Mr. President & Me

Mr. President & Me
27



Setelah Deva memarahinya. Kini Dewa sedang meringkuk di atas kasur, aku bisa melihat tubuhnya yang gemetar. Aku yakin dia sedang menangis terisak. Ku hela napas lelah ku sejenak.


Lalu ku langkahkan kakiku mendekatinya. Setelah aku sampai, ku daratkan bokongku ditepi ranjangnya. Tanpa sadar tanganku mulai terulur untuk mengusap surai hitam miliknya.


Dewa menoleh, lalu kembali memalingkan wajahnya. Aku tersenyum sejenak, sebelum ku kembali berkata.


"Jangan marah dan benci pada papih mu. Mama yakin papih tak bermaksud untuk memarahi Dewa."


"Tidak. Papih memang tak pernah sayang padaku dan perempuan itu, ... dia, bukan ibuku!" tegasnya.


Aku menarik napas dalam-dalam, lalu perlahan membuangnya. Entahlah, sejak wanita berstatus ibu dari Dewa kembali.


Hatiku terasa kacau, bahkan terkadang rasa sesak saat melihat kedekatan mereka semakin membuat hatiku terasa sakit. Setelah aku menghela napasku, Dewa berbalik lalu dia mendudukan dirinya.


"Jangan pergi mama, percaya sama Dewa. Kalau wanita itu, bukanlah mama kandung Dewa." ku pejamkan mataku sejenak.


"Dewa... Dewa tidak boleh bicara seperti itu. Bagaimanapun dia ibumu nak?" dia menggeleng.


"Aku tahu, karena aku bisa merasakannya... Mama ingatkan, kalau aku gak pernah bisa bohong. Bahkan paman Genta juga bisa membaca pikiran orang ... Aku yakin, jika paman Genta masih bekerja disini dia pasti tahu jika wanita itu berbohong."


Ya, ada benarnya juga. Tapi, bagaimana jika Genta juga tidak melihat sesuatu yang mencurigakan darinya nanti setelahnya.


Apa iya, aku masih bisa disampingnya? apa iya, nanti setelahnya dia tidak akan marah padaku. Setelah apa yang akan aku lakukan nanti? Pasti dia akan marah besar dan menganggapku cemburu berlebihan.


Karena pasalnya, dialah Lenteranya.


Lentera dalam hidupnya, yang sudah lama hilang karena tragedi kecelakaan pesawat itu. Aku memalingkan wajahku, saat mataku memanas.


"Dewa. Bagaimana bisa, kau berbicara seperti itu. Sudah jelas dia ibumu nak. Kau tahukan, saat Dewa masih kecil mamanya Dewa mengalami tragedi kecelakaan pesawat yang memb---"


"Karena itulah. Tidak mungkin, orang yang sudah meninggal masih tetap hidup. Bahkan sehat seperti wanita rubah itu." Aku kembali menatapnya tak percaya.


Astaga, dapat dari mana dia kata-kata seperti itu!


"Hey, kau tidak boleh seperti itu." ku usap kembali surai hitamnya "... Tidurlah, besok Dewa harus pergi sekolah kan?"


Dia mengangguk, namun sebelum benar-benar tidur dia kembali menyakinkan ku. "Aku yakin, wanita itu bukan mama Lentera. Dia palsu." tandasnya lalu dia memunggungi ku.


Ku pejamkan mataku sejenak, saat melihat tingkah Dewa yang sangat keras kepala.


"Ya, semoga Tuhan mendengarkan perkataan Dewa. Jika benar dia palsu, maka Tuhan lah yang akan membuktikannya."


***


Memandang ke arah luar, dengan pemandangan awan mendung semakin membuat suasana hatiku semakin itu terhanyut. Rinai hujan akhirnya jatuh membasahi, seperti ribuan jarum yang turun dari langit.


Mereka terlihat banyak, namun tetap menyakitkan untuk disentuh. Cafe boristo adalah tempat favoritku bersama Mutia. Ditempat ini juga, ada roti dan minuman yang menurutku sangat enak namun tetap ekonomis.


Walau minuman itu kini telah tandas ku habiskan, namun seakan aku masih menginginkannya - yah, sudah dua cangkir hot cokelat sudah ku habiskan- dan kini aku hanya menatap lurus, sambil terus mendesah.


Hari ini, tidak banyak kegiatan yang ku habiskan selain menunggu si lola -Stela- hingga tanpa sadar sudah setengah jam aku menunggunya. Ku lirik sekilas jam yang berada diponselku.


