
Langit mendesah. Kumpulan awan hitam mulai terbentang luas. Perlahan air matanya yang berjuta tumpah ruah menghujam bumi, seolah ingin menghancurkannya.
Panah-panahnya terlempar seketika mengikuti arakan mendung, menusuk-nusuk dedaunan yang mengangguk. Sebagian berlarian membentuk genangan.
Seakan tak ingin kalah, angin yang mengendap-endap menampar permukaan kulitku berjuta kali. Namun sayangnya aku masih tetap merasa hangat.
Karena ia tak rela membuatku bergerak barang sedikitpun. Sejak hari di mana dia menyatakan perasaannya. Semakin itu pula sifat manja dan posesifnya semakin dia perlihatkan.
"Makan yang banyak, agar kau cepat sembuh."
Aku mendongak menatapnya, "Apa kau ingin aku menjadi wanita gemuk?" kataku sambil mengembungkan kedua pipiku.
"Iya, aku ingin kau seperti ini."
Setelahnya kami tertawa bersama, lalu ia kembali mendekap tubuhku. Ya, pasalnya saat ini aku sedang bersandar pada dada bidang dari seorang Sadeva Hanada. Seorang pemimpin Negara, yang dieluh-eluhkan dan dipuja oleh kaum hawa.
Bahkan sesekali dia mengecup keningku sayang. Aku tidak pernah menyangka, pengakaunnya mampu membuat duniaku berubah menjadi lebih berwarna.
Namun, semua itu tidak bertahan lama. Karena didetik selanjutnya. Kami kembali berdebat. Bahkan seperti saat ini, aku yang tiba-tiba kebelet ingin buang air langsung bangkit dari posisi nyamanku.
Aku berlari menuju kamar mandi, yang sayangnya justru dia mengikuti bahkan ia juga terus memaksa untuk mengikuti kemana pun aku pergi. Padahal, aku hanya ingin pergi ke kamar mandi sebentar saja untuk buang air kecil.
Aku menghentikan langkahku, "bisakah kau berhenti mengikutiku!"
"Iyap, aku sudah berhenti." Jawabnya.
Ku tepuk keningku seraya kesal padanya, "Aku tau. Tapi maksudku, kau tunggu saja diluar bukan ikut masuk ke dalam kamar mandi juga seperti ini!"
"Memangnya salah?" oh Tuhan. Kenapa ia mendadak menjadi sok polos seperti ini.
"Kau gila! Tentu saja!" aku membuang napas kasarku, lalu ku dorong tubuhnya untuk keluar. "... Keluar, gue bisa sendiri."
Bukannya keluar namun justru ia mengecup bibirku, aku menerjap berulang kali. Astaga, kenapa semakin kesini ia justru semakin berani menyentuhku.
Geramku dalam hati. Hingga kemudian. "Tuh kan bengong. Gimana mau saya tinggalin sendirian, kamu aja melamun terus!"
"Keluar atau gue teriak?"
Chup~
"Ngomong kasar. Saya gak suka dengernya." Astaga! Sabar Ndra, inget status dia.
Aku menatapnya sinis, "Iya, iya saya keluar." Tapi belum sampai satu langkah, dia kembali memutarkan badannya. "...Bagaimana kalau nanti kamu jatuh terpeleset? Atau kalau kamu tiba-tiba pusing mendadak?"
"KEEEEELLLLUUUUAARRRR!!!!!" teriak ku dan itu berhasil membuatnya keluar dari dalam kamar mandi.
Setelah keluarnya Deva dari dalam kamar mandi, aku segera menutup dan tak lupa ku kunci pintunya agar dia tak bisa seenaknya masuk tanpa izin dariku.
Satu hal yang baru saja ku ketahui, ternyata pemimpin Negara kami memiliki otak mesum! Catat itu.
5 menit kemudian, aku keluar dari dalam kamar. Lagi-lagi aku dibuat terkejut akan kehadirannya, karena rupanya dia menunggu ku di depan kamar mandi.
Lebih tepatnya dia bersandar disampin pintu kamar mandi. Gila! Dia memang sudah gila. Aku berkacak pinggal seolah aku siap memarahinya, namun saat aku hendak bersuara dia lebih dulu berkata.
"Lain kali kalau buang air besar jangan sambil bernyanyi. Tidak baik! Kau mengerti." Katanya sambil berlalu melewatiku.
