
[RUMAH SAKIT]
Mereka sudah berada di rumah sakit, tepatnya di depan Resepsionis.
"Maaf suster," sapa Bibi Hanna.
"Iya, Ibu. Ada yang saya bantu?" tanya salah satu perawat yang berjaga disana.
"Dimana ruangan korban kecelakaan yang baru masuk, sus?" tanya Bibi Hanna.
"Ooh, ibu Keluarganya?" tanya Suster tersebut.
"Iya. Saya keluarganya," jawab Bibi Hanna.
"Korban ada di ruang UGD. Keadaan sangat kritis dan banyak kehilangan darah dan harus segera ditangani, kata perawat tersebut.
"Lakukan, Suster. Selamat majikan saya," mohon Bibi Hanna.
"Tapi sebelumnya anda harus membayar uang muka sebagai jaminannya agar pasien segera ditangani oleh dokter," kata Suster itu.
Azka yang sedari hanya diam dan menangis didalam dekapan Aryan merasa geram dan muak akan ucapan suster tersebut. Lalu Azka melepaskan pelukan Aryan sedikit kasar. Kemudian menghampiri dua perawat tersebut
BRAAKKK
PRANG!!
Azka menggebrak meja resepsionis tersebut dan membuang semua peralatan yang ada di atas meja tersebut sehingga membuat kedua perawat itu dan pengunjung rumah sakit terkejut.
"Brengsek. Nyawa ayahku dalam keadaan gawat dan kalian masih saja memikirkan masalah uang, huh!! Dimana otak kalian!" teriak Azka.
"Maafkan kami. Tapi ini sudah menjadi prosedur rumah sakit kami," jawab salah satu perawat itu yang sudah ketakutan.
"Peduli setan dengan prosedur kalian. Yang aku mau tangani ayahku sekarang juga!" teriak Azka.
"Maaf tuan kami tidak bisa."
"Brengsek!" teriak Azka.
"Tuan muda sabar. Tahan emosimu," kata Bibi Hanna sambil mengusap lembut punggung Azka.
"Begini saja. Kalian panggilkan dokter suruh dia segera menangani Ayahku. Soal biayanya hari ini juga akan aku lunasi. Karena aku benar-benar lupa membawa dompet. Dompetku tertinggal di rumah. Aku akan hubungi sopirku yang ada diluar dan menyuruhnya pulang untuk mengambil dompetku. Bagaimana?" tanya Azka yang berusaha sabar.
"Maafkan kami, Tuan. Tapi tetap tidak bisa," kata perawat itu.
Kesabaran dan emosi Azka memang benar-benar diuji oleh kedua perawat tersebut. Dirinya menatap nyalang kedua perawat tersebut.
"Maaf Suster. Apa suster tidak punya hati ya? Adik saya ini sudah berbicara baik-baik dan sudah memohon, tapi masih saja dipersulit. Apa susahnya sih membantu orang?" ucap Alman kesal.
"Maaf tuan. Kami hanya menjalankan prosedur saja."
"Prosedur lagi.. prosedur lagi. Persetan dengan semua itu. Ingat baik-baik kalau sampai terjadi sesuatu pada ayahku, hidup kalian dan juga rumah sakit sialan ini akan hancur ditanganku!" teriak Azka dengan nada mengancam.
"Memang dia siapa? Pake ngancam segala," bisik perawat kepada teman di sampingnya. Seakan-akan menganggap remeh pada Azka.
"Anda jangan mengancam kami seperti itu, Tuan!" kata Perawat itu.
"Aku tidak mengancam. Tapi aku akan buktikan ucapanku kalau sampai terjadi sesuatu pada ayahku. Lihat saja apa yang akan kalian dapatkan."
Aryan dan Pandy berusaha menenangkan Azka dan membawa Azka untuk duduk.
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya seorang Dokter sekaligus pemilik rumah sakit yang datang tiba-tiba.
"Ini Dokter. Keluarga pasien dari korban kecelakaan yang baru masuk dua puluh menit yang lalu meminta agar pasien segera ditangani," jawab perawat itu.
"Apa sudah ditangani pasien tersebut?" tanya dokter itu.
"Belum, Dokter. Karena keluarga pasien belum membayar uang operasinya," jawab Perawat itu lagi.
Dokter itu mengalihkan apa kearah Azka. Lalu detik kemudian dirinya terkejut.
Deg!!
"Anda tuan Azka Ahza Adhinatha? tanya Dokter itu.
Azka yang dipanggil pun mendongakkan kepalanya dan menatap wajah dokter tersebut. Bibi Hanna yang mengenal dokter tersebut, kemudian berbisik di telinga Azka.
"Tuan muda. Dokter itu adalah pemilik rumah sakit ini. Dan Nyonya adalah donatur terbesar di rumah sakit miliknya. Nyonya juga memiliki 50 persen saham disini. Kalau misalnya Nyonya berniat menarik sahamnya dan menghentikan dirinya sebagai donatur, Bibi bisa jamin rumah sakit ingin akan hancur seketika," tutur Bibi Hanna.
Azka beranjak dari duduknya dan tersenyum menyeringai kearah Dokter dan kearah dua perawat tersebut.
"Ya. Aku Azka Ahza Adhinatha. Putra dari Madhava Adhinatha dan Danisa Aurelia Mahendra.
"Dokter.. Dokter! Gawat. Pasien yang korban kecelakaan itu kondisinya makin gawat, dokter! Bagaimana ini??" teriak seorang perawat laki-laki yang datang menghampiri dokter tersebut.
"Segera lakukan tindakan. Cepat!" teriak Dokter itu.
