
"Heum Deeewwwaaa.." lirih gue.
Ini bocah malah nerjap polos sambil tersenyum lebar, "Tante ngapain disini? Tante rindu ya, sama Dewa?" dih pede sekali ini anak.
Gue menyerit bingung, "enak aja. Engga ya, ngapain tante rindu sama Dewa. Lagi pula, seharusnya tante yang tanya sama Dewa. Kenapa Dewa ada disini? Dewa nyasar lagi? Atau salah ngikutin orang?" bukannya dijawab sama Dewa, eh dia malah ketawa kenceng banget.
Emang ada yang salah ya sama pertanyaanku, yeorobun. Gue cuman bisa menatap keheranan, hingga. "Hahaha.. aduh tante, inikan rumah Dewa. Ckckckc.."
"Oh, ini rumahnya. Apa?!" Seketika gue menoleh seperti orang linglung. Astaga **** banget sih gue, si Dewa kan anak pak presiden. Gue merutuki diri sendiri, saat sadar pertanyaan konyol itu terucap.
Disaat gue menepuk-nepuk bibir gue dengan sedikit kesal, dia malah nambah kenceng ketawanya. Bener dah ini bocah, puas bener ngetawainya.
"Iy-iya maksud tante kamu ngapain samperin tante, kalau mereka tahu kamu ada di sini. Bisa-bisa tante lagi yang kena, udah sana mending kamu masuk ke dalam rumah." Usir gue dengan lembut, eh ini bocah malah mencebitkan bibirnya.
"Udah ya, sana tante mau kerja dulu." Bodo ah gue tinggalin aja itu bocah, soalnya gue punya perasaan yang gak enak. Karena apa? Ya, pasti ini bocah mau mengeluarkan jurus, matanya yang buat orang jadi luluh. Ituloh puppy eyes.
Sesekali gue menoleh kebelakang buat melihat, apa si Dewa ngikutin gue atau engga? Dan ternyata engga, jadi gue bisa bernapas lega setelah memastikan itu.
Gue masih tertinggal jauh sama rombongan, ya siapa lagi kalau bukan si bocah ngeselin itu pelakunya. Saat gue sudah bisa menyamakan langkah kaki gue dengan para perserta rombongan, tiba-tiba semua orang berteriak heboh.
"HAI SEMUANYA!!" ko gue kaya denger suara si Dewa ya.
Para perserta rombongan, berjalan mendekat dengan wajah penuh berseri. Sesekali mereka melemparkan pujian, bagi orang yang mereka lihat dihadapannya.
Gue yang berada dibelakangpun akhirnya penasaran, sama apa yang buat mereka berteriak dan sangat bersemangat. Apalagi kalo sambil dorong-dorongan kaya gini, makin buat gue takut.
Gimana gak mau buat gue was-was, orang kanan-kiri itu lemari kaca milik semua presiden terdahulu. Yang dimana isinya adalah benda-benda pustaka di dalamnya.
"Ih dia ganteng ya."
"Iya mirip kaya ayahnya."
"Aaaa gemes banget sama Dewa."
"Oh namanya Dewa."
Ya, begitulah bisik-bisikan para perserta yang sedang menganggumi sesosok makhluk kecil bernama Dewa. Apa? Dewa? Seketika mat ague membulat, saat pengulangan nama itu bocah terngiang dipendengaran gue.
Dengan cepat gue melakah mendekat, namun sialnya barisan para perserta touris ini sangat rapat. Tidak ada celah, buat gue untuk menerobos dan melihat secara dekat.
"Permisi," ucap gue berusaha untuk menerobos dan sialnya malah diabaikan.
Gue berusaha memaksakan diri gue untuk masuk, dan mendorong tubuh mereka agar bisa mendapatkan celah. Bukannya gue berhasil mendapatkan celah itu, sayangnya malah tubuh gue yang terpental akibat disenggol sama pinggul seseorang yang membuat gue jatuh duduk. Tapi kemudian, suara hulsky mengintrupsi kita semua terdiam dan menoleh.
"BERHENTI KALIAN SEMUA!!"
***
Disini-lah gue saat ini, duduk termenung dibawah pohon besar nan rindang. Karena pasalnya sejak gue ketemu sama Dewa, anak bungsu pak presiden.
Dia selalu membuntuti gue terus menerus, gue bener-bener gak bisa kerja mengawal mereka para touris tersebut. Walau gue gak bisa menjelaskan pada mereka sejarah dan silsilah terbentuknya Negara gue yang tercinta ini.
