
Authorpov
"LEPASKAN AKU! AKU BUKAN MALING!!" teriak seorang perempuan saat dia diseret paksa oleh 2 orang lelaki bertubuh tegap itu.
"Kalau kau bukan maling. Lalu apa? Penculik? Kau ingin menculik anakku?" sahutnya.
Lalu pria itu yang berada didepannya, menyunggingkan senyumanya saat dia berhasil memerintahkan ajudannya untuk segera membawa gadis itu keluar dari istannya.
"Cepat!! Bawa gadis aneh itu keluar! Sebelum media melihatnya!" titahnya. Para ajudan tersebut memberikan hormat, siap pak, laksanakan.
"Aku bukan Maling!! Lepaskan aku!!" Gadis itu masih terus berusaha melepaskan diri, namun sayang tenaganya tidak melepaskan diri dari para ajundannya. Hingga didetik selanjutnya suara pintu terbuka.
Kriet~
"Papi, bisahkan kau membiarkan tante ini di sini. Aku yang membawanya masuk ke sini." Kali ini sang anak bungsunya bersuara.
Pria itu menaikan satu alis matanya, "APA?! Jadi kau yang menyuruh wanita asing ini masuk!" sang anak langsung berlari bersembunyi ke belakang tubuh sang ajudan pribadinya saat sang ayah menaikan volume suaranya.
Dia mengangguk pelan, "maaf, tapi aku kesepian ayah. Aku mau tante ini menjadi mama penganti untukku." Cicitnya.
DEG!
Dengan takut, dan suara seraknya anak lelaki itu memunculkan tubuhnya kembali. "Berikan aku mama baru, setelah itu aku tidak akan meminta apapun lagi padamu."
Pria itu berkacak pinggang, "KAU PIKIR MUDAH MENCARI IBU PENGGANTI BARU BAGIMU, HAH!"
"KAU BERHENTI MEMARAHINYA, DIA MASIH KECIL BAPAK PRESIDEN YANG TERHORMAT!" selanya dengan berteriak.
Mata sang presiden membelalak, memangnya kau itu siapa, "hah! Dasar wanita pencuri."
PLAK!
Author povend
***
Sumpah gue bete, kesel dan akh.. bodo amatlah. Pokoknya kalau bukan karena si Dewa, gue juga gak bakal mau menginjakan kaki di istana kepresidenan. Sumpah ya, itu orang gak punya ekspresi banget.
Mukanya ituloh kaya televisi yang zaman sekarang, terlalu flat alias datar. Dan yang lebih buat gue kesel itu? masa anak sendiri dibentak kaya gitu. Astaga, gak ngotak banget sumpah!
Ya, seharusnya dia sebagai seorang ayah bisa memaklumkan kalau anaknya meminta mama pengganti. Toh, dia juga masih butuh kasih sayang dari seorang ibu, jadi gak usah ngegas sendiri sama anak. Sejak kejadian tadi, Dewa gak berhenti-hentinya nangis. Gimana gak mau nangis, setelah gue nampar itu orang.
Eh si Mr. President itu, malah marah balik marah ke gue dengan tatapan tajamnya. Bahkan dia juga mencekram pergelangan tangan gue sampe sedikit meningalkan bekas memar dipermukaan kulit. Dan kalian tahu? Saat si Dewa ngeliat gue meringis kesakitan itu anak, langsung ngegigit paha ayahnya demi membela gue.
Kalian pasti mau tahu, hal yang akan terjadi selanjutnya. Adalah si Mr. president tadi, mendorong tubuh Dewa sampe anak itu jatuh terselungkur. Astaga, geram banget gue sama kelakuan bapaknya! Pengen banget gue rasanya menengelamkan si Mr. President eh salah, dia gak pantes jadi Mr. President. Tapi dia lebih pantes disebut si Mr. Kaku dan tidak berperasaan sama anak sendiri.
“Dewa, sudah ya jangan menangis lagi?" bujuk gue sambil mengelus punggungnya dengan lembut.
Anak itu bergeming, dia masih asik menenggelamkan kelapanya diantara kedua kakinya yang ia tekuk. Suara isakannya mulai mengecil, lalu tak lama dia mendongak. "Tante, maafin ayah aku ya~" lirihnya.
Gue tersenyum, lalu tak lama gue mengangguki perkataanya. Tapi itu cuman acting aja. Karena yang sebenernya di dalam hati gue, tiada maaf bagi si Mr. kaku itu. Enak aja, maaf-maaf emang dikira Mpo indun. Cih, sory ye.. Lagi juga ngapain maafin dia, sedang dia aja udah nuduh gue maling, dan penculik.
Muka orang cantik gini, dituduh maling dan penculik yang ada mereka yang mau culik gue. Aduh, payah dah bapaknya si Dewa bujana eh salah itu mah pesonil band gigi. Maksud gue si Sadewa, anaknya pak Presiden yang mukanya kaku macem tipi datar.
"Sekarang Dewa tidur ya?" dia mengangguki perkataan gue.
Namun saat dia hendak merebahkan dirinya di atas ranjang, dia menatap gue lekat. "kenapa?" dia geleng.
Gue menautkan alis bingung, "tante jangan pergi ya? Temenin Dewa bobo, ampe pagi." Et dah, nih anak.
