Missing The Youngest

Missing The Youngest
Hukuman Penjara Tidak Pantas



TIGA HARI KEMUDIAN...


[Kediaman Bagas Hanendra]


Azka saat ini sedang berada di ruang tengah. Dia tidak sendirian, melainkan bersama ketiga kakaknya dan semua para kakak sepupunya. Baik dari pihak ayahnya maupun dari pihak ibunya.


Mereka kini tengah membahas masalah pemuda yang tinggal di kediaman keluarga Adhinatha, pemuda yang diakui oleh seorang Danisa Adhinatha adalah putranya.


Yah! Semua anggota keluarga Nayazka sudah mengetahui perihal Danisa Adhinatha yang mana Danisa yang berada di kediaman keluarga Adhinatha bukanlah Danisa yang sebenarnya. Mereka juga tahu kalau Danisa Adhinatha yang asli berada di sebuah rumah mewah milik seorang dokter ternama dan terkenal akan pengobatannya.


Sementara untuk Kaivan, dia telah menceritakan tentang apa yang dia dengar dari tangan kanannya kepada Azka adiknya sehingga membuat adiknya merasakan kesedihan yang teramat dalam.


"Apa rencana kamu, Aka?" tanya Sandy kakak sulung Randy dan Pandy.


Azka melihat kearah Sandy. Setelah itu, Azka menatap semua kakak-kakaknya yang mana kakak-kakaknya itu juga menatap dirinya satu persatu.


"Aku akan pulang ke kediaman keluarga Adhinatha. Sampai aku akan memberikan kejutan pada laki-laki itu di hadapan semua anggota keluarga Adhinatha dan keluarga Mahendra.


Mendengar jawaban sekaligus rencana dari Nayazka membuat mereka semua tersenyum di sudut bibirnya masing-masing. Mereka setuju akan rencana Nayazka.


"Apa kamu sudah beritahu masalah ini sama Arga?" tanya Aryan.


"Belum. Tapi aku sudah menghubungi kakak Arga dan Nathan. Aku meminta mereka untuk datang ke kediaman Daddy bersama semua anggota keluarga."


"Baguslah!" seru para kakak-kakaknya bersamaan.


"Oh, iya! Kapan kamu akan pulang ke kediaman Adhinatha?" tanya Farraz.


"Kita boleh ikut?!" tanya Aryan, Alfan, Randy, Attala, Alman dan Pandy bersamaan.


"Tentu. Setidaknya jika ada kalian. Permainan akan semakin seru. Aku ingin melihat bagaimana reaksi kedua penipu itu," jawab Azka


"Kapan kita kesana?" tanya Pandy tak sabaran.


"Nanti pukul 3 sore," jawab Nayazka.


"Baiklah!" Aryan, Alfan, Randy, Attala, Alman dan Pandy menjawab bersamaan.


***


[Kediaman Madhava Adhinatha]


Waktu sudah menunjukkan pukul 15.30


Di kediaman Dava tampak ramai dimana semua anggota keluarga baik pihak Adhinatha maupun pihak Mahendra berkumpul. Mereka semua telah duduk dengan cantik di sofa ruang tengah yang begitu luas.


Baik Dava dan saudara-saudaranya maupun saudara-saudara dari Danisa masih tampak bingung ketika Arga dan Nathan meminta mereka untuk datang ke kediaman Dava. Bahkan mereka tidak diberitahu alasan kenapa mereka disuruh datang ke kediaman Dava.


"Nathan," panggil Adnan sang ayah.


"Iya, Dad!" Nathan menjawab panggilan dari ayahnya itu.


"Sebenarnya ada apa? Kenapa kamu menyuruh kita semua datang ke rumah Pamanmu, Dava?" tanya Adnan.


"Aku juga tidak tahu, Dad. Aku melakukan ini juga atas perintah dari Azka."


"Azka!" seru semua para orang tua termasuk Dava.


"Apa kamu juga seperti itu, Arga?" tanya Leroy pada putra bungsunya.


"Iya, Pa! Azka menghubungiku dan memintaku untuk datang ke rumah Paman Dava bersama kalian," sahut Arga.


