Missing The Youngest

Missing The Youngest
BAB 8



[Markas BRAINER]


Mereka sudah berada di markas. Dan setelah itu, mereka membaringkan tubuh Azka di tempat tidur yang ada di ruang tersebut. Markas mereka ini sudah seperti rumah kedua bagi mereka. Lengkap dengan segala isi perlengkapan.


Mereka semua memandangi wajah tampan Azka yang sedang tak sadarkan diri. Dalam hati mereka masing-masing. Mereka memuji betapa tampan, manis, imut, menggemaskan dan cantiknya wajah seorang Azka. Tak terkecuali Aryan, Alfan, Randy, Attala, Alman dan Pandy. Diam-diam hati mereka sudah menyayangi Azka sebagai adik mereka sendiri. Dan mereka bertekad akan ada untuk Azka.


"Kalau aku perhatian wajah Azka. Wajahnya mirip seseorang yang aku kenal. Bahkan kalian juga kenal," kata Pandy.


"Maksudmu, Pandy?" tanya Alman bingung.


"Coba lihatlah wajahnya. Perhatikan baik-baik. Dari matanya, pipinya, giginya, tahi lalat di bawah bibirnya, tahi lalat di leher kirinya dan bekas luka di pipi kirinya. Itu semua mirip dengan seseorang," jawab Pandy.


"Lalu siapa orang yang kau katakan mirip Azka itu?" tanya Alfan.


"Aka," jawab Pandy yang pandangannya masih fokus memandangi wajah Azka.


Deg!!


Jawaban dari Pandy membuat saudara-saudaranya seperti disambar petir. Bagaimana bisa Pandy mengatakan bahwa Azka sangat amat mirip dengan Nayazka adik mereka yang hilang?


"Nayazka? Ba-bagaimana bisa kau mengatakan Azka mirip adikku Nayazka?" tanya Aryan terbata-bata.


"Itu menurut penglihatanku, Aryan!" sahut Pandy tanpa melihat kearah Aryan. "Sekarang jawab pertanyaanku. Apa kau masih mengingat wajah adik kecilmu, Nayazka? Kalau kau masih ingat, tolong sebutkan, Aryan!" Pandy bertanya kepada Aryan dengan tatapan matanya menatap wajah saudara sepupunya itu.


Aryan tiba-tiba meneteskan air matanya saat bayangan adik kecilnya menari-nari di pikirannya. Matanya menatap wajah tampan Azka yang masih belum sadar dari pingsannya. Berlahan kakinya melangkah mendekati ranjang yang ditempati oleh Azka. Matanya masih fokus pada wajah Azka.


"Apa yang dikatakan Pandy benar. Wajahnya mirip Nayazka. Tahi lalat di bawah bibirnya dan di leher kirinya serta bekas luka di wajah kirinya sama persis seperti Nayazka. Apa Azka ini adalah Nayazka adikku yang hilang?" batin Aryan.


"Kenapa dengan Azka?" tanya Aarav saat melihat Azka yang gelisah.


"Kenapa Azka gelisah begitu? Lihatlah wajahnya sampai beringat seperti itu?" kata Dylan.


"Sepertinya Azka mimpi buruk," kata Rico.


Mereka semua panik dan khawatir saat melihat Azka yang gelisah dalam tidurnya. Kepalanya geleng ke kiri dan geleng ke kanan.


"Kau bukan putra kandung dari Papi dan Mami kamu, Nayazka. Mereka telah membohongimu selama ini. Mereka sayang padamu dan peduli padamu hanya untuk menutupi rahasia ini darimu. Kau bukan terlahir dari keluarga Hanendra."


"Tidak! Tidak!" teriak Azka yang masih belum sadarkan diri dan setetes air mata yang menetes dari sudut matanya.


Alfan berjalan mendekati ranjang yang ditempati Azka. Lalu duduk disampingnya. Tangannya menggenggam tangannya Azka. Dapat dirasakan oleh Alfan, tangannya yang digenggam erat oleh Azka.


"Kau kenapa, Azka?" batin Alfan.


Aryan yang juga berada di samping Azka sudah menangis melihat Azka.


