juga. Entah ada angin apa yang telah memasuki tubuh Dewa. Karena pasalnya anak itu semakin leket dan tak ingin terpisahkan dari diriku.
Bahkan hanya untuk pergi ke kamar mandi saja dia selalu minta ditemani olehku. Makan selalu minta disuapi, dan ketika ia mandi. Dia juga memintaku untuk memandikanya.
"Mama, Dewa mau disuapin?"
"Mama dimana? cariin Dewa mainan robot dong?"
"Mah.. bisa tidak bantu Dewa?"
"Mama," panggilnya.
"Mamah ... Oh.. mamah."
Gelagat aneh apa, yang terjadi padanya. Tapi aku menepisnya, karena aku tidak mau kejadian buruk menimpanya. Aku helakan napas lelahku, lalu ku usap air mataku.
Setelahnya aku kembali memasuki kamar dan menaiki ranjang untuk bergegas pergi ke pulau kapuk.
***
Pagi ini lagi-lagi, aku dibuat terkejut. Saat Dewa datang, dan menghempaskan tubuhnya di atas tubuhku. Aku terlonjak, saat tulang sikunya beradu pada bagian dadaku.
Aku memasang wajah bete dan kesal, lalu ku rotasikan mata malasku.
"Ish.. Dewa, bikin kaget aja! gak gitu ah!"
Dia mempoutkan bibirnya, "Abis, mama dari tadi dibangunin gak mau bangun. Ayo bangun!" dia menarik tanganku.
Setelah dia berhasil membuatku terduduk, namun aku sengaja malah menjatuhkan lagi tubuhku.
Dia menghentakkan kakinya kesal, "Mama ishh.. Bangun," rengeknya.
Aku menggeleng, "mama hari ini papih ulang tahun. Ayo bangun temenin, beliin kado." bisiknya yang mampu membuatku terdiam.
Ah! jadi hari ini adalah hari ulangtahun-nya.
"Mam, ayo." Ajaknya lagi.
"Dewa, bagaimana kalau Dewa pergi sama paman Nana?" entahlah, aku bener-bener gak tahu harus apa.
Dia menggeleng, "engga mau. Maunya ama mama!" tegasnya.
Aku mendesah jengah, "Tapi Dew--" ucapan ku terpotong.
"Mama itu kotak hadiah, dari siapa?"
Aku mengerutkan kening bingung. Lalu aku bangkit dan berjalan ke arah kotak misterius itu. Setibanya disana, ku buka kotak hadiah tersebut.
Aku terdiam sejenak, saat melihat isi hadiah tersebut. Sebuah mini dress berwarna merah yang lengkap dengan aksesoris cantiknya.
Tidak perlu lagi ku baca surat itu, satu-satunya orang yang bisa memberikan aku hadiah mewah disini hanya Deva.
"Dari papih ya mam?" aku terkejut, saat mendengar suara Dewa.
Anak itu rasa ingin tahunya sungguh besar. Karena terbukti didetik selanjutnya, dia mengambil surat dan membacakan isinya dengan suara kencang.
Mataku membola, lalu aku ingin mengambil surat itu darinya. Dan sayangnya, dia malah berlari menjauh dariku. Saat aku tiba dilantai bawah, ku edarkan pandanganku menelisik mencari keberadaan sesosok makhluk kecil nan nakal bernama Sadewa.
Namun saat aku hendak berputar untuk melihatnya, aku malah dikagetkan dengan kemunculnya. Dengan cepat dia meraih punggungku, dan menahannya.
"Aaaaaa!!" jeritku saat tubuhku hampir saja terjungkal.
"Kau tak apa?" aku mengangguk, "maaf, jika tadi aku membuatmu terkejut." lanjutnya dengan wajah yang sangat dekat.
Dan sialnya, wajahnya yang terlampau dekat. Mampu membuat jantungku, berdetak lebih cepat. Tidak! jangan lagi.
Sudah cukup, hinaan yang dia ucapkan dua hari yang lalu. Dan sekarang kau harus segera sadar, Diandra! bantinku terus menolak. Namun, berbeda dengan itu justru otakku semakin hayut dengan tatapan sendunya.
Aku bisa merasakan, kesedihan yang terpancar dari raut wajahnya. Apa-apaan ini? kenapa dia bersedih? untuk siapa? aku? tidak, kan? Hingga tak lama, suara deheman seseorang mampu membuat kami menjauh satu sama lain.
"Maaf, aku-- Aku harus kembali," gugup ku.
Tanpa berani menatapnya, ku yakin Lentera sedang menatapku tajam. Namun belum sempat aku menjauh, dia memanggilku dan refleks aku menghentikan langkah kaki ku.
"Kau sudah terima hadiahnya?" Aku angguki tanpa menoleh.
"Sayang, hadiah apa? kenapa hanya dia yang dapat, dan aku tidak?" Rengeknya manja.
Aku tidak mau menjadi nyamuk untuk dua orang itu, sehingga ku putuskan untuk pamit dan menjauh dari sana. Lagi, aku harus mencari Dewa.
Setelah cukup menghabiskan setengah jam untuk mencari keberadaanya, akhirnya aku menemukan anak nakal itu.
Dia tersenyum penuh kemenangan, namun saat aku ingin meminta balik surat itu. Dia malah, memberikan ku sebuah syarat. Dimana aku harus setuju untuk menemaninya mencarikan hadiah untuk sang ayah.