Tapi tenang, para touris itu tetap mendapatkan penjelasan dari sejarah Negara ini. Itupun semua berkat Nana, pria muda yang bekerja sebagai ajudan pribadi keluarga presiden ini.
"Tante kenapa senyum-senyum sendiri? Tante sakit ya?" seketika lamunan gue buyar saat Dewa bersuara.
Gue menoleh, lalu tersenyum simpul. "udah yuk, kesana nanti mereka nyariin tante lagi?" ajak gue namun si bocah satu ini malah menggeleng.
Dahi gue berkerut, "kenapa? Kan tante harus lanjut kerja lagi?"
"Tante gak boleh pergi pokoknya, temenin Dewa main." Dih maksa nih bocah.
Gue menghela napas pendek, lalu berkata. "Dewa-kan disini punya Paman Nana, punya ayah dan kakak. Masa Dewa gak bisa ngajak mereka main."
Dia mengerucutkan bibirnya, "MEREKA SEMUA SIBUK. MEREKA GAK SAYANG SAMA DEWA." Setelah mengatakan hal itu si Dewa malah bersedekap dada sambil memalingkan mukanya seolah dia sedang marah.
Tapi saat gue mau bersuara kembali, seseorang memanggil ini bocah. "DEWA!!" gue menoleh secara bersamaan sama Dewa.
Anak gadis yang berusia 8 tahun ini berlari mendekat, "Kamu kakak cariin juga." oh jadi dia kakaknya Dewa.
Nah kesempatan nih buat gue, mumpung ini bocah lagi diajak ngobrol sama kakaknya. "Karena sekarang, Dewa sudah ada kakaknya disini. Jadi tante pergi pulang dulu ya?" saat gue hendak mengusak kepala Dewa kakaknya malah nepis tangan gue dengan kasar dan berkata.
"Kamu siapa? Jangan pegang-pegang adik saya," ada jeda diucapannya. "Kamu mau Maling ya!!" tebaknya.
Dih judes banget ini anak, namun saat gue ingin kembali bersuara. Seseorang manggil nama gue. "Nona Diandra," gue menoleh dan tersenyum saat melihat Nana kembali.
Ya, ajudan pribadi keluarga presiden ini datang setelah membantu menenangkan para touris tadi yang berusaha menyentuh Dewa. Dia berlari kecil mendekat, lalu berkata.
"Semua sudah masuk ke dalam bus, dan mereka juga sudah siap untuk berangkat menuju tempat yang selanjutnya." Gue mengganguk dan setelahnya gue mengucapkan terima kasih pada Nana.
Saat gue kembali memusatkan perhatian gue ke arah Dewa, namun sayangnya bocah itu udah berlari menjauh bersama sang kakak. Ya syukurlah, itu artinya gue gak usah lagi repot-repot buat membujuk si Dewa.
Lalu gue pun perlahan mulai meninggalkan taman ini menuju bus touris, Gue tersenyum saat melihat semua touris sudah masuk ke dalam bus. Hingga tak lama.
"Baiklah, mari kita lanjutkan tour ketempat selanjutnya. Yaitu pemandian air panas." Kata gue dengan heboh dan penuh semangat.
Bus yang kita tumpangi ini pun perlahan mulai berjalan, tapi entah kenapa gue masih menatap istana kepresidenan ini. Apa karena gue belum pamit ya ama Dewa, tapi kalau gue pamit yang ada bocah itu bakalan maksa gue untuk tetap diam di sana. Ah sudahlah Dra, itu hanya perasaan lu aja. Batin gue berkata sedemikian.
Disaat gue mulai menikmati, jalannya bus ini. Tiba-tiba seseorang bersuara. "Eoh, Dewa! Ngapain kamu di sini?!"
Deg!
Seketika tubuh gue menegang. Oh tidak jangan lagi, gue memejamkan mata gue sejenak untuk menghilangkan pikiran yang tidak masuk akal. Hingga kemudian.
"Oia Dewa, ko kamu bisa masuk ke dalam bus?"
"Dewa mau ikut sama Mama Diandra." Mata gue membelalak saat mendengar suaranya. Apa tadi dia bilang, Mama Diandra? Mama? Dan semua orang langsung menoleh ke gue.
Gue tersenyum kecut, "Dewa." Panggil gue dengan lirih.
"Iya, Mamah Diandra."
TBC