
Mentari pun bersinar terang, kicauan burung-burung menjadi tanda jika hari ini adalah hari yang paling cerah. Namun, sejak kejadian tadi malam. Gue sama Deva cuman saling terdiam. Kenapa juga itu kasur harus pake roboh.
Udah gitu, sampai jadi bahan tontonan pula. Jadilah semua orang berpikiran negatif, bahkan gosip itu sudah menyebar di seluruh istana kepersidenan ini.
Gosip yang mengatakan kalau, 'Mr. president kita sangat kuat dalam hal bercinta. Buktinya aja kasurnya sampe roboh.' astaga! benar-benar.
Gue menghela napas lelah, "mama, mama baik-baik aja kan?"
Gue cuman bisa tersenyum, "Lagian, papih ngapain sih. ampe bisa roboh itu kasur?" kini giliran Gitra yang bertanya.
"Gitra sayang, cucu nenek. Mama ama papi kalian itu lagi usaha." gue menatap ibunya Deva.
Dewa menyerit bingung, "usaha? usaha apa nenek?"
Sang ibunda Deva mendekatkan wajahnya, "usaha untuk membuatkan adik buat Dewa."
Uhuk!! Uhuk!!
Sial, gue pake keselek lagi. Aduh, si ibu frontal bener dah ah. -batin gue menggerutu.
Deva menatap tajam ke arah sang ibu, saat setelah dia memberikan segelas air untuk gue.
"Mama! mama apa-apaan sih!" marahnya.
"Loh!! bener dong apa yang mama bilang, iyakan Diandra?" katanya sambil menatap gue.
Sedangkan gue yang ditatap, cuman bisa menunduk malu. Astaga kenapa juga harus dibahas. Deva mendengus, "Iya tapi kan, gak usah dibahas di depan anak-anak juga mama!"
"... udahlah, Deva jadi kehilangan selera makan." lanjutnya lalu tak lama dia berdiri, lalu pergi meninggalkan kami semua terdiam kaku.
Sang ibunda mendecih, "anak itu? selalu aja kaya gitu, kan mama gak salah mama cuman mau kasih tau kalau itu bener.. Diandra, pokoknya kamu harus cepet hamil."
Deg!
"Tap--" belum sempat gue menyelesaikan ucapan gue, tiba-tiba Deva bersuara.
"Diandra pasti hamil dua minggu lagi!" Gila!! Deva benar-benar gila!! enak bener itu mulut.
Sang mama merotasi mata malasnya, "Yakin banget kamu, Deva? ... Deva, tunggu!"
Deva menghentikan langkahnya, lalu berbalik menatap sang ibunda. "Kenapa?"
"Kau mau kemana?"
"Mau kerja lah ma, karena hari ini akan ada pertemuan antara sesama kepala Negara di Jepang untuk membahas G-20. Kenapa?"
Sang ibu menarik sudut bibirnya, "lalu Diandra?"
Deva menatap ke arah gue, gue pun yang awalnya menunduk kembali mendongak dan menatap secara bergantian ke ibu dan anak tersebut.
"Kau tidak mengajaknya, bukankah kalau ada pertemuan seperti itu biasanya juga akan ada ibu negara yang akan membahas hal lain?"
'Ya, ampun. Ada apa lagi si ini, jangan bilang kalau gue disuruh ngikut pertemuan Negara. Ah, bete. Gue kan udah janjian sama Muti malam ini, lagi ada diskon besar-besaran dimall. Gatot deh.' kesel gue dalam hati.
"Ah, iya aku lupa.." dia menatap gue, "... Ayo segera bersiap, aku akan menunggu mu dimobil." setelahnya dia kembali berjalan menuju mobilnya.
Gue mendadak lesu, lalu kemudian gue menangguk patuh. Namun sebelum gue hendak kembali ke kamar, sang ibunda Deva mencekal tangan gue.
Lalu ia memberikan gue sekantung permen yang berisi 5 buah di dalamnya. Gue menautkan alis, "ini apa mam?"
Mamanya Deva tersenyum, "permen sayang, ini tuh enak banget kata temen mama. makanya mama kasih ke kamu?"
"Dewa mau dong, nek permennya?" Sang ibunda menggeleng.
"Ini khusus buat mama dulu ya, nah kalau yang ditas nenek khusus buat Dewa dan Gitra."
Dewa bersorak ria, lalu dia melompat turun dari kursi meja makanya. "Yeay, dapet permen. HOREEEE!!"
Gue tersenyum, "terima kasih mama." mamanya Deva bangkit dari kursinya, lalu memeluk gue.
"Pulangnya lama dikit ya," bisiknya.