Dokter sekaligus pemilik rumah sakit itu menatap wajah Azka. "Saya minta maaf atas kesalahan yang sudah terjadi sampai membuat anda marah atas sikap dua perawat saya. Saya akan berusaha menyelamatkan tuan Dhava."
Azka menatap tajam kearah Dokter tersebut. "Kalau sampai ayahku tidak selamat, ucapkan selamat tinggal pada rumah sakit anda ini. Aku pastikan rumah sakit milik anda ini akan hancur ditanganku," ucap Azka dengan penuh ancaman dan amarah.
"Dan kalian," tunjuk Azka pada dua perawat tersebut yang sudah ketakutan. "Aku pastikan kalian akan kehilangan pekerjaan kalian. Baik di rumah sakit ini maupun diluar sana. Kalian tidak akan diterima bekerja dimanapun kalian pergi," kata Azka.
Lalu terlihatlah ranjang yang ditempati oleh Dhava didorong ke ruang operasi. Dan lagi-lagi Azka menangis saat melihat kondisi sang Ayah. Azka berlari kearah Ayahnya yang tak sadarkan diri.
"Daddy. Aku mohon bertahanlah. Jangan pernah pergi meninggalkanku," lirih Azka.
"Tuan. Saya mohon bertahanlah demi tuan muda Azka," ucap Bibi Hanna menangis melihat kondisi majikannya.
"Kami akan berusaha menyelamatkan beliau," kata Dokter itu lalu mendorong ranjang tersebut kendalam ruangan Operasi.
"Bibi," panggil Azka lirih.
"Ya, tuan muda ada apa?"
"Bagaimana dengan pencarian Mommy? Apa polisi-polisi itu berhasil menemukan Mommy?" tanya Azka.
"Belum ada kabar, tuan muda." Bibi Hanna menjawab pertanyaan dari Azka sembari memeluk tubuh majikan kesayangannya.
"Mommy," lirih Azka yang kini kepalanya bersandar di bahu Bibi Hanna.
"Aakkhh!"
Bibi Hanna yang mendengar rintihan dari majikannya langsung panik. "Tuan muda. Anda kenapa? Apa kepalanya sakit lagi?" tanya Bibi Hanna.
Aryan mendekati Azka dan Bibi Hanna. "Bibi. Azka nya kenapa?" tanya Aryan dan menatap sendu kearah Azka.
"Biasa nak Aryan. Tuan muda dari kecil sering sakit kepala. Kalau kondisinya sudah seperti ini, sakit di kepalanya itu pasti akan kambuh," jawab Bibi Hanna.
"Apa tidak sekalian diperiksa saja Azka nya Bi?" sela Pandy yang juga ikut mendekati Azka
"Tidak usah, nak Pandy. Tuan muda sudah ada obatnya. Obat dari dokter pribadi keluarga Adhinatha. Ini Bibi bawa obatnya. Karena Bibi sudah filling dalam situasi seperti ini, pasti tuan muda Azka akan kambuh," jawab Bibi Hanna.
"Kalau begitu saya akan membeli air minum untuk Azka!" seru Attala lalu pergi meninggalkan mereka semua.
Drtt!!
Drtt!!
Terdengar suara ponsel menandakan sebuah panggilan masuk. Ponsel milik Aryan.
"Aku angkat telepon dulu, Bi!!" kata Aryan lalu beranjak dari sana dan sedikit menjauh.
"Hallo, Mami!!"
"Hallo, Aryan sayang. Kamu dimana, nak? Kenapa jam segini belum pulang?"
"Maafkan Aryan, Mi! Aryan sekarang ada di rumah sakit menemani teman Aryan!"
"Teman Aryab yang mana sayang. Teman Aryan itu sakit apa?"
"Teman Arya yang baru itu, Mi. Yang Aryan ceritakan tadi pagi saat sarapan. Kedua orang tuanya kecelakaan. Ayahnya berhasil dibawah ke rumah sakit dan sekarang sedang dioperasi. Tapi ibunya belum ditemukan sampai saat ini."
"Ya, Tuhan. Kasihan sekali temanmu itu, Aryan! Apa Mami boleh menjenguknya sayang?"
"Ya bolehlah, Mi. Aku yakin Azka pasti senang."
"Ya, sudah. Jagalah temanmu yang nak. Kasih dia kekuatan dan dukungan. Nanti Mami dan Papi serta kedua kakak kamu akan kesana!"
"Pasti Mami. Baiklah!!"
Pip
Panggilan diputuskan oleh Aryan. Setelah selesai berbicara dengan sang ibu. Aryan kembali menuju Azka dan yang lainnya.
Lima menit kemudian, Attala datang membawa minuman. Dan minuman langsung diberikan kepada Bibi Hanna..
"Ini minumnya, Bi!" seru Attala.
"Terima kasih nak Attala," ucap Bibi Hanna sembari mengambil minuman yang ada di tangan Attala.
"Tuan muda minum dulu obatnya, kata Bibi Hanna dengan memberikan dua butir obat kepada Azka.
Azka pun segera menerima obat itu dan langsung menelannya tanpa air minum sama sekali. Setelah itu Azka menjatuhkan kepalanya di bahu Bibi Hanna.
"Minum dulu, tuan muda."
Azka menepis air minum tersebut. Tubuhnya sedikit lemah. Pikirannya kacau. Tatapan matanya yang kosong. Hanya terdengar kata-kata 'Daddy dan Mommy' yang keluar dari mulutnya. Seakan-akan semangat hidupnya telah dibawa pergi oleh kedua orang tuanya.
Bibi Hanna menangis melihat kondisi majikannya. Sesekali Bibi Hanna memberikan kecupan sayang di kepala Azka. Dan merapatkan kata-kata penenang untuknya.