
Deva pov
Setelah 2 hari pasca pemilihan capres dan cawapres. Masalah baru muncul, dimana hasil pemungutan suara kedua kubu sama atau seimbang. Sehingga, kubu lawanku membawa masalah ini kemeja hijau.
Aku baru tahu kalau, selama program kampanye yang aku jalankan bersama tim ku.Banyak sekali keganjalan yang terjadi, dan kemarin pihak kepolisian dan pihak penghitungan suara.
Menemukan bukti jika tim kampanye ku melakukan tindakkan yang tidak benar. Seperti menyuap masyarakat, menggelapkan dana kampanye dan lain-lain. Sungguh, kenapa mereka tega melakukan itu padaku.
Bahkan, ini semua ternyata ulah Lisa.
Dia menjebakku, saat itu dengan mengatakan jika dia akan memberikan bukti jika wanita itu bukanlah Lentera. Aku yang terlalu geram akan sikapnya, ku putuskan untuk menyelidikinya seorang diri. Dan ternyata, benar.
Apa yang pernah dikatakan oleh Dewa saat itu. Jika, wanita itu bukan Lentera. Melainkan Alenna saudara kembarnya.
Aku sandarkan, tubuhku pada kursi kerjaku. Sesekali ku pijat pelipis ku yang terasa pening hingga. Suara daun pintu yang dibuka, keras cukup memekak telinga. Aku menatap tajam ke arahnya.
Brak!!
"DEVA!! APA-APAAN INI?!" marahnya dan berjalan dengan tangan yang dipegang oleh para bodyguard ku.
"MENYINGKIR KALIAN!! JANGAN SENTUH AKU!!"
Lisa berusaha untuk melepaskan diri, namun tenaganya tidak cukup kuat. Untuk lepas dari cengkraman para bodyguard ku. Sehingga, mau tidak mau.
Ku angkat telapak tanganku, untuk memerintahkan mereka agar melepaskannya. Setelah ia lepas, dengan sombongnya dia berkacak pinggang dan melototi anak buah ku.
"Kalian berjagalah diluar, jika dia macam-macam aku akan panggil kalian. Untuk menyeretnya ke kantor kepolisian." Saat mendengarkan perkataanku, dia berbalik menatapku dengan terkejut.
Sedangkan aku, hanya merotasi mata malasku. "Kenapa kau bersikap begitu padaku Deva? Bukankah, kita menang dalam pilpres kali ini."
"Apa? Menang? pede sekali kau. Jelas-jelas, siang ini adalah sidang penentuan akhir. Apa kau yakin, kita akan menang?"
Dia mendekat, lalu dia mengusap pundak ku dengan seduktif. "Tenang saja sayang."
Ku tepis tangannya yang mulai bergerilya. "Ku yakin, kita pasti menang."
Aku tarik sudut bibirku menyeringai, "Bagaimana jika setelah ini. Kau akan mendekap di dalam jeruji bersama ayahmu?"
Detik selanjutnya aku bisa, melihat perubahan ekspresinya. Aku bangkit, dan berjalan mendahulinya. Saat sudah tiba di depan pintu, ruang kerjaku. Ku buka pintunya, lalu ku berbalik menatapnya.
Ku suruh para ajudanku kembali masuk. "Seret dia! Bawa dia kepihak yang berwajib. Karena dia? Anakku koma!"
Dia menggeleng, dan berteriak histeris. "TIDAK!!! ITU BUKAN SALAH KU!! DEVAAA!!"
"AKU MOHON, DENGARKAN AKU. ITU BUKAN KESALAHANKU!!! TAPI SALAH ALENNA, DIA JUGA MENJEBAKKUUUUU. SEEEEEMMMUUUUAAAA SSSAAALLLAAHHHNNYAAA!!" Ya, itulah teriakkannya yang masih bisa ku dengar hingga dari lantai 1.
Ku tutup pintu kembali. Namun sebelum aku kembali ke kursiku. Ketukan daun pintu kembali terdengar.
