Mr. President & Me

Mr. President & Me
20



Sinar mentari mulai menyelusup ke dalam mata gue yang masih terpejam. Gue menyerit menahan pusing yang menyerang kepala gue. Ah iya semalam adalah mimpi yang buruk! rutuk gue dalam hati.


Gue menatap langit-langit kamar. Lalu setelah itu gue bangkit dan mendudukan diri, menatap sekitar kamar ini.


"Gue dimana? ko kamarnya beda?" monolog gue bingung.


Gue menolehkan kepala gue sekali lagi mengitari kamar ini. Gue terpaku beberapa saat, hingga tak lama gue menatap kosong ke arah cermin.


"AAAAAAAAAAAAA!!!" jerit gue tiba-tiba.


"ADA APA? KENAP--"


Gue menoleh saat suara itu terdengar, hingga tak lama gue berteriak kembali. "HUUUUUAAAAAAAA!!!"


Sedangkan Deva matanya membulat dengan sempurna, saat melihat tubuh polos gue. Lalu dengan cepat, dia berjalan sambil tak lupa tangannya mengambil selimut tebal yang berada di kasur untuk menutupi tubuh polos gue.


"Berisik! udah jangan teriak lagi."


Gue menerjap sesaat, "ke--kenapa gue bisa di sini? terus kenapa gue bangun dengan keadaan telanjang?" sumpah gue bingung sama apa yang terjadi.


"Ekhem, itu kemarin.. Kemarin, saya lepas kendali." gugupnya.


What?


Lepas kendali?


Berarti malam tadi?


Itu bukan mimpi?


"HUAAAAAAAAAAA DDEEEEEEVVVVVVAAAAA!!" jerit gue sekenceng mungkin.


Gimana gue gak mau marah dan menjerit, soalnya gue inget banget. Kita tuh masih ada di dalam pesawat menuju Jepang. Dan pas paginya gue bangun, gue udah ada dikamar dengan tubuh polos tanpa sehelai benang pun.


Bahkan dia dengan gampangnya ia bilang, kalau dia lepas kendali. Sialan! Deva nyari mati ama gue.


#Flashback


Authorpov


Selama perjalanan, dari tadi Deva asik dengan tumpukan kertas dan laptopnya sedangkan Diandra. Dia benar-benar dianggurin kaya patung, Diandra membuang napas beratnya.


Sumpah dia bener-bener bosan berada di dalam kabin pesawat. Dia duduk dengan gusar, sesekali dia juga berpindah tempat, mulai masuk ke dalam kamar private, lalu kemudian ia keluar lagi.


Hingga tak lama akhirnya Deva bersuara, "bisa diam tidak!!" katanya datar.


Diandra mendekat dan duduk dihadapannya, "Berapa jam lagi sih gue bosen nih?" gerutunya.


"Yaudah tidur aja sana kalau bosen?" Diandra merotasi mata malas.


Setelah dia ngomong kaya gitu, Diandra bangkit dan berniat masuk ke dalam kamar. Namun baru 3 langkah, dia kembali bersuara.


"Punya permen gak? iseng nih?"


Dengan malas Diandra menunjuk ke arah tempatnya duduk tadi, "tuh ada satu bungkus disitu." jawbanya dengan malas.


Lalu setelahnya ia kembali berjalan memasuki kamar priveate yang ada di dalam kabin pesawat tersebut.


Baru saja beberapa menit berlalu setelah ia memakan permen tersebut, tiba-tiba saja seluruh badan Deva merasa gatal dan panas. Dia bangun dan berniat untuk membasuh mukanya agar tidak terlalu kepanasan.


Namun saat ia tiba di dalam kamar, dia terpaku beberapa detik saat melihat paha mulus Diandra terbuka dan memintanya untuk disantap olehnya.


Tanpa pikir panjang lagi dia mengunci pintu kamar kabin, dan perlahan mulai menaiki ranjang. Lalu setelahnya hanya Diandra dan Deva yang tahu.


Authorpov end


#Flashback off


"Jadi elu begitu gara-gara permen?" dia mengangguk.


Dia menatap gue dalam, "dimana permen itu?"


Gue bangkit dan berjalan dengan langkah tertatih, sumpah ya. ************ gue sakit banget, astaga! Lalu saat gue hendak kembali Deva menggendong gue ala bridal style. Dan kembali, mendudukan gue kursi meja makan.


