Missing The Youngest

Missing The Youngest
Mommy, Maafkan Aku!



Azka dalam perjalan menuju Kampusnya. Baru setengah jam di perjalanan, tiba-tiba ponselnya kembali berbunyi. Mendengar ponselnya berdering kembali membuat Azka mengumpat kesal.


"Aish. Siapa lagi sih? Kalau begini aku tidak akan pernah sampai di Kampus."


Azka menghentikan motornya, kemudian Azka melepaskan helm nya. Setelah itu, Azka merogoh ponselnya di saku celananya.


Kini Azka sudah memegang ponselnya. Ketika Azka melihat nomor yang kemarin malam menghubunginya.


"Apa sudah waktunya aku pergi meninggalkan keluarga Adhinatha?" batin Azka


"Daddy," lirih Azka.


Setelah itu, Azka pun menjawab panggilan tersebut.


"Hallo, Azka."


Seseorang di seberang telepon langsung berbicara.


"Langsung saja." Azka berbicara dengan nada ketus dan dingin.


"Hahaha. Ternyata kau sudah tidak sabaran ya. Baiklah. Bagaimana? Apa kau sudah membuat keputusanmu, Azka? Apa kau bersedia pergi meninggalkan keluarga angkatmu itu?"


"Kapan kau akan membawa ibuku pulang?" Azka bertanya dengan nada ketus dan juga dingin.


"Tergantung keputusanmu. Jika hari ini juga kau pergi meninggalkan keluarga Adhinatha. Maka hari ini juga aku akan membawa ibu kamu ke Jakarta."


"Apa perkataanmu bisa dipercaya?"


"Tentu. Setelah aku dan ibumu tiba di Jakarta. Lebih tepatnya di rumah keluarga Adhinatha. Aku akan mengirimkan sebuah video dimana kedua orang tuamu bertemu."


Azka terdiam sejenak. Dirinya menimang-nimang akan keputusan yang akan diambilnya.


Setelah beberapa detik terdiam, Azka pun bersuara.


"Baikla. Aku mau hari ini juga kau bawa ibuku pulang ke Jakarta. Pertemukan ibuku dengan ayahku. Hari ini juga aku akan pergi meninggalkan keluarga Adhinatha."


"Bagus. Aku senang bekerja sama denganmu, Azka Ahza Adhinatha. Baiklah. Hari ini juga aku akan berangkat ke Jakarta."


TUTT..


TUTT..


Setelah mengatakan hal itu kepada Azka, sipenelpon langsung mematikan ponselnya.


"Daddy. Maafkan aku. Maafkan aku pergi meninggalkan Daddy," lirih Azka.


Azka memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Azka memakai helm nya dan setelah itu, Azka menghidupkan mesin motornya.


"Lebih baik aku pulang ke rumah keluarga kandungku." Azka berucap sembari menjalankan motornya.


Flasback Off


Azka saat ini berada di kamarnya. Dirinya duduk di lantai dengan punggung bersandar di tepi tempat tidur. Tangannya memegang sebuah ponsel. Dan di ponselnya itu ada sebuah gambar dirinya dan kedua orang tua angkatnya.


Azka menyentuh dan mengusap layar ponselnya yang ada wajah kedua orang tua angkatnya. Seketika air matanya mengalir membasahi wajah tampannya.


"Mommy... Daddy... Hiks."


***


Aryan dan kakak-kakak sepupunya yaitu Alfan, Randy, Attala, Alman dan Pandy sudah tiba di rumah. Mereka datang bersama Arga, Andrew, Harris, Diaz, Zayan dan juga kelompok BRAINER.


Mereka semua sangat mengkhawatirkan Azka. Mereka semua sangat menyayangi Azka.


"Mami. Nayazka dimana?" tanya Aryan


"Nayazka di kamarnya, Yan." Karina menjawab dengan wajah yang tersirat raut khawatir.


