
Setelah terjadi pertengkaran antara Adelard dan keponakannya Arga. Suasana saat menjadi hening dan tegang. Tidak ada yang bersuara setelahnya.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang? Kita tidak bisa berdiam seperti ini. Kita harus cari Azka," ucap Cintami.
"Yang dikata Cintami benar. Kita harus cari Azka dan membawanya pulang ke rumah. Kalau kak Dhava sadar lalu menanyakan keberadaan Azka bagaimana?" ujar Bima.
"Paman dan Bibi tidak perlu khawatir. Urusan Azka, serahkan pada kami. Biarkan kami yang mencari Azka dan membawanya kembali," sela Alfan dan diangguki oleh yang lainnya.
"Benar Paman, Bibi. Biarkan kami yang mencari Azka. Kami berjanji akan membawa Azka pulang dan mempertemukannya dengan Paman Dhava," sahut Diaz.
"Baiklah. Paman serahkan urusan Azka pada kalian. Paman mohon temukan Azka dan bawa Azka kembali pulang ke rumah. Bagaimana pun Azka adalah bagian dari keluarga Adhinatha. Selamanya!!" seru Adelard.
"Baik, Paman!" jawab mereka semua.
***
[KAMPUS]
Keesokkan harinya di kampus, dimana Aryan dan kelima kakak sepupunya, Andrew, Diaz, Harris, Rayan dan para anggota BRAINER sedang berada di lobi kampus.
"Bagaimana ini kakak?? Sudah empat hari tidak ada kabar dari Azka. Aku benar-benar khawatir padanya," ucap Aryan.
Alfan mengusap lembut punggung Aryan. "Tenanglah, Yan! Kita berdoa saja untuk Azka. Semoga Azka baik-baik saja."
"Kau ada dimana, Azka?" batin mereka semua khawatir.
"Astaga. Aku baru ingat!" seru Diaz tiba-tiba. Dan hal itu sukses membuat mereka semua terkejut.
"Ada apa, Diaz?" tanya Andrew.
Diaz menatap Andrew. "Drew. Apa kau masih ingat dengan gelang yang kau berikan pada Azka saat dihari Ulang Tahunnya?"
Andrew sempat berpikir sejenak. Lalu detik kemudian Andrew membelalakkan kedua matanya. "Astaga. Kau benar, Diaz! Kenapa aku bisa lupa dengan gelang itu?"
"Memangnya ada apa?" tanya Azri. Mereka semua menatap Andrew dan Diaz untuk minta penjelasan.
"Oh iya! Aku mau nanya sama kalian semua. Apa kalian memperhatikan Azka memakai gelang saat bersama kalian??" tanya Andrew.
"Iya. Kami pernah lihat Azka memang memakai gelang ditangan kanannya," sahut Aarav.
"Memangnya kenapa kalau Azka memakai gelang?" tanya Randy.
"Gelang yang dipakai Azka itu ada alat pelacaknya," jawab Diaz.
"Apa?" teriak mereka semua, kecuali Andrew, Diaz, Harris dan Zayan.
"Ya, sudah. Tunggu apa lagi. Lacak sekarang!" seru Aryan.
Andrew pun melacak keberadaan Azka melalui ponsel miliknya. Selang beberapa menit Andrew pun berhasil menemukan titik keberadaan Azka.
"Ketemu!" teriak Andrew saat berhasil mendapatkan keberadaan Azka.
Mereka semua tampak bahagia. Lalu mereka menatap layar ponsel milik Andrew. "Azka saat ini berada di kota Tangerang, jalan Veteran!" seru Andrew.
"Ya, sudah! Tunggu apa lagi. Mari kita kesana dan bawa Azka pulang!" seru Pandy.
***
[TANGERANG]
Azka menyewa sebuah hotel kecil dan sederhana di sebuah pinggiran kota Tangerang. Saat ini Azka berada di dalam kamarnya, tepatnya di atas tempat tidur. Tanpa ada kebahagiaan terpancar dalam tatapan matanya dan gairah hidupnya pun telah pergi.
