
Azka saat ini sudah bersama dengan anggota keluarganya di meja makan. Mereka akan melaksanakan sarapan pagi bersama.
Melihat kondisi dan wajah ceria Azka membuat Bagas, Karina, Farraz, Kaivan dan Aryan tersenyum bahagia.
"Bagaimana tidurmu sayang?" tanya Bagas pada putra bungsunya.
"Nyenyak, Pi!"
"Apa kamu mimpi lagi, hum?" Kini Karina yang bertanya.
"Tidak, Mi!"
Mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Azka membuat Bagas dan Karina tersenyum. Mereka benar-benar bahagia pagi ini.
Drrtt..
Drrtt..
Tiba-tiba ponsel milik Azka berbunyi menandakan panggilan masuk dari seseorang.
Azka langsung mengambil ponselnya di saku celananya ketika mendengar bunyi ponselnya. Setelah ponselnya ada di tangannya, Azka melihat nama 'Bibi Hana' di layar ponselnya. Seketika tubuh Azka menegang ketika melihat nama pengasuhnya di layar ponselnya.
Seketika Azka menghembuskan nafasnya secara kasar. Sementara anggota keluarganya masih terus memperhatikan dirinya dengan raut khawatir. Apalagi ketika melihat wajah tegang Azka.
Setelah berperang dengan pikirannya apakah dia harus menjawab atau menolak panggilan dari Hana sang pengasuhnya.
"Hallo, Bibi Hana."
Anggota keluarganya pun seketika paham apa yang membuat kesayangannya itu tampak tegang ketika menerima panggilannya, apalagi ketika melihat nama sipemanggil di layar ponselnya.
"Hallo, tuan muda. Apakah tuan muda masih lama di Tangerang? Kapan kira-kira tuan muda akan kembali dalam tugas Kampusnya?"
"Belum tahu Bibi. Memangnya kenapa Bi? Ada apa?"
"Ini masalah Tuan dan Nyonya, tuan muda!"
"Daddy dan Mommy? Kenapa mereka, Bi? Mereka baik-baik saja kan?"
Azka seketika merasakan ketakutan ketika Hana menyebutkan nama kedua orang tua angkatnya. Aryan yang duduk di sampingnya langsung mengusap-usap lembut punggung adiknya.
"Tuan dan Nyonya baik-baik saja. Hanya saja ada perubahan dalam diri Nyonya sehingga membuat Tuan sedih beberapa hari ini."
"Maksud Bibi?" Azka benar-benar bingung akan jawaban dari Hana.
"Ketika sarapan pagi, tiba-tiba Tuan tidak bersemangat. Kemudian Tuan langsung pamit sama Nyonya untuk ke kantor. Namun diluar dugaan, Nyonya langsung mengiyakan dengan menjawab 'Baiklah'. Mendengar jawaban dari Nyonya membuat Tuan sedih."
"Tidak mungkin Mommy seperti itu terhadap Daddy. Mommy selalu marah bahkan selalu memberikan pelototan kepada Daddy jika Daddy tidak sarapan atau tidak menghabiskan sarapannya."
"Tapi kenyataannya seperti itu Tuan muda. Bibi melihat sendiri. Bahkan setelah kepergian Tuan ke kantor, Nyonya sama sekali tidak merasa bersalah. Justru Nyonya makan dengan lahapnya bersama pemuda itu."
"Dan satu lagi. Tuan muda pasti akan terkejut jika Bibi mengatakan ini kepada Tuan muda."
"Apa Bi?"
"Pagi ini Nyonya dan pemuda itu akan ke perusahaan DA'Nisa Corp. Tunjuan Nyonya kesana untuk merombak semua karyawan serta kebijakan disana. Bukan itu saja, Nyonya juga akan memberikan perusahaan itu kepada pemuda itu, tuan muda!"
Seketika matanya Azka membesar ketika mendengar penuturan dari Hana. Dia tidak menyangka jika ibunya akan melakukan hal itu.
"Serius Bi kalau Mommy akan melakukan hal itu?"
"Untuk apa Bibi bercanda masalah ini, tuan! Bibi tidak perusahaan itu jatuh ke tangan orang lain. Yang pantas menerima semuanya itu adalah tuan muda, karena tuan muda adalah putra Nyonya."
"Tuan muda! Kapan Tuan muda kembali. Setidaknya dengan adanya Tuan muda di rumah, Tuan Dava akan tersenyum lagi. Sudah empat hari ini Tuan Dava tidak bahagia."
Azka seketika terkejut ketika mendengar ucapan dari Hana yang mengatakan bahwa ayahnya tidak bahagia selama empat hari ini.
