Missing The Youngest

Missing The Youngest
BAB 15



[DI KEDIAMAN Adhinatha]


Seorang wanita paruh baya kini berada di rumah. Wanita itu bertugas sebagai seorang pelayan sekaligus orang yang dipercayai oleh Dhava dan Danisa untuk mengasuh, menjaga dan merawat Azka. Wanita itu adalah Bibi Hama. Wanita itu sangat amat menyayangi majikannya itu.


Bibi Hanna saat ini sedang menyiapkan sarapan pagi untuk majikan kesayangannya itu. Setelah selesai menyiapkan sarapan pagi untuk majikan kesayangannya, Bibi Hanna langsung menuju kamar majikannya.


TOK!!


TOK!!


TOK!!


"Tuan muda Azka. Ini sudah pukul tujuh pagi. Bangunlah. Nanti tuan muda bisa telat ke kampusnya!" teriak Bibi Hanna dari luar kamar Azka.


TOK!!


TOK!!


TOK!!


Dikarenakan tidak ada sahutan dari dalam kamar. Bibi Hanna akhirnya memberanikan diri membuka pintu kamar tersebut.


CKLEK!!


Pintu kamar Azka pun telah terbuka. Dan Bibi Hanna memasuki kamar tersebut.


"Kok kamarnya sepi. Dimana tuan muda? Apa di kamar mandi?" batin Bibi Hanna lalu kakinya menuju kamar mandi.


TOK!!


TOK!!


TOK!!


"Tuan muda Azka. Apa kau didalam?"


CKLEK!!


Bibi Hanna membuka pintu kamar mandi yang ternyata tidak dikunci. Berarti sudah jelas majikannya itu tidak berada di kamar mandi. Bibi Hanna menutup kembali pintu itu.


"Tuan muda Azka. Kau ada dimana?" Bibi Hanna mulai khawatir.


Bibi Hanna memutuskan untuk keluar dari kamar Azka dan berusaha menghubungi teman-teman majikannya itu.


^^^


Sekarang ini Bibi Hanna sudah berada di lantai dua. Pikirannya kini benar-benar tertuju pada majikan kesayangannya yaitu Azka. Bibi Hanna  menghubungi nomor majikan kesayangannya itu. Tapi yang didengar adalah nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.


"Tuan muda Azka. Kau ada dimana sekarang? Kenapa ponsel tuan muda tidak aktif?" panik Bibi Hanna.


Bibi Hanna mondar-mandir di ruangan tengah sembari berpikir, siapa yang akan dihubungi olehnya. "Aku ingat. Saat di rumah sakit itu." Bibi Hanna teringat saat Aryan memberikan nomor ponselnya padanya.


Flashback On


"Bi. Mana ponsel Bibi?" tanya Aryan.


"Untuk apa, nak?" tanya Bibi Hanna balik.


"Aku akan menyimpan nomor ponselku di ponsel Bibi. Siapa tahu bibi membutuhkan nya," jawab Aryan.


"Baiklah." lalu Bib Hanna menyerahkan ponsel miliknya pada Aryan


Aryan mengambil ponsel Bibi Hanna dan menekan nomor miliknya, kemudian menyimpannya dikontak ponsel milik Bibi Hanna. Setelah itu Aryan menghubungi nomornya dengan menggunakan ponsel Bibi Hanna. Dan Aryan pun menyimpan nomor ponsel Bibi Hanna dikontak ponselnya.


"Ini Bi." Aryan menyerahkan kembali ponsel Bibi Hanna. "Aku sudah menyimpan nomorku di ponsel Bibi dan nomor Bibi juga sudah aku simpan di ponselku. Kalau ada apa-apa, Bibi jangan sungkan-sungkan untuk menghubungiku!" Aryan berucap.


"Terima kasih, nak!" Bibi Hanna berucap.


"Sama-sama, Bi!" Aryan menjawab ucapan terima kasih dari Bibi Hanna.


Flashback Off


Bibi Hanna langsung mencari nama kontak Aryan di kontak ponselnya. "Ketemu!" Bibi Hanna langsung menekan nama kontak tersebut.


Panggilan tersambung..


