Mr. President & Me

Mr. President & Me
34



Hari ini beberapa jam, tepat sebelum quick count dimulai. Mereka para calon Presiden dan wakilnya, harus mengikuti sebuah sidang tertutup.


Dimana, dari hasil keduanya nanti menjadi nilai tambah untuk menentukan siapa yang layak menjadi presiden terpilih selanjutnya. Deva sudah bersiap menuju ke gedung tempat debat dan sidang itu dilaksanakan.


Ditemani oleh Saga dan juga beberapa petinggi partai, Deva siap dengan hasil kemungkinan nantinya. Bahkan disampingnya, Lisapun juga sudah bergelayun manja dan sesekali melambaikan tangan saat awak media mulai menyorot mereka saat keluar dari rumah. Sedangkan Deva dia hanya tersenyum lebar, menyapa mereka semua.


"Pak bagaimana, apa bapak yakin akan menang lagi untuk kedua kalinya?" Deva hanya tersenyum.


"Tentu. Kami yakin, jika saya dan Deva akan menjadi presiden serta ibu Negara terpilih selanjutnya. Iyakan sayang?”


Deva mengangguk pasrah, "Semoga."


Saga yang berada dibelakang mereka hanya bisa merotasi mata jengahnya, dalam hati Saga berkata. astaga, pintar sekali aktingnya itu?.


Lalu setelahnya mereka kembali berjalan memasuki ruang bilik suara. Semua orang diluar sana sedang mengantri untuk bergantian, memberikan pilihan suara kepada para kandidat calon president dan wakilnya.


Sedangkan di dalam, Deva dan para jajaran timnya juga sedang memberikan pilihan suara mereka. Setelahnya mereka, memasukan kertas-kertas tersebut kedalam kotak suara.


Tidak jauh berbeda dengan di Negara weka-weka. Disana lebih tepatnya di Paris, di kantor kedutaan Diandra juga sedang mengikuti pemilihan suara.


"Sstt.. kenapa melamun? Ayo di tusuk kertasnya?" Diandra tersadar dari lamunannya.


Dengan gerak cepat Diandra menusuk asal ke arah kertas tersebut. Lalu setelahnya dia kembali melipatnya, dan lalu dia masukkan ke dalam kotak suara. Sejak satu hari sebelum pemilihan itu berlangsung, hati Diandra terus merasa sakit saat melihat wajah yang mungkin selama ini dia rindukan.


Benarkah? Tidak. Lebih tepatnya rasa sakit akan perkataannya dahulu.


Ya, tuduhan atas apa yang tidak dia lakukan. Membuang napas beratnya sejenak, saat memori itu kembali memutar. Sakit. Tentu, sangat sakit rasanya.


Namun semua harus dia kubur. Ya, dia tidak punya pilihan lain selain mengubur semua perasaanya, kenangannya dan Senyumannya, yang selalu terbayang diotaknya.


"Abis ini mau kemana kita?" tanya Genta sambil merangkul pinggang Diandra.


Diandra tersentak, "Eh, .. ehm, terserah." jawabnya lesu.


"Kamu kenapa sih dari tadi bengong mulu?"


"Euhm.. Masa sih?" elaknya.


"Serius!" katanya dengan sedikit tegas.


Diandra menggeleng, "udah yuk, kita lanjut jalan aja." Ajaknya.


Ia hanya tersenyum, sesekali dia mendesah lelah. Ada apa lagi dengannya? Kenapa akhir-akhir ini dia sering kali merasa sesak. Bukankah, tujuan ke Paris untuk melupakaanya.


Namun apa ini? kenapa lukanya terbuka kembali. Mengadahkan kepalanya, untuk menahan airmatanya yang akan segera turun membasahi pipi gembilnya.


"Menangislah, ku tahu hatimu masih miliknya." Diandra menggeleng pelan.


"Tak apa, aku akan tetap disini menunggu hatimu terbuka sepenuhnya untukku." Ya, hanya ini yang bisa Genta lakukan.


Menunggu. Menunggu hati Diandra agar namanya bisa masuk memenuhi relung hati milik wanita yang sudah mengalihkan dunianya itu.


Sejak jatuh cinta padanya, Genta bertekad tak akan membiarkan wanitanya itu bersedih. Namun dia masih sulit untuk mencapai tempat paling istimewa dihatinya.


Karena sepenuhnya, tempat paling istimewa dihatinya hanyalah milik Deva. Mr. President, sekaligus ayah dari dua orang anak yang berhasil menempati tempat tersebut.