Dava menatap intens kearah Arga, keponakannya itu. Dia menaruh curiga terhadap keponakannya tersebut. Bahkan Dava berpikir 'Putranya itu menghubungi keponakannya. Sementara dirinya, putranya tidak ada menghubunginya sama sekali'.


"Arga," panggil Dava.


"Iya, Paman!"


"Apa kau menyembunyikan sesuatu dari Paman?"


Deg..


Seketika Arga terkejut ketika mendengar ucapan dari Paman kesayangannya itu. Di dalam hatinya berkata 'Kenapa Pamannya berbicara seperti itu? Apakah Paman tahu tentang keberadaan Azka?'


Semuanya menatap kearah Arga. Mereka menunggu jawaban dari Arga terutama Dava.


"Arga!" kini Leroy yang memanggil putranya.


"Maafkan aku, Paman Dava. Sekali pun aku mengetahui sesuatu, apalagi menyangkut Azka. Aku dengan berat hati tidak bisa mengatakan apapun kepada Paman. Begitu juga dengan kalian. Yang berhak mengatakan semuanya adalah Azka karena dia yang mengetahui semuanya dan Azka yang mengalaminya. Jadi kita tunggu saja kedatangan Azka."


"Jadi maksud kamu, Azka akan pulang?" tanya Dava sembari tersenyum.


Dava seketika bahagia ketika mendengar ucapan terakhir dari Arga yang mengatakan bahwa putra kesayangannya itu akan pulang.


"Iya, Paman. Azka akan pulang."


"Kapan Azka akan pulang, Arga?" tanya Dava.


"Paman tunggu saja, oke!" jawab Arga.


Disaat semua anggota keluarga tengah berbicara membahas tentang dibalik mereka yang disuruh datang ke kediaman Madhava Adhinatha sembari membahas tentang kepulangan Azka. Berbeda dengan Hendru Permana dan perempuan yang mirip dengan Danisa hanya diam. Di dalam hati mereka mengumpat kesal ketika mendengar ucapan dari Arga yang mengatakan bahwa Azka akan kembali pulang ke rumah Adhinatha.


"Brengsek! Kenapa dia harus kembali ke rumah ini? Aku belum mendapatkan apa-apa dari semua kekayaan Danisa. Begitu juga dengan kekayaan Madhava." Hendru berucap kesal di dalam hatinya.


"Kenapa dia harus kembali? Jika dia kembali, maka semua rencana akan gagal. Dan orang itu pasti akan marah besar jika tahu Azka kembali lagi ke keluarga Adhinatha," batin Danisa palsu.


Ketika semua anggota keluarga tengah berbincang-bincang sembari membahas tentang Azka dan tentang Azka yang menyuruh Arga dan Nathan serta semua anggota keluarga untuk datang ke kediaman Madhava Adhinatha. Seketika itu juga mereka semua dikejutkan dengan suara Azka bersamaan dengan suara langkah kaki melangkah menuju ruang tengah.


"Daddy, aku pulang!"


Mendengar suara putra kesayangannya seketika membuat Dava langsung berdiri dari duduknya. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya. Mereka semua tersenyum ketika melihat kedatangan Azka.


Azka datang tidak sendirian, melainkan bersama satu kakak kandungnya dan lima kakak sepupunya.


"Sayang," lirih Dava.


"Dad," balas Azka.


Dava merentangkan kedua tangannya bermaksud agar Azka memberikan pelukan untuknya.


Melihat ayahnya yang memberikan isyarat membuat Azka langsung berlari menghampiri ayahnya itu dan langsung menghambur ke dalam pelukannya.


"Dad, aku merindukanmu."


"Daddy juga merindukan kamu, Sayang."


Melihat adegan ayah dan anak yang saling berpelukan membuat semua anggota keluarga termasuk Aryan, Alfan, Randy, Attala, Alman dan Pandy ikut merasakan kebahagiaan di hatinya.


Namun tidak dengan Danisa palsu dan Hendru. Keduanya menatap tajam dan marah kearah Azka.


