
Azka sudah melakukan operasi dua hari yang lalu. Saat ini Azka berada diruang rawatnya. Dirinya masih belum sadar selama dua hari setelah melakukan operasi tersebut. Dan hari ini adalah hari ketiga dirinya tidak sadarkan diri.
Saat operasi berlangsung, detak jantungnya sempat berhenti. Hal itu sukses membuat Dokter pribadinya yaitu Darius menjadi panik. Bagaimana tidak panik. Darius sudah menganggap Azka sebagai putranya sendiri. Bahkan Keluarganya juga sudah terlanjur sayang pada Azka.
Saat pertemuan pertama keluarganya dengan keluarga Adhinatha dan saat keluarga Darius melihat wajah Azka. Mereka langsung menyukai Azka. Apalagi istri dari Darius dan putra Sulung Darius. Keduanya sangat menyayangi Azka.
Dan untungnya, dengan sikap tenang Darius, dirinya berhasil mengembalikan detak jantung Azka. Setelah operasi selesai, Azka dinyatakan koma.
Saat ini anggota keluarga Hanendra, anggota keluarga Adhinatha dan para sahabatnya saat ini sudah berkumpul diruang rawat Azka. Mereka semua tengah menatap sedih Azka. Mereka semua menangis saat melihat berbagai macam alat yang terpasang ditubuhnya, mereka semua merasakan ketakutan dalam diri mereka masing-masing, mereka menatap wajah Azka dengan perasaan bercampur aduk. Mereka takut, jika kesayangan mereka memilih menyerah. Mereka takut jika saat kesayangan mereka bangun, kesayangan mereka akan melupakan mereka semua.
"Nayazka. Ini Papi, nak!" ucap Bagas sembari mengelus lembut rambut Azka dan mengecup keningnya.
"Hiks.. Nayazka sayang.. Hiks.. ini Mami." Karina mencium kening dan kedua pipi Azka.
"Azka, sayang. Daddy berharap, Azka segera membuka kedua mata Azka, nak! Daddy tidak ingin Azka terlalu lama tidurnya," ucap Dhava.
"Azka. Kakak mohon, bangunlah!" lirih para kakak kandungnya.
"Azka. Kami disini sangat menyayangimu. Apapun keadaanmu. Apapun kondisimu. Apapun statusmu. Kami semua sangat amat menyayangimu," cap para kakak-kakaknya dari keluarga Adhinatha dan keluarga Mahendra.
"Azka," lirih Arga.
"Azka, Bangunlah. Kami mohon," lirih Andrew, Harris, Diaz dan Zayan.
Baik dari pihak keluarga kandungnya maupun dari pihak keluarga angkatnya. Ntah itu Paman, Bibi para kakak kandungnya dan para kakak sepupunya. Mereka secara bergantian memberikan kecupan dan ciuman sayang di seluruh wajah Azka. Bahkan mereka menyematkan kata-kata sayang dan doa untuknya.
Setelah mereka memberikan kecupan dan ciuman sayang pada Azka. Mereka memutuskan untuk duduk di sofa yang ada di ruang rawat Azka. Mereka tidak ingin pergi meninggalkan rumah sakit sebelum kesayangan mereka bangun. Mereka semua ingin melihat mata bulat itu terbuka.
Ruang rawat Azka sangat luas dan besar. Jadi bisa menampung lebih dari sepuluh orang.
Aryan duduk disamping ranjang Azka. Tangannya menggenggam tangan Azka. Aryan menangis terisak melihat sang adik yang terbaring di ranjang pesakitan.
"Hiks.. Aka sayang. Ini kakak Ayan. Kakak mohon bukalah matamu. Lihatlah kakak.. Hiks."
Beberapa detik kemudian, Aryan merasakan tangannya digenggam oleh Azka. Dan hal itu sukses membuat Aryan terkejut dan juga bahagia.
"Nayazka!" seru Aryan.
"Papi, Mami! Tadi Nayazka menggenggam kuat tanganku!"
Mereka yang mendengar ucapan Aryan kini kembali mengerubungi ranjang Azka. Mereka semua menatap wajah Azka dan berharap mata yang sudah terpejam selama dua hari itu terbuka.
Berlahan kedua mata bulat itu terbuka. Semua orang yang melihatnya tersenyum bahagia. Mereka bersyukur dan bahagia akhirnya doa dan harapan mereka semua terkabul. Kesayangan mereka kembali. Kesayangan mereka telah membuka matanya.
