Missing The Youngest

Missing The Youngest
BAB 7



Di kediaman keluarga Hanendra tampak anggota keluarga yang sibuk dengan urusan masing-masing. Setelah selesai dengan kesibukan mereka, lalu mereka semuanya pun berkumpul di meja makan. Tapi ada satu yang belum kelihatan batang hidungnya. Dia adalah Aryan Sadana Hanendra. Putra ketiga keluarga Hanendra.


"Mana adik kalian Farraz, Kaivan?" tanya Bagas.


Saat salah satu dari mereka ingin menjawab. Terdengar suara yang memekakkan telinga.


"Pagi Papi, Mami, Kakak!" sapa Aryan yang sedikit berteriak.


Sedangkan anggota keluarganya menutup telinga mereka mendengar teriakan sibungsu kedua keluarga Hanendra.


"Aryan. Jangan teriak-teriak seperti itu dong sayang," tegur Kim Karina lembut.


"Maaf, Mami!" jawab Aryan.


"Kalau kakak perhatikan. Sepertinya adik kakak ini lagi bahagia, hum?" tanya Farraz.


"Kau benar, kak. Aku memang lagi bahagia," balas Aryan sumringah.


"Kalau Papi boleh tahu. Hal apa yang membuat putra Papi ini bahagia?" tanya Bagas pada putranya.


"Aku memiliki teman baru," jawab Aryan singkat.


"Sampai membuatmu bahagia seperti ini?" tanya Kaivan bingung.


"Masa sih hanya mendapatkan teman baru. Adikku bisa sebahagia begini. Tidak seperti biasanya. Dan bukan kali ini saja adikku memiliki teman," batin Kaivan.


"Tapi yang kakak tahu. Setiap kau memiliki teman. Kakak tidak pernah melihatmu sebahagia ini," tanya Farraz.


"Aku setuju, kak!" Kaivan menyela.


"Teman yang satu ini beda kak Farraz, kak Kaivan. Beda dari temanku yang lainnya," jawab Aryan.


"Bedanya dimana?" Kasih tahu kakak," pinta Kaivan.


"Anaknya itu memiliki wajah yang tampan, manis, cantik, imut dan menggemaskan. Awalnya aku dan yang lainnya susah sekali mendekatinya. Karena sifatnya yang cuek, acuh dan dingin. Setiap kami mendekatinya dan mengajaknya bergabung dalam kelompok kami. Dia selalu menolak. Cara dia menolak pun terlihat angkuh dan sombong. Bahkan kata-katanya itu membuat kami kesal. Untung saja wajahnya itu manis, cantik serta imut dan kami semua sangat menyukainya. Kalau tidak sudah kami cakar-cakar wajahnya itu," tutur Aryan.


Karina, Bagas, Farraz dan Kaivan hanya tersenyum gemas mendengar cerita Aryan.


"Lalu bagaimana caranya kalian bisa menjinakkan bocah itu?" tanya Karina penasaran.


"Ceritanya saat itu aku dan teman-temanku yang lainnya sedang berada di markas tempat perkumpulan kami. Jadi si Aarav datang dan mengatakan bahwa dia mendapatkan nomor ponsel milik anak itu. Salah satu dari kami menghubunginya untuk memastikan apa benar nomor itu miliknya? Setelah ditelepon dan berbicara langsung dengan orangnya. Dan ternyata benar, nomor itu milik anak itu. Lalu Aarav mengirim sebuah pesan padanya. Dan dari sanalah kami tahu ternyata dia tidak masuk kuliah karena sakit. Dan kami sepakat mau datang ke rumahnya untuk menjenguknya."


"Apa reaksi anak itu pada kalian?" tanya Farraz.


"Dia mengirimkan alamat rumah pada Aarav. Tanpa menanyakan hal-hal yang lainnya. Saat tiba di rumahnya. Rumah sepi sekali. Hanya ada para pelayannya saja. Rumahnya juga cukup besar. Dibandingkan rumah milik kita, lebih besar rumahnya!"


