
Diandrapov
Duduk termenung dibawah hamparan bintang-bintang yang berkelap-kelip diatas sana. Mampu membuatku tenang, suasana sepi dan dinginnya angin malam yang menerpa takkan membuatku mundur.
Sejak setelah makan direstoran tadi bersama Genta. Aku terus mengingat, masa-masa sulit dalam hidupku.
#*Flashback
Ketika pertama kalinya aku datang, tak mengenal siapapun disini. Bagaimana tidak, berkomunikasi saja aku tidak bisa. Sebab, keterbatasanku dalam bahasa.
Hari itu, adalah hari paling melelahkan dan dihari itu juga sebuah berkat datang padaku.
Ya, setelah aku ditipu oleh orang asing. Uangku habis dirampok oleh sekelompok orang jahat di sini.
Kelaparan, kepanasan dan kelelahan menjadi satu saat aku tiba disini. Sampai akhirnya aku tak sadarkan diri dan pingsan dipinggir jalan. Namun saat aku tersadar aku sudah berada dirumah sakit.
Bahkan dokter mengatakan jika saat itu aku tengah mengandung seorang bayi, yang berusia sekitar 5 minggu. Pantas saja, sebelum aku datang ke Paris. Aku memang sudah merasakan gejala awalnya, namun semua aku abaikan.
Karena saat itu aku berpikir tidak mungkin aku hamil anaknya. Sejak kejadian itu, aku rutin meminum sebuah obat pencegah kehamilan. Tapi nyatanya, dokter bilang itu tidak mungkin bisa mencegah.
Karena bagaimanapun itu sudah terjadi. Dan yang lebih buruk lagi, jika aku terus mengkonsumsi obat itu secara berlebih. Maka bisa beresiko bukan hanya untukku tapi juga untuk janinnya.
Aku mencoba untuk mempertahankan bayi itu, walau dia sudah tidak akan mungkin kembali. Tapi setidaknya, kehadiran anak ini menjadi obat untukku. Dan bagaimanapun juga anak ini adalah darah dagingku. Aku tidak mungkin melukainya.
2 bulan berlalu, perutku perlahan mulai membuncit. Aku sangat senang, bahkan setiap pagi aku selalu bersama dengan anakku. Mendengarkan musik klasik untuknya yang masih di dalam kandunganku.
Terkadang aku juga rutin meminum susu formula ibu hamil untuk nutrisi tambahnnya. Aku benar-benar bahagia saat melakukan semua itu.
6 bulan kemudian perutku sudah besar, walau terkadang aku sering merasakan pegal dan kebas pada kedua kakiku karena tidak mampu menahan berat beban tubuhku sendiri.
Namun itu selalu membuat tetap senang, malam hari terkadang aku merasakan kontraksi palsu yang datang atau bahkan tidak bisa tidur karena tidak merasa nyaman.
Tetap ku nikmati peran itu, hingga masuk usia kandunganku 7 bulan. Semua tak pernah ku duga. Ya, aku benar-benar terpukul sekaligus tak mengerti bagaimana bisa wanita itu sangat jahat terhadap cucunya sendiri.
Hanya karena rasa dendamnya padaku, ibu Deva dengan nekadnya menabrakku setelah gagal berkali-kali untuk mencoba membunuhku seperti apa yang pernah ku lakukan pada cucunya -Dewa-.
#Flashback off*
Ku elus perut rataku lembut. Saat sekelebat ingatan itu muncul. "Maafkan ibu sayang.. ibu tidak bisa menjagamu dengan baik.." bibirku bergetar dan tak lama aku terisak menangis.
Aku menghela napas panjangku, saat dadaku mulai sesak. Jika kalian bertanya bagaimana aku tahu? Ya. Itu karena Genta yang menyewa seseorang untuk mencari bukti rekaman yang terjadi pada saat itu.
Jadi alangkah terkejutnya aku saat aku tahu, bahwa ibunda Devalah yang melakukan itu.
Bagaimana jika dia mengetahui, jika janin yang dia bunuh itu adalah calon cucunya juga. Apakah wanita paruh baya itu, akan tetap senang atau merasa bersalah juga.