***


[KEDIAMAN KELUARGA HANENDRA]


[Meja Makan]


Saat ini keluarga Hanendra sedang berkumpul di meja makan. Kini mereka sarapan dengan penuh kebahagiaan. Bagaimana tidak? Mereka bahagia karena telah bertemu dengan si bungsu kesayangan mereka kembali. Walau si bungsu salah paham pada mereka semua atas ulah salah satu anggota keluarga mereka, tapi itu tak membuat mereka sedih dan berkecil hati. Mereka yakin. Lambat laun si bungsu akan mengerti dan mengetahui yang sebenarnya, bahwa mereka adalah keluarga kandungnya.


Saat mereka tengah menikmati sarapan pagi. Tiba-tiba terdengar suara ponsel milik Aryan berbunyi.


DRTT.. DRTT..


Aryan yang mendengar ponselnya berbunyi. Langsung mengambilnya dan melihat siapa yang menghubunginya pagi-pagi begini?


Saat ponsel sudah ditangan. Kedua mata Aryan melihat nama Bibi Hanna di layar ponselnya. Aryan pun langsung menjawab panggilan tersebut.


"Hallo, Bibi. Ada apa?"


"Hallo, nak Aryan. Apa Bibi mengganggu?"


"Oh, tidak Bi. Tidak sama sekali. Memangnya ada apa, Bi?"


"Oh, begini. Apa tuan muda Azka nginap di rumahnya, nak Aryan?"


"Apa? Kenapa Bibi Hanna bicara seperti itu?" Batin Aryan.


"Begini, nak Aryan. Tuan muda Azka tidak pulang dari semalam. Saat Bibi ke kamarnya ingin membangunkannya untuk kuliah, tapi Tuan muda Azka tidak ada di kamarnya. Bahkan tempat tidurnya masih dalam keadaan rapi saat terakhir tuan muda Azka berangkat kuliah."


"Bibi tenang dulu ya. Bibi tidak usah khawatir. Aku dan yang lainnya akan mencari Azka."


"Terima kasih, nak Aryan."


"Sama-sama Bi."


"Ya, sudah. Kalau begitu bibi tutup teleponnya."


TUTT.. TUTT..


"Aryan. Apa yang terjadi, nak?" tanya Karina.


"Barusan pengasuhnya Azka bilang kalau Azka tidak pulang ke rumah," jawab Aryan.


"Apa?!" teriak Bagas, Karina, Farraz dan Kaivan.


"Jadi Aka tidak pulang ke rumah keluarga Adhinatha setelah dari sini?" tanya Bagas.


"Seperti itulah yang dikatakan oleh Bibi Hanna," jawab Aryan.


"Aka sayang. Kau ada dimana, nak?" batin Bagas.


"Kau ada dimana, Aka?" batin Farraz dan Kaivan.


"Adikku Aka. Semoga kau baik-baik saja. Tuhan! Lindungilah adikku," batin Aryan.


***


[KEDIAMAN KELUARGA ADHINATHA]


Kini Bibi Hanna tengah terus berusaha untuk menghubungi majikannya itu. Sudah dua puluh kali dirinya menghubungi majikannya itu, tapi hasil tetap sama. Nomor yang dituju olehnya tidak aktif. Bibi Hanna hanya bisa menangis di ruang tengah. Dirinya merasa bersalah dan gagal menjaga majikan kesayangannya itu.


"Nyonya Danisa. Maafkan saya. Saya telah gagal menjaga tuan muda Azka. Sampai detik ini, saya tidak tahu dimana keberadaan tuan muda." Monolog Bibi Hanna.


Lalu terdengar suara bunyi bell


TING.. TONG..


TING.. TONG..


Bibi Hanna yang mendengar suara bell itu langsung bangkit dari duduknya dan berlari menuju pintu utama sembari menyebut nama majikan kesayangannya itu. "Itu pasti tuan muda Azka!"


CKLEK..


"Syukurlah tuan mu....." Ucapan Bibi Hanna terhenti saat melihat yang datang bukanlah majikannya, tapi para teman-teman majikannya.


"Nak Aryan rupanya. Bibi pikir tuan muda Azka yang pulang," ucap Bibi Hanna lesu.


Mereka semua masuk ke dalam rumah setelah dipersilakan masuk oleh Bibi Hanna.


"Bagaimana Bi? Apa Azka sudah berhasil dihubungi?" tanya Attala.


