Missing The Youngest

Missing The Youngest
BAB 19



[RUMAH SAKIT TANGERANG]


[Ruang Rawat]


Azka masih dirawat di rumah sakit. Aryan beserta kelima kakak sepupunya, Andrew, Diaz, Harris dan Zayan masih setia menemani Azka. Mereka juga tak hentinya mencium kening Azka hanya untuk sekedar mencurahkan dan menyalurkan rasa sayang mereka pada Azka.


"EEUUGGHH."


Terdengar lenguhan dari bibir Azka. Mereka semua melihatnya dengan senyuman kebahagiaan.


Dan berlahan Azka membuka kedua matanya. Setelah matanya terbuka sempurna, Azka dapat memastikan bahwa dirinya saat ini berada di rumah sakit. Detik kemudian, Azka melepaskan nassal canula yang terpasang di hidungnya. Dan hal itu sukses membuat mereka berteriak.


"Azka. Apa yang kau lakukan?" teriak Diaz dan langsung menahan tangan Azka.


"Lepaskan. Jangan menyentuhku." Azka menepis kuat tangan Diaz. Dan nassal canula itu berhasil terlepas.


Setelah nassal canula itu terlepas. Kini Azka beralih menatap pada selang infus yang berada di samping kirinya. Lalu kemudian tangan kanannya menarik paksa infus tersebut, tapi lagi-lagi usahanya digagalkan. Tapi kali ini adalah Randy yang kebetulan berdiri disana.


"Azka. Jangan lakukan itu," mohon Randy dengan menahan tangan Azka. Tapi Azka menepis kasar tangan Randy.


"Lepas. Kau bukan siapa-siapaku. Jadi jangan sok peduli denganku," ucap Azka dan itu membuat hati Randy seketika sakit dan sesak.


"Aka," batin Randy menangis.


Azka akhirnya berhasil menarik infus itu. Dirinya tidak peduli darah yang keluar dari tangannya itu.


Setelah usahanya berhasil melepaskan nassal canula dan infus itu, Azka pun turun dari tempat tidurnya.


Saat kakinya sudah menyentuh lantai dan hendak berdiri, tiba-tiba sakit di kepalanya datang lagi. "Aaakkkhhhh." Azka meremas rambutnya kuat.


"Azka." mereka benar-benar panik dan khawatir akan kondisi Azka saat ini


"Aka, kakak mohon. Kembalilah ke tempat tidurmu. Kau harus dirawat sampai besok," ucap Aryan memohon.


Azka yang dipanggil dengan sebutan Aka oleh Aryan langsung menatap tajam kearah Aryan. "Jangan panggil aku dengan sebutan menjijikan itu. Aku bukan Aka. Aku Azka. Dan selamanya akan seperti itu. Aka sudah mati sejak duduk dibangku kelas lima SD. Yang ada di hadapanmu ini adalah orang lain. Kau mengerti, Aryan Sadana Hanendra!"


DEG!!


Aryan yang mendengar penuturan Azka benar-benar merasakan sesak di dadanya. Tanpa diminta air matanya sudah mengalir membasahi wajah tampannya. "Segitu bencikah kau dengan keluarga kandungmu sendiri, Aka!" batin Aryan.


Alfan merangkul Aryan. "Yan. Jangan dipikirkan dan jangan dimasukin ke dalam hati apa yang diucapkan oleh adikmu itu. Anggap saja itu sebagai ungkapan kekecewaannya selama ini pada kita," hibur Alfan.


"Aku mengerti, kak! Aku tidak akan marah padanya. Karena aku tidak bisa marah padanya," jawab Aryan.


"Biarkan aku pergi. Dan kalian kembalilah ke Jakarta!" teriak Azka lalu berlahan melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu.


DRTT!!


DRTT!!


Tiba-tiba ponsel Andrew berbunyi. Andrew langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.


Saat Andrew melihat nama Adelard di layar ponselnya, Andrew langsung menjawabnya.


"Hallo, Paman Adelard."


Seketika langkah kaki Azka terhenti saat mendengar nama Adelard sang Paman disebut.


"Kau ada dimana, Drew?"


"Aku sudah ada di Tangerang, Paman!"


"Bagaimana? Apa Azka bersamamu?"


"Ya. Azka bersamaku, Paman!" jawab Andrew yang kini tatapan matanya tertuju pada Azka.


"Tolong berikan ponselmu pada Azka. Paman ingin bicara dengannya."


"Baik, Paman."


Andrew langsung menghampiri Azka yang saat ini berdiri mematung membelakanginya. Lalu Andrew menyerahkan ponselnya pada Azka.


"Paman Adelard ingin bicara denganmu."


Tidak ada respon sama sekali dari Azka. Dan hal itu sukses membuat Andrew sedikit marah dan geram. Tapi Andrew berusaha menahannya. Kemudian Azka meloundspeaker panggilan tersebut.


"Paman, bicaralah. Aku sudah meloundspeaker panggilannya."


Tanpa diminta air mata Azka jatuh begitu saja saat mendengar ucapan dari paman kesayangannya itu. Lalu detik kemudian, terdengar suara yang sangat dirindukan oleh Azka.


"Azka, putra Daddy. Pulanglah, nak! Daddy sangat merindukanmu. Apa kau tidak merindukan, Daddy? Apa kau sudah tidak peduli lagi dengan Daddy?"


