Missing The Youngest

Missing The Youngest
BAB 28



Mereka semua yang menatap wajah Azka yang sudah basah oleh air mata menjadi sedih, takut dan juga khawatir.


"Daddy."


"Iya, sayang. Ada apa, hum?" Dhava membelai rambut Azka dan juga menghapus air mata putranya.


"Apa Daddy menyayangiku?" anya Azka.


"Kenapa Azka bertanya seperti itu, sayang?" tanya Dhava balik.


"Jawab Daddy."


"Iya, tentu. Daddy sangat menyayangimu. Kamu putra Daddy. Kebanggaan Daddy. Kebahagiaan Daddy. Semangat hidup Daddy."


"Bagaimana dengan Mommy?"


"Sama sepertimu. Kalian berdua adalah penyemangat hidup Daddy. Kebahagiaan Daddy. Kalian berdua sangat berarti dalam hidup Daddy."


"Pasti kamu sangat merindukan, Mommy kan? Sama seperti Daddy. Daddy juga merindukan Mommy kamu itu. Daddy berharap Mommy kamu cepat ditemukan dan berkumpul lagi dengan kita."


"Bagaimana jika salah satunya harus pergi meninggalkan Daddy? Apa yang akan Daddy lakukan?"


"Azka, kena...."


"Jawab Dad."


"Ada apa ini? Kenapa pertanyaan Azka ngelantur begini?" batin Adelard.


"Ada apa denganmu Azka sayang?" batin Cintami.


"Sayang, dengarkan Daddy. Jika terjadi sesuatu pada Mommy kamu. Jika polisi atau orang-orang suruhan Daddy dan orang-orang suruhan dari Paman-pamanmu mengatakan bahwa Mommy kamu sudah meninggal. Daddy akan menerimanya dengan ikhlas. Karena kita di dunia ini hanya sementara. Dan Daddy akan selalu mencintai Mommy kamu. Selamanya!"


"Dan setelah kepergian Mommy kamu. Daddy hanya memilikimu, putra Daddy yang paling tampan di rumah ini. Dan Daddy akan menjadi Daddy yang baik, Daddy yang selalu bisa diandalkan oleh kamu." Dhava berucap dengan tulus.


"Apabila Mommy masih hidup dan selamat dalam kecelakaan itu. Lalu Mommy kembali pulang ke rumah ini, tapi justru aku yang harus pergi meninggalkan Daddy dan Mommy. Apa yang akan Daddy lakukan?" tanya Azka menatap Dhava dengan berlinang air mata.


DEG..


Mereka semua terkejut saat mendengar ucapan dari Azka.


"Azka, sayang. Apa yang kau bicarakan, nak?" tanya Celena.


"Sayang," lirih Aisha.


"Azka sayang," ucap Dhava menangis.


Dhava ingin menyentuh wajah putranya, namun tiba-tiba Azka melangkah mundur. Dan hal itu sukses membuat mereka semua kembali terkejut.


"Ada yang tidak beres. Tidak biasanya Azka seperti ini," batin Adelard.


"Sayang, kenapa? Ada apa, nak?" Dhava menangis melihat Azka yang tiba-tiba saja tidak mau disentuh olehnya.


Azka menangis. Air matanya berlomba-lomba jatuh membasahi wajah tampannya. "Jawab pertanyaanku, Daddy!"


Dhava hanya diam. Dirinya tidak tahu harus menjawab apa. Dhava benar-benar bingung. Kalau boleh jujur. Dhava tidak ingin berpisah dengan putranya itu. Dhava sudah terlanjur menyayanginya. Dhava tidak rela harus kehilangan putra seperti Azka.


"Jika Daddy tidak bisa menjawab pertanyaanku yang barusan. Sekarang jawab pertanyaanku yang ini. Jika misalnya Mommy kembali, lalu aku yang pergi. Aku pergi meninggalkan Daddy. Aku pergi meninggalkan keluarga Adhinatha. Aku pergi meninggalkan kalian semua. Apa Daddy akan membenciku? Apa Daddy akan melupakanku. Apa Daddy akan berhenti menyayangiku?"


"Jika hal itu benar-benar terjadi. Kamu pergi meninggalkan Daddy dan keluarga Adhinatha. Daddy tidak akan pernah melupakan kamu. Daddy tidak akan pernah membenci kamu. Daddy tidak akan pernah berhenti menyayangi kamu. Selama kamu adalah Azka Ahza Adhinatha. Putra dari Madhava Ahza Adhinatha dan Danisa Aurelia Adhinatha. Tidak ada yang bisa menggantikan posisimu di hati Daddy dan Mommy kamu. Kamu kebahagiaan kami. Kamu permata hati kami. Kamu telah memberikan warna dan kebahagian dalam hidup kami disaat kami tidak bisa memiliki seorang putra selama 6 tahun lebih pernikahan kami. Kamu juga kebahagiaan besar keluarga Adhinatha." Dhava berucap dengan tulusnya.


