
"Kenapa sih si Nadia kaya gitu? Padahal kan dia duluan yang mulai?" Gue cuman bisa natap lurus ke arah temen-temen gue.
Karena pasalnya sejak kejadian tadi, mereka semua terus menggerutu. Sedangkan gue? Entah kenapa kepala gue rasanya pusing banget. Ya, gimana gak mau pusing? Jujur aja gue masih kepikiran soal Dewa. itu anak bisa-bisa membolos dan nempel terus menerus sama gue.
Sejak pertama kita ketemu, entah kenapa dia langsung nempel dan bahkan dengan polosnya dia bilang kalau dia ingin gue jadi ibu penggantinya.
Gue mendesah lelah, saat rasa pening dikepala semakin berdenyut. Ditambah lagi, suara bising dari temen-temen gue semakin membuat kepala gue berasa mau pecah.
"WOY! Ngelamun aja dari tadi? Kenapa sih?"
Gue bergeming, "Yeuh, malah diem. Elu kenapa Diandra.."
Sejenak gue berpikir sesaat, sebelum akhirnya gue bersuara. Haruskah mereka tahu? Ah engga. Mereka semua mulutnya pada lemes, nanti malah jadi makin geger deh. Tapi kalau gue diem aja? Mereka semakin penasaran, dan terus mojokin gue lagi.
'Ah.. gue harus kaya gimana ini?' batin gue berteriak.
Mereka semua hanya terdiam saat melihat gue, yang tiba-tiba mengacak rambut gue frustasi. Hingga. "EH! Elu Kenapa?" tanya galang sambil nyenggol lengan gue.
Gue menoleh dengan rambut yang sudah mengembang, bagaikan orang yang sedang kesetrum. "Bantuin gue?" kata gue sambil terisak.
"Bantuin?"
"Bantuin apa ndra?" tanya Galang.
Dengan wajah panik mereka semua mendekat, dan membantu untuk menenangkan gue yang tiba-tiba menangis. Entahlah, rasanya sejak kejadian tadi perasaan gue ke Dewa semakin membuat gue miris. Tak ada jalan lain selain harus menceritakan semua yang terjadi sama gue belakangan ini.
Tapi gue bukan siapa-siapa dia? Jadi apa hak gue di sini, sedangkan anak itu tanpa diminta dia selalu berharap lebih. Jika kelak nanti, dia kepingin gue jadi ibu pengganti untuknya. Sedangkan gue, hanya seorang gadis yang beruntung, yang bisa bertemu dengan salah satu anggota keluarga dari pemimpin Negaranya.
"Jadi elu kepingin anak itu menjauh dari lu?" gue mengangguk pelan saat Anissa bersuara.
"Tapikan elu udah terlanjur ngucap janji, Dra. Masa iya, elu mau ingkarin janji lu gitu aja?"
Astaga, kenapa jadi serumit ini sih. Elu juga yang ****, pake janji segala. Terus gue harus kaya gimana, sekarang? Kan kalian tahu, kalo si Mr. president itu udah bertunangan. Yang ada ntar gue disangka pelakor lagi, sama Media. Kaya kalian gak tahu aja, media kaya gimana dinegara ini khususnya. Sambung gue dalam hati, sambil sesekali melirik Jeslyn.
Ya, Dia Jeslyn. Wanita bernama Jeslyn itu adalah kakak senior dikampus gue yang bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak dibidang media masa. Yang dimana isinya selalu memberitakan dan membahas politik, dan juga skandal yang dibuat oleh para petinggi Negara. Khususnya, si Mr. kaku itu.
Kita semua mendesah lelah, saat mereka juga menoleh ke arah apa yang gue lihat. "terus mau lu sekarang gimana?"
Gue mengendikkan bahu acuh, sumpah gue serba salah. Kaya judul lagu milik raisa, lalu mengapa harus aku yang kau pilih Dewa. Seperti lagu alyah, tapi saat gue sadar diri. Gue hanyalah butiran debu untuk mereka seperti kata, Cakra Khan. Ya, Tuhan bisakah kau lenyapkan aku dari bumimu ini.
"Bagaimana kalau, kau jelaskan saja sedikit pada anak itu. Mungkin saja dia akan mengerti?" gue terdiam beberapa saat, lalu menghela napas berat sebelum akhirnya gue mengganguk sebagai jawaban.
Jika gue akan berusaha mencoba menjelaskan pada Dewa. Namun seketika harapan gue musnah, saat sebuah pesan masuk berbunyi. Ya, malam harinya setelah banyak bercerita dan mengeluarkan semua beban pikiran gue. Genta mengirimi sebuah pesan.
From : Genta
Diandra? Apa Dewa ada bersamamu?
Tidak, seharian ini. Aku hanya dikampus dan di kantorku saja, aku bahkan tidak melihat Dewa datang. Memangnya ada apa?
