Missing The Youngest

Missing The Youngest
BAB 21



[KEDIAMAN DHAVA]


Satu minggu kemudian


Setelah satu minggu lebih dirawat di rumah sakit. Dhava dinyatakan sembuh dan telah diizinkan pulang ke rumah. Hal itu membuat seluruh anggota keluarganya Adhinatha tampak bahagia, terutama Azka. Dirinya yang paling bahagia atas kesembuhan dan kepulangan sang Ayah. Azka sangat-sangat bahagia akan kesembuhan sang Ayah.


Walau sang Ayah sudah dinyatakan sembuh, tapi dirinya masih belum diizinkan oleh anggota keluarganya untuk melakukan aktivitasnya seperti biasanya. Apalagi Azka. Dirinya yang paling menentang keras sang Ayah untuk bekerja.


^^^


[Ruang Tengah]


Saat ini mereka bersantai di ruang tengah. Termasuk para saudara-saudara dan keponakannya Dhava. Azka jangan ditanyakan lagi. Dirinya menempel terus pada Ayahnya.


"Aku senang akhirnya Daddy sembuh dan bisa pulang lagi ke rumah," ucap Azka.


Dhava mengelus lembut rambut putranya itu lalu mengecup kepalanya. "Daddy juga bahagia sayang. Daddy bahagia bisa pulang ke rumah. Terima kasih Azka sudah merawat Daddy selama di rumah sakit."


"Hmm!" jawab Azka.


Semuanya tersenyum gemas melihat Azka. Apalagi saat ini yang sedang memeluk Ayahnya. Dan diam-diam, Arga Melvin Adhinatha juga ikut tersenyum melihat Azka.


"Ternyata kalau diperhatikan. Wajahnya yang begitu manis, cantik dan imut. Dia benar-benar pemuda yang baik dan juga tulus menyayangi Paman Dhava. Aku benar-benar menyesal selama ini telah memusuhinya," batin Arga.


Leroy Melvin Adhinatha sang Ayah yang menyadari bahwa putranya Arga sedang menatap Azka keponakannya lalu menepuk pelan bahu putranya itu.


PUK!!


Hal itu sukses membuat Arga terkejut. "Papi!"


Leroy hanya tersenyum menanggapi keterkejutan putra bungsunya itu.


"Kenapa kau menatap Azka seperti itu?" tanya Leroy.


"Aku kagum saja padanya," jawab Arga.


"Kagum atau kau sudah mulai menerimanya dan menyayanginya sebagai adikmu?" tanya Leroy sembari menggoda putranya.


Hening!!


Arga tidak langsung menjawab pertanyaan dari ayahnya itu.


"Papi mengerti. Kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Tapi Papi sangat yakin. Disaat kau mulai menerimanya dan menyayangi Azka. Kau akan tahu sifat asli Azka seperti apa. Disaat kau sudah mengetahui sifatnya, kau tidak akan pernah menyesalinya karena sudah menyayanginya. Bahkan kau akan lebih menyayanginya," ucap Leroy.


***


Keesokkan paginya Azka dan ayahnya Dhava sudah dimeja makan. Mereka akan sarapan pagi bersama.


"Daddy makan yang banyak ya," ucap Azka sembari mengambil sepotong lauk dan meletakkan piring sang Ayah.


"Iya, sayang. Azka juga harus banyak makan, oke! Daddy tidak mau Azka sakit."


"Hm." Azka mengangguk.


"Oh iya sayang! Bagaimana kabar pencarian Mommy?"


"Terakhir aku bertanya pada Paman Ariel, katanya belum menemukan keberadaan Mommy. Begitu juga dengan Paman Riyan. Paman Riyan juga menyuruh beberapa orang-orangnya untuk mencari Mommy. Bahkan Paman Devon, Paman Darius dan Paman Austin juga ikut mengirim beberapa orang untuk mencari Mommy. Jadi Daddy tenang aja ya. Daddy fokus ama kesehatan Daddy saja."