"Kau tahu, Nayazka. Kenapa mereka tidak menjemputmu di sekolah? Itu karena mereka membuangmu. Mereka tidak ingin kau kembali pulang ke rumah keluarga Hanendra."


"Tidak. Itu tidak benar. Papi, Mami!" teriak Azka dan langsung membuka kedua matanya dan langsung menduduki tubuhnya. Jangan lupa air matanya yang masih mengalir dan tubuhnya yang terengah-engah. Azka belum menyadari kalau dirinya berada di Markas BRAINER.


"Kenapa mimpi sialan itu datang lagi? Dan.. dan apa hubungan mimpi itu denganku? Lalu siapa wanita yang ada di mimpiku itu dan kenapa dia sampai mengatakan kalau anak kecil itu bukan putra kandung dari keluarga Hanendra!"


Alfan yang tidak tega melihat kondisi Azka yang syok saat sadar dari pingsannya memberanikan diri menepuk pelan bahu Azka.


"Azka," panggil Alfan lembut.


Azka sontak terkejut dan matanya melihat sekeliling ruangan. Dirinya menyadari bahwa tempat tersebut bukan kamarnya.


"Kak Alfan," lirih Azka.


"Hei, kau jelek sekali kalau seperti ini," ucap Alfan lalu menghapus air mata Azka. "Nah, ini baru tampan." Alfan memuji Azka.


"Azka," panggil Aryan.


Azka mengalihkan pandangannya melihat kearah Aryan. "Iya."


"Mau cerita pada kami? Mimpi apa yang sudah mengganggumu," ucap Aryan lembut. Lalu tangannya terangkat untuk mengelus rambut Azka. "Kenapa perasaanku nyaman sekali berada didekat Azka," batin Aryan.


"Aku juga tidak tahu kak Aryan. Mimpi itu selalu datang menghantuiku. Bahkan mimpi itu seperti nyata. Seakan-akan aku pernah mengalaminya," jawab Azka.


"Kalau kami boleh tahu kau mimpi apa, Azka?" tanya Randy.


"Dalam mimpi itu ada seorang anak kecil dan seorang wanita. Wanita itu menjemput anak kecil itu di sekolahnya. Lalu wanita itu mengatakan pada anak kecil itu bahwa anak kecil itu bukan putra kandung dari keluarga Hanendra," jawab Azka dengan air mata yang membasahi wajah tampannya.


Deg


Alfan, Randy, Attala, Alman, Pandy dan Aryan terkejut ketika mendengar Azka yang menyebut keluarga Hanendra.


Aryan langsung memeluk tubuh Azka. "Menangislah. Jangan kau tahan tangisanmu itu." Aryan berucap lembut. "Apa kau Nayazka Sadana Hanendra, adik kecilku? Jika benar kau adalah Nayazka. Kakak janji akan selalu bersama kamu. Kakak tidak akan membiarkan kamu pergi lagi," batin Aryan.


"Hiks.. Hiks..!!" Azka pun terisak dalam pelukan Aryan.


Semua yang melihat Azka yang menangis dalam pelukan Aryan pun ikut menangis.


"Kami ada disini menemanimu, Azka!" ucap Attala.


"Kita semua saudaramu," kata Pandy.


"Kau tidak akan pernah sendirian. Untuk sekarang dan selamanya," kata Deva.


Lalu mereka dikejutkan dengan suara ponsel berbunyi. Ponsel itu milik Azka.


Drtt!!


Drtt!!


Azka melepaskan pelukannya dari Aryan dan segera mengangkat panggilan tersebut. Dapat dilihat olehnya nama 'Bibi Hanna' di layar ponselnya.


"Hallo, Bibi Hanna. Ada apa?"


"Hallo, Tuan muda.. Hiks.."


"Bibi Hanna, Ada apa? Kenapa Bibi Hanna menangis?"


"Tuan dan Nyonya! Hiks.."


"Daddy, Mommy. Kenapa dengan mereka, Bi? Katakan padaku!" teriak Azka.


"Bisakah tuan muda menemui Bibi disini!"


"Memangnya Bibi dimana?"


