Missing The Youngest

Missing The Youngest
Mimpi Tentang Daddy



Keesokan harinya di kediaman keluarga Adhinatha terlihat seorang pria paruh baya yang tengah duduk di kursi kebesarannya di ruang kerja miliknya. Dia adalah Madhava Ahza Adhinatha yang sering dipanggil dengan nama Dava.


Dava saat ini tengah memikirkan dan merindukan putranya Azka Ahza Adhinatha yang berada di kota Tangerang.


Yah! Dava sudah mengetahui tentang keberadaan putra kesayangannya itu dari pengasuh putranya Hana. Pengasuhnya itu mengatakan bahwa putranya itu berada di kota Tangerang karena tugas Kampusnya.


Awalnya Dava mempercayai perkataan Hana karena tidak mungkin Hana membohongi dirinya tentang Azka.


Namun sejak tiga hari setelah dia mengetahui tentang keberadaan putranya itu seketika membuat Dava mencurigai sesuatu. Dava berpikir bahwa ada sesuatu yang terjadi dengan putranya itu. Lebih tepatnya, Dava mencurigai bahwa putranya itu menyembunyikan sesuatu darinya. Tentang kegiatan kampusnya di Tangerang itu hanya alibi putranya tersebut.


Dava mulai mencurigai keadaan disaat kepulangan istrinya bersama dengan seorang pemuda yang telah menolongnya. Sejak kepulangan istrinya itu, sikap istrinya itu berubah seratus persen. Istrinya itu kembali dimasa dimana dirinya menginginkan seorang anak. Dan keinginannya terkabul.


Flashback On.


Dava saat ini berada di dalam kamarnya. Dirinya sudah dalam keadaan rapi dengan setelan kerja. Setelah semuanya selesai, Dava pun keluar meninggalkan kamarnya untuk menuju ruang makan.


Seketika Dava menghentikan langkahnya ketika mendengar suara istrinya sedang mengobrol dengan seorang pemuda yang telah menolongnya dan membawanya pulang.


Dengan rasa penasarannya, Dava pun melangkahkan kakinya mendekati asal suara tersebut.


"Mama senang memiliki putra sepertimu Hendru. Sudah lama Mama ingin memiliki seorang anak dalam pernikahan Mama dan Papa. Dan sekarang Mama mendapatkannya. Dan kamu adalah kebahagiaan Mama. Begitu juga dengan Papa kamu."


Flashback Off.


Dava berpikir tentang ucapan istrinya ketika bersama dengan pemuda yang membawanya pulang.


"Jika ingatan Danisa kembali dimasa dimana aku dan Danisa belum dikaruniai seorang anak selama enam tahun pernikahan. Seharusnya ingatan Danisa teringat dimana aku dan dia bertemu dengan Azka. Tapi kenapa Danisa tidak mengingat hal itu. Justru Danisa menyebut pemuda itu anaknya yang diberikan oleh Tuhan."


"Siapa sebenarnya dia? Apa benar dia istriku? Kalau dia benar-benar istriku, kenapa aku merasa sedang bersama dengan perempuan lain?" batin Dava.


"Azka. Kamu dimana, nak! Daddy kangen kamu. Banyak hal yang ingin Daddy sampaikan padamu, terutama tentang Mommy kamu. Hati Daddy mengatakan bahwa dia bukan Mommy kamu sayang!"


Dava seketika menangis ketika menyebut nama putranya. Dia benar-benar merindukan putranya kesayangan itu.


***


Di kediaman keluarga Hanendra terlihat semua anggota keluarga berkumpul di ruang tengah minus Nayazka. Nayazka saat ini berada di kamarnya.


"Nayazka dimana kak? Kenapa aku sejak tadi tidak melihatnya?" tanya Rendra adik bungsunya Bagas.


"Nayazka ada di kamarnya, Rendra!"


"Nayazka tidak kenapa-kenapa kan kak Bagas?" tanya Arzan adik pertamanya.


Bagas tersenyum. Begitu juga dengan Karina ketika mendengar pertanyaan dari Arzan.


"Nayazka baik-baik saja, Zan! Dia hanya butuh istirahat karena baru kembali dari perusahaan Mommy nya," jawab Karina.


"Syukurlah kalau Nayazka baik-baik saja. Aku trauma jika melihat Nayazka kembali jatuh sakit dan berujung masuk rumah sakit," sahut Rendra.