"Kalian cerita apa saja saat sudah berada di rumahnya?" tanya Bagas sepertinya cerita putranya sangat menarik.


"Banyak sih. Salah satunya adalah dia menceritakan alasannya kenapa tidak mau menjalin sebuah hubungan dan lebih memilih sendiri. Katanya persahabatan itu hanya sebuah topeng belaka. Semuanya palsu. Dan tidak ada yang benar. Dia memiliki masa yang sangat buruk saat memiliki seorang sahabat. Dia pernah dikhianati oleh sahabatnya sendiri. Sampai merenggut nyawa dua sahabatnya yang lain. Bahkan dia juga ditinggal pergi keluar negeri oleh sahabatnya yang lainnya. Nah, yang sahabatnya yang pergi keluar negeri ini melainkan anak dari sahabat ayahnya. Mereka sudah seperti saudara. Mereka pergi saat dirinya kehilangan dua sahabatnya ini. Selama lima tahun anak itu menutup diri dari dunia luar. Dia hanya keluar rumah saat jadwal kuliahnya saja. Saat di kampus dia juga banyak menghabiskan waktu di perpustakaan. Dia akan berbicara pada teman-teman kampusnya, ketika berhubungan dengan pelajaran saja. Selain itu susah untuk didekati."


"Dengan kata lain temanmu itu memiliki trauma. Dia takut untuk menjalin sebuah hubungan dengan orang lain. Takut akan dikhianati lagi," ucap Bagas.


"Sekarang kamu sudah tahukan alasan temanmu itu tidak mau bergabung denganmu dan temanmu yang lainnya?" tanya Karina.


"Ya, Mami."


"Kalau Papi boleh tahu. Siapa nama temanmu itu?"


"Azka Ahza Adhinatha," jawab Aryan.


Deg..


"Azka" batin Karina dan Bagas.


Melihat orang tua mereka terdiam. Farraz, Kaivan dan Aryan menjadi khawatir.


"Mami, Papi! Ada apa? Apa ada yang salah ya dengan ucapanku?" tanya Aryan.


"Tidak sayang. Tidak ada masalah, nak!" jawab Karina.


"Tapi kenapa wajah Mami dan Papi seperti itu? Seperti sedang menyembunyikan sesuatu?" tanya Farraz.


"Papi dan Mami hanya kaget saja saat Aryan menyebutkan nama temannya itu" jawab Bagas.


"Namanya itu mirip nama adik bungsuĀ kalian. Mami dan Papi juga memberikan nama panggilan untuk adik bungsu kalian yaitu Azka. Bahkan Mami dan Papi membuatkan sebuah kalung untuknya dengan liontin huruf nama Azka dan kalung itu akan dipakaikan saat ulang tahunnya yang kesembilan. Tapi sebelum acara itu terjadi, kita sudah kehilangannya." Karina berucap dengan air matanya mengalir membasahi wajah cantiknya.


Dan kenangan itu pun terlintas di pikiran mereka masing-masing. Kenangan bersama anak, adik kesayangan mereka.


"Aka," batin mereka.


...***...


Azka masih terlelap di kamar kesayangannya. Dirinya enggan untuk bangun.


Sedangkan di meja makan kedua orang tuanya sudah duduk dengan tenang sambil menunggu dirinya sang pangeran tampan.


Bibi Hanna sedang menyiapkan sarapan pagi dan menatanya di atas meja. Dibantu oleh pelayan-pelayan yang lainnya.


Setelah selesai menata makanan di atas meja. Bibi Hanna bergegas menuju kamar majikan kesayangannya. Saat Bibi Hanna ingin melangkahkan kakinya menuju kamar majikan kesayangannya, suara Danisa menghentikan langkahnya.


"Bibi Hanna lanjutkan saja pekerjaannya. Biar saya saja yang ke kamar sikelinci nakal itu," ucap Danisa tersenyum.


"Baiklah, Nyonya!" Bibi Hanna menjawab perkataan dari majikannya. Setelah itu, Bibi Hanna melanjutkan pekerjaannya.


