Missing The Youngest

Missing The Youngest
BAB 25



Pintu ruang rawat dibuka kasar oleh Darius. Setelah itu, Darius langsung melangkah mendekati ranjang Azka. Bagas dan Dhava pun mundur.


"Azka," panggil Darius.


Azka melihat kearah Darius. "Pa-paman Da-darius," jawab Azka terbata-bata.


Darius yang mendengar jawaban dari Azka tersenyum bahagia. Dirinya benar-benar bahagia dan bersyukur, Azka mengingatnya dan tidak melupakannya.


"Apa kamu butuh sesuatu? Apa ada yang kamu rasakan saat ini?" tanya Darius.


"Le-paskan i-ni Pa-man," jawab Azka lirih dan terbata-bata sembari tangan menyentuh masker oksigen yang menutupi setengah wajahnya.


"Tapi sayang...."


"A-ku mohon, Pa-man!"


"Baiklah. Paman akan lepaskan. Asal kamu janji, jika kamu sulit bernafas kamu harus kembali memakai kembali maskernya. Bagaimana??"


"Baiklah."


Darius tersenyum mendengar jawaban dari Azka. Dirinya percaya akan perkataan dari Azka, karena selama ini Azka tidak pernah melanggar perintah darinya.


Kini masker oksigen itu telah dilepas. Mereka masih menatap Azka khawatir. Begitu juga dengan Darius.


"Bagaimana?" tanya Darius.


"Aku baik-baik saja, Paman. Paman tidak perlu khawatir," jawab Azka.


"Apa kamu yakin?" tanya Darius.


"Iya, Paman. Aku yakin," jawab Azka.


"Ya, sudah kalau begitu. Jangan terlalu banyak bergerak dan juga bicara. Kamu baru saja sadar," ucap Darius.


"Memangnya berapa hari aku tidak sadar?" tanya Azka.


"Dua hari. Hari ini pukul 11 siang lewat kamu sadar," jawab Darius.


"Apa separah itu??" tanya Azka.


"Iya. Bahkan saat operasi berlangsung, kamu sempat kehilangan detak jantung. Paman benar-benar takut saat itu."


Azka yang mendengar penuturan dari Darius merasa bersalah. "Maafkan aku, Paman. Jika saja saat itu aku menuruti keinginan Paman, Daddy dan Mommy untuk operasi. Mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Saat itukan belun terlalu parah. Tapi karena ketakutanku, aku berulang kali menolak untuk dioperasi." Azka berucap dengan nada lirih dan rasa bersalahnya. Serta air matanya sudah mengalir membasahi pipinya.


Darius yang melihat azka kembali menangis berusaha untuk menghiburnya.


"Tidak sayang. Kamu tidak salah. Jika Paman berada diposisi kamu. Mungkin Paman akan melakukan hal yang sama seperti kamu."


"Benarkah??"


"Iya, sayang."


"Terima kasih, Paman."


"Untuk apa?"


"Semuanya! Aku tidak bisa mengatakan satu-satu pada Paman."


Darius tersenyum, lalu tangannya membelai lembut rambut Azka. "Apa kamu mau membalas semua kebaikan paman selama ini?"


"Mau! Apa?"


"Hiduplah dengan baik. Sudah cukup Paman melihat air matamu selama ini terbuang. Lupakan semua yang kamu alami di masa lalu. Ini!" Darius berucap sembari menyentuh dada kiri Azka. "Bukalah hati kamu untuk orang lain. Baik itu orang-orang di masa lalu, maupun di masa sekarang. Sudah cukup lama kamu menguncinya. Dan sudah saat kamu membukanya kembali."


Azka tidak menjawab setiap perkataan dari Darius. Azka kemudian memalingkan wajah dari Darius dan menatap kosong ke depan. Baik Darius mau pun anggota keluarganya menatapnya sedih. Mereka juga melihat raut wajah sedih Azka.


"Azka," panggil Darius.


Pikiran Azka saat ini sedang melayang ke masa lalunya dimana dirinya yang disayang oleh kedua orang tuanya, ketiga kakaknya dan juga disayang oleh Paman, Bibi dan kakak-kakak sepupunya dari pihak Ayah dan Ibunya.


Di masa lalu, hidupnya benar-benar sangat bahagia. Dirinya bak seorang pangeran yang selalu dijaga dan disayangi.


Flashback On


"Kakak Ayan, pergi sana. Jangan ganggu Aka."


Tapi Aryan tetap mengganggu sang adik. Aryan memang hobi mengganggu maupun menjahili adik kelinci nakalnya itu.


"Kak Ayas, kak Ivan. Liat nih, kak Ayan gangguin Aka."


"Yak, kakak. Sakit!" teriak Aryan saat kedua telinganya ditarik.


Nayazka yang melihat dan mendengar teriakan dari kakak aliennya itu pun tertawa nista.


"Hahahahaha. Kak Ayas, kak Ivan. Tarik terus. Jangan dilepas. Buat telinganya kakak Ayan panjang. Hahahahaha."