Genta tidak membalas, namun setelah sekian menit berlalu akhirnya Genta membalas.
Oh, baiklah kalau dia datang kerumah mu beri kabar padaku?
Entah kenapa saat pesan terakhir itu datang, tiba-tiba saja hati gue merasa takut dan panik. Ya, gue khawatir sama anak itu. Gue meremat kuat ponsel gue, saat rasa takut dan panik itu semakin kuat datang menyapa.
Tuhan lindungi anak itu. Batin gue berucap.
"Pergi kemana kamu, Dewa?" gumam gue.
Malam semakin larut, udara pun semakin dingin. Bahkan rinai hujan perlahan mulai turun membasahi, ditemani suara gemuruh petir yang sangat kencang dan menyeramkan terdengar dipendengaran.
Namun hati gue semakin tidak tenang, untuk pertama kalinya. Gue merasakan rasa cemas yang luar biasa, yang pernah dirasakan oleh seorang ibu saat anaknya belum kembali pulang. Dengan terus berjalan lalu lalang, gue merapatkan sweater tipis namun masih tetap hangat ditubuh gue.
Sambil melafatkan doa, gue terus berharap mendapatkan kabar terbaru dari Genta tentang Dewa. Sudah 5 jam anak itu menghilang tanpa kabar, bahkan sang guru sekolah pun terakhir kali melihat anak itu pulang saat jam sekolah telah usai.
"Berhenti mundar-mandir, udah kaya sterikaan tau gak loh!"
Gue menoleh, lalu berjalan mendekati Mutia yang sedang duduk santai menikmati salad buahnya. "Gak bisa Mut? Gue tahu, gue bukan siapa-siapa anak itu. Tapi hati gue menolak, karena elu sendiri tahu kalau anak itu tadi pagi ke sini. Dan dia berniat berniat membolos hanya untuk mengajak gue, pergi ke wahana permainan." Wahana permainan? Voucher?
Gue mendongak, "ITU DIA!! Ya, dia pasti ke sana?" seru gue secara tiba-tiba saat melihat sebuah voucher belanja milik Mutia di atas Meja.
Dengan cepat gue melesat masuk kekamar, mengambil tas, payung dan ponsel untuk menghubungi Genta nanti. Suara gemuruh petir tidak mematahkan semangat gue buat terus mencari anak itu, saat gue sudah tiba di sana. Tak lama gue bisa melihat, sebuah siluet dari seorang anak yang sedang berteduh dibawah sebuah wahana permainan di Dalam sana.
Dia kedinginan, bibirnya membiru, dan tubuhnya bergetar hebat saat angin malam menyentuh permukaan kulitnya yang sudah memucat. "Dewa?" panggil gue.
Dewa mendongak, lalu tak lama dia tersenyum tipis. "M-mama.." lirihnya.
Astaga gimana caranya gue bisa masuk ini, wahana rekreasi ini sudah terkunci rapat dan hanya beberapa wahana saja yang dibiarkan lampunya menyala. Gue terus berusaha mencari celah masuk untuk memeluk tubuh anak itu.
"Dewa bertahan ya nak? Mama akan cari cara buat masuk ke sana?" anak itu mengangguk patuh.
Oh Tuhan, kenapa hati ini semakin sakit melihat kondisi anak itu.
Ciiit~~
Sebuah suara decitan dari ban mobil terdengar, dengan cepat gue menoleh dan mendapati Genta yang datang masih dengan seragam putih dan jas hitam yang masih menempel.
Dia berlari mendekat ke arah gue, tanpa mengambil payung dan membiarkan tubuhnya diguyur hujan yang lebat malam ini.
"Mana Dewa?" tanyanya.
Gue menujuk ke dalam sana, "Oh, Shit tinggi sekali pagarnya?" gerutunya.
Tunggu dulu? Jangan bilang kalau dia mau manjat pager pembatas, wahana permainan ini. Dan saat tangannya sudah menggengam kuat besi tersebut, gue mencegahnya.
"Jangan? Ini terlalu tinggi? Kita coba hubungi saja, pemilik wahana rekreasi ini? GAK ADA WAKTU? ELU GAK LIHAT. MUKA DIA UDAH PUCET KAYA GITU?" gue sedikit terkejut saat Genta membentak gue.
Tanpa memperdulikan lagi, dia benar-benar memanjat dan berlari menggendong Dewa dipunggunya setelah dia berhasil melewati pagar yang cukup tinggi.
Hanya dengan sebuah jas hitam miliknya yang dia jadikan kain gendongan, untuk mengikat tubuh Dewa agar tidak terjatuh saat dirinya mulai memanjat kembali.
Setibanya dibawah, gue langsung membantunya melepas ikatan kain tersebut. Lalu kami berlari menuju mobil, untuk pergi membawa Dewa kerumah sakit.
TBC