^^^


Danisa sudah berada didepan pintu kamar putranya. Lalu pintu kamar itu pun dibuka olehnya.


Cklek!!


Danisa memasuki kamar tersebut. Dan dapat dilihat olehnya sebuah gundukan di tempat tidur. Terukir senyuman manis di bibirnya.


"Dasar tungkang tidur," batin Danisa.


Danisa mendekati ranjang putranya itu. Lalu berlahan menarik selimut yang menutupi tubuh putranya. Terlihat wajah tampan, manis putranya saat sedang tertidur.


"Tetaplah sehat sayang. Jangan pernah sakit," batin Danisa lalu tak lupa mengecup kening putranya itu.


"Hei, sayang. Bangunlah. Ini sudah pukul berapa? Apa Azka tidak kuliah hari ini, hum?" ucap Danisa yang sedang membangunkan Azka dan tangannya bermain di rambut putranya dengan lembut.


Azka sedikit terusik dalam tidurnya. "Aku masih mengantuk, Mom! Sepuluh menit lagi ya!!"


Danisa hanya tersenyum menanggapi tingkah putranya itu. "Ya, sudah. Mommy beri waktu sepuluh menit. Tidak boleh lebih. Berarti Azka harus bangun pukul setengah delapan dan sudah harus bersiap-siap ke kampus."


"Eeemm." Azka menjawab dengan mata yang masih terpejam.


Danisa geleng-geleng kepala melihatnya. "Dasar tukang tidur."


Setelah itu, Danisa pergi meninggalkan kamar putranya dan kembali menuju meja makan.


^^^


"Mana Azka, sayang?" tanya Dhava yang melihat kedatangan istrinya tanpa pangeran tampannya.


"Masih tidur. Katanya sepuluh menit lagi," jawab Danisa.


Mendengar jawaban dari istrinya membuat Dhava tersenyum. Begitu juga dengan Danisa.


"Bibi Hanna nanti tolong kamu siapkan semua kebutuhan Azka ya. Mungkin kami akan langsung berangkat dan tidak bisa menunggu Azka. Sebenarnya kami tidak tega pergi tanpa pamit padanya. Tapi bagaimana lagi? Semuanya tidak bisa dicancel dan waktu juga mepet," tutur Danisa.


"Baik, Nyonya!"


"Berikan catatan ini pada, Azka!" kata Danisa sambil memberikan sebuah kertas pada Bibi Hanna.


"Baik!"


Setelah selesai sarapan, Dhava dan Danisa pun pergi meninggalkan Mansionnya untuk menuju Bandara. Mereka akan pergi Ke Amerika untuk mengurus perusahaan disana selama sebulan.


Sepuluh menit setelah kepergian orang tuanya, Azka pun telah rapi dengan pakaian kampusnya. Dirinya segera keluar dari kamarnya dan turun ke bawah menuju meja makan.


Tap!!


Tap!!


Tap!!


Langkah kaki jenjangnya saat menuruni anak tangga. Bibi Hanna yang mendengar suara langkah seseorang segera menghampiri orang itu.


"Tuan muda Azka sudah mau berangkat ke kampus. Duduk dulu. Bibi sudah menyiapkan sarapan kesukaan tuan muda!"


Azka duduk di kursi dan Bibi Hanna melayaninya dengan mengambilnya makanan untuknya. "Bibi, biar aku saja!"


Bibi Hanna ini orang kepercayaan dari Danisa untuk mengurus semua yang dibutuhkan oleh Azka. Bisa dikatakan sebagai pengasuh Azka. Bibi Hanna ini sudah bekerja sejak Azka berusia sebelas tahun. Semenjak itulah Bibi Hanna ini ditugaskan untuk menjaga Azka.


"Papi sama Mami mana?" tanya Azka.


"Tuan dan Nyonya sudah berangkat ke bandara sepuluh menit yang lalu," Jawab Bibi Hanna.


Bibi Hanna yang melihat majikannya sedih menjadi tidak tega. "Tapi Nyonya menitipkan ini untuk tuan muda," ucap Bibi Hanna sambil menyerahkan sebuah kertas.


