
Aku tidak pernah melepaskannya, namun justru aku hanya menghindarinya. Karena aku terlalu pengecut untuknya. -Sadeva.
***
Disinilah aku. Disebuah gedung besar, dengan aroma antiseptik yang menyerebak sejak masuk ke dalam gedung ini. Tadi saat setelah aku menemukan Dewa, aku berdiri dan berlari keluar sambil membopong Dewa dalam pelukanku.
Dan disitulah, aku melihat Genta yang sepertinya juga mencariku. Aku bisa melihat raut wajahnya yang sangat tekejut.
Apalagi kalau bukan dengan kondisiku saat itu yang penuh dengan lumuran darah, dan Dewa yang terkulai lemas tak berdaya dengan darah yang terus mengalir saat itu.
Kini anak itu sedang didalam sana. Satu hal yang hanya bisa ku harap saat ini, semoga ada keajaiban untuk Dewa anakku. Jika kalian bertanya dimana Deva? Dia disini.
Berdiri menatap kosong ke arah pintu ruang icu, dimana anaknya berada. Sedangkan Gitra, dia menangis bahkan setibanya dia disini. Ia memarahi dan memukulku, menyalurkan kemarahaanya.
Ya, aku tidak masalah jika mereka semua marah dan menyalahkanku. Karena itulah kenyataanya, aku terlalu lalai sehingga membuat anak berusia 5 tahun itu terdiam tak berdaya.
Air mataku tak henti-hentinya membanjiri wajahku. Aku ingat dengan jelas, bagaimana tubuh kecil itu berpindah dan masuk ke dalam ruangan itu. Sebuah ruangan, yang bahkan tidak ada siapapun yang menyukainya.
Tubuh ini terus gemetar ketakutan dan cemas. Saat anak itu mulai memucat pasi. Darah yang terus keluar dari belakang kepalanya mampu membuat semua suster berlalu lalang berlari mencari sesuatu untuk menyelamatkannya.
Sedangkan Deva, sejak ia datang dan melihat sang anak dalam kondisi kritis. Hanya diam, tak bersuara. Seluruh wajahnya tak bisa ku baca. Ekspresinya terlalu datar dan hening.
Tak bisa ku deskripsikan. Hingga mampu membuatku, menimbulkan tanda tanya besar dalam pikirku. Apa ia marah padaku? apa iya, juga berpikir ini semua salahku?
Sebab diamnya ia, mampu mengunci segalanya. Mengunci kemarahannya dalam hati, mengunci mulutnya rapat dan mengunci kata demi kata yang seharusnya dia lemparkan padaku.
Disebelah ku, ada Genta pria itu terus berusaha membujuk untuk membersihkan diri. Ya, jika kalian melihat kondisi ku. Mungkin kalian akan muntah dan merasa jijik, karena seluruh tubuh dan pakaiku habis basah dan berlumuran darah Dewa.
Tak lama aku bisa mendengar suara derap langkah kaki yang terburu-buru. Hingga setelahnya, dia menghambur ke dalam pelukan sang anak. Dia menangis terisak, menyalurkan kesedihannya.
"Deva bagaimana dengan kondisi cucu mamah? dia baik-baik sajakan?" Deva diam tak berselera.
Lalu kemudian sang ibunda menolehkan kepalanya, seperti sedang mencari seseorang sambil berkata.
"Mana wanita sial--" dia menarik sudut bibirnya saat dia melihat diriku.
Dia berjalan ke arah ku. Aku hanya bisa diam, dan menunduk hingga. "Oh kau disini rupanya?"
Aku mendongak, lalu sebuah tamparan mendarat dengan sempurna dipipiku. Tamparan itu, mampu membuatku sedikit terselungkur kebawah.
Genta terhenyak, lalu dia mendekatiku dan berusaha membantuku untuk berdiri.
"Bagaimana caramu menjaga cucuku!!"
Suara itu. Suara sang ibunda Deva yang menangis berderai, mampu membuat kami menjadi pusat perhatian dirumah sakit ini. Dia membalik tubuhku untuk berhadapan dengannya.
