Mr. President & Me

Mr. President & Me
18



Jika selama ini kalian pernah mendengar istilah, mobil bergoyang. Saat itu juga apa yang ada dibenak kalian untuk pertama kalinya? lalu bagaimana dengan ranjang yang bergoyang? apa yang ada di pikirkan kalian saat itu?


****


Entah sudah berapa lama mata gue terus terbuka, padahal rasa kantuk sudah hadir mendera. Namun sayangnya mata gue masih tidak mau memejam barang semenit pun. Gue bergerak gusar di atas ranjang, dari berbalik ke kiri lalu kembali berbalik lagi ke kanan.


Mulai dari tidur telentang dan bahkan terkadang gue tengkurap. Tapi tetap saja mata gue masih terbuka lebar.


Sesekali gue sempat melirik sekilas si Mr. kaku, dia sudah tertidur pulas sejak 5 jam yang lalu. Gue kembali bergerak menelentangkan diri, menghadap langit-langit kamar si Mr. kaku.


Gue mendengus kesal, karena pasalnya gue tidak bisa tidur sama sekali. Gila! dia bilang ibunya akan datang dimalam hari, tapi apa ini sudah hampir tengah malam dan sang ibundanya belum juga menampakkan dirinya.


"Astaga!! bisa diem gak! bisa-bisa roboh ini ranjang lama-lama, kalau kamu terus bergoyang seperti tadi!" bentaknya saat gue kembali bergerak gusar.


Gue menoleh, "Saya pindah aja deh ke kamar sebelah, lagi pula ibunya bapak gak akan mungkin datang tengah malem." pinta gue.


Dia tidak menjawab, namun saat gue hendak bangun dari ranjang tempat tidur. Dia malah menarik tangan gue, dan membuat gue akhirnya kehilangan keseimbangan.


Ya, gue mendarat tepat di atas tubuh si Mr. kaku. Bahkan posisi kita saat ini, bisa dibilang mampu membuat seseorang yang melihatnya salah paham.


Ceklek!!


"Nak kamu belum--" suara bunyi pintu terbuka dibarengi dengan suara seorang wanita terdengar.


Wanita itu terkejut dengan matanya yang membola, lalu kemudian dia tersenyum kikuk.


"Ck, mama mah kebiasaan deh ganggu anaknya mulu."


"Hehehe.. sorry." balas sang ibu sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Gue cuman bisa mematung ditempat, apa lagi saat si Mr. kaku merengkuh pinggang gue secara posesif. Sehingga membuat tubuh gue menempel dengan sempurna di dada bidangnya.


Bahkan, gue juga bisa mendengar irama detak jantungnya yang kencang. Tunggu! kenapa dia yang deg degan kan seharusnya gue.


"Lain kali biasain, ketuk dulu pintunya. Jadi gagal deh, ngasih adik buat Dewa." mata gue membola dengan sempurna.


What? Adik untuk Dewa?!


Dewa?


Mata gue membesar dan menatapnya tajam.


"Iya deh iya, maaf kan mama gak tau kalau kamu lagi mau buat adek untuk Dewa cucu mama ... Ya sudah diterusin aja, buat yang banyak!!" seketika pipi gue memanas saat perkataan frontal dari sang ibunda Mr. kaku tadi.


Setelah pintu tertutup, dia melepaskan pelukannya. Lalu berkata, "Hey, bernapas. Mama udah pergi."


Saat perintah itu terdengar, gue langsung menghirup udara banyak-banyak untuk mengisi rongga paru-paru gue kembali.


Gue menerjap gugup, "Kau, baik-baik saja?"


Gue mengangguk, "Ck, sampai kapan kau akan menempel terus seperti ini?"


Refleks gue langsung menjauh dari tubuhnya, "Kenapa kamu? ko pipi kamu memerah seperti itu?" cecarnya.


"E--engga! engga papa ko?" elak gue sambil menggeleng.


Duh, kenapa jadi gugup si gue.


Gue merutukki diri sendiri, bisa-bisanya gue sampe bersemu merah. Tapi, heran aja gue ko bisa ya, sang ibu Mr. kaku itu bener-bener dateng ditengah malem begini? disaat otak gue asik berdebat.


"Jangan melamun aja, nanti kamu kesurupan. Kan saya yang repot." setelah mengatakan itu dia segera kembali keposisi awal tidurnya.