"Sama sepertiku. Aku benar-benar takut jika Aka sudah masuk rumah sakit. Aku tidak akan sanggup melihatnya," ucap Danar adik laki-laki pertama Karina.


Ketika mereka semua sedang membahas masalah Nayazka/Azka, tiba-tiba mereka mendengar suara teriakan dari Azka yang ada di dalam kamarnya.


"Daddy!"


Mendengar suara teriakan dari Nayazka membuat Bagas, Karina, Farraz, Kaivan Aryan dan anggota keluarga lainnya terkejut. Mereka semua pun beranjak dari duduknya dan berlari menuju lantai dua.


^^^


Braakkk..


Pinta dibuka paksa oleh Farraz dan Kaivan. Setelah pintu terbuka, mereka semua masuk ke dalam kamarnya Nayazka/Azka.


"Sayang," ucap Karina lembut.


Sementara Bagas, Farraz, Kaivan, Aryan dan anggota keluarga lainnya menatap khawatir Nayazka/Azka.


"Berlahan Nayazka membuka kedua matanya. Dan dapat Nayazka lihat semua anggota keluarga ada di dalam kamarnya yang menatap dirinya khawatir.


Melihat Nayazka yang membuka kedua matanya membuat mereka semua tersenyum hangat padanya.


"Mami," ucap Nayazka.


"Ada apa, hum?" Karina menjawab sembari tangannya masih bermain-main di kepala putra bungsunya itu.


Nayazka tidak langsung menjawab pertanyaan dari ibunya, justru Nayazka bangun dari posisi tidurnya. Kaivan yang kebetulan berdiri didekat adiknya itu langsung membantu adiknya itu dengan menarik pelan kedua tangan adiknya.


Nayazka tersenyum. "Terima kasih kak."


"Sama-sama sayang."


Bagas melangkah mendekati putra bungsunya lalu menduduki pantatnya di sebelah putranya itu.


"Ada apa, hum? Mau cerita?" tanya Bagas sembari membelai lembut pipi putih putranya.


"Da-daddy."


Mendengar jawaban Nayazka yang menyebut kata 'Daddy' ditambah lagi suara lirih dan bergetarnya membuat Bagas seketika mengerti. Begitu juga dengan Karina, Farraz, Kaivan, Aryan dan yang lainnya.


"Aka kangen sama Daddy? Apa mau Papi antar untuk bertemu Daddy?"


Nayazka langsung menggelengkan kepalanya atas pertanyaan yang dilontarkan oleh ayahnya.


"Terus?"


"Hiks..." tiba-tiba Nayazka terisak.


"Sayang."


"Aka!"


Grep...


Bagas langsung menarik tubuh putranya itu ke dalam pelukannya. Dan seketika tangis Nayazka pecah.


"Papi... Hiks. Perasaanku tak enak saat ini. Hiks... Perasaanku mengatakan bahwa Daddy saat ini sedang tak baik-baik saja. Aku merasakan bahwa Daddy juga sedang merindukan aku disana. Aku tadi bermimpi. Dalam mimpi itu Daddy nangis sambil menyebut namaku. Hanya Daddy sendiri. Sedangkan Mommy tidak ada... Hiks," adu Nayazka kepada ayahnya.


Mendengar ucapan demi ucapan dari Nayazka membuat Bagas meneteskan air matanya dengan mengeratkan pelukannya. Hatinya sakit ketika mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulut putra bungsunya itu. Begitu juga dengan Karina, Farraz, Kaivan, Aryan dan semua anggota keluarga dari dua keluarga.


Kaivan seketika pergi meninggalkan kamar adik bungsunya sembari memegang ponsel di tangannya. Jari-jarinya saat ini tengah mengetik sesuatu disana.


Beberapa detik kemudian...


"...."


"Kamu pergi ke alamat yang nanti aku kirim melalui pesan WhatsApp. Cari tahu setiap informasi disana. Jangan ada yang terlewat sedikit pun."


"...."


Setelah mengatakan itu, Kaivan mematikan panggilannya. Kemudian Kaivan mengirimkan sebuah alamat kepada orang yang barusan dia hubungi. Bahkan Kaivan mengirimkan sebuah foto pria paruh baya. Kaivan meminta orang itu untuk mencari tahu tentang keadaan pria itu.


Selesai dengan urusannya, Kaivan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Dan kemudian Kaivan kembali masuk ke dalam kamar adik bungsunya.