Bagaikan dedauan kering yang tak dianggap. Genta sadar akan posisinya, namun dia masih belum siap jika suatu hari nanti Diandra memilih Deva kembali.


"Kita mau kemana?"


"Terserah." Genta mendesah.


Tersenyum kecut sebelum kembali berkata, "Bagaimana kalau kita makan ditempat favoritmu saja? Apa kau mau?"


Lagi-lagi, hanya ada sebuah anggukan dari wanitanya sebagai jawaban. Tanpa banyak bicara lagi, akhirnya mereka memasuki mobil dan mobil tersebut tidak lama mulai bergerak melaju memecah keramaian dipagi hari.


"Kau tahu, alasan aku keluar dari pekerjaan sebagai seorang kaki tangannya. Karena malam itu, sejak aku pulang dari rumah sakit dia mendatangiku?"


Diandra terpaku, lalu dia berbalik dan menatap Genta penuh tanya. "maksudmu, Deva?"


Genta mengangguk, namun dalam hati dia meringis. Lihat, betapa semangatnya wanitanya ini saat menyebut nama Deva.


Betapa berusahanya dia untuk menyembunyikan perasaanya, namun saat mendengar kata "Deva" seakan ada magnet yang menariknya. Wajahnya langsung berubah penuh tanya, akan rasa penasaranya.


"Benarkah, itu? Apa, apa yang dia bilang?"


Genta tersenyum simpul, "Dia bilang, pergilah.. Jauhi wanitaku, karena Diandra adalah ibu dari anak-anakku. Dan kau tidak akan bisa memilikinya. Itu katanya."


Diandra terkatup, dia dibuat bungkam seribu bahasa. Apa ini? kenapa dia menyuruh Genta untuk menjauhinya? Apa benar dia juga mencintainya? Dia menggeleng.


"Lalu, apa yang kau katakan?" tanyanya penasaran.


Genta menarik sudut bibirnya, lalu tak lama dia menghentikan laju mobilnya menepi dipinggir jalan sejenak. Hingga dia menatap Diandra, memajukan wajahnya berniat untuk menciumnya.


Namun didetik itu juga reaksi dari Diandra, seakan menjawab semuanya. Ya, wanita itu menjauhkan wajahnya sambil berkata.


"Apa yang kau lakukan?"


Genta terkekeh, "Bukankah kita sebentar lagi akan menikah. Kenapa kau terkejut seperti itu?"


Diandra membuang wajahnya, "T-tidak.. aku hanya.. Hanya," gugupnya.


Pria itu membuang napas lelahnya, "Huft.. berhentilah mengatakan kau mencintaiku. Namun nyatanya kau masih mencintainya."


Didetik selanjutnya Genta kembali menormalkan wajahnya, dingin dan tegas. Sangat mudah dibaca, bahwa dia sangat kesal. Lalu tak lama dia kembali menyalakan mesin mobilnya.


Setibanya di restoran, baik Diandra maupun Genta hanya saling diam tenggelam dengan pikiranya masing-masing.


"Kau mau makan apa?"


Diandra mendongak, "Hah? Oh, aku mau ini saja."


"Baiklah," ucapnya.


Genta mengacungkan tangannya, sambil berkata. "Pelayan!" panggilnya.


Tak lama pelayan yang melihat dan mendengar, langsung berjalan ke arahnya. "Ya, Tuan. Ada mau pesan apa?"


"Euhm.. kami pesan bistik dua, lalu pizza originalnya satu dan manggo smootis satu." Katanya dalam bahasa perancis.


"Baik tuan, apa ada lagi?"


"Tidak, untuk saat ini cukup."


Setelah pelayan tersebut pergi, kembali hanya ada keheningan diantara mereka. Diandra hanya diam menunduk, entah apa yang dia pikirkan.


Namun yang jelas, Genta sudah tidak berniat untuk berbicara padanya. Daripada berujung perdebatan hingga akhirnya menghancurkan hubungannya lebih baik dia diam.


"Euhm.. bagaimana dengan bayi itu?"


Diandra mendongak, menatapnya. "Bayi? .. ada apa dengan bayi ini? lagi pula bayi ini sudah tiada," katanya tersenyum getir.


"Apakah kau sudah memberitahunya?"


Diandra menggeleng lemah, sambil menunduk dia berkata. "Biarkan saja, aku yang menyimpan semua rahasia terbesar ini."


TBC