"Belum nak Attala. Bibi sudah berulang kali menghubunginya. Tapi ponselnya masih tidak aktif," jawab Bibi Hanna.


"Bibi tidak usah khawatir. Kami akan cari Azka sampai ketemu dan membawanya pulang," tutur Alfan.


"Bagaimana keadaan Paman Dhava, Bi?" tanya Randy.


"Keadaan masih sama, nak Randy. Belum ada perubahan sama sekali. Sudah empat hari tuan Dhava koma dan selama empat hari pula, tuan muda Azka tidak pernah absen menjaga tuan Dhava. Tapi kemarin pulang dari kampus, tumben sekali tuan muda Azka tidak datang ke rumah sakit dan langsung pulang ke rumah. Makannya Bibi memutuskan untuk pulang ke rumah menemui tuan muda. Sedangkan tuan Dhava sedang dijaga oleh dua keponakannya."


"Bibi Hanna," panggil Aryan.


Bibi Hanna melihat kearah Aryan dengan mata yang masih berair. "Ya, nak Aryan!"


"Ini masalah Azka, Bi!" ujar Aryan.


"Kenapa tuan muda Azka, nak? Tuan muda baik-baik saja kan?" tanya Bibi Hanna.


"Azka... Azka sudah mengetahui jati dirinya yang sebenarnya, Bi!" sahut Aryan.


"Maksud nak Aryan, Apa?" tanya Bibi Hanna.


"Maksudku adalah Azka sudah mengetahui bahwa dirinya bukan putra kandung dari Paman dan Bibi," jawab Aryan.


"Apa? Ba-bagaimana bisa tuan muda Azka sampai mengetahui hal ini? Apa.. apa ingatan tuan muda Azka sudah kembali?" tanya Bibi Hanna.


"Azka mengetahui semua ini dari Arga," jawab Alfan.


"Ja-jadi tuan muda Alfan yang sudah membocorkan semua ini. Bibi sudah menduga hal ini akan terjadi. Karena sejak kedatangan tuan muda Azka ke rumah ini dan semenjak Tuan dan Nyonya mengangkat Tuan muda Azka menjadi putra mereka. Tuan muda Arga memang tidak menyukainya. Karena tuan muda Arga cemburu pada tuan muda Azka. Karena perhatian Tuan Nyonya seratus persen fokus untuk tuan muda Azka. Tapi bagaimana pun, Tuan dan Nyonya berhak untuk bahagia dengan memiliki Tuan muda Azka sebagai putra mereka. Karena itu yang mereka harapkan selama ini menjadi orang tua dan dipanggil Daddy dan Mommy."


"Jadi, ini alasan tuan muda Azka pergi dan tidak kembali pulang ke rumah. Tapi secara hukum, tuan muda Azka adalah putra Tuan dan Nyonya. Apapun status tuan muda Azka, itu tidak penting. Tuan Dhava sudah mencantumkan Marga Adhinatha di belakang namanya. Jadi, tuan muda Azka adalah anggota keluarga Adhinatha yang sah sampai kapan pun!" ucap Bibi Hanna menangis.


"Azka pergi bukan kemauannya, Bi! Tapi diancam dan disuruh pergi oleh Arga. Arga mengatakan bahwa Azka tak pantas berada di keluarga Adhinatha. Azka bukan siapa-siapa di keluarga Adhinatha. Azka hanya anak pungut yang diambil di jalanan, dibawa ke rumah sakit lalu dibawa pulang ke rumah oleh Paman dan Bibi!" pungkas Pandy.


"Tuan muda Arga bicara seperti itu pada tuan muda Azka?" tanya Bibi Hanna terkejut saat mendengar pengakuan Pandy.


"Arga berbicara seperti itu didepan semua mahasiswa dan mahasiswi di kampus. Semuanya mendengar dengan jelas apa yang diucapkan oleh Arga," ucap Alman.


"Bahkan disana juga ada Andrew, Harris, Diaz dan Zayan!" ucap Alfan.


"Tuan muda Azka."


Tangis Bibi Hanna pecah. Bibi Hanna menangis. "Nyonya, Tuan. Maafkan saya. Saya gagal menjaga tuan muda."


Alfan dan yang lainnya menangis melihat Bibi Hanna yang sudah menangis. "Bibi tidak usah khawatir. Kami akan mencari Azka dan membawanya kembali," tutur Randy.