Missing The Youngest

Missing The Youngest
BAB 31



Setelah mendengar semua penjelasan dari para saudara-saudaranya Azka. Mereka semua seketika diam. Mereka saat ini tengah berusaha memikirkan masalah yang dihadapi Azka. Mereka juga memikirkan tentang kondisi kesehatan Azka.


Disaat semuanya terdiam dengan pikiran masing-masing, tiba-tiba Arga bersuara hingga membuat mereka semua terkejut saat mendengar suara Arga.


"Jangan-jangan..." perkataan Arga terhenti.


Mereka semua menatap kearah Arga. Mereka penasaran apa yang akan dikatakan oleh Arga.


"Jangan-jangan apa, Arga?" tanya Varo.


Arga menatap satu persatu wajah para saudara-saudara Azka dan kelompok BRAINER.


"Jangan-jangan Azka akan pergi meninggalkan Paman Dhava dan juga keluarga Adhinatha ketika Bibi Danisa kembali!" seru Arga.


DEG..


Mereka semua terkejut saat mendengar penuturan dari Arga.


"Tidak mungkin Azka akan pergi meninggalkan Paman Dhava dan Bibi Danisa. Bagaimana pun Azka sangat menyayangi mereka." Harris menatap tak suka Arga.


"Kau jangan bicara sembarangan Arga!" bentak Andrew.


"Drew, tenanglah! Tidak perlu pakai emosi." Fahri langsung menenangkan Andrew.


"Bagaimana bisa aku tenang jika Arga berbicara seperti itu tentang Azka!" Andrew menatap tajam kearah Arga.


Ketika Harris ingin menyerang Arga. Leon sudah terlebih dahulu bertindak.


"Jangan ikut-ikutan seperti Andre, Harris! Diam dan jangan memperkeruh keadaan!"


Arga menatap tajam kearah Andrew dan Harris. "Kenapa kalian berdua terlalu sensi saat aku mengatakan bahwa Azka akan pergi meninggalkan keluarga Adhinatha, hah?! Apa kalian masih menganggap bahwa aku masih membenci Azka?!" bentak Arga.


Mendengar bentakan dari Arga. Baik Andrew, Harris maupun yang lainnya seketika diam.


"Kakak Arga!" David dan Samuel berusaha untuk menenangkan emosi Arga.


"Aku tahu aku pernah berbuat jahat pada Azka. Tapi itu dulu. Dan sekarang aku benar-benar menyayanginya. Apa aku tidak layak dan tidak pantas untuk menjadi orang baik?" ucap dan tanya Arga.


"Kalian menyebutku penjahat. Lalu bagaimana dengan kalian, hah?!" bentak Arga sembari menunjuk kearah Andrew, Harris, Diaz dan Zayan.


"Apa bedanya aku dengan kalian? Jika kalian sayang dengan Azka, maka kalian tidak akan pergi meninggalkan Azka untuk kuliah diluar negeri sehingga Azka tidak akan tersakiti disini. Dibandingkan aku, hubungan kalian itu sudah sangat dekat. Sudah layaknya seperti kakak adik kandung. Kemana-mana selalu bersama. Namun pada akhirnya sama saja, kalian tetap menyakitinya. Sementara aku! Aku memang tidak pernah menyukai Azka saat pertama kali bertemu. Tapi berlahan aku sadar. Aku salah dan tidak seharusnya aku membenci Azka!" Arga berteriak tepat di hadapan Andrew, Harris, Diaz dan Zayan.


"Kak Arga, sudahlah. Tahan emosimu. Mereka mungkin salah paham akan perkataanmu saat mengatakan bahwa Azka akan pergi meninggalkan keluarga Adhinatha." David mengatakan hal itu agar Arga bisa tenang.


Setelah kemarahan Arga, tidak ada lagi yang bersuara. Mereka semua terdiam dengan pikiran masing-masing.


"Aku mengerti maksud dari perkataan kakak Arga." Tiba-tiba Aryan bersuara.


Mendengar ucapan dari Aryan, mereka semua melihat kearah Aryan.


"Aku juga berpikiran sama seperti kak Arga kalau Azka bakal ninggalin keluarga Adhinatha ketika Bibi Danisa kembali." Aryan menatap ke bawah dengan pikiran yang memikirkan adiknya.


"Aryan Sadana Hanendra!" bentak Andrew.


"Andrew Barnaby/kak Andrew!" bentak kelompok BRAINER, termasuk saudara sepupunya Aryan dan Nayazka.


