Mr. President & Me

Mr. President & Me
11



"Ini minum dulu?" Gue mendongak, menatap Genta yang sama-sama terjaga sepanjang malam.


Tanpa banyak bicara, gue meraih minuman kaleng yang dia berikan pada gue. Lalu setelahnya dia mendudukan dirinya di samping gue, "pulanglah. Biar aku yang menjaga dan mengawasi Dewa?" perintahnya.


Gue menggeleng, "Tidak. Sebelum, gue bisa lihat Dewa siuman."


Dia menghela napasnya, "kenapa? Kenapa elo harus mengkhawatirkannya, toh dia bukan anakmu?"


"Karena Dewa sama sepertiku. Dia terlihat kuat dan tangguh dari luar tapi di dalam, dia rapuh. Bagaimana bisa? anak sekecil itu harus menanggung semuanya. Kehilangan sang ibu diusia di mana ia masih belum mengenal dunia, dan ditambah lagi kesibukan yang harus dia pahami saat sang kakak lebih memilih belajar dibanding bermain bersamanya. Apalagi sang ayah yang terlalu sibuk mengejar tahtanya. Dunia ini terlalu kejam untuknya, itu sebabnya saat melihat sinar matanya, aku bisa merasakan ia sangat kesepian. Walau banyak-nya orang berlalu lalang dirumahnya. Tapi tetap saja, yang ia butuhkan hanya sebuah pelukan hangat dari ayah, ibu dan kakaknya seperti layaknya keluarga kecil lainnya." Gue tersenyum saat mengingat betapa bahagianya keluarga gue dulu.


Saat itu mendiang almarhum ayah, baru pulang dari tugas malamnya. Dia menjadi seorang satpam disebuah perusahan yang bergerak dibidang pertenakan, dengan penghasilan yang tidak terlalu besar.


Tapi itu cukup membuat keluarga kecil kami bahagia saat itu, gue yang saat itu masih berusia satu tahun dibawah Dewa hanya bisa ikut tersenyum dan tertawa.


Karena gue tidak mengerti apa yang terjadi saat itu. Namun 3 bulan setelahnya, kami mendapatkan kabar jika ayah dituduh mencuri dan menjual hewan ternak diperusahaan tempatnya bekerja.


Saat mendengar hal itu, ibu gue sangat murka dan akhirnya mereka bercerai. 5 tahun setelah perceraian ibu gue meninggal, karena faktor kelelahan akibat bekerja yang dia forsir tanpa jeda sedikitpun.


Hanya untuk memenuhi kehidupan gue dan nenek saat itu. Sedangkan ayah, dia dihukum mati hanya karena kami tidak bisa menyewa seorang pengacara dan tidak bisa membuktikan jika ayah gue tidak bersalah.


Hingga setelahnya, ayah gue lebih memilih meminum racun dan merenggang nyawa di dalam sel tahanan di sana.


"Hei, jangan menangis." Lamunan gue buyar seketika.


Gue mengusap derai air mata, yang sudah membasahi pipi gembil gue. Dan setelahnya gue membuang napas berat. Benar-benar kenangan yang menyakitkan.


Tak lama, disusul oleh suara derap langkah kaki seorang perempuan, yang bisa gue denger. Gue tahu siapa lagi, kalau bukan Lisa.


Gue sengaja memilih untuk menghindari kontak mata denganya, lalu tak lama dia bersuara.


Plak!!


Gue membulatkan mata, lalu dengan refleks tangan gue menyentuh pipi gue. Saat tanpa ada hujan dan angin, tiba-tiba saja dia mendaratkan sebuah tamparan yang cukup kencang sehingga terasa panas dipipi gue.


"Elo lagi! Elu tuh ganjeng banget sih, pake segela nolongin itu anak. EMANGNYA DIA ITU SIAPA LU!!"


"GUE IBUNYA!!" balas gue dengan tegas.


Dia melotot tak percaya, lalu tersenyum sinis ke arah gue. "Tsk, jadi selama ini elu berharap bisa jadi ibu dari Dewa gitu? Duduk disingah sana, di samping kursi kepresidenan. Iya? NGIMPI LU KETINGGIAN!!"


Tanpa sadar gue mengepalkan tangan, "dan elu pikir? apa elu pantes jadi ibu Negara, sedangkan elu aja. Selalu berusaha untuk membuang anak itu tanpa sepengetahuan ayahnya?!" kata gue dengan penuh penekanan.