Tok! Tok!
Aku mendengus kesal, "Siapa sih ganggu ---" ucapku terhenti karena kemunculan wanita menyebalkan satu lagi.
"Hai, boleh ku masuk?"
Ku tatapnya menyelidik, "okey, aku tahu kau takkan mengizinkan ku."
Aku tetap diam, namun saat aku hendak ingin menutup pintunya dia menahannya. "Ku mohon dengarkan aku. ... Aku janji, setelah ini aku akan menyerahkan diriku."
"Huft.. Masuklah, hanya 5 menit."
Dia berjalan masuk lalu duduk dengan bersilang kaki disofaku. "Cepat. Aku tak punya banyak waktu!"
Ketusku padanya, dan ia hanya tersenyum simpul. Aku bisa melihat wajahnya, yang sedikit pucat dan sepertinya dia kurang tidur.
Kantung matanya menghitam, sangat jelas menggambarkan wajahnya yang memiliki banyak masalah sepertinya. Hingga tak lama dia bersuara.
"Maaf," suaranya serak.
"Aku mohon maafkan aku. Seharusnya, aku sadar diri dan tidak terlalu serakah. Apalagi, jika dia adalah keponakan ku." tangannya bergetar, namun sepertinya dia berusaha untuk menutupinya.
"Kau kenapa? kau baik-baik saja?" Dia mengangguk pelan.
Dia menghela, "Sejak kejadian Dewa jatuh. ... Dia selalu datang ke dalam mimpiku."
Keningku menyerit, "Siapa?"
"Lentera? ... Lentera yang sesungguhnya. Dia datang dan memarahiku, menyalahkanku akan jatuhnya Dewa dari lantai atas. Ya, aku akui. Aku tak sengaja melakukannya. ... Dan pasti kau juga sudah melihatnya-kan. Rekaman cctv itu. ... Jadi kedatanganku, hanya untuk mengakui jika aku bukanlah Lentera yang sebenarnya. Aku Sativa Alenna. Saudara kembarnya."
"...Semua adalah rencana awal Lisa, dia memberikanku uang sebanyak 25 juta pondsterling. Asalkan, aku bisa menyingkirkannya."
Ku angkat satu alis mataku, mencoba menebaknya. "Diandra, maksudmu?" dia mengangguk.
"Apa ini?"
"Alamat Diandra, dia sekarang tinggal di Paris. Dan yang ku dengar, dua hari yang lalu dia mengalami kecelakaan hebat." Tiba-tiba saja jatungku terhenti seketika.
"M-maksudmu?"
"Ya, seseorang mencelakainya. Dan ..."
"Dan? .. Dan apa?"
Dia mendongak menatapku sendu, "Dan saat itu terjadi, ia sedang mengandung bayimu."
Deg!!
Tidak. Dia pasti berbohong. Namun saat aku hendak mencari kebohongan dari matanya. Aku tidak mampu menemukan kebohongan itu. "Dia hamil, dan ia juga tidak mengetahui itu selama ini."
Seketika tubuhku menjadi lemah, dan kepalaku semakin berdenyut. Oh Tuhan, hukuman apalagi yang kau beri padaku. Dewa yang terbaring koma, dan sekarang aku baru tahu jika selama ini Diandra tengah mengandung anakku.
Setelah aku melepaskannya, dan malah membiarkannya pergi. Laki-laki macam apa aku? bukannya tanggung jawab, malah pergi dan seolah tidak akan ada yang terjadi padanya.
Hingga lamunan ku buyar. "Pergilah, temui dia. Ku yakin, jika dia juga masih mencintaimu. Karena yang ku tahu, saat ini dia masih mengunci hatinya dari pria lain."