"Empat hari ini Daddy tidak bahagia? Kenapa? Bukankah kebahagiaan Daddy selain aku yang paling utama adalah Mommy? Kenapa Bibi Hana bisa bilang begitu?"
Mendengar ucapan demi ucapan dari Azka membuat Bagas, Karina, Farraz dan Aryan terkejut. Kecuali Kaivan yang sudah tahu dari tangan kanannya.
"Tuan muda, apakah Tuan muda masih disana?"
"Ach, iya! Maafkan aku, Bi! Baiklah, Bi! Bibi tidak perlu khawatir, oke! Masalah perusahaan milik Mommy akan baik-baik saja. Siapa pun tidak akan bisa menyentuhnya bahkan merubahnya. Sekali pun yang merubahnya itu adalah sang pemilik perusahaan. Bibi tidak lupakan kalau perusahaan itu sudah diwariskan kepadaku oleh Mommy."
"Untuk masalah Mommy. Anggap saja Mommy sedang sakit, makanya Mommy terlihat aneh seperti bukan Mommy."
Mendengar ucapan dari Azka membuat Hana pun paham dan membenarkan apa yang dikatakan oleh majikannya itu. Mungkin saja Nyonya nya itu sedang sakit akibat kecelakaan tersebut sehingga membuat sifat sang Nyonya berubah.
"Baiklah kalau begitu Tuan muda. Tuan muda hati disana. Jaga kesehatan Tuan muda. Jangan kelelahan dan jangan sampai telat makan."
Tes..
Seketika air mata Azka mengalir membasahi pipinya ketika mendengar nasehat-nasehat dari Hana. Dia beruntung sekali dipertemukan dengan Hana. Setidaknya berbincang-bincang dengan Hana, baik secara langsung maupun melalui telepon. Hana tidak pernah melupakan hal-hal tersebut tentang dirinya.
"Baik, Bi! Aku tidak pernah melupakan semua nasehat Bibi itu."
"Baiklah. Bibi teleponnya."
"Baik, Bi!"
Tutt..
Tutt..
Setelah berbicara dengan Hana. Azka mencari kontak 'Adrian' di kontak ponselnya. Beberapa detik kemudian, nama kontak yang dicari pun ditemukan
Azka kemudian menekan nomor kontak tersebut sehingga panggilan tersambung.
Beberapa detik kemudian..
"Hallo, Azka. Ada apa?"
"Bersiap-siaplah!"
"Bersiap-siap untuk apa?"
"Mommy dan pemuda itu akan datang ke perusahaan. Sampai disana, Mommy akan merubah semuanya menjadi yang baru sesuai dengan keinginannya. Dan bukan itu saja, Mommy juga akan memberikan perusahaan tersebut kepada pemuda brengsek itu hari ini juga. Kakak harus melakukan sesuatu. Setidaknya, jangan biarkan Mommy dan pemuda itu masuk ke ruangan CEO."
"Baik, Azka. Kakak akan melakukan yang terbaik untuk perusahaan ibumu."
"Kakak masih menyimpan kode akses untuk masuk ke ruangan Mommy kan?"
"Iya. Hanya Mommy kamu, kamu dan kakak. Selain itu tidak ada yang bisa masuk ke dalam. Jika ingin masuk harus mendapatkan izin dari dalam ruangan."
"Baiklah. Kakak urus saja mereka dulu. Aku akan datang sekitar satu jam. Biarkan saja dulu apa yang ingin Mommy dan pemuda itu lakukan di kantor. Yang paling penting dua ruangan tersebut jangan sampai dimasuki oleh Mommy, apalagi pemuda itu."
"Kakak mengerti!"
Setelah selesai berbicara dengan Adrian. Azka langsung mematikan panggilannya. Dan kemudian Azka memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
"Sekarang aku mengerti tujuanmu menyuruhku untuk keluar dari keluarga Adhinatha. Ternyata kau mengincar harta kekayaan keluarga Adhinatha melalui Mommy. Eemm... kita lihat saja hasil akhirnya. Siapa diantara kita yang akan memenangkan permainan ini."
Azka berucap dengan penuh penekanan dan penuh amarah. Terlihat dari tatapan matanya dan kepalan tangan kirinya yang terlihat memucat karena terlalu kuat menggenggamnya.
Sementara anggota keluarganya menatap khawatir dan juga takut terhadap Azka. Mereka takut jika Azka akan bertindak diluar batasan manusia pada umumnya terhadap orang yang sudah mengusik keluarga angkatnya.