
Azka pulang ke rumah keluarga kandungnya. Setelah menerima telepon dari orang misterius tersebut, Azka pun langsung pergi menuju rumah keluarga kandungnya. Saat ini Azka berada di dalam kamarnya.
Flasback On
Azka dalam perjalanan menuju Kampusnya dengan menggunakan motor sports miliknya. Motor tersebut adalah hadiah ulang tahun dari ibunya, Danish Adhinatha.
Ketika Azka tengah fokus mengendarai motornya, tiba-tiba terdengar suara ponselnya yang ada di saku celananya.
Azka langsung menghentikan laju motornya, setelah motornya berhenti. Azka membuka helm yang menutupi kepalanya.
Azka merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya yang masih berbunyi.
Ketika ponsel itu telah berada di tangannya. Azka melihat nama 'Kakak Adrian' di layar ponsel tersebut. Dan Azka pun langsung menschrool keatas tombol hijau tersebut.
"Hallo, kak Adrian."
"Hallo, Azka. Kau ada di mana?"
"Aku sedang di jalan mau ke Kampus. Kenapa kak?"
"Bisa singgah ke kantor sebentar?"
Azka melihat jam yang melingkar di tangan kirinya, lalu Azka pun menjawab.
"Memangnya harus ya, kak? Apa tidak bisa menunggu setelah aku pulang kuliah?"
"Tidak, Azka. Kalau tidak sekarang. Bisa-bisa kakak lupa lagi."
"Memangnya ada apa, sih?"
"Kakak hanya ingin memberikan Flasdisk yang dititipkan oleh ibu kamu."
"Flasdisk?"
"Iya, Flasdisk. Dan kakak tidak tahu apa isinya. Ibu kamu menitipkan kepada kakak dan meminta kakak untuk memberikannya kepadamu."
Azka berpikir tentang Flasdisk yang dimaksud oleh Adrian. Azka dibuat bingung akan hal itu. Kenapa ibunya menitipkan Flasdisk pada Adrian? Kenapa ibunya tidak langsung memberikan padanya.
"Baiklah, kak. Aku akan kesana."
"Baiklah. Kakak tunggu."
TUTT..
TUTT..
Adrian di seberang langsung mematikan panggilan tersebut.
Setelah panggilan terputus, Azka kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
Azka memasang kembali helm nya, setelah itu Azka menghidupkan mesin motornya.
BRUUMM..
BRUUMM..
Setelah mesin motornya hidup, Azka pun membawa motornya dengan kecepatan sedang.
***
Setelah menempuh perjalanan selama satu setengah jam, Azka pun tiba di Perusahaan milik ibunya yaitu DA'Nisa Corp.
Azka memarkirkan motornya di parkiran khusus. Setelah itu, Azka pun pergi meninggalkan parkiran tersebut.
Ketika Azka memasuki Perusahaan DA'Nisa Corp. Semua karyawan-karyawan yang ada di dalam langsung memberi hormat dan menyapa Azka.
"Selamat pagi, Bos!"
Semua karyawan menyapa Azka. Mereka semua sudah tahu siapa Azka dikeluarga Adhinatha. Bahkan mereka juga tahu bagaimana berartinya seorang Azka bagi DA'Nisa Adhinatha, bos mereka. Mereka sangat senang dan bahagia Azka menjadi pemimpin di Perusahaan DA'Nisa Corp menggantikan DA'Nisa Adhinatha.
Semenjak Danisa tidak ada, Azka lah yang mengambil semua tanggung jawab Perusahaan. Semua yang dikerjakan oleh Danisa, kini menjadi tanggung jawab Azka.
"Azka, kau sudah datang!" Adrian datang menghampiri Azka.
"Kakak," sapa Azka.
"Kita ke ruangan kakak!" seru Adrian.
Azka dan Adrian pun pergi menuju ruang kerja milik Adrian.
Kini keduanya sudah berada di ruangan milik Adrian. Baik Azka maupun Adrian sudah duduk di sofa.
Adrian pun langsung memberikan Flasdisk yang dititipkan padanya kepada Azka.
"Ini, Azka."
Azka mengambil Flasdisk yang ada disodorkan padanya. Matanya menatap lekat Flasdisk tersebut.
"Kakak. Aku pinjam laptopmu, boleh?"
"Tentu." Adrian langsung berdiri, lalu mengambil laptopnya.
Setelah mendapatkannya, Adrian kembali menuju sofa dan memberikan laptopnya kepada Azka.
"Ini."
Azka mengambil laptop tersebut. Azka membuka laptop itu, kemudian menghidupkannya.
Setelah laptopnya hidup, Azka kemudian memasang Flasdisk tersebut ke laptop tersebut.
Adrian yang kebetulan duduk di sampingnya juga ikut melihat kearah layar laptop tersebut.