"Hiks.. Papi, Mami, kakak.. Hiks."
Kilasan-kilasan masa lalunya dan kenangan-kenangan indahnya bersama kedua orang tua angkatnya serta pertemuannya dengan keluarga kandung berputar-putar di otaknya.
"Bibi kesini mau menjemputmu."
"Menjemputku."
"Tapikan yang akan menjemputku adalah kak Kaivan."
"Nanti bibi jelaskan semuanya di mobil. Sekarang Aka masuk dulu ke dalam mobil."
Nayazka menurut dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil milik sang bibi.
"Sekarang katakan padaku, Bi! Kenapa bibi yang menjemputku?"
"Bagaimana ya? Bibi bingung harus mulai dari mana? Ini sebuah rahasia besar keluarga dan tidak boleh dibeberkan. Termasuk padamu, Aka!! Karena ini akan membuatmu terluka dan sakit hati."
"Maafkan bibi, sayang!"
"Katakan, Bi! Aku siap dan aku akan menerima apapun yang terjadi!"
"Kau.. Kau bukan putra kandung dari keluarga Hanendra. Mereka menjaga dan merawatnya selama ini hanya untuk menepati janji mereka pada orang tua kandungmu. Disaat usiamu dua puluh tahun, mereka akan mengembalikan kamu pada keluargamu. Karena keluargamu akan datang menjemputmu. Mereka adalah Paman dan Bibimu, adik dari ibu kandungmu. Bibi sempat mendengar pembicaraan mereka. Bibi dengar semuanya. Kalau mereka tidak benar-benar sayang padamu."
"Mereka melakukan itu semua padamu karena janji mereka saja, tidak lebih dari itu, Aka! Dan satu hal yang harus Aka tahu. Kedua orang tua Aka sudah meninggal. Dan keluarga Hanendra sudah mengetahuinya. Tapi mereka tak peduli akan hal itu. Mereka tetap pada perjanjian awal. Mereka harus mengembalikan kamu pada orang tua kandungmu."
"Tapi ini tempat sepi, sayang!"
"Aku bilang turunkan aku disini."
"Aka jelek .. Aka jelek!"
"Diam kau alien gosong, tengil."
"Kakak!!"
"Hyung disini, Aka! Kakak tidak akan pernah meninggalkan Aka. Kakak selamanya menyayangimu, Aka!"
"Mami merindukanmu sayang!"
"Mami," batin Azka.
Air matanya mengalir membasahi pipinya. Anggota keluarganya yang melihatnya menangis merasakan sakit di dada mereka, terutama sang ayah dan ketiga kakak-kakaknya.
"Sungguh. Mami benar-benar merindukanmu. Tidak pernah sedikit pun Mami melupakanmu."
Karina melepaskan pelukannya dan menatap wajah tampan putra bungsunya itu. Tangannya bergerak menghapus air matanya dan memberikan ciuman yang bertubi-tubi di wajah putranya itu.
"Cup.. Cup.. Cup." Karina kembali memeluk putranya.
"Aka sayang," panggil sang Bagas.
Karina melepaskan pelukannya dari putra bungsunya. Lalu kemudian Bagas pun memeluk putra bungsunya kesayangannya yang selama ini dirindukannya.
"Papi merindukanmu sayang. Aka kemana saja selama ini? Semenjak kami kehilanganmu. Hidup kami benar-benar jauh dari kata bahagia. Kami selalu memikirkan kamu, merindukan kamu."
Bagas melepaskan pelukannya dan menatap wajah tampan putra bungsunya. "Kau tampan sekali sayang. CUP." Bagas mencium kening putranya.
Semua anggota keluarganya menatap Azka. Tatapan penuh kerinduan. Bagas merangkul kedua bahu putra bungsunya dan membawanya duduk di sofa.