Dia menarik sudut bibirnya, "Memangnya, kenapa? MASALAH BUAT LO?!"


Sialan, ini cewe!


Saat mendengar perkataan itu, emosi gue semakin menjadi-jadi. Tapi tidak etnis rasanya jika gue yang menyerang cewe gila ini lebih dulu.


Apalagi ini dirumah sakit, jadi gue memutuskan untuk menetralkan kembali kepala gue yang sudah sempat berasap tadi. Lalu gue membalas, senyuman sinisnya.


"Dan gue gak akan biarin itu terjadi!!" tegas gue yang dibalas dengan pelototan dan tangan yang berkacak pinggang.


Setelah gue berdebat panjang dengan cewe gila tadi, kini gue berada di samping ranjang Dewa. Karena pasalnya anak ini sudah siuman, namun seperti biasa dia gak mau gue pergi kemana-mana.


Bahkan hanya untuk sekedar pergi ke kamar mandi saja, dia sudah berteriak memanggil nama gue.


"Mom? mau kemana?" gue menoleh.


Gue tersenyum, "Sebentar ya, sayang. Tante mau isi air diteko ini dulu?" kata gue sambil menunjukkan teko air yang sudah kosong.


Dia menggeleng, "ko, tante lagi? Mama gitu, jangan tante. Mama Diandra..." gue menggeriling mata malas, sumpah ini anak makin ngeselin.


Gue menarik napas dalam-dalam, lalu setelahnya dengan malas gue membuang napas lelah.


"Ya, Dewa.. Mama mau isi air teko dulu ya?" sabar Dra, sabar anak presiden itu. Ucap gue, di dalam hati.


Ceklek!


Pintu kamar inap Dewa terbuka secara tiba-tiba, lalu menampakan Genta yang baru saja selesai menghubungi si Mr. kaku itu soal keadaan Dewa anaknya. Dia tersenyum, lalu berjalan mendekati Dewa.


Dia duduk disamping Dewa, setelah tiba didekat ranjang rumah sakit. Perlahan kedua tangannya mengusap surai cokelat milik Dewa.


"Ada apa paman?" Gue bisa melihat jika ada yang tidak beres disini.


Dia tersenyum, "tidak, paman hanya rindu dengan Dewa." entah kenapa gue merasa ada yang aneh dengan Genta.


Karena dari gelengan kepalanya tadi, Genta hanya bisa menatap Dewa lirih. Apa mungkin? oh, tidak. Jangan bilang kalau, si Mr. kaku? Astaga!!


"Dia tidak akan datang, kan?" Genta menunduk lesu.


Gue berdecak sebal, "Huh!! astaga. Bapak macem apa dia?!"


"Bukan, dia bilang. Dia akan datang saat tugas kenegaraannya sudah selesai. Tapi, dia ingin kedatanganya juga harus diikuti oleh kamera wartawan. Dan itu artinya, dia--" Gue melotot tak percaya.


"ORANG GILA!! BAPAK MACEM APA DIA!!" teriak gue secara refleks.


Genta hanya dia menunduk, "aku tidak, tahu harus apa?"


Sinting! bagaimana bisa dia menjual anaknya yang sedang sakit agar bisa menjadi tontonan publik. Ya, Tuhan. Sebenarnya dia manusia apa hewan? Hewan saja masih, mau berusaha melindungi anaknya dari orang lain. Kenapa dia, malah? Heuh!! sudahlah.


Gue mendengus kesal, "Ya, untuk karir politiknya agar dia bisa memenangkan hati rakyatnya. Ya,kan? Aku benar?" Genta hanya diam sedangkan Dewa, dia merunduk.


Tak lama, anak itu kembali mendongak.


Lalu ia menatap Genta dengan lekat, dan setelah dia menatap gue sambil tersenyum lebar, "katakan pada papih. Aku mau, asalkan tante Diandra jadi mommyku! sepulang aku dari rumah sakit. Jika tidak? aku tidak mau, bertemu dengan papih."


Prank!!


Tanpa sengaja, teko kaca yang gue pegang terlepas dan hancur berkeping-keping, saat otak gue baru saja selesai mencerna perkataan Dewa. Gila!! kenapa harus gue, juga yang ikut terlibat?!


TBC