"Yak, Aka!" teriak Aryan tidak terima saat mendengar ucapan dari adik kelincinya itu.


Flashback Off


Saat mengingat momen-momen itu, tanpa sadar Azka tersenyum dan juga Azka menyebut nama panggilan sayangnya untuk ketiga kakak kesayangannya itu.


"Kakak Ayas, kakak Ivan, kakak Ayan. Aku menyayangi kalian," ucap Azka.


Farraz, Kaivan dan Aryan yang mendengar Azka menyebut nama panggilan sayang untuk mereka membuat hati mereka menghangat.


Detik kemudian terukir senyuman manis di bibir mereka masing-masing. Mereka bahagia dan bersyukur bahwa adik bungsu kesayangan mereka masih mengingat panggilan tersebut.


"Kami juga menyayangimu, Aka!" seru Farraz, Kaivan dan Aryan bersamaan dengan suara yang nyaring karena mereka sangat bahagia saat ini.


Mendengar ucapan dari Farraz, Kaivan dan Aryan membuat Azka terkejut. Lalu mengalihkan pandangannya menatap kearah Farraz, Kaivan dan Aryan.


Azka menatap wajah ketiganya dengan memainkan kedua matanya. Kadang-kadang matanya memicing, kadang-kadang matanya melebar berbentuk bulat. Mereka yang melihat kelakuan Azka tersenyum gemas.


"Jangan menatap kami seperti itu. Kami tahu kalau kami ini sangat tampan. Bahkan ketampanan kami ini kalah denganmu," ucap Aryan.


Aryan sengaja mengatakan hal itu hanya ingin menjahili adiknya. Aryan tahu bahwa adiknya saat ini masih berusaha menutupi kerinduannya kepadanya dan anggota keluarga yang lainnya.


Azka yang mendengar penuturan dari Aryan sontak membelalakkan kedua matanya. Dan menatap horor Aryan. Lalu detik kemudian, Azka memalingkan wajahnya sembari berdecak.


"Ck! Pedemu terlalu tinggi," ucap Azka pelan.


Mereka yang mendengar ucapan Azka hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala.


Azka mengalihkan pandangannya melihat kearah Darius.


"Paman."


"Ada apa, hum??"


"Kapan aku boleh pulang?"


"Kenapa? Apa rasa bosanmu sudah memberontak dalam tubuhmu?" tanya Darius sembari menggoda Azka.


"Aish, Paman! Jawab saja pertanyaanku. Paman kebiasaan sekali. Setiap aku bertanya pasti Paman balik memberikan pertanyaan padaku," protes Azka sembari mempoutkan bibirnya.


"Hahaha. Kau ini benar-benar lucu, Azka! Hahahaha." Darius berucap sembari tertawa.


"Yak, Paman! Berhentilah tertawa. Kalau tidak aku akan melakukan hal yang tidak diduga," ucap Azka penuh ancaman.


Seketika Darius menghentikan tawanya dan menatap tajam kearah Azka. Baik Darius dan anggota keluarga Adhinatha sudah mengetahui tindakan apa yang akan dilakukan oleh Azka jika dirinya sudah merasa kesal. Apalagi dirinya sedang berada di rumah sakit. Jadi jangan coba-coba membuatnya kesal selama dirinya di rumah sakit.


"Paman sangat menjaminnya. Kau tidak akan melakukan hal itu lagi, Azka Ahza Adhinatha!" ucap Darius yang masih menatap tajam Azka.


Azka yang ditatap seperti itu bukannya takut. Justru Azka juga tak kalah menatap Darius.


"Seperti yang sudah Paman ketahui selama ini. Aku tidak akan pernah main-main dengan ucapanku."


"Huufff." Darius hanya bisa menghembuskan nafas kasarnya. "Kau menang anak kelinci," sahut Darius sarkas.


Saat Azka ingin mengajukan protes. Darius sudah terlebih dahulu memotongnya. "Istirahat dan jangan bicara lagi. Atau Paman benar-benar akan mengurung kamu disini selama satu bulan," tutur Darius tanpa melihat kearah Azka.


Azka yang mendengar penuturan dari Darius membelalak matanya. Dan bibirnya yang berkomat-kamit menyumpahi sang Paman.


Setelah mengatakan hal itu, Darius pergi meninggalkan ruang rawat Azka. Tapi sebelum pergi, Darius melihat kearah Dhava.


"Jaga si kelinci nakal itu. Jangan sampai si kelinci nakal itu melakukan hal itu lagi."


Dhava yang mendengar ucapan Darius hanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Setelah itu, Darius pun pergi meninggalkan ruang rawat Azka.


"Aish! Kenapa Paman Darius menjadi makin menyebalkan sekarang ini!" ucap Azka kesal.


"Sudah, marahnya nanti saja. Sekarang kamu istirahat ya," ucap Cintami sang Bibi.


Azka tidak menjawabnya. Tapi Azka tetap mematuhi perintah dari Bibinya itu. Mereka semua tersenyum bahagia saat melihat Azka yang kembali cerewet, kembali menjadi manja walau sifat dingin dan ketusnya masih tetap bertahan.