Setelah puas memeluk tubuh putranya, Dava pun melepaskan. Dava menatap wajah tampan putranya itu dengan senyuman kebahagiaan.


"Beberapa hari kamu tidak pulang. Kamu terlihat kurus, Sayang! Apa kamu baik-baik saja selama di Tangerang? Apa kamu baik-baik saja ketika menjalankan tugas kampus kamu disana?" tanya Dava sembari menatap tubuh putranya yang sedikit kurus.


Mendengar ucapan dari Dava membuat Azka seketika sedih. Dirinya tidak tahu harus menjawab apa akan pertanyaan dari ayahnya itu. Apalagi dirinya sudah membohongi ayahnya itu dengan mengatakan bahwa dia tengah melakukan tugas kampus ke kota Tangerang. Padahal dia berada di kediaman keluarga kandungnya beberapa hari ini akibat ulah seseorang.


"Azka, apa semuanya baik-baik saja?" tanya Adelar.


Azka melihat kearah Paman kesayangannya sembari tersenyum. "Semuanya baik-baik saja, Paman!"


Dava melihat kearah istrinya. Kemudian Dava memeluk pinggang istrinya dan membawanya mendekat kepada Azka.


"Sayang. Ini Azka, putra kita. Azka telah kembali dari tugas kampusnya beberapa hari ini di Tangerang," ucap Dava.


Danisa palsu menatap wajah Azka. Begitu juga dengan Azka. Keduanya saling menatap satu sama lainnya.


"Kenapa Azka menatap Danisa tajam begitu?" batin para Paman (baik keluarga Adhinatha maupun keluarga Mahendra).


Mereka semua menatap Azka tepat di tatapan mata Azka yang menatap tajam kearah Danisa. Mereka semua bingung dan penasaran akan sikap Azka yang menatap Danisa tajam seperti itu. Yang mereka tahu bahwa jika setiap keduanya bertemu, Azka akan langsung memeluk tubuh Danisa.


"Aku harus mengakhiri semuanya. Aku tidak mau menunggu besok... besok dan besoknya. Masalah ini harus selesai sekarang juga. Mereka harus pergi dari rumah ini agar Mommy bisa kembali," batin Azka.


Melihat Azka yang masih memberikan tatapan tajamnya membuat semua anggota keluarga khawatir, terutama Dava.


"Azka, Sayang!" Dava memanggil putranya.


Azka tidak digubris panggilan dari ayahnya. Justru Azka saat ini makin menatap tajam bahkan tatapannya kali ini menunjukkan bahwa dirinya benar-benar marah.


"Siapa lo sebenarnya?"


Deg..


Danisa palsu seketika terkejut ketika mendengar pertanyaan dari Azka. Begitu juga dengan Dava, anggota keluarga Adhinatha dan keluarga Mahendra.


"Kenapa Azka bertanya seperti itu?" batin Farzan, Gading, Gara, Dzaky, Lian, Arga, Satya, Arga, Raymond, Nathan dan Lutfi.


"Kak Azka kenapa? Kenapa dia berbicara seperti itu kepada bibi Danisa?" batin Dito.


"Azka, Sayang! Kenapa berbicara seperti itu, Nak? Dia ibu kamu," ucap Dalila.


"Iya, Azka! Bibi Danisa itu ibu kamu. Kenapa kamu bertanya seperti itu," sela Farzan.


Azka tidak mempedulikan ucapan dari anggota keluarga Mahendra. Yang Azka pedulikan saat ini adalah ingin membongkar kedok asli dari perempuan yang berdiri di hadapannya ini.


"Gue tanya sekali lagi sama lo. Siapa lo?! Siapa yang bayar lo buat masuk ke dalam keluarga Adhinatha dan mengaku sebagai Danisa Aurelia Mahendra!"


Danisa palsu tetap diam. Dia tidak akan menjawab pertanyaan dari Azka. Dia belum mendapatkan perintah dari Hendru untuk berbicara.


"Kamu apa-apaan, hah?!" bentak Hendru tiba-tiba.


Hendru seketika berjalan menghampiri Danisa palsu dan Azka. Sejak tadi dia hanya diam ketika melihat tatapan mata Azka yang menatap Lusy perempuan yang sudah dia bayar untuk menjadi Danisa.