Azka mengambil kertas itu lalu membacanya.


To : Azka putra Mami yang tampan


Saat Azka baca ini. Papi sama Mami sudah ada di dalam pesawat. Papi dan Mami akan ke Amerika mengurus perusahaan disana. Karena ada masalah. Hanya sebulan. Papi dan Mami sangat menyayangimu. Maafkan Papi dan Mami yang selalu berpergian dan jarang di rumah. Sepulang dari Amerika, Papi dan Mami berjanji kita akan menghabiskan waktu bertiga selama sepekan tanpa ada yang mengganggu. Dan Azka yang akan menentukan semua tempat-tempatnya. Papi dan Mami sudah membicarakannya. Selama tidak ada Papi dan Mami, Azka harus baik-baik ya. Jangan telat makan, jangan sampai kelelahan, jangan tidur malam-malam dan jangan lupakan obatnya. OKEEE!!


Azka tersenyum saat membaca pesan dari ibunya. Dirinya bersyukur memiliki orang tua seperti mereka. Walau orang tuanya jarang di rumah. Kalau mereka punya waktu di rumah. Mereka akan menghabiskan waktu bersama dan memberikan perhatian lebih padanya. Dan tidak melupakan dirinya.


"Aku juga menyayangi kalian. Baik-baiklah disana," batin Azka.


"Aku sudah selesai. Kalau begitu aku langsung berangkat ke kampus, Bi!" pamit Azka.


"Baiklah. Hati-hati tuan muda."


***


Azka sudah sampai di kampus tepatnya sudah berada di parkiran. Azka memarkirkan motor sportnya. Setelah memarkirkan motornya, Azka langsung pergi menuju perpustakaan. Seperti biasa. Azka akan berada disana sebelum kelasnya dimulai.


Saat Azka sudah sampai di halaman kampus. Azka dihadang oleh kelompok Cobra dan kelompok Lion.


"Hei, Azka!" sinis Arga.


Azka hanya menatapnya datar. Dan kembali melangkah untuk menghindari perkelahian. Tapi dua kelompok tersebut tidak memberikan jalan untuk Azka.


"Mau apa kalian? Aku tidak punya urusan dengan kalian," ucap Azka.


"Tapi kami yang ingin berurusan denganmu!" sergah Carloz


"Gila!!" ucap Azka sinis plus senyuman seringainya.


"Apa yang kau katakan, huh?!" bentak David.


"KALIAN SEMUA ITU GILA!" jawab Azka mengulangi perkataannya.


"Brengsek!" bentak Arga lalu melayangkan pukulan kewajah Azka. Dan dengan sigap Azka menangkis pukulan tersebut.


Azka menahan tangan Arga dengan kuat. Mereka saling tatap. Tatapan yang begitu tajam. Juan diam-diam ingin menyerang Azka. Saat Juan ingin memberikan tendangan pada Azka. Azka sudah terlebih dahulu memberikan tendangan keras pada Juan.


Duagh!!


Alhasilnya membuat Juan tersungkur.


"Juan!" teriak mereka semua.


"Dasar pengecut. Berani menyerang diam-diam," ucap Azka meremehkan.


"Sialan kau, Azka. Serang!" teriak Andez.


Bugh!! Bugh!!


Duagh!!


Pukulan dan tendangan dari Azka membuat Yolly dan Zelig tersungkur.


Duagh!!


Satu tendangan keras tepat diperut Miko sehingga membuat Miko memuntahkan darah.


"Uuhuukk! Huueekk!"


^^^


Ditempat lain, Kelompok Brainer sedang berada di kantin. Mereka tengah menikmati makanan yang telah dipesan. Dan sekali-kali mereka saling melemparkan lelucon.


"Bagaimana keadaan Azka saat ini ya?" tanya Fahry disela-sela makannya.


"Iya ya! Kita dari tadi belum melihat kehadirannya di kampus. Apa Azka masih sakit?" ucap dan tanya Alman.


"Atau Azka nya lagi di perpustakaan. Biasanya kan dia selalu disana," sela Attala.