"Bibi sekarang ada di halaman kampus, tuan muda."


"Baiklah. Aku akan kesana sekarang."


Tutt!!


Tutt!!


^^^


[Halaman Kampus]


Azka sudah berada dan berdiri di halaman kampus. Tepat tak jauh dari hadapannya, Bibi Hanna sudah berdiri menatapnya dengan mata yang sudah bengkak karena menangis. Alfan dan yang lainnya juga berada disana. Tepatnya di belakang Azka.


Berlahan Bibi Hanna menghampiri Azka. Setelah ia berdiri tepat dihadapan majikannya yang sudah dianggap sebagai putranya sendiri, Bibi Hanna langsung memeluk tubuh Azka. Dan menangis dalam pelukan majikannya itu.


"Hiks.. Hiks.."


Azka dapat merasakan suara isakan Bibi Hanna pengasuhnya sejak kecil, Ibu keduanya setelah ibunya.


"Bi," ucap Azka.


Bibi Hanna melepaskan pelukannya dari majikannya itu dan menatap wajah tampan majikannya tersebut. Lalu kedua telapak tangannya mengelus wajah tampan Azka.


"Tuan muda. Bibi harap tuan muda ikhlas menerima semua ini. Dan tuan muda bisa mengendalikan emosinya."


"Apa maksud, Bibi Hanna? Katakan padaku ada apa?" tanya Azka.


"Tuan dan Nyonya." Bibi Hanna berusaha sekuat tenaga untuk menahan isakannya. Kepalanya menunduk.


"Bibi Hanna katakan padaku, ada apa? Kenapa dengan Daddy dan Mommy?" teriak Azka dan teriakan terdengar oleh mahasiswa dan mahasiswi yang lainnya.


"Mobil yang membawa tuan dan nyonya ke bandara mengalami kecelakaan di tengah jalan. Mobil itu  jatuh ke jurang saat setelah menghantam pembatas jalan." Bibi Hanna menjawab pertanyaan dari Azka dengan suara yang bergetar.


"Apa?!" teriak Azka yang syok mendengar kabar tentang kedua orang tuanya. Tak jauh beda dengan Aryan, Alfan, Randy, Attala, Alman, Pandy dan yang lainnya. Mereka ikut sedih mendengar kabar tersebut.


"Lalu bagaimana keadaan mereka, Bi?" tanya Azka yang sudah sudah menangis.


"Dari keterangan pihak polisi, mereka hanya menemukan tuan dalam keadaan luka parah. Sedangkan nyonya sama sekali tidak ditemukan di tempat kejadian itu," jawab Bibi Hanna yang sudah tidak bisa membendung tangisannya.


Seketika tubuh Azka melemah. Dan dia pun jatuh terduduk di lantai halaman kampus dan lututnya sebagai tumpuan.


"Hiks.. Daddy, Mommy." Azka berucap terisak.


Bibi Hanna langsung memeluk tubuh Azka majikan kesayangannya itu. "Tuan muda harus kuat. Kita berdoa saja, semoga tuan dan nyonya selamat!"


Prok!!


Prok!!


Prok!!


Terdengar suara tepuk tangan dari seseorang. Dia adalah Arga.


"Wah.. wah! Drama yang mengharukan," ejek Arga yang datang bersama kelompoknya.


Azka tidak menghiraukan perkataan Arga. Pikiran hanya tertuju pada orang tuanya.


"Anak seperti dirimu tidak pantas memiliki orang tua. Kau itu anak pembawa sial, Azka! Dan untuk orang tuamu itu. Mereka pantas mendapatkan. Semoga saja mereka segera mati," ucap Arga menatap sengit kearah Azka.


Siapa yang tahu tentang kebenaran yang sesungguhnya tentang isi hati Arga. Hanya Arga dan Tuhan lah yang tahu. Mulut berkata pedas. Namun hatinya menangis ketika mengatakan kata tersebut untuk kedua orang tua Azka.


"Hei, Arga. Jaga ucapanmu itu. Kalau bicara itu mikir pakai otak bukan pakai dengkul. Kalau kejadian ini menimpa kedua orang tuamu, bagaimana?!" teriak Randy.