"Apa begini kamu membalas kebaikan perempuan yang sudah baik sama kamu selama ini? Apa begini cara kamu membalas kebaikan perempuan yang sudah angkat kamu menjadi anaknya?!" bentak Hendru menatap tajam Azka.


"Menyesal aku membawa pulang ibu kamu ke rumah ini jika aku tahu reaksi kamu seperti ini," ucap Hendru.


Mendengar ucapan serta bentakan dari Hendru membuat Azka langsung menatap kearah Hendru. Azka seketika tersenyum di sudut bibirnya.


"Sandiwara yang sangat-sangat sempurna," ucap Azka mengejek. "Berapa lo dibayar sama orang itu, hum?'


Ya! Azka sudah mendapatkan informasi mengenai Hendru Permana dari tangan kanan kakak keduanya yaitu Kaivan. Azka meminta tangan kanan kakaknya itu untuk menyelidiki latar belakang Hendru Permana dan orang-orang di belakangnya.


Tak butuh waktu lama. Tangan kanan kakak keduanya itu berhasil. Hasilnya bahwa ada seseorang yang memberikan perintah kepada Hendru untuk mengusik kehidupannya di dalam keluarga Adhinatha. Orang itu juga yang sudah membuat dirinya berpisah dengan keluarga kandungnya.


"Jaga ucapan lo, Azka Ahza Adhinatha! Lo seharusnya berterima kasih sama gue karena gue yang sudah menyelamatkan ibu lo! Dan gue juga yang sudah bawa ibu lo pulang!" bentak Hendru.


"Hahahaha." seketika Azka tertawa ketika mendengar ucapan dari Hendru. "Apa gue nggak salah dengar, hah?! Gue harus berterima kasih sama lo yang udah bawa perempuan ini kembali ke rumah ini. Yang benar saja!" bentak Azka tak kalah.


"Kalian berdua adalah penipu. Lo dan perempuan ini tak lebih hanya manusia busuk yang haus kekayaan!" bentak Azka.


"Brengsek! Tutup mulut lo!" bentak Hendru.


Hendru kemudian menyerang Azka, namun gerakan terlambat karena Azka sudah terlebih dahulu memberikan tendangan tepat perutnya.


Duaaghhh..


"Aakkhhh!"


Bruukkk..


Hendru tersungkur di lantai dengan perut yang terlebih dahulu menghantam lantai bersamaan dengan cairan segar berwarna merah keluar dari mulutnya.


Melihat apa yang dilakukan Hendru dan Azka mengakibatkan Hendru yang mendapatkan tendangan dari Azka membuat Dava dan semua anggota keluarga terkejut dan syok.


Sementara Danisa palsu saat ini ketakutan melihat reaksi dari Azka ketika berhadapan dengan Hendru. Namun perempuan tersebut berusaha untuk tetap tenang. Dirinya tidak ingin ketahuan oleh anggota keluarga Adhinatha dan keluarga Mahendra, terlebih lagi dengan Dava.


"Azka, apa begini cara kamu membalas kebaikan Hendru? Dia sudah menolong saya dan dia juga yang sudah membawa saya pulang. Saya memang tidak mengingat apa-apa. Tapi saya sangat yakin jika dia pemuda yang baik," ucap Danisa palsu.


Azka menatap penuh amarah kearah Danisa palsu dengan kedua tangannya mengepal kuat.


Sementara Dava dan semua anggota keluarga dibuat bingung dan juga penasaran atas apa yang mereka lihat.


"Mau sampai kapan anda terus menggunakan identitas orang lain, Nyonya?" tanya Aryan bersamaan kakinya melangkah mendekati adiknya diikuti oleh Alfan, Randy, Attala, Alman dan Pandy.


Deg..


Danisa palsu terkejut ketika mendengar ucapan dari Aryan. Begitu juga dengan Dava dan semua anggota keluarga.


"Kami sudah tahu siapa anda yang sebenarnya," ucap Alfan.


"Kami juga tahu tujuan anda dan bajingan itu datang ke kediaman Adhinatha," ucap Randy.


