
[KEDIAMAN BAGAS HANENDRA]
Saat ini Azka sudah berada di rumah keluarga Hanendra. Yah! Aryan, Alfan, Randy, Attala, Alman dan Pandy memutuskan membawa Azka pulang ke rumah. Dan mereka juga sudah menceritakan semua pada anggota keluarga siapa Azka sebenarnya.
^^^
[Kamar Azka]
Azka sekarang berada di kamarnya. Dan Azka juga sudah diperiksa oleh dokter tentang kondisinya saat ini. Dokter itu mengatakan untuk saat ini kondisi Azka baik-baik saja.
Saat ini semua anggota keluarganya berada di kamar Azka. Mereka memandang wajah damai Azka saat tidur.
"Wajahnya begitu tampan," ucap Kaivan sang kakak kedua sembari mengelus rambut Azka.
"Wajahnya juga begitu imut dan menggemaskan ketika sedang tertidur. Mirip anak kecil usia 4 tahun," kata Farraz dan mencium kening Azka.
Karina duduk di samping tempat putra bungsunya tertidur. Tangannya mengusap-usap rambut dan wajah tampan putra bungsunya itu. Tangannya menggenggam tangan putranya, lalu mencium tapak tangan tersebut. "Akhirnya kau kembali, nak!! Mami sangat merindukanmu."
Bagas berjongkok tepat di depan wajah putra bungsunya itu. Tangannya menyentuh kepala Azka. Membelai rambut Azka serta mencium keningnya Azka dengan lembut. "Papi merindukanmu, sayang! Nayazka Sadana Hanendra putra bungsu Papi"
"Lebih baik kita keluar. Biarkan Azka istirahat," usul Arzan.
Lalu mereka semua pun pergi meninggalkan Azka sendiri.
^^^
[Ruang Tengah]
Seluruh anggota keluarga Hanendra sudah berkumpul diruang tengah. Baik saudara-saudaranya Karina maupun saudara-saudaranya Bagas. Mereka semua tampak bahagia, karena penantian mereka selama ini berbuahkan hasil. Orang yang mereka rindukan telah kembali pulang ke rumah. Dia adalah Aka, Nayazka Sadana Hanendra. Bungsu kesayangannya keluarga Hanendra dan Keluarga Pramudya.
"Tolong ceritakan pada kami. Bagaimana kalian bisa tahu Azka itu adalah Aka adik kalian?" tanya Bagas.
"Ada kejadian di kampus dimana Azka yang sedang bersitegang dengan salah satu mahasiswa yang terkenal suka membully. Nama mahasiswa itu adalah Arga," ucap Attala.
"Arga dan kelompoknya selalu mencari masalah dengan Azka," ucap Pandy.
"Selama ini kami maupun para mahasiswa dan mahasiswi tidak mengetahui bahwa Azka dan Arga masih bersaudara. Lebih tepatnya, Arga itu adalah keponakan dari ayah angkat Azka. Karena ketidaksukaan Arga terhadap Azka. Dengan kejinya Arga membongkar status asli Azka di keluarga Adhinatha!" tutur Randy.
"Jadi maksud kamu kalau Arga...." perkataan Sandy terpotong karena Randy sudah terlebih dulu bersuara.
"Iya, kak! Arga mengatakan kepada Azka bahwa Azka bukan putra kandung dari Paman dan Bibinya."
Mendengar perkataan dari Randy membuat semua anggota keluarga Hanendra terkejut. Bahkan mereka menyumpahi kelakuan dan sikap buruk Arga.
"Ya, Tuhan! Pasti hati Azka benar-benar hancur ketika mengetahui bahwa dirinya bukan putra kandung dari kedua orang tuanya," ucap Agnes lirih.
"Bibi benar. Adikku saat itu benar-benar hancur ketika mendengar kenyataan bahwa dia bukan putra kandung keluarga Adhinatha. Azka tidak bisa mengendalikan emosinya. Bahkan Azka tidak mempedulikan orang-orang yang ada di sekitarnya," ucap Aryan sembari mengingat kondisi adiknya.
