
Azka saat ini sedang sarapan pagi bersama sang Ayah, Madhava Ahza Adhinatha. Dalam pikirannya saat ini adalah Azka sedang memikirkan keputusan apa yang akan diambil olehnya untuk memenuhi keinginan seseorang yang sudah menyelamatkan ibu angkatnya.
Azka menatap wajah tampan Ayahnya lalu terukir senyuman manis di bibirnya. Azka teringat kenangan-kenangan manisnya bersama sang Ayah, begitu juga dengan sang Ibu.
"Daddy. Apa aku akan sanggup meninggalkanmu? Apa Daddy juga akan sanggup hidup tanpaku?" batin Azka.
Dhava yang sedang menikmati sarapannya seketika melihat kearah putranya yang saat ini tengah menatapnya. Dirinya tahu sedari tadi putranya itu memperhatikannya.
"Kenapa menatap Daddy terus, hum? Daddy tahu kalau wajah Daddy ini lebih tampan darimu. Jadi tidak perlu ditatap seperti itu," ucap Dhava.
"Aish! Sejak kapan tingkat kepedean Daddy itu muncul?" sahut Azka.
"Sejak kamu selalu memperhatikan Daddy. Sejak itulah Daddy merasa bahwa Daddy ini pria tertampan di keluarga Adhinatha," jawab Dhava asal.
Mendengar jawaban dari sang Ayah, Azka merengut kesal. Dirinya tidak menyangka jika sang Ayah memiliki tingkat kepercayaan yang begitu tinggi.
Tapi Azka sangat bahagia saat mendengar ucapan dari Ayahnya. Siapa yang tidak bahagia dan juga bangga memiliki Ayah yang tampan.
Ya! Azka sangat bahagia dan juga bangga memiliki Ayah yang tampan. Apalagi dirinya memiliki dua Ayah sekaligus didalam hidupnya.
Kedua Ayahnya itu sama-sama memiliki wajah yang tampan. Kedua Ayahnya itu selalu ada untuknya, selalu perhatian padanya, selalu peduli padanya, selalu memanjakannya dan selalu memberikan apa yang diinginkan olehnya. Bukan itu saja. Azka juga memiliki dua orang Ibu yang dua-duanya juga sangat menyayanginya. Apa yang dilakukan oleh kedua Ayahnya, itu juga yang dilakukan oleh kedua Ibunya padanya.
Namun, satu Ibunya sampai saat ini belum kembali. Dan sekarang ini Azka harus memberikan sebuah pilihan dan keputusan kepada seseorang yang telah berhasil menyelamatkan Ibunya. Jika ingin Ibunya kembali sebagai tumbalnya, dirinya harus pergi dan meninggalkan keluarga Adhinatha.
Dhava yang memperhatikan putranya yang tiba-tiba melamun menjadi khawatir.
"Azka, Sayang." Dhava memanggil putranya.
Azka yang masih berperang dengan pikiran tidak mendengarkan panggilan dari Ayahnya.
"Hei." Dhava menyentuh telapak tangan putranya dan hal itu sukses membuat Azka terkejut.
"Aish, Daddy." Azka mempoutkan bibirnya.
"Ada apa, sayang? Tidak biasanya kamu melamun sambil sarapan? Apa kamu ada masalah?" tanya Dhava lembut.
Azka berusaha untuk tetap tersenyum. Dirinya tidak ingin membuat Ayahnya khawatir dan juga curiga padanya.
"Tidak ada apa-apa Daddy. Aku baik-baik saja," saut Azka.
"Kalau tidak ada apa-apa, kenapa wajahnya ditekuk gitu. Jelek tahu," balas Dhava sembari menggoda putranya.
"Aish, Daddy. Daddy tidak perlu khawatir padaku. Semuanya baik-baik saja. Aku hanya memikirkan kuliahku dan juga aku sangat merindukan Mommy." jawab Azka bohong.
Azka tidak ada masalah dengan kuliahnya. Semuanya berjalan dengan baik. Tapi saat Azka mengatakan bahwa dirinya sangat merindukan Ibunya, itu adalah kenyataannya. Azka memang benar-benar sangat merindukan Ibunya.
Dhava bisa melihat dari sorot mata putranya. Tersimpan rasa rindu yang begitu besar terhadap Ibunya. Bahkan dirinya sendiri juga sama seperti putranya. Sama-sama menyimpan kerinduan akan istrinya itu.
"Danisa. Kau ada dimana sekarang. Aku berharap kau baik-baik saja dimana pun kau berada. Jika kau berada di suatu tempat dan keadaanmu sudah membaik, segera pulang sayang. Aku dan putramu sangat merindukanmu," batin Dhava.
Seketika air mata Dhava mengalir membasahi wajah tampannya. Azka yang melihat Ayahnya yang tiba-tiba menangis menjadi tidak tega.
Azka berdiri dari duduknya lalu memeluk tubuh Ayahnya dari belakang.
GREP..
"Daddy. Jangan menangis. Aku tidak suka melihat Daddy menangis. Daddy pasti merindukan Mommy ya?" ucap dan tanya Azka.