"Kamu dapet permen itu dari mana?" gue berpikir sejenak.


Lalu gue kembali menatapnya, dengan takut-takut. "Dari.. mamahnya bapak?"


"APA? MAMA SAYA NGASIH INI KE KAMU?!"


Gue menangguk pelan, "Terus siapa aja yang di kasih mama selain kamu?"


Dia melotot tak percaya, "DEWA!! ANAK SAYA?"


"Tap-- tapi, ibunya bapak bilang kalau ini khusus untuk saya doang. Kalau untuk Dewa beda lagi." jelas gue dan setelah kemudian gue mendengar helaan napas leganya.


"Memangnya itu permen apa?" tanya gue dengan polos.


Dia menatap gue sejenak, "ini bukan permen. Tapi obat perangsang."


What?


Apa dia bilang?


Obat perangsang?


Gue menerjap berkali-kali, "huft.. berapa banyak yang mama kasih ke kamu?" tanyanya.


"Ehm.. 5 bungkus."


Dia menyerit, "5 bungkus permen?"


Gue mengangguk patuh, "Kalau di sini sisa 3 lalu kemarin saya satu, berarti satu lagi?... kamu makan?"


Gila! main nuduh aja nih orang, gue menggeleng cepat saat pertanyaan itu terlontar.


"Enak aja. enggalah, saya aja belum sempet--"


Ucap gue terhenti, saat otak gue kembali memutar kejadian dimana mobil yang kita tumpangi saat menuju bandara berhenti mendadak. Lalu kemudian gue menatapnya dalam. Oh tidak, permen itu?


"Apa? ada dimana satu bungkus lagi?"


"Di mobil." jawab gue pelan.


"APA? DI MOBIL?! KO BISA?!"


Gue mendecak sebal, "ya bisalah, bapak inget gak waktu itu mobil yang kita tumpangi berhenti mendadak. Dan saat itu juga saya baru aja mau membuka bungkus itu, tapi karena jatuh ke kolong mobil jadilah saya tidak jadi makan permen itu." tutur gue dan dia langsung berlari masuk ke dalam kamar untuk mengambil ponselnya.


"Eh, bapak mau ngapain?"


Sambil berlari dia menjawab, "mau telepon orang rumah. Siapa yang habis bersihin mobil pagi ini?"


"Terus nasib saya gimana ini?" jika kalian bertanya jawaban apa yang akan terlontar maka jawabannya adalah:


"Ya sudah, udah terlanjur basah. Saya juga yang akhirnya bakalan tanggung jawab ko." Sinting!! president sinting macem apa dia.


Aduh itu mulut, enak bener kalau ngomong. -misu gue.


"Oh, anda ada di sini nona?"


Gue menoleh dan mendapati Genta yang sedang berdiri membawa senampan sarapan pagi.


"Ini sarapannya. Saya bawakan, untuk anda Nona."


"Terima kasih, Genta." ucap gue sambil tersenyum.


"Mau makan dimana Nona?" gue berpikir sejenak.


Lalu gue mulai menelisik seisi kamar hotel yang luas ini. "Di sana aja, saya mau makan di meja sana?" kata gue sambil mennjuk meja di ujung sana.


Namun saat gue hendak turun dan berjalan ke arah sana, tiba-tiba rasa perih diselangkangan gue kembali terasa. Sialan, perih banget.


Gue meringis kembali. Dengan langkah yang tertatih, gue mencoba untuk berjalan.


Genta yang melihat gue berjalan dengan cukup aneh, kembali bersuara. "Kau tidak apa-apa?"


Gue tersenyum kikuk, "eoh? ya, aku baik-baik aja?"


"Aku akan mengambilkan salep untuk menghilangkan rasa perihnya," ujarnya.


Saat dia berbalik dan hendak melangkah, gue mencekalnya.


"Sekalian beliin pil kontrasepsi ya."


"Untuk apa?"


"Udah beliin aja, nanti aku ganti uangnya." gue mencoba mengalihkan pembicaraanya.


Sumpah ya gue malu, asli. Gue masih belum mau hamil anak si Mr. kaku itu, bahkan kita juga nikah aja belum. Jadi jangan sampai gue hamil sebelum waktunya.


TBC