"Setelah berbicara dengan Arga bahkan Azka mengancam Arga akan membunuh Arga jika terjadi sesuatu terhadap ayahnya. Azka bersedia pergi asal Arga menjaga ayahnya dengan baik," tutur Alfan.
"Setelah mengatakan itu kepada Arga. Azka langsung pergi meninggalkan kampus," kata Attala.
"Melihat kepergian Azka. Kami semua pun mengejar Azka. Kami tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Azka," ucap Alman.
"Kalian menemukan Azka dimana?" tanya Kaivan.
"Azka duduk di sebuah bangku yang ada di taman kota. Disana Azka mengeluarkan semua amarah dan kekecewaannya. Dan dari situlah kami tahu bahwa Azka adalah Nayazka Sadana Hanendra," ucap Pandy.
Mendengar cerita dari Aryan, Alfan, Randy, Attala, Alman dan Pandy membuat semua anggota keluarga Hanendra tampak bahagia. Mereka semua bersyukur karena si bungsu kesayangannya telah kembali.
"Bibi ikut senang dan bahagia kau kembali Aka sayang. Maafkan Bibi," batin Adelia.
"Nayazka yang sekarang benar-benar tampan," puji Kevin Alexi Pramudya.
"Wajahnya juga putih dan manis," puji Alvian Favio Hanendra.
"Apa sifatnya masih sama seperti dulu? Aku penasaran dengan sifatnya yang sekarang ini," ujar Dhafin Kinza Hanendra.
"Iya. Aku juga., celetuk Nevan Kinza Hanendra.
"Oh iya. Kan kalian sudah kenal dengan Nayazka atau Azka tuh. Berarti kalian tahu dong sifatnya seperti apa?" tanya Farraz.
"Kalau Azka bicara seperti apa?" tanya Kaivan.
"Ayo. Katakan pada kami. Jangan diam saja," sela Alfin Kinza Hanendra.
"Kalau cara bicara Azka sih biasa saja. Azka lebih banyak diam. Azka akan bicara kalau kita ajak bicara," jawab Randy.
"Seperti yang aku katakan saat di meja makan waktu itu. Azka itu susah didekati. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan. Dia lebih memilih sendiri dari pada berkelompok. Semenjak kami dekat dengannya. Dia sudah mulai membuka hatinya," sahut Aryan.
Saat mereka sedang asyik berbincang-bincang tentang membahas pertemuan mereka dengan Azka atau Nayazka. Terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga.
TAP!!
TAP!!
TAP!!
"Azka/Nayazka!" seru mereka bersamaan saat melihat Azka sudah berada di ruang tengah dan melangkah menuju pintu utama.
Karina langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri putra bungsunya. Tangannya membelai rambut putranya, mengelus lembut wajah tampannya dan mencium keningnya.
"Putra tampan Mami mau pergi kemana? Jangan pergi lagi sayang. Jangan tinggalkan Mami."
Karina langsung memeluk Azka dan menangis di dalam pelukan putranya. Sedangkan Azka tidak membalas pelukan ibunya sama sekali.
"Mami merindukanmu sayang."
"Mami," batin Azka.
Seketika air mata Azka mengalir membasahi pipinya. Anggota keluarganya yang melihatnya menangis merasakan sakit di dada mereka masing-masing, terutama sang ayah dan ketiga kakak-kakaknya.
"Sungguh. Mami benar-benar merindukanmu. Tidak pernah sedikit pun Mami melupakanmu."
Karina melepaskan pelukannya dan menatap wajah tampan putra bungsunya itu. Tangannya bergerak menghapus air matanya dan memberikan ciuman yang bertubi-tubi di wajah putranya itu. Setelah itu, Karina kembali memeluk putranya.
"Nayazka sayang," panggil Bagas.
"Papi merindukanmu sayang. Kamu kemana saja selama ini? Semenjak kami kehilanganmu. Hidup kami benar-benar jauh dari kata bahagia. Kami selalu memikirkanmu dan merindukanmu," ucap Bagas dengan nada lirihnya.
Bagas melepaskan pelukannya dan menatap wajah tampan putra bungsunya. "Kau tampan sekali sayang," ucap Bagas lalu mencium kening putranya.