Gue menghela napas panjang, "Kenapa ibu bapak bisa datang ditengah malam seperti ini?"


Dia membalikkan tubuhnya kembali, "Ibu saya, tipikal orang yang tidak mudah percaya sebelum melihat dengan kedua matanya sendiri. Jadi kamu jangan terkejut, jika sewaktu-waktu ibu bakalan datang tiba-tiba dan menghilang juga tiba-tiba."


Gue hanya diam memperhatikan dia berbicara, "Karena sejak meninggalnya istri saya, ibu saya tidak percaya dengan saya. Karena dia tahu, saya akan tidur dengan sembarang wanita. Makanya ibu saya jadi posesif, dia gak mau saya menderita karena kehilangan seseorang lagi."


"Udah, kamu tidur. Lebih baik kamu tidur di sini dulu, daripada pindah takutnya ibu masuk tiba-tiba lagi!" gue menerjap untuk mencerna perkataannya, hingga kemudian.


"LAGIIII!!!" dia mengangguk dan gue hanya bisa pasrah setelahnya.


Sial! gue gak bakalan bisa tidur ini sampe besok! - gerutu gue dalam hati.


Namun, saat gue hendak kembali menaiki ranjang dia berkata. "Naik ranjangnya pelan-pelan. Bisa roboh ini ranjang!!"


Gue mendelik tajam ke arahnya, "Tinggal beli ranjang baru lagi lah, kalau roboh. Susah amat gitu aja!"


Ucapan enteng gue, malah dihadiahi sentilan dikening gue yang berujung ringisan dari gue. Sialan, sakit bener sentilannya.


"Sebarangan banget kalau ngomong. Ini itu ranjang penuh kenangan, bahkan dari ranjang ini bisa tercipta dua makhluk yang lucu seperti Dewa dan juga Gitra."


Gue mendecih, "cih, baru dua doang bangga. Nenek saya noh, punya 12 anak tapi ranjangnya tetep kokoh, walau terkadang suka berdecit."


Deva kembali membulatkan matanya saat dia sudah hampir memejamkan matanya.


"Jadi kamu secara tidak langsung telah menyindir saya dalam urusan ranjang."


"Tidak, tapi ya.. kalau bapak berpikir begitu, itu artinya emang bener bahwa bapak gak akan bisa menyaingi nenek saya." okey Diandra cari mati setelah ini.


"Oke, ayo buktiin kalau saya itu paling jago dalam urusan ranjang. Sini kamu, saya buktikan jika saya lebih kuat dan tahan lama dalam urusan bercinta."


Mata gue membelalak saat tubuh Mr. kaku mulai menindih gue, aduh ndra elo udah gila! bener-bener gila! gue menerjap.


"Ba-ba-bapak? Bapak mau ngapain?"


Gugup gue saat dia udah berada di atas tubuh gue, dan lebih sialnya lagi dia menyeringai seolah dia menantang gue. "Mau buktiin sama kamu, setelah ini akan ada Deva junior di dalam rahim kamu."


Mampus!! makin tamat aja dah riwayat gue malam ini. Bahkan perlahan wajahnya semakin dekat. Gue berusaha mengelak, dan mendorong tubuhnya untuk menjauh dari atas badan gue.


Tapi sayangnya dia menahanya dengan sangat kuat, gue kembali berusaha memberontak sekuat tenaga. Bahkan ranjang yang kita tidurin saat ini kembali bergoyang. Hingga kemudian.


Brak!!


Ranjang itu roboh, bunyinya bahkan mampu memekak telinga kami dan menyisakan kami berdua yang terkejut bukan main di atasnya. Serubuk kayu yang patah mulai bertebaran, seiring dengan robohnya ranjang yang kokoh ke lantai.


"Mama, baik-baik aja kan?" kita berdua menoleh ke arah suara.


Saat gue dan Deva menoleh, alangkah terkejutnya kita melihat para ajudan, pembantu, ibu mertua dan bahkan Dewa serta Gitra berdiri menatap tak percaya.


Menyaksikan gue dan Deva yang masih terdiam kaku, dengan posisi yang ambigu. Hingga tak lama.


Deva menatap horor ke arah gue, lalu dia berkata.


"Diandra... Awas kamu!!"


TBC