Lalu tak lama, aku bisa melihat amarahnya yang sudah membuncah siap menghujatku. Dan benar, karena didetik selanjutnya dia kembali menamparku. Bahkan jauh lebih panas dan perih dari tamparan yang pertama.
"Ini semua salahmu! SEMUA INI SALAHMU, DIANDRA!!"
Aku menundukkan kepalaku, sungguh aku ingin sekali membela diri. Namun Aku tersudut, aku tak punya bukti untuk membela diri. Dengan bibir yang bergetar, sepatah kata terucap dari mulutku.
"M-Maaf," lirihku.
"Ma-maaafkan aku.." Tuhan apa ini sebuah hukuman darimu karena aku telah berani memasuki kehidupannya.
"Maaf! maaf katamu!!"
Saat tangan itu kembali mengudara dan siap mendarat lagi dipipiku. Aku diam, dan menerima semuanya. Aku siap, jika ini memanglah hukuman untuk gadis penggila belanja sepertiku.
Namun disaat aku sudah memejamkan mataku, saat tangan itu kembali berayun. Aku terdiam. Apa dia tidak jadi menamparku? atau, aku membuka kembali mataku.
Ternyata tanganya dicekal, oleh sang anak. Deva menurunkan tangan sang ibunda. Lalu dia berkata.
"Jangan buang tenagamu dengan berlebihan seperti ini ibu ... Biar aku saja yang mengurusnya?" dingin dan datar.
Semakin membuatku luka dihatiku membesar. Aku menatapnya dengan airmata yang sudah menumpuk.
"Kalian pulanglah biar aku, yang akan menjaga Dewa disini."
Setelah mereka semua pulang, hanya ada aku disini dan Genta. Yang sedang, terdiam menatap Deva.
"Aku ingin berbicara dengannya, tinggalkan kami!"
Duduk berhadapan dengan perasaan campur aduk. Bahkan lidahku terasa keluh, sungguh aku ingin mengutarakan semuanya. Tapi tidak mampu ku suarakan padanya.
Jadilah, aku hanya menunduk dan terisak di depannya. Hingga, tak lama dia menyodorkan sebuah amplop cokelat. Aku mendongak dan menatapnya heran.
"Untuk apa ini?"
Dia menghela napas panjangnya, "ini gaji terakhirmu... Dan aku juga sudah menambahkan bonus didalamnya.. pergilah, aku bebaskan kau dari peran palsu kita selama ini." Dia menjedanya, "Tugasmu sudah usai... Kuharap, setelah ini kau tidak akan pernah muncul lagi.. Baik dihadapan anakku atau dihadapanku."
Seperti waktu sedang berhenti saat itu juga, aku menatapnya penuh tanya. Apa dia membenciku? apa dia marah? tidak.
Tidak mungkin dia melepaskanku, dia mencintaiku bukan? Hingga belum selesai otakku mengeluarkan banyak pertanyaan.
Sebuah bom menghujamku dengan tepat. Ya, perkataanya yang mampu membuatku terpaku tak berdaya.
"--- aku tidak pernah mencintaimu selama ini. Dan soal pengakuanku, itu hanyalah sebuah peran."
Aku menggeleng pelan, lalu tak lama dia bangkit dan berjalan meninggalkanku yang masih tergugu dibelakangnya. Menatap punggung lebarnya yang semakin lama semakin menjauh, lalu kemudian menghilang ditelan pintu yang tertutup.
Disaat itu juga derai airmataku mengalir, bahkan aku menangis terisak. Saat rasa sakit semakin perih kurasakan.
Kuremas kuat ujung bajuku, untuk melampiaskan semua kesakitan yang aku rasakan. Benar, cinta itu memang buta. Dan sebutanya orang yang jatuh cinta, tidak mungkin jika seorang pria tampan dan kaya raya sepertinya juga membalas cintaku.