Arga menatap tajam wajah Randy. Lalu tersenyum menyeringai. "Itu tidak akan terjadi. Karena orang tuaku orang yang baik. Tidak akan ada orang yang akan menjahati mereka. Beda dengan orang tuanya Azka," jawab Arga dan mengalihkan pandangannya melihat wajah Azka. "Kedua orang tuanya Azka manusia kotor, penjahat, penipu. Jadi ini adalah hukuman untuk mereka.. Hahaha." tutur Arga dengan tawa mengejeknya dan tatapan mata tajamnya.


Azka sudah tidak bisa menahan emosinya saat mendengar ucapan Arga untuk orang tuanya. Tangannya mengepal kuat. Tatapan matanya memerah. Lalu detik kemudian dirinya bangkit.


"Jangan pernah menjelek-jelekkan kedua orang tuaku. Bagiku mereka malaikat terindah yang dikirimkan Tuhan untukku!" teriak Azka.


"Hahaha. Malaikat katamu. Mereka hanya monster, Azka! Orang tuamu seorang penjahat, pembohong dan ingkar janji!." teriak Arga tak kalah nyaringnya.


"Aaarrrgghhh!" Azka berteriak sembari berlari dan menerjang tubuh Arga.


DUUAAGGHH!!


"Aakkhh!!"


Azka menendang tepat di perut Arga dan menyebabkan tubuh Arga tersungkur dengan posisi perut menghantam lantai halaman kampus dengan darah yang keluar dari mulutnya.


Azka menatapnya tajam dengan matanya yang memerah. Kakinya berlahan melangkah mendekati Arga. Lalu detik kemudian, kakinya menginjak tengkuk leher Arga dengan kuat.


KREETTT!!


"Aakkhh!" teriak Arga kesakitan saat merasakan injakan tersebut.


Azka menatap Arga remeh dan nyalang. Dirinya tak peduli kalau harus membunuh Arga hari ini juga.


"Yak. Azka! Apa yang kau lakukan, huh?! Lepaskan dia!" bentak David.


Azka tidak mempedulikan bentakan dari David. Dirinya sedang asyik bermain-main dengan Arga.


"Brengsek. Lepaskan teman kami!" teriak Juan.


Tapi tetap saja tidak dipedulikan oleh Azka. Azka masih setia menatap tajam mangsanya.


"Sialan," umpat Herry.


Herry menyerang Azka saat Azka masih fokus menatap Arga. Tapi gerakannya tersebut dilihat oleh kelompok BRAINER. Lalu dengan gesitnya, Aryan menyerang Herry terlebih dahulu.


DUUAAGGHH!!


"Aakkhh!! Sialan!" Herry meringis kesakitan dan berhasil menahan tubuhnya agar tak terjatuh.


Aryan kemudian mendekati Azka disusul oleh yang lainnya.


Aryan menyentuh pundak Azka lembut. "Azka dengarkan, kakak. Lepaskan Arga. Kau jangan dengarkan semua ucapan bajingan sialan itu. Kakak tahu kau marah dan tidak terima saat orang tuamu dihina atau dijelek-jelekkan. Tapi untuk saat ini kita pikirkan dulu kondisi Daddy kamu yang ada di rumah sakit dan Mommy kamu yang belum ditemukan. Masalah yang lainnya urusan belakangan. Apalagi masalah kelompok setan-setan ini," tutur Aryan dengan menekan kata setan sembari menunjuk kearah kelompok Cobra dan kelompok Lion.


Berlahan Azka menyingkirkan kakinya yang berada di atas tengkuk Arga. "Daddy, Mommy," lirih Azka.


Bibi Hanna berjalan mendekati Azka lalu mengusap lembut rambut majikan kesayangannya itu. Bibi Hanna dapat melihat bagaimana hancurnya majikannya kesayangannya ini.


"Kita ke rumah sakit sekarang, Tuan muda."


Mereka pun pergi meninggalkan kampus untuk menuju rumah sakit. Alfin, Aryan, Randy, Attala, Alman, Pandy dan anggota yang lainnya juga ikut bersama Azka ke rumah sakit.