Baik Azka, Aryan maupun Alfan, Randy, Attala, Alman dan Pandy memberikan tatapan penuh amarah kearah Danisa palsu.


"Anda bukanlah Danisa Aurelia Mahendra yang asli," ucap Attala.


"Nama anda yang sebenarnya adalah Lusy Hermawan," ucap Alman.


"Wajah anda bisa mirip dengan Bibi Danisa karena anda sudah merubahnya dengan melakukan operasi plastik," ucap Pandy.


Seketika Dava, anggota keluarga Adhinatha dan keluarga Mahendra terkejut ketika mendengar ucapan dari Attala, Alman dan Pandy terutama ucapan dari Pandy.


"Azka, Sayang!" panggil Dava.


Azka seketika langsung melihat kearah ayahnya. Dan dapat dilihat olehnya bahwa ayahnya begitu terkejut.


"Azka," lirih Dava.


"Perempuan ini bukan Mommy. Dia Lusy Hermawan. Bajingan itu membawa perempuan ini ke rumah sakit lalu kemudian merubah wajahnya menjadi wajah Mommy. Aku dan kak Kaivan sudah menyelidikinya. Mereka berdua disuruh oleh seseorang." Azka menangis ketika mengatakan hal tersebut di hadapan ayahnya.


Mendengar jawaban dari Azka membuat tubuh Dava terhuyung ke belakang. Dirinya benar-benar syok atas apa yang dia lihat dan dia dengar.


"Dava." Adelard langsung menghampiri adiknya dan menahan tubuh adiknya itu.


Semuanya tampak terkejut ketika mendengar pengakuan dari Azka, Aryan, Aryan, Alfan, Randy, Attala, Alman dan Pandy.


"Pantas saja perasaanku tak nyaman sejak dia kembali. Bahkan sikapnya sangat jauh berbeda, walau saat itu dia mengatakan bahwa dia amnesia. Ternyata perempuan yang tinggal bersamaku adalah orang lain, bukan istriku yang sebenarnya." Dava berucap bersamaan air matanya yang jatuh membasahi pipinya.


"Jika dia bukan Danisa. Lalu dimana Danisa?" tanya Adnan.


"Paman tidak perlu khawatir. Bibi Danisa baik-baik saja. Dia ada di suatu tempat sedang menjalankan pengobatan," sahut Alfan.


"Bibi Danisa selamat dalam kecelakaan ketika bersama Paman Dava. Namun sayangnya, kedua manusia menjijikan ini menyakiti Bibi Danisa dengan cara ingin melenyapkan Bibi Danisa dari dunia ini," ucap Attala.


"Laki-laki itu!" tunjuk Randy kearah Hendru. Semuanya melihat kearah Hendru. "Dia berpikir bahwa Bibi Danisa sudah mati saat itu sehingga dia melakukan operasi plastik terhadap perempuan ini," ucap Randy dengan menunjuk kearah Lusy Hermawan. "Jadi dengan begitu, penyamaran tidak akan pernah terbongkar."


Mendengar ucapan serta penjelasan dari Randy membuat semua anggota keluarga Adhinatha dan keluarga Mahendra marah terutama Dava.


Dava menatap kearah Danisa palsu dengan tatapan penuh amarah.


Dan detik kemudian...


Plaakkk..


"Aakkhh!" teriak kesakitan Danisa palsu.


Azka menatap wajah putranya. "Daddy serahkan semuanya padamu, Sayang! Jika kamu ingin membunuhnya, itu lebih baik. Hukuman penjara tidak pantas untuk perempuan ini," ucap Dava.


Deg..


Danisa palsu seketika ketakutan akan ucapan Dava. Dirinya tidak menyangka jika pria yang sudah dia bohongi akan membalasnya dengan cara mengambil nyawanya.


"Dengan senang hati, Dad! Dia memang harus mati dikarenakan dia sudah menyakiti Mommy dengan cara membunuh Mommy. Ditambah lagi, dia sudah mengambil identitas Mommy dan mengaku-ngaku sebagai Mommy," sahut Azka.