Lalu tak lama aku mulai merasakan tubuhku ditarik kedalam dekapan seseorang. Wangi maskulin yang bisa ku tebak, pria yang sedari tadi membantu dan mengakhawatirkan tentang diriku. Namun pria itu juga yang tak pernah kulihat, karena cinta gilaku padanya.
"Sudah, ayo kita pulang." Suara Genta mengajakku untuk pergi keluar dari rumah sakit itu.
Namun sebelum aku benar-benar pergi, aku hanya bisa menatap gedung itu sekali lagi. Lalu batinku bersuara.
Dewa, mama tahu kau mendengarnya. Mama mohon bertahanlah, Dewa anak kuat. Dewa bisa melawan semua itu. Mama yakin itu. Jadi jika nanti Dewa sudah sehat. Semoga Dewa takkan mencari keberadaan mama lagi. Sebab, aku memanglah bukan mama mu. Tapi cintaku untukmu melebihi dari kasih seorang ibu kandung untuk putranya sendiri.
"Ayo," aku menoleh, lalu aku masuk ke dalam mobil Genta dan melaju pulang.
***
3 minggu sudah waktu berlalu. Dan kini aku hanya duduk melamun memandang ke arah luar jendela. Hingga tak lama, sebuah Hideline news pagi terdengar.
'BERITA PAGI INI. MENANGGAPI SOAL INSIDEN KECELAKAAN YANG TERJADI PADA PUTRA PRESIDENT KITA, PIHAK KEPOLISIAN AKAN SEGERA TURUN TANGAN LANGSUNG MENCARI SANG PELAKU. NAMUN APA YANG TERJADI SEHINGGA, PRESIDENT KITA MENGATAKAN JIKA ITU SEMUA MURNI KARENA--'
Trilip~
Suara televisi yang dimatikan oleh Mutia, mampu membuatku mendesah lelah. Dia berjalan, lalu ia menyodorkan secangkir teh untuk pagi ini.
Karena tak mendapatkan respon dari ku, dengan kesalnya dia mendaratkan bokongnya dihadapanku. Setelahnya dia bersuara.
"Hah! ... sampai kapan, kau akan terus melamun dan berdiam seperti ini?"
Hening!
"Dengar, sebelum dia berubah pikiran. Lebih baik kau pergi dulu dari Negeri ini, lalu setelahnya kau kembali lagi. Ku yakin dia akan melupakan kejadian itu." Aku menatapnya tajam.
"Maksudmu, kau ingin aku lari dari tanggung jawabku! begitu?"
Mata Mutia membulat, "TANGGUNG JAWAB APA YANG KAU MAKSUD? .. huft! dengar, Aku yakin ada yang salah dengan semua ini. Jadi, selagi ini diurus oleh kami. Kau pergilah dulu, menyegarkan otakmu. Atau kembalilah melanjutkan studimu. Kau tahu, kau itu sangat genius! itu sebabnya, kau harus sukses. Lalu buktikan padanya jika itu bukanlah kesalahmu, setelah kau kaya raya nanti."
Aku terdiam sejenak, namun bibirku bergerak seakan ia juga ikut berpikir. Hingga, sebuah bohlam menyala terang di kepalaku. Ya, tidak ada salahnya aku pergi.
Toh, sebentar lagi pemilihan calon presiden akan segera berlangsung. Lalu setelahnya, tak akan ada lagi Diandra yang berurusan dengan mereka.
Aku tersenyum, "baiklah. Aku menyetujuinya."
"Nah!! Begitu dong, gembul. Dari kemaren kek?!" astaga Mutia, semangat sekali dia.
Jujur saja, aku bisa melihat raut wajah Mutia yang berubah bahagia. Gimana pun buruknya dia, namun Mutia lah teman yang selalu siap menemaniku dan selalu ada untukku.
Semoga kelak, dia akan mendapatkan pasangan yang sempurna dan mengerti akan dirinya. Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya Paris yang akan menjadi tempatku untuk menenangkan diriku sejenak. Sebelum aku benar-benar siap, untuk bertarung melawannya.
Karena aku bukanlah pelaku yang sebenarnya!
TBC