Sadeva si Mr. kaku yang amat bodoh. Apa jangan-jangan isi kepalanya juga miring, sama miringnya dengan menara pisa di Italia? Mungkin ya, atau mungkin juga tidak? Hanya Deva yang tahu, seberapa miringnya otaknya itu.
Aku melangkah menyusul dia sudah lebih dulu terbaring diranjang rumah sakit. Aku mendecak kesal, "Turun! Itu tempat tidur gue!" dia bangkit dan berjalan mendekat.
Lagi-lagi dan lagi terjadi dia kembali mengecup bibirku sekilas, tapi kali ini aku refleks memukulnya setelah dengan kurang ajarnya dia mengecup bibirku.
"Berhenti bertindak seperti itu. Kau tahu? Itu namanya pelecehan!"
Dia menarik satu sudut bibirnya, "Apa seperti ini yang namanya melecehkan?" saat wajahnya kembali mendekat dengan gerak cepat ku tepuk saja bibirnya.
Sehingga membuatnya sedikit meringis.
"Hobbi banget si lu, ciumin bibir gue!" marahku.
"Saya gak suka denger kamu ngomong kasar! Sini, saya mau kasih kamu hukuman." Engga, dia pasti mau cium aku lagi. Kabur Ndra, buru!
Batinku berkata, namun sayangnya belum sempat aku kabur. Dia sudah mengukung tubuhku, hingga berhimpit ke tembok. "Mau kabur ya?"
"E-engga. Si-siapa yang mau kabur?" sial! Kenapa aku jadi gugup seperti ini.
'Oh tidak! Mesumnya kumat. Oh Tuhan, tolong selamatkan aku. Tolong selamatkan aku' –gumamku di dalam hati, saat melihat wajah seringai nakalnya mendekat. Hingga tak lama.
"Nah ini—Opss!! sorry sepertinya waktunya tidak tepat." kata Kevin yang sedang mendorong Genta dikursi roda.
Pandangku langsung menoleh, saat suara itu terdengar. Yes! Terima kasih Tuhan kau telah menolongku dari serangan pria mesum nan akut ini.
Aku tersenyum lebar, lalu ku dorong tubuhnya saat ku sadari jika Deva sudah menatap Kevin dan Genta secara nyalang. "Permisi," ucapku.
Lalu ku mendekat ke arah mereka berdua, "Engga apa-apa ko? Kalian cuman salah paham, tadi itu bapak minta saya untuk menebak wangi parfum apa yang dia pake. Gitu, iyakan?" ku senggol lengannya, namun respon lain justru ku dapat.
"Bapak! Bapak! Sejak kapan saya jadi bapak kamu. Kalau kalian mau berisik, sana diluar saya mau tidur." Seketika rahangku terjatuh.
Apa-apan itu? Lihat pria aneh itu, dengan seenak jidatnya dan bersikap sok acuh mengatakan hal yang diluar perkiraanku. "Baiklah kalau begitu." Final ku.
Setelahnya aku mengajak mereka pergi dari sana, biarkan saja dia seorang diri dikamar inap ku itu. Sebelum aku melangkah pergi, kutatap sejenak pintu kamar inap.
Entah kenapa, hatiku kembali menanyakan kesungguhannya. Benarkah dia menyukaiku? Atau mungkin dia seperti itu hanya karena rasa kasihan?
Aku tersentak saat seseorang, dengan tiba-tibanya menggengan tanganku. "Kau tidak apa-apa, kan? Tidak ada yang terluka kan?" ya tuhan, Genta kau sangat baik dan hangat. Tidak seperti dia, boro-boro mengkhawatirkan ku. Peduli saja tidak! Lihat saja.
Ku sejajarkan diriku dihadapan Genta, "ya, aku baik. Terima kasih sudah menolongku waktu itu. Aku tidak tahu apa jadinya, jika saat itu kau tidak datang. Mungkin saja saat ini ak—" ucapku terhenti.
Dia mendekap tubuhku erat, lalu berkata. "Jangan pergi lagi sendirian, aku takut." Dia menjedanya lalu pelukkannya semakin erat ".... Aku takut, jika aku harus kehilanganmu. Aku bisa gila. Aku mencintaimu."
Deg!
Tolong sadarkan aku, kirimkan seseorang untuk membangunkan ku dari mimpi. Ya, mungkin aku salah dengar.
Tidak! jelas-jelas tadi aku mendengarnya dengan sangat jelas. Lalu siapa yang harusku pilih? Tuhan berikan aku, jalan keluar dari semua ini.
TBC