Setelahnya dia bangun dan menatapku lama. "Kau tahu, dalam kunjunganya malam tadi. Lentera bilang padaku, jika dia sudah menyetujui hubunganmu dengan Diandra. Dan dia juga tahu, betapa besar rasa cintanya untukmu dan juga untuk kedua anaknya. Menikahlah kembali. Itulah, yang dia katakan sebelum akhirnya pergi dan menghilang dari mimpiku."
Saat dia hendak keluar dari ruanganku, aku berbicara dan menghentikannya. "Terimakasih sudah berkata jujur padaku. Aku tidak akan memberikan, hukuman berat padamu. ... Dan selama di dalam penjara, hiduplah dengan penuh kebijaksanaan. Karena ku yakin setelah kau keluar nanti, akan ada pria yang menunggumu."
Dia terkekeh kecil, "Maksudmu Nana?"
Aku menganggukinya, "Ya, sepertinya dia mencintaiku." katanya dengan percaya diri.
***
Tok! tok!
"Harap tenang para hadirin yang datang ke dalam ruang persidangan." suara ketua hakim majelis mengetuk palunya.
Ya, saat ini aku sedang duduk berhadapan dengan para lawan kampanyeku. Hakim dan para audiens sudah ramai, karena dari pihakku tidak menyetujui bukti yang mereka perlihatkan.
Aku tahu, semua bukti itu benar. Tapi pihak tim kampanye ku seakan mereka tak melakukannya, mereka terus mengelak dan malah berbalik menyangkal bukti-bukti mereka.
Aku mendesah panjang. Sungguh aku sudah tak berselera untuk menghadari sidang pemutusan, siapa yang akan menjadi presiden selanjutnya. Ku sandarkan punggungku yang terasa berat dan lelah. Namun belum 5 menit, aku menyandarkannya seseorang datang dengan terburu-buru.
Brak!!
Hosh! hosh!
Semua orang terdiam, lalu menatap orang tersebut. Hingga tak lama dia bersuara, "MAAF hah.. hah.. maafkan saya yang menyela."
"Iya, silahkan." balas hakim.
Dia menatapku, "Pak? Dewa?!"
Tidak jangan katakan hal buruk kembali terjadi pada putraku. "Pak, Dewa..."
"Ada apa? ADA APA DENGAN PUTRAKU!!" bukannya menjawab dia malah meneteskan air matanya.
Tidak!! kumohon jangan. Sudah cukup, berita menyakitkan datang dari Diandra. Dan jangan lagi, berita itu datang dari putraku.
Aku memejamkan mataku, untuk menunggu perkataanya yang selanjutnya. "Dewa meninggal dunia."
DEG!!!
Aku langsung berlari keluar ruang sidang, tanpa memikirkan orang-orang yang meneriaki namaku. Bahkan Aku menerobos begitu saja, para awak media yang berusaha menghalangiku.
Tidak, aku tidak akan diam saja kali ini. Ku langkahkan kakiku hingga tiba di depan mobil kepresidenan. Salah satu ajudan ku menatap heran.
"Mana kuncinya?!"
Dia menerjap, sambil merogoh kantung celannya. Saat kunci itu terlihat, aku rampas dari tanganya. Dan segera masuk ke dalam mobil. Diluar, sudah banyak para ajudan ku yang menetuk kaca mobil.
Bermaksud untuk menghentikanku. Namun aku takkan diam. Karena ini adalah masalahku, dan keluargaku. Lalu tanpa menunggu ku tancapkan gas sedalam mungkin, dan melesat menuju rumah sakit tempat anakku berada.
Ya, tujuanku saat ini, aku harus segera memperbaiki semuanya. Karena sikapku yang terlalu pengecut. Aku kehilangan semuanya, Lentera, Diandra, calon anakku dan juga Dewa putraku.
Semuanya pergi dariku, karena sikap pengecutku. Karena keegoisanku, Tuhan akhirnya menghukumku dengan mengambil mereka dan menjauhkan mereka dari jangkauanku. Ya, ini adalah karma yang harus ku terima. Dan aku benar-benar menyesali semuanya.
Devapov end.