"Kau tidak tahu apa-apa masalah malam itu, tuan Andrew! Masalah penelpon dan juga isi pesan itu." Randy menatap tajam kearah Andrew.


"Hanya kami yang tahu maksud dari perkataan Arga dan Aryan." Alfan juga tak kalah menatap tajam Andrew.


Kini Attala yang menatap wajah Andrew. "Kau tahu, Tuan Andrew. Saat ini orang yang menelepon dan mengirim pesan pada Azka sedang menunggu keputusan dari Azka. Dan kau pasti mengerti keputusan apa yang diminta oleh orang itu!"


Hening..


DEG..


Mereka semua terkejut saat mendengar ucapan dari Arga. Memang benar apa yang dikatakan oleh Arga. Jika orang itu menunggu keputusan Azka untuk bersedia pergi meninggalkan keluarga Adhinatha.


"Tapi bagaimana bisa kalian menyimpulkan jika hal itu yang menjadi keputusan Azka?" tanya Andrew.


"Karena Azka sendiri yang membahas masalah itu di depan kami semua, Andrew!" teriak Alfan.


"Azka menangis saat mengatakan hal itu di depan Paman Dhava. Azka bertanya pada Paman Dhava, jika Bibi Danisa kembali lalu Azka yang pergi. Apakah Paman Dhava akan tetap menyayanginya? Apa Paman Dhava akan membencinya? Saat mendengar jawaban dari Paman Dhava, Azka sedikit lega. Dari situlah kenapa Arga dan Aryan mengatakan bahwa Azka akan pergi meninggalkan keluarga Adhinatha." Alman menjelaskan tentang kejadian malam itu di rumah Azka.


Mendengar ucapan demi ucapan dari para saudara-saudara kandung Azka. Andrew, Harris, Diaz dan Zayan terdiam. Mereka menyesal telah salah paham kepada Arga dan Aryan, terutama Andrew dan Harris.


Ketika mereka semua sedang memikirkan Azka, tiba-tiba terdengar suara ponsel yang berbunyi.


"Itu ponsel siapa?" tanya Allan.


"Aryan, Itu ponselmu." Pandy yang duduk di samping Aryan memberitahu jika ponselnya berbunyi


Aryan langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Ketika ponselnya sudah berada di tangannya dan melihat nama 'Mami' di layar ponselnya. Aryan pun langsung menjawab panggilan dari ibunya itu.


"Hallo, Mami."


"Hallo, Aryan. Bisa kau pulang sayang."


"Ada apa, Mi? Mami baik-baik saja kan? Tidak terjadi sesuatu pada Mami dan yang lainnya kan?"


Sementara yang lainnya masih terus memperhatikan Aryan yang sedang berbicara dengan sang ibu di telepon.


"Semuanya baik-baik saja sayang. Mami menelepon kamu dan menyuruh kamu pulang karena disini ada Nayazka."


Mendengar nama adiknya disebut, mata Aryan seketika membelalak. Sementara yang lain sudah mulai khawatir dan takut.


"Yan, ada apa?" tanya Randy.


"A-apa? Nayazka ada di rumah sekarang? Bukannya seharusnya Nayazka kuliah?"


"Sudah, jangan banyak bicara dan jangan banyak pertanyaan. Sekarang pulanglah! Sepertinya Nayazka lagi banyak pikiran."


"Baik, Mi! Sekarang siapa saja yang ada di rumah?"


"Hanya Mami dan Nayazka."


"Ya, sudah! Aku pulang sekarang."


Setelah mengatakan hal itu, Aryan langsung mematikan panggilan tersebut. Lalu Aryan langsung beranjak dari duduknya.


"Kakak, aku mau pulang. Nayazka ada di rumah sekarang!" Aryan memberitahu para kakak-kakaknya tentang keberadaan Azka.


Mendengar ucapan dari Aryan, mereka semua terkejut.


"Kami juga ikut pulang!" seru Alfan, Randy, Attala, Alman dan Pandy bersamaan.


"Izinkan kami ikut ke rumah kalian!" Arga berseru.


"Hm." Aryan, Alfan, Randy, Attala, Alman dan Pandy mengangguk bersamaan.


Setelah itu, mereka semua pun pergi meninggalkan kampus untuk menuju kediaman Keluarga Hanendra.


Mereka semua pergi meninggalkan kampus dengan hati dan pikiran yang khawatir dan juga takut. Takut akan kesehatan Azka menurun karena terlalu banyak pikiran.