"Apa Nayazka dalam keadaan baik-baik saja ketika datang, Bi?" tanya Alfan.


"Saat bibi melihat kedatangan Nayazka. Bibi tidak terlalu memperhatikan wajahnya, Fan. Karena ketika Nayazka masuk ke dalam rumah, wajah dan sikap Nayazka biasa-biasa saja. Tidak menunjukkan ada masalah sama sekali. Tapi saat Nayazka duduk di sofa ruang tengah sendirian. Bibi memperhatikan wajah Nayazka yang tampak sedih. Dan bibi juga sempat melihat Nayazka yang menyeka air matanya tiba-tiba. Mungkin Nayazka tidak ingin bibi melihatnya." Karina berbicara ketika mengingat kondisi putra bungsunya saat di ruang tengah.


"Aryan. Mami benar-benar mengkhawatirkan adikmu. Mami tidak ingin adikmu jatuh sakit lagi. Mami tidak ingin sakitnya kambuh lagi."


Mendengar ucapan dari Karina membuat Arga, Andrew, Harris, Diaz, Zayan dan kelompok BRAINER terkejut.


"Maaf, bi." Arga menyela.


"Iya. Ada apa Arga?"


"Iya, Bi. Tolong katakan pada kami. Apa yang tidak kami ketahui tentang kondisi kesehatan Azka, walau kami sudah dekat sejak kecil." Diaz memohon pada Karina, ibu kandung Azka.


Karina menatap putra ketiganya, lalu menatap keponakan-keponakannya. Setelah itu, Karina menatap Arga, Andrew, Diaz, Zayan dan juga kelompok BRAINER dan sahabatnya Arga.


"Nayazka beda dengan ketiga kakak-kakaknya. Nayazka memiliki Sindrom Pascatrauma di bagian kepalanya. Waktu Nayazka berusia 10 tahun, tepatnya Nayazka masih kelas 5 sekolah dasar. Nayazka pernah diculik oleh orang suruhan dari saingan bisnis ayahnya. Saat kejadian itu, Nayazka banyak mendapatkan pukulan dan siksaan dari orang suruhan saingan bisnis ayahnya. Bukan itu saja, Nayazka berusaha sekuat tenaga dan juga keberanian untuk bisa bebas dari para penculik itu."


"Apa Azka berhasil, Bi?" tanya Harris.


"Nayazka berhasil keluar dari tempat itu. Tapi..." perkataan Aryan terhenti.


"Tapi apa, Aryan?" Arga dan Andrew bersamaan.


"Ketika Nayazka berhasil keluar. Tanpa Nayazka sadari ada sebuah mobil yang melintas dan langsung menabrak Nayazka sehingga tubuh Nayazka terhempas ke jalan dengan kepala membentur aspal." Aryan menangis ketika mengingat kejadian itu.


"Semenjak kejadian itu, Nayazka mengalami trauma. Nayazka selalu berteriak dan juga ketakutan ketika ada orang-orang baru mendekatinya. Nayazka ketakutan ketika orang-orang itu akan menyakitinya." Alman ikut menangis ketika mengingat tentang kondisi adik kelincinya.


"Bahkan dengan kami saja, Nayazka begitu takut. Padahal kami sama sekali tidak akan menyakitinya," sela Attala.


"Nayazka selalu bersikap waspada pada kami dan juga orang lain," ucap Pandy


"Sikap tidak ramah, kecemasan yang berlebihan, ketakutan atau ketidakpercayaan terhadap orang lain," saut Randy


"Dan Nayazka juga sering bermimpi buruk setiap kali Nayazka ingin tidur," sela Alfan.


Mendengar cerita dari keluarga kandung Azka membuat Arga, Andrew, Harris, Diaz, Zayan, sahabatnya Arga dan juga kelompok BRAINER terkejut dan juga sedih. Mereka tidak menyangka jika Azka mengalami kejadian buruk dihidupnya.