Semua anggota keluarganya menatap Azka. Tatapan penuh kerinduan. Bagas merangkul kedua bahu putra bungsunya dan membawanya duduk di sofa.
Namun tiba-tiba tatapan mata Azka tertuju pada satu orang dimana orang itulah yang membuat dirinya berpisah dengan keluarganya.
"Bibi Adelia," batin Azka.
FLASBACK ON!!
"Kau.. Kau bukan putra kandung dari keluarga Hanendra. Mereka menjaga dan merawatnya selama ini, hanya untuk menepati janji mereka pada orang tua kandungmu. Disaat usiamu dua puluh tahun, mereka akan mengembalikanmu pada keluargamu. Karena keluargamu akan datang menjemputmu. Mereka adalah Paman dan Bibimu, adik dari ibu kandungmu. Bibi sempat mendengar pembicaraan mereka. Bibi dengar semuanya. Kalau mereka tidak benar-benar sayang padamu. Mereka melakukan itu semua padamu karena janji mereka saja, tidak lebih dari itu, Nayazka! Dan satu hal yang harus kamu tahu. Kedua orang tuamu sudah meninggal. Dan keluarga Hanendra sudah mengetahuinya. Tapi mereka tak peduli akan hal itu. Mereka tetap pada perjanjian awal. Mereka harus mengembalikanmu pada orang tua kandungmu."
Flashback Off
Tiba-tiba saja Azka menghempaskan kedua tangan Bagas yang ada di bahunya. Dan hal itu sukses membuat Bagas dan anggota keluarga yang lainnya terkejut.
Azka berlahan melangkah mundur. Air matanya mengalir begitu deras membasahi pipinya. Dan itu membuat mereka semua panik dan khawatir.
Azka menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak. Kalian bohong padaku. Kalian tidak benar-benar menyayangiku. Apa yang kalian berikan selama ini padaku, itu semuanya palsu. Kalian melakukan hal itu semua hanya untuk menutupi kebohongan kalian padaku!"
"Nayazka. Apa kau katakan sayang? Kenapa kamu bicara seperti itu? Kami semua benar-benar menyayangimu. Kamu itu putra kami. Darah daging kami," ucap Karina yang sudah menangis.
"Bohong! Papi, Mami dan kalian semua bohong padaku. Aku sudah mengetahui semua kebenarannya. Bibi Adelia sudah cerita semuanya padaku alasan kalian merawatku dan menjagaku selama ini!"
Karina dan Bagas ingin mendekati putra mereka, tapi justru putra mereka makin melangkah mundur.
"Jangan mendekat!" teriak Azka. Dan seketika Karina dan Bagas langsung berhenti.
"Kalian tahu tidak. Saat itu aku ketakutan. Aku berdiri sendiri di gerbang sekolah hanya untuk menunggu salah satu dari kalian menjemputku. Satu jam lebih aku menunggu kalian. Tapi.. tapi tidak ada satu pun dari kalian yang datang untuk menjemputku. Segitu sibukkah kalian dengan kerjaan kalian sehingga kalian melupakan bocah laki-laki yang berusia sepuluh tahun yang sedang menunggu di gerbang sekolah, huh!" bentak Azka.
Sedangkan anggota keluarganya diam membeku. Hati mereka sakit mendengar keluh kesah dari Azka.
"Nayazka. Dengarkan dulu sayang. Bukan begitu ceritanya nak!" ucap Karina memohon kepada putranya.
"Aku tidak mau mendengarkan apapun dari kalian," ucap Azka sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Adelia bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Azka.
"Na-nayazka!! Maa........" ucapan Adelia terhenti dikarenakan Azka sudah terlebih dahulu memotongnya.
"Aku sudah tidak mau mendengarkan apapun dari kalian. Aku sudah cukup tahu diri berstatus sebagai anak angkat kalian!" teriak Azka.
DEG!!
"Apa? Anak angkat? Apa maksud dari perkataan Nayazka?" batin mereka semua, kecuali Adelia.