"Akhirnya mata bulat itu terbuka. Terima kasih, Tuhan," batin mereka semua.
"Azka!"
"Nayazka!"
Itulah panggilan dari masing-masing keluarga untuknya.
Bagas dan Dhava mendekati ranjang Azka. Dhava berdiri disamping kiri dan Bagas berdiri disamping kanan. Aryan yang sedari tadi duduk disamping ranjang Azka seketika langsung memberikan ruang untuk Ayahnya dan Ayah angkat adiknya. Baik Dhava maupun Bagas secara bersamaan memberikan ciuman di kening dan di kedua pipinya.
"Sayang!" seru Bagas dan Dhava bersamaan.
Azka menatap wajah kedua pria yang kini menatapnya secara bergantian. Azka juga menatap kearah lain. Dapat dilihat secara samar-samar, banyak orang-orang yang berdiri di hadapannya.
Azka menatap mereka tidak terlalu jelas. Penglihatan sedikit mengabur. Azka berulang kali berusaha untuk melihat dengan jelas, namun matanya tidak bisa dibawa kompromi. Matanya seakan-akan ingin tetap terpejam seperti ada magnet yang menarik kedua matanya itu.
"Sayang," panggil Dhava dan Bagas kembali.
Detik kemudian, mata itu tertutup kembali.
Melihat Azka yang kembali menutup matanya. Mereka semua kembali berteriak. Mereka semua ketakutan saat melihat Azka menutup matanya.
"Tidak, Azka!" teriak mereka semua. Mereka menangis histeris.
"Nayazka!" teriak anggota keluarga Hanendra. Mereka semua menangis.
PUK.. PUK..
PUK.. PUK..
Dhava dan Bagas memukul-mukul pelan pipi Azka. Mereka menangis melihat Azka yang menutup kedua matanya kembali.
"Sayang.. Hei.. Daddy mohon. Buka matamu. Jangan tutup matamu lagi," ucap Dhava yang sudah menangis.
"Nayazka sayang. Papi mohon bukalah matamu, nak! Papi sudah sangat bahagia saat kamu membuka kedua matamu," mohon Bagas yang tidak bisa membendung tangisannya.
Kaivan yang kebetulan berdiri tepat didekat sang Ayah lalu tangannya langsung menekan tombol merah secara bertubi-tubi.
"Azka, Daddy mohon.. Hiks.. Bukalah matamu."
"Nayazka sayang.. Hiks."
Selang beberapa detik, pintu ruang rawat Azka dibuka secara kasar oleh seorang Dokter.
BRAAKK
Dokter tersebut masuk bersama dua orang perawat.
"Darius," lirih Dhava.
"Aku akan memeriksanya."
Darius mendekati ranjang Azka, sedangkan Dhava dan Bagas mundur.
"Terima kasih, sayang. Kau berhasil melewati masa kritis kamu dan juga kau sudah mau membuka kedua matamu setelah tidak sadar selama dua hari," batin Darius.
Setelah selesai memeriksa Azka. Darius menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di ruang rawat Azka. Dapat dilihat oleh Darius, mereka semua tampak panik, khawatir dan kalut.
"Lepaskan semua alat-alat ini dari tubuhnya," ucap Darius pada dua perawat tersebut.
"Baik, Dokter."
Dua perawat itu pun langsung melakukan tugas mereka.
Setelah itu Darius menatap wajah Dhava dan Bagas secara bergantian.
"Kalian berdua tidak perlu khawatir. Putra kalian baik-baik saja."
"Tadi Azka sudah membuka kedua matanya, Darius! Tapi ti........" Ucapan Dhava terpotong.
"Itu karena Azka masih dalam pengaruh obat bius, Dhava. Jadi saat Azka membuka kedua matanya. Azka masih belum sepenuhnya untuk bisa membuka kedua matanya. Makanya Azka memilih untuk kembali memejamkan matanya," jawab Darius.
"Apa itu benar, Darius?" tanya Bagas.
"Iya, itu benar. Aku tidak akan membohongi kalian kalau menyangkut kondisi Azka. Bagaimana pun kalian semua berhak tahu," jawab Darius.
"Ach, syukurlah!" ucap mereka semua secara bersamaan.
"Jadi kapan Azka akan bangun, Paman?!" tanya Dzaky.
"Setengah jam lagi," jawab Darius.
"Baiklah, Paman. Aku sudah tidak sabar melihat Azka bangun!" seru Lutfi Amri Mahendra, keponakannya Danisa.