Entahlah, yang jelas aku sudah tak ingin lagi terlibat dengan keluarga mereka. Walau sejujurnya, terkadang aku merindukan Dewa -putraku- tapi sebisa mungkin aku memendamnya.
"Kenapa kau disini? disini sangat berangin."
Aku tersenyum hangat, saat mendengar suara pria yang selalu ada untukku, "tak apa. Aku hanya ingin sedang mencari udara segar dimalam hari."
"Eh! kau abis menangis?" tanyanya sambil mengusap bekas air mataku.
Aku menggeleng, "Tidak. Aku hanya sedang rindu?"
"Kau rindu? ey.. kau sudah merindukan ku ya? padahal baru saja lima menit yang lalu ku tinggal sejenak. Tapi kau--"
Ku pukul lengannya, saat perkataan percaya diri itu terlontar. "Bukan dirimu!"
Dia mengkerutkan keningnya, "Lalu?"
"Deva!"
Deg!
Aku menatap Genta yang berubah sendu. "Maaf.. bukan begitu. Maksudku.. maksudku adalah.."
"Tak apa aku tahu. Nama itu terucap dari lubuk hatimu yang paling dalam."
Aku merunduk, "maafkan aku, Genta.." lirihku.
***
Sejak kejadian malam itu, baik aku ataupun Genta tidak pernah lagi berkomunikasi. Aku tahu, sebenarnya Genta sedang berusaha menghindariku.
Aku juga tahu dia pasti sangat marah padaku saat ini. Namun entah bagaimana aku menjelaskannya, karena jauh dilubuk hatiku juga tak ingin menjelaskan apapun pada pria itu.
"Diandra? ada paket buket bungan untukmu?"
Aku menaikan satu alis mataku, "Dari siapa?"
Teman satu kantorku menggeleng, lalu berkata. "Aku tidak tahu, karena kurir bilang hanya dari seseorang yang pernah membuatmu terluka."
Deg!!
Seketika mataku melebar, lalu ku ambil alih buket bunga itu. Saat buket itu sudah berada ditanganku, Aku bisa melihat sebuah surat di dalamnya.
Jantung ku berdegub dua kali lebih cepat saat hendak membuka dan membaca isi pesan tersebut. Hingga tak lama surat itu terbuka.
Namun hanya ada kata 'Maaf' yang tertulis secara besar di sana. Tak ada tanda inisial si pengirim. Tapi, hatiku secara otomatis mengarah padanya.
Ya, pria yang tak akan mungkin melakukan hal romantis seperti ini. Pria yang terlalu kaku dan dingin saat dihadapanku. Siapa lagi kalau bukan Deva.
3 jam berlalu, setelah kembali menyelesaikan rapat dan kembali ke meja kerja. Aku terpaku, karena pasalnya ada buket bunga baru yang berbeda di atas meja kerjaku.
Namun kali ini, jelas ada nama pengirimnya. Ya, bunga itu dari Genta. Dengan sebuah pesan singkat. Genta berkata, "Maafkan aku karena sudah bersikap egois padamu."
Aku tersenyum, lalu tak lama setelahnya dia menghubungiku.
Drrrt~~ Drrrt~~
"Halo? pria misterius."
"Kau sudah menerima bungannya?"
"Ya aku sudah menerimanya. Terima kasih, ini sangat cantik."
"Apa itu artinya kau sudah memaafkanku?"
"Kau tak perlu minta maaf padaku. Karena seharusnya akulah yang harus meminta maaf padamu. Aku--"
"Sudah tidak usah dibahas. Bagaimana dengan makan malam hari ini? kau mau?"
"Baiklah aku setuju."
"Sampai jumpa nanti malam. Aku mencintaimu, Diandra!"
"Hem.."
Bip
Setelah panggilan itu tertutup, hati krcilku berkata. 'Bisakah aku untuk membalas cintanya!'
Aku memutuskan untu keluar dan mencari makan siang. Namun, saat aku sedang berada di sebuah toko roti. Sekilas aku seperti melihat seseorang yang ku rindukan.
Astaga! Diandra sadarlah. Deva tidak mungkin berada disini. Batinku bersuara. Namun saat aku hendak membayar, pesanan yang ku pesan. Suara berat itu kembali terdengar, "cari dia keseluruh penjuru kota ini."
TBC