Dhava yang merasakan pelukan hangat putranya seketika merasakan kehangatan di dalam hatinya. Tangannya menyentuh tangan putranya yang bergelantungan di lehernya lalu mengusap-usapnya.
"Iya, sayang. Daddy sangat merindukan Mommy kamu. Daddy berharap ada kabar baik dari orang-orang suruhan kita," sahut Dhava.
"Kita berdoa saja, Dad! Semoga mereka berhasil menemukan Mommy," ucap Azka.
"Sebentar lagi Daddy akan bertemu dengan Mommy. Dan aku yang akan pergi meninggalkan Daddy dan juga Mommy," batin Azka.
***
Sekali pun kesayangan mereka memilih tinggal di keluarga angkatnya, mereka masih bisa setiap hari bertemu dengan kesayangan mereka itu. Baik kesayangan mereka yang datang berkunjung atau menginap selama satu minggu maupun mereka yang akan berkunjung kekediaman keluarga Adhinatha. Bahkan mereka juga menginap disana.
Alasan kesayangan mereka untuk tetap tinggal dan tidak ingin meninggalkan kediaman keluarga Adhinatha karena Ayah angkatnya hanya tinggal sendiri di rumah. Sementara Ibunya masih belum ditemukan.
Saat ini yang dimiliki oleh Ayah angkatnya hanya dirinya. Jika kesayangan mereka ikut kembali bersama mereka, maka Ayah angkatnya akan kesepian. Walaupun Ayah angkatnya memiliki saudara dan juga keponakan yang sayang dan perhatian padanya, namun akan terlihat berbeda jika tidak ada putra kesayangannya di sampingnya.
"Aryan. Nanti saat berangkat ke kampus. Jangan lupa bawakan bekal ini untuk adikmu. Mami memasakkan makanan kesukaannya," ucap Karina
"Baik, Mi!" Aryan menjawab ucapan dari ibunya.
"Usahakan adikmu memakannya. Setidaknya setengahnya saja juga tidak apa-apa," ucap Karina lagi.
"Baik, Mi!"
"Bagaimana keadaan Nayazka sekarang Aryan? Sudah dua hari ini adikmu tidak datang berkunjung?"" tanya Bagas.
"Nayazka baik, Pi! Hanya saja Nayazka beberapa hari ini tampak murung dan banyak melamun. Walau Nayazka ada bersama kita saat di kampus, tapi pikirannya tidak bersamanya," jawab Aryan.
"Apa kau sudah bertanya pada Nayazka, Yan?" tanya Kaivan.
"Sudah, kak. Tapi aku hanya mendapatkan jawaban dari Nayazka yang mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja," jawab Aryan.
"Kalau Nayazka seperti ini terus. Nisa-bisa Nayazka akan kembali drop. Nayazka baru saja keluar dari rumah sakit seminggu yang lalu," sahut Farraz.
Mendengar penuturan dari Farraz. Bagas, Karina, Kaivan dan Aryan menjadi khawatir akan kesehatan Nayazka, kesayangan mereka. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu pada kesayangannya itu.
"Sudah.. Sudah. Kita jangan terlalu memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Kita berdoa saja semoga Nayazka baik-baik saja. Kita akan menjaga dan mengawasinya," pungkas Bagas.
"Hm." mereka semua pun mengangguk.
Setelah itu, mereka melanjutkan sarapan paginya.
***
[KAMPUS]
Aryan, para kakak sepupunya serta para sahabat kelompok BRAINER saat ini berada di lobi kampus. Termasuk Arga dan kelompoknya.
"Kenapa Azka belum datang ya? Biasanya jam segini batang hidungnya sudah kelihatan," ucap Varo.
"Iya, nih. Nggak biasanya!" seru Aarav.
"Apa Azka sakit lagi?" Pandy tiba-tiba kepikiran dengan keadaan Azka.
"Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu Pandy? Apa kau memang ingin Nayazka sakit terus." Aryan menatap kearah Pandy. Dirinya tidak suka jika Pandy berbicara seperti itu.
Pandy balik menatap Aryan. Dirinya hanya bisa menghela nafas saat mendengar ucapan dari Aryan.
TAK..
"Kau itu salah paham, alien tengil." Pandy menjawab perkataan Aryan dengan memberikan jitakan di keningnya
Aryan menatap kesal Pandy dengan bibir yang dimanyunkan. Sementara yang lainnya hanya tersenyum melihat keduanya.
"Memangnya kenapa kau bisa berpikiran seperti itu, Pandy?" tanya Alfan.
"Aku teringat saat kita menginap di rumah Paman Dhava. Ketika kita di kamar Nayazka. Nayazka kan menerima panggilan dan pesan dari seseorang. Kita juga sempat ikut membaca pesan itu. Kalian tidak lupa kan?" Pandy melihat kearah Alfan, Randy, Attala, Alman, Aryan dan Arga.
Mendengar penuturan dari Pandy, seketika mereka mengingat kejadian saat mereka berada di kamar Azka.