"Apa lagi kami!" seru Harris dan Zayan bersamaan.
"Nanti jika Azka bangun. Aku mohon pada kalian semua. Jangan ada yang bertanya apapun pada Azka. Dan aku juga minta pada kalian untuk memanggilnya dengan satu nama saja yaitu Azka. Kita belum tahu kondisi Azka seperti apa saat dia bangun nanti. Kita harus memastikan kondisinya terlebih dahulu," ucap Darius.
"Iya, kami mengerti!" seru mereka semua kompak.
"Baiklah. Nanti jika Azka sudah bangun. Hubungi aku. Aku pamit dulu."
Setelah mengatakan hal itu, Darius pun pergi meninggalkan ruang rawat Azka. Disusul oleh dua perawat tersebut.
Setelah kepergian Darius. Para orang tua duduk di sofa. Sedangkan para kakak-kakaknya mengerubungi tempat tidur Azka. Mereka secara bergantian menciumi seluruh wajah Azka. Bahkan mereka juga mengajak Azka berbicara.
"Azka. Kakak bersyukur dan berterima kasih karena kau mau bertahan. Kakak menyayangimu," ucap Andrew.
"Azka. Menunggu setengah jam itu seperti menunggu selama setahun. Jadi bangunlah sekarang," ucap Zayan.
Aryan menggenggam tangan Azka. Sesekali Aryan mencium telapak tangan adiknya.
^^^
Waktu setengah jam telah berlalu. Namun Azka tak kunjung bangun dan membuka kedua mata bulatnya itu sehingga membuat mereka semua makin khawatir.
"Kenapa Azka belum bangun juga. Bukannya Paman Darius mengatakan setengah jam lagi Azka akan membuka matanya," ucap Sandy.
"Iya, ya. Inikan sudah lewat dari setengah jam. Seharusnya Azka sudah bangun," sela Randy.
Mereka semua menatap Azka yang masih setia terpejam. Mereka semua menangis.
"Azka. Kami mohon bangunlah. Buka matamu," batin mereka semua.
Lalu detik kemudian dimana mereka semua dalam keadaan sedih. Aryan merasakan genggaman ditangannya makin menguat. Aryan melihat kearah tangannya, ada pergerakan. Lalu Aryan mengalihkan pandangannya melihat wajah adiknya.
"Aka," lirih Aryan.
Setelah mengatakan hal itu, Azka pun berlahan membuka kedua matanya. Mereka yang melihat hal itu tersenyum bahagia dan berucap syukur.
"Azka," ucap mereka bersamaan.
Mereka semua secara bergantian menciumi seluruh wajah Azka. Mereka semua benar-benar bahagia saat melihat mata bulat itu telah terbuka.
Azka menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di hadapannya. Di hadapannya itu telah berdiri orang tua kandungnya, orang tua angkatnya, Paman, Bibi dan semua kakak-kakaknya.
Saat Azka menatap wajah mereka, Azka dapat melihat dari raut wajah orang-orang yang saat ini juga tengah menatapnya. Wajah penuh kekhawatiran dan juga kebahagiaan. Azka sangat tahu jika mereka semua sangat menyayanginya, sangat peduli padanya, sangat memanjakan dirinya.
Lama Azka menatap wajah orang-orang yang selalu ada di sampingnya, baik dulu mau pun sekarang. Tanpa diminta air matanya pun meluncur begitu saja dari kedua sudut matanya.
Melihat Azka yang menangis. Hal itu sukses membuat anggota keluarganya menjadi panik dan khawatir.
Bagas dan Dhava pun mendekati Azka mereka mencium kening Azka secara bersamaan. Bagas mengambil alih tangan Azka dari genggaman tangan Aryan.
"Ada apa, sayang? Apa ada yang sakit, hum?" tanya Bagas lembut sembari mencium telapak tangan Azka.
Dhava membelai lembut rambut Azka. "Kenapa kamu nangis, sayang? Apa ada yang sakit? Katakan pada Daddy."
Azka tidak menjawabnya. Justru air matanya makin deras meluncur dari kedua sudut matanya.
Melihat Azka yang terus menangis membuat mereka makin khawatir dan panik. Alfan langsung melangkah kearah tombol merah, lalu menekannya berulang-ulang.
"Sayang," ucap Dhava dan Bagas bersamaan.
Mereka berdua benar-benar panik saat melihat Azka menangis. Ditambah lagi Azka sama sekali tidak berbicara sepatah kata pun.
BRAAKK