Gue membuang napas lelah, "Ya. Baiklah, ayo sini bobo." Ucap gue sambil ikut merebahkan diri dikasur Dewa.
"Tante bisa nyanyi?"
"Engga, suara tante jelek kaya kaleng rombeng." Dih ini anak malah ketawa, pas gue ngomong terus terang.
Gue merotasi mata malas, sumpah kagak percaya bet ini anak. "Bener, jangan tawain ya kalo banyak nada yang rancu." Dia mangguk dengan semangat.
Saat hendak mulai bernyanyi dengan mulut yang sudah sedikit membuka, gue menoleh lalu berkata. "Mau dinyanyiin lagu apa?"
"Bhahahaha.. tante, dikirain udah mau nyanyi. Eh malah dia nanya? Ahahaha." Sumpah ngeselin, sama aja kaya bapaknya.
Gue mencebikkan bibir, "yaudah kalau gitu gak usah! gue pura-pura ngambek."
Pas gue pura-pura kaya gitu, eh si Dewa malah meluk gue. "Maaf, Dewa cuman bercanda. Abis tante lucu."
Gue senyum, sambil mengacak rambut Dewa gemas. "Yaudah ayo tidur." Dan perlahan gue mulai bernyanyi.
Walau gue bernyanyi dengan banyak nada yang meleset, tapi gue bisa ngerasain perlahan deru napas Dewa mulai tenang. Ya, gue yakin Dewa udah masuk ke alam mimpinya.
Tapi pas gue lagi ngelonin Dewa, gue bisa melihat dari pantulan cermin yang ada di kamar Dewa kalau si Mr. kaku itu lagi melihat ke arah gue.
Dih pede banget lo Diandra. Maksudnya ke arah Dewa, elah baper banget si gue. Karena posisi kita itu membelakangi pintu kamar.
Jadi Otomatis, cermin yang ada dilemarinya si Dewa keliatan. Setelah beberapa menit dia terdiam, tak lama dia menghela napas dalam. Lalu perlahan dia mulai menutup pintu kamar Dewa.
Setelahnya Dewa tertidur pulas, perlahan gue bangkit dari posisi dan mulai menuruni ranjangnya. Ya, gak mungkinlah gue nginep di sini. Emang ini lagi di dalam drama Korea kali, cewenya bisa ampe tidur di rumah si cowok. Yak kagak mungkinlah, ini tuh real life. Alah, gaya bener gue bahasanya.
Nona, panggil seseorang yang sukses membuat jantung gue hamper copot.
Ish, ngagetin aja. Kalau sampe Dewa bangun gimana? marah gue sambil sedikit memukul lengan Nana sang ajudan.
Dia yang gue pukul malah nyengir kuda, Apaan?
Udah ditunggu sama Bapak dibawah? gue terdiam sejenak.
"Bapak? Sejak kapan emak gue kawin sama si Mr. kaku? Maksud saya, di panggil sama bapak Presiden." Gue yang mendengar itu hanya membulatkan mulut gue.
Setelah tiba di sebuah ruangan, gue bisa melihat di sini sudah banyak ajudan pribadinya yang berdiri tegap dan di sampingnya si nenek sihir.
Eh maksudnya si tunanganya, Monalisa yang biasa dipanggil Lisa. Tunggu, kenapa itu cewe duduk di sebelah Mr. kaku itu dengan hanya menggunakan pakaian lingerine?
Seketika mata gue membulat, cih abis dipake toh rupanya. Ya, gue masih inget betul kejadian dimana gue melihat sepasang kekasih lagi asik berolahraga malam.
Itu, main kuda-kudaan. Terus dia merintahin gue buat duduk berhadapan, hingga kemudian dia menyodorkan sebuah kertas yang sudah ada beberapa tulisan. Ya, gue tau ini apa.
Sebuah kontrak, dan perjanjian bahwa gue gak boleh nyebarin atau menceritakan tentang kejadian di dalam sini ke dunia luar. Alias masyarakat, elah politik banget dah. Takut image baiknya rusak ya, bapak? Gue menarik sudut bibir gue.
"Apa ini?" gue berpura-pura.
Dengan malas, gue mengambil kertas itu. Kan bener apa gue bilang. Astaga, banyak bener perjanjiannya. Ini kontrak perjanjian, atau lagi nulis peraturan UUD. Pas gue baca bagian bawah di nomer terakhir, gue sedikit bingung.
"Boleh, bulak-balik masuk istana?" gue sedikit menyerit.
"Iya, kamu saya izinkan untuk boleh keluar masuk istana kepresidenan ini. Tanpa harus melewati protocol keamanan yang ketat, hanya untuk menemui Dewa anak saya." Gue berdecak.
"Maksud anda, saya disuruh jadi baby sisternya Dewa?"
Dia mengangguki pertanyaan gue, "Dengar ya, Mr. presiden terhomat. Saya ke sini hanya karena saya merasa kasihan pada Dewa. Sejak saya bertemu denganya di Halte bus seorang diri?"
"Halte bus? seorang diri? Maksudmu?" lah dia malah nanya gue.
"Iya, memangnya anda tidak tahu. Kalau selama ini anak anda sempat hilang dan terpisah dari seorang pelayan dirumah ini."
Dia terkejut, dan membelalakkan matanya.
"APA?!!"
TBC