Gue tersenyum kikuk, "Maksudnya mama?"
Bukannya menjawab, ibundanya Deva malah mengedipkan sebelah matanya. Dih, kenapa nih orang? lalu gue kembali ke kamar berniat untuk berganti pakaian. Setelah gue sudah rapi gue menuruni anak tangga, dan langsung berjalan menuju mobil dimana Deva sudah menunggu.
Namun tanpa sadar gue teringat jika gue belum menghubungi Mutia. Lalu setelahnya gue meraih ponsel dan menghubungi Mutia.
"Halo"
"Mut, sorry. Gue sepertinya gak bisa ikut belanja bareng lu deh. Sorry ya."
"Yah.. kenapa? bukannya elu paling gila sama sale?"
"Hehehe.. itu bener, elu kan tau kalau gue itu si penggila night sale. Atau apapun itu yang berhubungan dengan diskon."
Saat gue asik berteleponan dengan Mutia, gue gak sadar kalau suara gue itu gede dan heboh banget. Sampai-sampai si Mr. kaku dan para ajudannya melirik gue dengan tatapan yang aneh, dan dibarengi dengan sebuah kekehan kecil dari mereka.
Gue menerjap, astaga! sepertinya toa gue gak bisa dikontrol.
"Mut? gue tutup dulu ya, kita telponan lagi nanti? Selamat bersenang-senang.. Eh, tunggu Mut kalau misalnya ada yang lucu dan sale-nya gede beliin buat gue yak? entar gue ganti deh. Okey?"
"Ck, dasar Diandra.. oke lah. bye."
Tut..
Setelah sambungan terputus Deva bergumam, dan sayangnya masih bisa gue denger. "Tsk, memalukan!" gue mengerucutkan bibir.
Bodo, gue ini yang malu-maluin.
Akhirnya kini kita tiba dibandara, gue bisa melihat di sini kita tuh disambut bagaikan raja dan ratu. Semua orang sudah berbaris rapih, dan memberikan hormat pada kita.
Bahkan, jalanan aspal ini juga diberikan sebuah karpet merah yang terlihat sangat mewah dan mahal. Hanya untuk kita lewat. Tunggu! bukan elu kali ndra! tapi dia?
Gue terkekeh saat merasa otak gue sedikit gila. Astaga, inget status lu ya Diandra. Elu itu cuman lagi mainin peran jadi ibu Negara. Bukan, ibu Negara yang sebenarnya. Gue menggelengkan kepala gue, saat pikiran gue mulai berhalusinasi tinggi.
Gue menghela napas, lalu mendongak. Alangkah terkejut saat gue menatap mereka, ternyata mereka semua menatap gue dengan tatapan yang sedikit aneh.
Gue menyengir kuda, "kumat lagi gilanya!!" gue mendelik saat perkataan itu terlontar. Sialan, si Deva.
***
Authorpov
Setelah mengantar Mr. president dan nona Diandra para ajudan sebagian kembali pulang ke istana. Namun saat, Nana mulai memasuki kursi penumpang untuk membersihkan sisa makanan yang sempat ditumpahkan oleh Diandra. Matanya menemukan sebungkus permen yang masih ada isinya.
Dia mengambil permen tersebut, "wah, sepetinya nona Diandra menjatuhkan satu permennya." dia menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada yang melihatnya.
Lalu dia membuka permen dan memakan isi dari bungkus permen tersebut, "Ehmm.. enak."
Setelah lima menit berlalu, Nana merasakan seluruh tubuhnya merasa gerah dan gatal. Dia mengeliat, bak seperti ikan yang baru saja naik kepermukaan.
Jeno yang duduk berada di sampingnya menaikan satu alis matanya. Lalu kemudian dia berkata, "Heh? elu kenapa?"
Nana melonggarkan dasinya, "Gak tau nih panas banget? Ac-nya dinyalahin gak sih woy!!"
"Udahlah, ini aja udah full-in Ac-nya. Kenapa emangnya?" kini giliran Mark yang bersuara.
Nana semakin bergerak gusar, "Jeno ko kayanya elu seksi banget si?"
Mata Jeno membulat seketika, "Na, elu mau ngapain?"
"Eh! Nana elu kenapa sih?" Minhyuk panik.
"Na! Jauhan apa? ... Nana elu jangan macem-macem deh!!"
Nana tak mengubrisnya, wajahnya semakin lama semakin dekat dengan Jeno. Hingga tak lama.
Chup~
Bibir Nana mendarat sempurna di bibir Jeno. Sedangkan Jeno, dia melotot tak percaya.
"NNNNNNNAAAAANNNNNAAAAA!!!"
Authorpov end
TBC