"Apa ini juga ada hubungannya ketika Azka hendak diperiksa oleh Dokter, namun Azka selalu menolaknya? Azka selalh berteriak setiap Dokter dan para perawat itu ingin memeriksanya." Arga berbicara sembari mengingat dimana dirinya pernah melihat Azka yang diperiksa oleh seorang Dokter, sementara Azka berteriak ketakutan.


"Jadi putra bibi pernah mengalami hal itu, nak Arga?"


"Iya, Bi!" jawab Arga.


"Berarti ketika kita berusaha mendekati Azka, sementara Azka sangat sulit didekati. Apa itu ada hubungan dengan traumanya?" tanya Zayan.


"Bisa jadi! seru Alfan, Randy, Attala, Alman, Pandy, Andrew, Harris, Diaz, Zayan dan juga kelompok BRAINER bersamaan.


"Atau bisa juga trauma barunya Azka. Bibi Hana pernah cerita jika Azka selama lima tahun menutup diri dari orang-orang luar. Bahkan Azka menutup hatinya untuk menerima orang-orang di sekitarnya karena pernah dikhianati." Farrel berbicara ketika mengingat bagaimana sulitnya dirinya dan teman-temannya mendekati Azka.


"Ya, sudah. Kita hentikan pembicaraan ini. Lebih baik kita ke kamar Azka sekarang!" seru Deva.


"Hm." mereka semua mengangguk.


Setelah itu Aryan, Alfan, Randy, Attala, Alman, Pandy, Arga, Andrew, Harris, Diaz, Zayan, sahabatnya Arga dan juga kelompok BRAINER menghentikan pembicaraannya.


^^^


Aryan, Alfan, Randy, Attala, Alman, Pandy, Arga, Andrew, Harris, Diaz, Zayan, sahabatnya Arga dan juga kelompok BRAINER sudah berada di depan pintu kamar Azka.


Berlahan Aryan membuka pintu kamar adiknya itu. Ketika pintu sudah terbuka. Mereka semua pun melangkah masuk. Ketika mereka sampai di dalam, mereka melihat Azka yang duduk di lantai dengan bersandar di tempat tidur sembari memegang sebuah ponsel. Mereka semua dapat melihat bahwa Azka sedang melihat wajah kedua orang tua angkatnya.


"Hiks.. Mommy. Maafkan aku. Sepertinya aku tidak bisa memenuhi keinginan Mommy untuk terus bersama Daddy. Mommy! Semoga nanti hidup Mommy akan lebih bahagia ketika bertemu dengan Daddy. Aku tidak bisa lagi hidup dan tinggal bersama Mommy dan Daddy. Mommy.. Hiks.."


Mendengar penuturan dari Azka membuat Aryan, Arga, Alfan, Randy, Attala, Alman, Pandy, Andrew, Harris, Diaz, Zayan, sahabatnya Arga dan juga kelompok BRAINER terkejut.


"Apa orang itu kembali menghubungi Azka?" tanya Arga.


"Sepertinya iya," jawab Randy.


"Dari ucapan Azka barusan. Sudah pasti bajingan itu kembali menghubungi Azka dan meminta kepastian dari Azka," ucap Attala.


"Aarrrggghhh!"


Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara erangan dari Azka.


Mendengar erangan keras dari Azka, mereka semua menjadi panik dan khawatir.


BRUUKK..


Seketika tubuh Azka limbung ke samping dan tak sadarkan di lantai.


"Azka/Nayazka!" teriak Aryan, Arga, Alfan, Randy, Attala, Alman, Pandy, Andrew, Harris, Diaz, Zayan, sahabatnya Arga dan juga kelompok BRAINER.


Mereka mendekati Azka, lalu Alfan langsung mengangkat tubuh Azka dan membawanya ke tempat tidur. Mereka semua menatap wajah pucat Azka dengan tatapan khawatir.


Aryan duduk di samping tempat tidur. Tangannya membelai rambut adiknya.


"Aka, sayang!" lirih Aryan.