"Hiks.. hiks.. hiks.. Daddy." tangis Azka makin pecah ketika mendengar ucapan demi ucapan dari ayah angkatnya.


Dhava langsung mendekati putranya itu dan memeluknya erat.


"Da.. ddy.. hiks.. Daddy.. hiks."


"Daddy menyayangimu sayang. Selamanya kamu putra Daddy. Sampai kapan pun ku akan selalu menjadi putra Daddy."


Mereka semua yang melihat interaksi antara Azka dan Dhava juga ikut menangis. Mereka semua turut bahagia melihat hubungan Azka dan Dhava. Terutama Argam.


Arga benar-benar bahagia melihat Azka dan sang Paman. Arga dapat melihat dengan jelas bagaimana Pamannya begitu takut akan kehilangan Azka. Arga juga bisa melihat bagaimana bahagianya Pamannya saat memiliki seorang putra. Arga merutuki kebodohannya selama ini yang memusuhi Azka.


Kini Arga sadar, kebahagiaan Pamannya adalah Azka. Arga pun telah tahu dan telah bertemu dengan keluarga kandung Azka. Kini semua keluarga tampak bahagia. Dulu hanya dua keluarga yaitu keluarga Adhinatha dan keluarga Mahendra, keluarga dari sang Bibi Danisa. Sekarang menjadi empat keluarga yaitu keluarga Adhinatha, keluarga Mahendra, keluarga Hanendra dan keluarga Pramudya, keluarga dari keluarga kandung Azka. Semua kebahagiaan itu hadir berkat Azka.


Untuk keluarga kandung Azka. Mereka juga benar-benar bahagia saat melihat adegan antara Azka dan Dhava. Mereka semua melihat bagaimana kasih sayang, rasa cinta, perhatian dan kepedulian yang begitu besar dan tulus dari seorang Madhava Ahza Adhinatha untuk Nayazka Sadana Hanendra. Ditambah lagi dengan kasih sayang, perhatian dan kepedulian dari anggota keluarga Adhinatha lainnya dan keluarga Mahendra.


Sama hal dengan keluarga Hanendra dan keluarga Pramudya, keluarga dari Karina. Mereka juga sangat amat menyayangi seorang Nayazka Sadana Hanendra.


Dhava melepaskan pelukannya. Setelah itu menatap wajah tampan putranya itu. Kemudian tangannya bergerak menghapus sisa-sisa air mata yang masih membasahi wajah sang putra. Setelah itu.


Dhava mencium kening dan kedua pipi putra kesayangannya itu.


"Daddy menyayangimu. Selamanya! Kamu harus percaya itu."


"Aku percaya."


Dhava dan yang lainnya tersenyum mendengar jawaban dari Azka.


"Azka sayang," panggil Bagas.


Azka yang dipanggil pun mengalihkan pandangannya untuk melihat kearah Bagas.


"Apa kamu tidak ingin memberikan Papi pelukan, sayang?"


Bagas berharap jika putra bungsunya itu mau memeluknya.


Diluar dugaan, putra bungsunya itu langsung menghampirinya dan memeluk tubuhnya.


GREP..


Azka memeluk tubuh Ayah kandungnya itu. Bagas yang mendapatkan pelukan dari putra bungsunya, tersenyum bahagia. Dirinya benar-benar bahagia.


Karina, Farraz, Kaivan dan Aryan begitu juga dengan anggota keluarganya ikut merasakan kebahagiaan saat melihat putra, adik, keponakan manis mereka mau memeluk Ayahnya.


"Papi menyayangimu sayang," ucap Bagas.


"Aku juga menyayangi Papi. Maafkan aku yang kemarin-kemarin belum bisa menerima kehadiran Papi," sahut Azka.


"Tidak apa, sayang. Papi mengerti," jawab Bagas sembari mencium pucuk kepala putra bungsunya itu dengan sayang.


"Azka sayang." kini Karina yang memanggilnya.


Azka melepaskan pelukannya dan melihat kearah Karina.


"Peluk Mami juga dong. Masa Papi doang yang dipeluk."


Tanpa pikir panjang lagi, Azka langsung menghambur ke dalam pelukan ibu kandungnya.


GREP..


"Aku menyayangi Mami. Maafkan aku."


"Mami juga menyayangimu sayang. Tidak, nak! Kamu tidak salah. Mami yang salah karena Mami gagal menjaga kamu dulu. Maafkan Mami."


Setelah puas memeluk putra bungsunya, Karina melepaskan pelukannya tersebut. Kemudian Karina memberikan bertubi-tubi ciuman di wajah putranya itu sehingga membuat putranya kewalahan.


"Mami. Sudah, cukup!" teriak Azka.


"Hahahaha."


Mereka semua tertawa melihat Azka yang kewalahan menerima serangan ciuman dari ibunya.