Namun tiba-tiba tatapan mata Azka tertuju pada satu orang dimana orang itulah yang membuat dirinya berpisah dengan keluarganya.
"Bibi Adelia," batin Azka.
Azka menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak. Kalian bohong padaku. Kalian tidak benar-benar menyayangiku. Apa yang kalian berikan selama ini padaku itu semuanya palsu? Kalian melakukan hal itu semua hanya untuk menutupi kebohongan kalian padaku!"
"Aka. Apa kau katakan sayang? Kenapa Aka bicara seperti itu? Kami semua benar-benar menyayangimu. Kau itu putra kami. Darah daging kami," ucap Karina yang sudah menangis.
"Bohong! Mami, Papi dan kalian semua bohong padaku! Aku sudah mengetahui semua kebenarannya. Bibi Adelia sudah cerita semuanya padaku alasan kalian merawatku dan menjagaku selama ini!"
Bagas dan Karina ingin mendekati putra mereka, tapi justru putra mereka makin melangkah mundur.
"Jangan mendekat!" teriak Azka. Bagas dan Karina pun berhenti.
"Kalian tahu tidak. Saat itu aku ketakutan. Aku berdiri sendiri di gerbang sekolah hanya untuk menunggu salah satu dari kalian menjemputku. Satu jam lebih aku menunggu kalian. Tapi.. tapi tidak ada satu pun dari kalian yang datang untuk menjemputku. Segitu sibuk kah kalian dengan kerjaan kalian sehingga kalian melupakan bocah laki-laki yang berusia sepuluh tahun yang sedang menunggu di gerbang sekolah, huh?!" bentak Azka.
Sedangkan anggota keluarganya diam membeku. Hati mereka sakit mendengar keluh kesah dari Azka.
"Aka. Dengarkan dulu sayang. Bukan begitu ceritanya, nak!" mohon Karina.
"Aku tidak mau mendengarkan apapun dari kalian!" teriak Azka sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Adelia bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Azka.
"Ak-aka! Maa......" ucapan Adelia terhenti dikarenakan Azka sudah terlebih dahulu memotongnya.
"Aku sudah tidak mau mendengarkan apapun dari kalian. Aku sudah cukup tahu diri berstatus sebagai anak angkat kalian!" teriak Azka.
DEG!!
"Aka. Apa yang kau katakan? Kenapa Aka bicara seperti itu. Aka putra Papi dan Mami. Putra kandung kami."
"Papi, Mami, kak Farraz, kak Kaivan, kak Aryan.. Hiks. Aku merindukan kalian. Dan aku juga membenci kalian."
"Daddy menyayangi kamu, sayang. Kau kesayangan Daddy. Dan Daddy tidak akan membiarkanmu tersakiti dan bersedih."
"Terima kasih, Daddy. Aku juga menyayangimu. Selamanya!"
"Kau hadir di kehidupan kami dan memberikan kebahagiaan pada kami. Terima kasih sayang. Terima kasih sudah melengkapi kebahagiaan keluarga ini. Terima kasih kau sudah menjadikan kamu sebagai orang tua yang bahagia. Mommy menyayangi kamu."
"Aku juga menyayangimu, Mommy. Terima kasih untuk semua yang kalian berikan padaku."
"Hiks.. Daddy, Mommy. Aku merindukan kalian. Aku menyayangi.. Hiks.. kalian. Kalian akan.. Hiks.. selamanya menjadi orang tuaku. Aku tidak akan melupakan kalian."
"Bibi Hanna."
"Aarrgghhh!"
Tiba-tiba rasa sakit di kepala Azka kambuh lagi. Dan sakitnya kali ini benar-benar luar biasa.
"Ke-napa sa-kit se-kali," ucap Azka terbata sembari tangannya meremas rambutnya. "Ini benar-benar sakit," lirih Azka dan akhirnya kesadarannya mengambil alih tubuhnya.