Azka mengklik sebuah video yang terpampang jelas di layar laptop tersebut.
KLIK..
Beberapa detik kemudian, video itu terbuka. Ketika video itu terbuka, seketika air mata Azka mengalir begitu saja membasahi wajah tampannya.
Yaahhh!!!
Video tersebut adalah video ibunya, Danisa Adhinatha. Di dalam video itu terlihat Danisa mengenakan setelan kerjanya. Danisa terlihat cantik dalam balutan setelan kerjanya itu. Dan jangan lupa senyuman manisnya yang mengembang di bibirnya.
"Mommy," lirih Azka
Adrian yang ada di sampingnya langsung mengusap-usap punggung Azka. Adrian merasa iba dengan kondisi Azka semenjak kecelakaan yang menimpa kedua orang tuanya. Adrian sudah menganggap Azka sebagai adik kandungnya sendiri. Bahkan Danisa sudah menitipkan Azka kepada Adrian disaat Azka berada di kantor. Danisa meminta Adrian untuk selalu bersama Azka.
"Yang kuat, oke!" Adrian berucap begitu lembut kepada Azka.
"Terima kasih, kak." Azka menjawabnya dengan tak kalah lembutnya.
Azka dan Adrian kembali fokus melihat dan menyaksikan video itu.
[ISI VIDEO]
"Azka, sayang. Mungkin saat Azka sedang menonton ini. Mommy tidak ada bersama Azka. Atau dengan kata lain, Mommy berada di tempat lain dan bisa juga Mommy sudah meninggal."
"Azka, sayang. Dengarkan Mommy, nak! Selama Mommy tidak ada. Gantikan semua tugas-tugas Mommy. Baik itu di Perusahaan DA'Nisa Corp, Binus University, Danisa Butik dan DNS Butik, Pemegang Saham 50 % sekaligus Donatur di Pladys Hospital untuk pasien yang tidak mampu. Bagaimana pun kamu adalah ahli warisnya Mommy. Dan kamu yang akan menggantikan Mommy ketika Mommy tidak ada lagi di dunia ini. Mommy sudah menyiapkan semuanya untuk kamu."
"Azka, sayang. Satu hal yang harus Azka ingat dan jangan pernah Azka lupakan. Apapun yang terjadi nanti. Jika Mommy kembali dan terjadi sesuatu pada diri Mommy, salah satunya adalah perubahan akan sikap Mommy. Mommy minta padamu untuk terus menjalankan apa yang sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kamu. Jangan pernah mundur, nak! Kamu adalah putra Mommy. Selamanya akan menjadi putra Mommy. Putra kesayangan Mommy. Tidak ada yang bisa menggantika kamu di hati Mommy."
"Dan untukmu, Adrian Agler. Kau adalah wakilku sekaligus kepercayaanku. Aku minta padamu untuk selalu ada di samping putraku, Azka Ahza Adhinatha. Bantu putraku. Jaga dan lindungi Azka. Aku percayakan semuanya padamu. Sama hal yang aku katakan pada Azka. Jika terjadi sesuatu padaku ketika aku kembali. Tetap jalankan tugasmu dan tanggung jawabmu. Jangan mundur selangkah pun."
Adrian menangis ketika mendengar ucapan dari Danisa, Bosnya. Dirinya benar-benar bahagia dan bersyukur memiliki pimpinan yang begitu baik seperti Danisa.
"Pasti, Nyonya. Tanpa Nyonya minta. Aku dengan senang hati akan selalu bersama Azka," batin Adrian.
"Azka, sayang. Mommy sangat menyayngimu. Jaga dirimu baik-baik. Jaga Daddy untuk Mommy."
"Mommy.. hiks.."
Azka menangis terisak saat melihat wajah cantik ibunya dan juga mendengar ucapan demi ucapan ibunya itu. Hatinya benar-benar sesak ketika mendengar permintaan ibunya itu.
"Baik, Mom. Aku janji akan selalu mengingat semua ucapan Mommy itu. Aku menyayangi Mommy. Selamanya!" batin Azka.
Setelah selesai melihat video ibunya. Azka kemudian mencabut Flasdisk tersebut. Azka memasukkan Flasdisk itu ke dalam saku celananya.
"Baiklah, kak Adrian. Aku serahkan tugas hari ini kepada kakak. Aku harus ke Kampus sekarang. Aku sudah banyak ketinggalan materi kuliahku sejak aku sakit."
"Baiklah. Kamu tidak perlu khawatir. Kakak akan melakukan semuanya dengan baik. Kamu berhati-hatilah di jalan. Jangan ngebut saat berkendara."
"Iya, kak."
Setelah mengatakan hal itu. Azka pun pergi meninggalkan ruang kerja Adrian. Azka ingin segera ke Kampusnya.