"Hiks.. Hiks.. Hiks."


Seketika isak tangis Azka pun pecah. Air matanya menganak sungai membasahi wajahnya. Dan tangisannya itu didengar oleh Dhava dan seluruh anggota keluarganya Adhinatha, karena Adelard meloundspeaker panggilan tersebut sehingga mereka juga bisa mendengarnya.


"Azka. Dengarkan Daddy. Selamanya kau adalah putra Daddy. Kebanggaan Daddy. Kesayangan Daddy. Tidak ada satu pun yang bisa memisahkan Daddy darimu. Kau adalah putra Daddy satu-satunya, sayang! Jadi Daddy mohon, pulanglah! Pulang sayang!"


"Hiks.. Dad.. hiks .. Daddy.. Daddyy.. hiks!" isak tangis Azka.


Mereka yang berada di seberang telepon tersebut merasakan sesak di dada mereka saat mendengar isakan dari Azka.


"Pulanglah sayang. Daddy menunggumu."


"Hallo, Paman Dhava. Aku akan membawa Azka pulang ke Jakarta," kata Andrew.


"Bawa putra Paman pulang, Drew!"


"Pasti, Paman. Aku akan membawa Azka pulang."


PIP!!


Azka masih menangis, bahkan sesekali sesenggukan. Mereka yang mendengarnya merasa iba. Mereka juga ikut menangis melihat kondisi Azka saat ini. Mereka bisa merasakan bagaimana sulitnya kehidupan yang dijalani oleh Azka beberapa hari ini. Maka dari itulah, mereka semua selalu ada untuk Azka, sekali pun Azka selalu menghindari mereka semua. Mereka semua sudah terlanjur sayang pada Azka. Terutama Andrew, Harris, Diaz dan Zayan. Mereka berempat telah dekat semasa mereka masih kecil-kecil dulu.


Lalu bagaimana dengan Aryan yang statusnya sebagai kakak kandungnya? Jelas Aryan sangat merindukan adik kecilnya. Merindukan kejahilan adiknya, keusilan adiknya, manja adiknya dan sifat-sifat adiknya yang lainnya.


GREP!!


Andrew memeluk Azka. Mengusap-usap lembut punggungnya. Dan Andrew sangat bersyukur, Azka tidak memberontak sama sekali saat dirinya memeluknya.


"Kita pulang, oke!" ucap Andrew lembut.


***


[Rumah Sakit Jakarta]


[Ruang Rawat Dhava]


Saat ini seluruh keluarga besar Adhinatha berkumpul di rumah sakit, tepatnya di ruang rawat Dhava. Mereka semua selalu setia menemani dan menjaga Dhava. Aalagi para keponakan Dhava.


Setelah mendengar suara Azka, sang putra kesayangannya. Kondisi Dhava makin membaik setelah sadar dari komanya selama 5 hari.


"Apakah Azka akan pulang, Paman Adelard?" tanya Gara Nufail Pramudita.


"Ya. Paman yakin Azka pasti akan pulang," jawab Adelard mantap.


"Tapi kalau Azka tetap tidak mau pulang, Bagaimana?" ucap Dzaky Nufail Pramudita sedih.


"Paman sangat yakin Azka pasti akan pulang. Azka itu putra Paman, walau dia bukan putra kandung Paman. Tapi Paman yakin Azka pasti akan pulang dan kembali pada Paman. Karena Azka itu tidak ingin membuat ayahnya bersedih," jawab Dhava.


Disaat mereka tengah memikirkan Azka. Tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan suara pintu yang dibuka.


CKLEK!!


Mereka semua melihat kearah pintu tersebut. Mereka pertama melihat Andrew yang terlebih dahulu masuk, lalu disusul oleh Aryan, Alfan, Randy, Attala, Alman, Pandy dan Harris. Setelah Harris masuk, pintu kembali ditutup


"Andrew. Mana Azka? Kenapa Azka tidak bersamamu?" tanya Dhava saat dirinya tidak melihat keberadaan putranya. Sedangkan Andrew hanya tersenyum melihat Dhava.


^^^


Disisi lain, dimana Azka bersama Diaz dan Zayan. Mereka saat ini masih berada diluar ruang rawat Dhava. Mereka masih berada diluar dikarenakan Azka tidak berani untuk masuk ke dalam. Azka masih menganggap bahwa dirinya bukanlah bagian dari keluarga Adhinatha.


"Azka, ayolah! Apa lagi yang kau pikirkan? Kita sudah berada disini. Apa kau tidak ingin bertemu Daddymu?" ucap dan tanya Zayan.


"Aku.. Aku.. Hiks."


"Kakak mengerti perasaanmu. Dan kakak juga mengetahui apa yang sedang mengganjal di hatimu itu. Kau pasti saat ini masih beranggapan bahwa kau tidak pantas untuk kembali ke keluarga Adhinatha dan berada disana. Tapi ingat satu hal Azka. Kau adalah Azka Ahza Adhinatha. Kau adalah putra satu-satunya Madhava Ahza Adhinatha dan Danisa Aurelia Mahendra. Dan kau adalah putra kesayangan mereka. Kau harta mereka berdua!" ucap Diaz.


"Sekarang kita masuk ya," ajak Zayan.


"Temuilah Daddymu," ujar Diaz lalu Diaz dan Zayan menggandeng kedua tangan Azka untuk masuk ke dalam ruang rawat Dhava.