"Nayazka. Apa yang kau katakan? Kenapa kamu bicara seperti itu. Kamu putra Papi dan Mami. Putra kandung kami," tutur Bagas tak terima putra bungsunya menganggap dirinya sebagai anak angkat.
"Aku tidak mau dengar apa pun lagi. Sudah cukup kalian membohongiku selama ini. Jangan bohongi aku lagi!" teriak Azka.
Berlahan-lahan Azka melangkah mundur. "Biarkan aku pergi dan jangan pernah kalian mencariku. Anggap aku tidak pernah hadir di antara kalian."
Azka membalikkan badannya dan berlari sekuat tenaga menuju pintu utama. Azka tidak memperdulikan teriakan anggota keluarganya yang memanggil namanya.
"Nayazka!" panggil mereka.
Mereka semua berlari mengejar Azka. Farraz dan Kaivan sudah berlari seperti orang kesetanan menyusul adik bungsunya.
Tangisan Karina pecah. Dirinya jatuh terduduk di lantai. "Putra bungsuku baru kembali. Dan sekarang dia pergi lagi. Nayazka!" lirih Karina.
Farraz dan Kaivan sudah kembali ke rumah. Mereka sangat kecewa karena gagal mengejar adik bungsu mereka.
"Farraz, Kaivan. Mana Nayazka? Kalian berhasil mengejarnya?" tanya Bagas.
Farraz dan Kaivan hanya bisa menggelengkan kepala mereka sebagai jawabannya.
"Adelia. Kau berhutang penjelasan padaku dan pada kami semua. Apa yang sudah kau katakan pada Nayazka sampai dia menjadi seperti ini? Kenapa Nayazka bisa berpikiran kalau dia anak angkat kami?!" teriak Karina.
Hening..
Adelia hanya bisa menundukkan kepalanya. Dirinya tidak berani menatap anggota keluarganya, terutama kakak iparnya.
"Adelia Faranisa Pramudya. Kau bisa dengar aku kan? Kau masih bisa mendengar dengan jelas apa yang barusan aku katakan kan?" teriak Karina lagi.
"Maafkan aku, kak!" jawab Adelia.
"Bukan kata maaf yang mau aku dengar dari mulutmu, Adelia! Aku ingin dengar apa yang kau katakan pada Nayazka putra bungsuku?" tanya Karina.
"Mami. Katakan, Mi! Jangan seperti ini. Kasihan Bibi Karina," sahut Pandy yang sudah menangis sejak tadi.
"Saat itu aku.. aku yang menjemput Nayazka di sekolah. Lalu....!!" ucapan Adelia terhenti. Air matanya mengalir membasahi pipinya.
Karina berdiri dan mendekat pada kearah Adelia. "Lalu apa? Katakan Adelia."
"Aku mengatakan pada Nayazka bahwa kalian berdua bukan orang tua kandungnya," jawab Adelia.
"Apa?!" teriak mereka semua terkejut.
"Bibi. Kenapa Bibi tega sekali pada adikku? Kenapa Bibi bisa bicara seperti itu pada adikku?" tanya Aryan terisak.
PLAKK!!
Karina menampar wajah Adelia. "Kenapa? Kenapa kau lakukan itu Adelia? Apa kesalahanku padamu sehingga kau memisahkanku dengan putra bungsuku?"
"Kalau sampai aku tidak bertemu kembali dengan Nayazka dan berkumpul kembali dengan putraku. Seumur hidupku, aku tidak akan memaafkanmu!" bentak Karina lalu pergi meninggalkan anggota keluarganya menuju kamarnya di lantai atas.
"Aku kecewa pada Bibi. Ternyata Bibi dalang dari hilangnya Nayazka adikku," ucap Aryan lalu pergi menuju kamarnya.
"Mami. Aku benar-benar kecewa pada Mami. Aku tidak menyangka Mami tega melakukan hal itu pada bibi Karina. Mami memisahkan Nayazka dari bibi Karina," ucap Randy dan pergi meninggalkan ruang tengah menyusul Aryan
"Aku benar-benar kecewa pada Mami," ucap Pandy dan dirinya pun menyusul Randy kakaknya. Alman, Attala dan Alfan juga ikut menyusul saudara-saudaranya yang lain.