Saat mereka tengah membahas tentang Azka. Mereka mendengar mahasiswa dan mahasiswi sedang menyebut-nyebut nama Azka. Lalu Randy dan Deva menghampiri mahasiswa dan mahasiswi tersebut.


"Maaf. Barusan kami mendengar kalian menyebut nama Azka. Memang ada apa?" tanya Deva.


"Begini kak. Di halaman kampus ada perkelahian. Perkelahiannya tidak adil. Kelompok COBRA itu mengeroyok Azka yang hanya sendirian," jawab pemuda itu.


"Apa?!" teriak Randy dan Deva.


"Hei, kalian. Azka dikeroyok oleh kelompok COBRA. Ayo kita tolong Azka" teriak Randy. Lalu mereka semua berlari menuju halaman kampus.


^^^


"Cih. Beraninya keroyokkan. Dasar pengecut. Kalau berani lawan aku satu persatu," ejek Azka.


"Tidak usah banyak omong. Bilang saja kau takut, huh!" bentak Nicky.


"Takut! Cuih! Tidak ada kata takut dalam kamusku. Kalian hanya seekor sampah yang tak layak pakai," balas Azka.


"Sialan kau, Azka!" teriak Nicky lalu kembali menyerang Azka.


Nicky memberikan pukulan pada Azka. Dengan gesitnya Azka terlebih dahulu memberikan tendangan pada perut Nicky.


Duagh!!


"Aakkhh!" Nicky tersungkur dengan posisi perutnya yang terlebih dahulu mendarat di tanah.


Arga memberikan pukulan dengan gesitnya Azka berhasil menghindar.


Duagh!!


Azka membalas dengan memberikan tendangan pada pinggang kiri Arga dan Arga meringis kesakitan.


Samuel dan Herry menyerang bersamaan. Tapi Azka lagi-lagi berhasil menghindar.


Bugh!!


Duagh!!


Samuel terkena pukulan keras pada wajahnya dan mengakibatkan sudut bibirnya sobek. Sedangkan Herry mendapatkan tendangan bagian perutnya dan mengakibatkan rasa ngilu di perutnya.


Jecky melihat Azka sedang berdiri menatap dua temannya yang tersungkur. Dan dirinya tidak membuang kesempatan ini untuk menyerang Azka. Jecky menendang keras Azka dari belakang.


Duagh!!


"Aakkhh!" Azka merasakan sakit bagian punggungnya.


"Brengsek. Dasar pengecut. Beraninya menyerangku dari belakang. Dasar sampah," umpat Azka yang berusaha menahan sakitnya.


Tidak membuang-buang kesempatan. Mereka menghajar Azka habis-habisan.


Duagh!!


"Aakkhh!! Sia-lan... Breng-sek!" lirih Azka saat mendapatkan tendangan keras dari Carloz.


"Hahahaha!" Mereka tertawa meremehkan.


Juan dan David memberikan pukulan dan tendangan mereka pada Azka. Tapi Randy dan Deva datang dan langsung memberikan tendangan keras mereka.


Duagh!!


Duagh!!


Bruukk..


Juan dan David jatuh tersungkur. Sedangkan Azka pingsan


"Dasar payah. Beraninya main keroyokan. Itu tidak adil namanya. Apalagi keadaan musuh yang tidak berdaya," ejek Deva.


"Jangan ikut campur urusan kami!" bentak Arga.


"Kami tidak akan ikut campur, asal lawan kalian itu bukan Azka. Tapi dikarenakan lawan kalian itu Azka. Makanya kami ikut campur dan masuk dalam permainan kalian," jawab Randy.


"Ayo kita pergi dari sini," ajak Arga dan mereka pun pergi meninggalkan kelompok Brainer.


"Azka!" teriak mereka saat melihat Azka yang tak sadarkan diri.


"Kita bawa Azka ke markas saja," usul Aarav.


"Angkat Azka dan naikkan ke punggungku," ucap Alfan.


Setelah Azka berada diatas punggung Alfan. Mereka pun membawa Azka ke Markas milik mereka.