Mata ku terbelalak saat melihat angka yang berderet didepan layar ponselku. Astaga, aku sudah terlambat menjemput Dewa.


Dengan cepat, kuraih tas kecil ku dan lalu ku taruhnya dipundakku. Hujan, masih terus turun dengan sangat deras. Hingga terpaksa membuatku harus, berhenti dan meneduh agar tidak terkena hujan.


Ya, aku tak membawa payung. Dan kini aku harus menunggu, sambil berteduh sejenak. Semoga saja, Dewa masih berada disekolahnya.


Batinku bersuara. Hingga tak lama, bus pun datang dan aku segera memasukinya. Setibanya, aku disekolah Dewa. Suasana sekolah sudah sepi.


Oh tidak! jangan katakan jika aku?


Aku terus menelisik dan mencari anak itu disekeliling sekolahnya. Hingga kemudian, seseorang keluar dari sana.


Aku mendekat, dan berkata. "Apa sekolah ini sudah sepi?"


Ku angguki perkataan wanita itu, "Dia sudah pulang dan dijemput, oleh ibu kandungnya," ucapnya.


Aku tercentung sesaat, "Ah.. apa wanita seperti ini yang menjemputnya?" ku tunjukkan wajah wanita itu. Lalu dibalas dengan sebuah anggukan kecil darinya.


Dan lagi, aku terlambat satu langkah darinya.


Seketika bahuku merendah, aku lelah. Ya, aku ingin segera pergi dari istana kepresidenan itu. Namun, pria itu. dia? argh. Seketika, kepalaku menjadi pening.


Payung yang tadi sempat ku beli, kini hanya menjadi tongkat yang ku seret tidak bertenaga. Aku terus berjalan tanpa arah dan tujuan.


Tapi, seakan sudah seperti sebuah mesin. Secara otomatis kakiku malah kembali melangkah ke dalam istana tersebut.


Tanpa minat sama sekali ku lengangkan kakiku untuk menjauhi keluarga kecil itu, yang sedang makan bersama. Namun semua terhenti saat Dewa bersuara.


"Mama, apa mama hari ini terlalu sibuk sampai lupa menjemputku?" aku tak menjawab.


"Lain kali, kalau tidak bisa bilang. Biarkan aku yang menjemputnya lagi pula, itu sudah tugasku sebagai ibu kandungnya, benar bukan?" lagi-lagi aku diam dan memilih untuk masuk ke kamar ku.


Setelah aku menyelesaikan ritual mandi, aku bergegas memakai piamaku. Dengan tubuh yang tergontai ku berjalan menuju tempat tidur ku tak bersemangat.


Baru saja, aku hendak merebahkan tubuhku. Dia datang, dan ia langsung membawa tubuhku untuk kembali duduk tegap berhadapan.


Aku terus memperhatikan setiap gerakannya, dia menaruh handuk dikepalaku. Lalu didetik selanjutnya dia menggerakannya.


Mengusap surai hitamku, untuk ia keringkan. Namun, aku hanya diam tak bersuara. Aku sudah benar-benar tak berminat untuk sekedar bersuara atau berdebat dengannya. Hingga tak lama dia bersuara.


"Dari mana saja kamu?"


Hening..


"Kamu dengar saya tidak!" aku genggam tangannya.


Lalu ku tarik tanganya dari atas kepala ku, namun dia tepis. "Diamlah, aku hanya ingin mengeringkan rambutmu," ujarnya.


"Tidak usah aku bis-- hasumm!!" seketika hidungku mendadak gatal.


"Lihat! kau demam! mulai besok kau--" ku potong pembicaraanya.


"Tidak perlu kau perduli lagi padaku! lepaskan aku, jika kau tak mencintaiku!"


Dia membulatkan matanya, "ku mohon jangan membuatku terus berharap padamu. Lepaskan jika memang kau sudah tak membutuhkanku," mohonku dengan lirih.


Setelahnya aku bisa merasakan perlahan tangannya mulai menarik mundur. "Maaf, aku seperti ini hanya karena khawatir. Aku," dia menjedanya.


Aku terus menunggu, kata apa yang akan ia ucapan selanjutnya. Hingga seolah, aku sedang dilemparkan oleh sebuah bom darinya.


Pernyataan terakhirnya, mampu membuat dunia ku runtuh seketika. Sejahat itukah ia, padaku!


"--- Aku hanya kasihan padamu selama ini."


Deg!


Jadi semua ini, hanya karena rasa kasihan!


Kasihan dari apa?


Dari kemiskinanku?


Atau diri ku yang sudah tidak bisa lagi memenuhi hatinya?


TBC