Aku menghela napas jengah ku. Ya, aku tak pernah bisa untuk tidak menolak permintaan anak ini. Selama diperjalanan, Dewa terus bernyanyi.
Bahkan sesekali dia bercerita seru, pada sang supir. Entah kenapa, aku merasa ada yang berbeda darinya. Ditambah, raut wajahnya seakan menunjukan jika dia sangat bahagia hari ini.
Tapi satu sisi hati kecilku mengatakan, bahwa aku harus menjaga Dewa. Lagi-lagi, aku menepisnya. Hingga setibanya kami, anak itu dengan semangat dia turun lebih dulu.
Dengan raut wajah bahagia, dan penuh semangat dia memanggilku untuk segera mennyusul langkahnya. Banyak toko dan beberapa merek yang diperjual belikan disini, yang kami kunjunggi.
Bahkan tanpa sadar, sudah ada banyak bag paper besar yang dibawa oleh kedua ajudan yang sedari tadi menemani kami berbelanja.
"Dewa, sudah ya? kasihan itu paman Nana dan juga paman Jeno?"
Dia menoleh sejenak, "Heum, baiklah mah.. lagi pula, Dewa juga sudah lapar." Aku tersenyum.
Lalu dengan gemas ku acak surainya, "Baiklah, tuan muda."
***
Malam pun akhirnya datang. Malam dimana, menjadi malam yang paling bahagia untuk Deva. Karena dialah, sang pemilik acara. Aku bisa melihat perubahan wajahnya, yang biasanya terkesan dingin dan datar.
Kini berubah, menjadi bahagia. Sesekali dia membalas jabatan tangan dari para kolegannya yang datang silih berganti, sambil mengucapkan selamat ulangtahun kepadanya.
Bahkan, disampingnya Lentera selalu mendampingi dirinya. Lihatnya, betapa serasinya mereka. Sedangkan aku, hanya bisa menatapnya disudut lain. Ku alihkan pandanganku, agar air mata ku tak menetes.
Hingga tak lama ku langkahkan kakiku, menjauh dan mencari makan untuk mengalihkan hatiku yang sangat sakit melihatnya.
"Hai," sapa seseorang.
Aku menoleh, "Genta?"
Dia tersenyum hangat, "Kenapa bisa kau bisa di sini?" tanyaku.
"Aku diundang olehnya." katanya sambil menujuk arah Deva.
Aku tersenyum kecil, "Apa dia sudah tidak marah lagi padamu?"
Genta mengedikan bahunya acuh. Namun disaat aku sedang bercengkrama, tiba-tiba saja lampu padam. Dan seorang MC berkata.
"Hallo, para hadirin yang terhomat. Inilah acara puncaknya, pasang topeng yang kalian bawa. Lalu, berjalan ketengah dengan pasangannya. Karena inilah, Dance party!!" ucap semangat dari sang MC.
Suara musik pun terdengar, semua orang larut dalam lantai dansa bersama pasangannya. Aku terdiam saat melihat dua pasangan, yang menurutku mereka sangat menikmati alunan musik yang dimainkan para pemain alat musik.
Aku tahu siapa mereka. Ya, siapa lagi kalau bukan Deva dan Lentera. Hingga tanpa ku sadari dada ku semakin terasa sesak. Dengan perlahan aku memundurkan langkahku, untuk pergi dari sana saat air mata ku sudah tak mampu ku tampung lagi.
Aku berlari, menjauh meninggalkan gedung itu dan semua yang ada disana. Terutama Deva. Kali ini, tak ada lagi yang bisa menahanku. Inilah kesempatan ku untuk pergi, mereka semua sedang larut dalam perasaan bahagia. Namun aku tidak.
Hingga tanpa sadar aku malah pulang ke istana kepresidenan. Suasana gelap dan sunyi semakin menjadi teman untukku malam ini.
Tapi, didetik selanjutnya. Aku dibuat terdiam membeku. Apalagi saat, lampu ruang tengah ku nyalakan. Tubuh mungil itu sudah terdiam tak berdaya, darahnya mengalir dan membasahi lantai marmer yang dingin itu.
Dan demi Tuhan! ini baru beberapa jam berlalu, saat dimana anak itu pamit padaku hanya untuk mengambil hadiahnya yang tertinggal diistana ini.
Hanya dalam beberapa jam yang lalu, mampu membuatku berteriak histeris memanggil namanya setelahnya.
Dua jam yang lalu mampu membuatku menyesali semuanya, kenapa aku tidak ikut menemaninya saat anak itu meminta ditemani oleh ku.
Dia disana. Anak laki-laki, bertubuh mungil dan kulitnya yang pucat yang tadi pagi nampak sangat bahagia berjalan bersama ku. Anak laki-laki yang selalu, tersenyum bahagia saat memanggilku mama.
Anak bungsu, kesayangan sang Mr. president. Tergeletak, terdiam tak berdaya dengan darah yang mengalir dikepalanya.
"DEEEEEEEEEEEWWWWWWWAAAAAAAA!!!" jeritku sambil terus ku peluk tubuh mungilnya yang terdiam tak bergerak.
Sekali lagi, dunia ku benar-benar runtuh. Dimana aku di hukum atas kesalahan apa yang tak pernah ku lakukan sebelumnya.
Anak laki-laki Sadeva yang terluka, karena kelalaianku. Dan aku tidak pernah tahu, apa yang membuat menjadi seperti ini? siapa? siapa dia yang berani mencelakainya? Siapa? katakan padaku?!
TBC