Dhava tersenyum hangat mendengar penuturan dari Azka putra kesayangannya itu. Dirinya benar-benar bangga padanya. Selama dirinya tidak sadarkan diri, putranya sudah melakukan yang terbaik untuknya dan istrinya. Dirinya berjanji. Jika suatu saat keluarga kandungnya datang dan ingin mengambilnya, dirinya tidak akan pernah melarangnya atau memaksa Azka untuk tetap tinggal bersamanya. Dirinya ingin yang terbaik untuk putranya. Dirinya ingin putranya bahagia. Jadi semua keputusan ada ditangan putranya. Apapun yang diputuskan oleh putranya, dirinya akan menghormatinya.


"Daddy," langgil Azka saat melihatnya melamun.


"Ach, iya! Ada apa sayang??"


"Daddy kenapa? Apa ada yang sakit? Kenapa sarapan tidak Daddy habiskan?"


"Tidak sayang. Daddy tidak apa-apa. Daddy sudah kenyang hanya menatap wajah tampan putra Daddy," jawab Dhava sembari menggoda Azka.


"Aish, Dad! Jangan lebay dech. Mana ada hanya dengan menatap seseorang perut kita jadi kenyang. Sekarang Daddy habiskan sarapannya. Atau aku akan marah pada Daddy."


"Baiklah.. Baiklah!" Dhava akhirnya pasrah dan kembali melanjutkan memakan sarapannya. Azka yang melihatnya pun tersenyum kemenangan.


***


[KEDIAMAN BAGAS]


[Ruang Tengah]


Karina, Bagas dan ketiga putra mereka sedang duduk bersama di ruang tengah. Setelah sarapan pagi mereka menyempatkan waktu sebentar berkumpul disana sebelum pergi ketempat tujuan mereka masing-masing, seperti pergi ke Kampus dan pergi ke Perusahaan.


"Aryan," panggil Bagas.


"Ya, Pi!"


"Apa sudah ada kabar dari Nayazka?"


"Sudah, Pi! Dan sekarang Nayazka sudah kembali pulang ke rumahnya. Dan Paman Levi, ayah angkatnya Nayazka sudah keluar dari rumah sakit."


"Memang beberapa hari ini Nayazka berada dimana?" tanya Farraz.


"Tangerang," jawab Aryan.


Flashback On


"Terima kasih."


"Kalau begitu saya permisi."


Chanyeol membuka pintu kamar Azka. Setelah pintu kamar tersebut terbuka. Mereka semua melangkah masuk. Dapat mereka lihat Azka yang sedang tertidur ditempat tidur dengan posisi membelakangi mereka semua. Mereka pun menghampiri Azka.


Aryan langsung naik keatas tempat tidur. Tangannya berlahan membelai rambut Azka adik yang dia rindukan selama ini. Saat tangannya menyentuh kening Azka. Aryan tiba-tiba terkejut.


"Astaga. Badannya Azka panas sekali!"


Aryan membalikkan tubuh Azka agar dirinya bisa melihat wajah sang adik. Hati Aryan benar-benar sakit dan sesak saat melihat wajah pucat Azka.


"Aka.. Hiks.."


Alfan, Randy, Attala, Alman, dan Pandy menghampiri Aryan. Mereka berusaha menghibur Aryan.


"Yan. Lebih baik kita bawa Aka ke rumah sakit. Aka butuh perawatan."


"Angkat Azka ke punggungku."


Andrew dibantu oleh Alman mengangkat tubuh Azka dan meletakkan di atas punggung Alfan. Setelah itu mereka pun pergi meninggalkan hotel tersebut menuju rumah sakit yang ada di Tangerang.


Flashback Off


"Lalu bagaimana keadaan adikmu sekarang, Aryan?" tanya Karina.


"Saat kami membawanya pulang ke Jakarta. Kondisi Nayazka masih lemah. Mungkin saat ini kondisi Nayazka sudah membaik karena Paman Dhava, ayah angkatnya sudah sembuh dan sudah pulang ke rumah." Aryan menjawab dengan nada sedih.


"Yang sabar ya, Yan! Kakak tahu perasaanmu saat ini. Apalagi kalian berdua satu Kampus. Pasti hatimu sedih saat Nayazka mengabaikanmu," hibur Kaivan.


"Pasti kak. Aku akan bersabar sampai Nayazka memanggilku dengan sebutan kakak Ayan."


Mereka tersenyum mendengar penuturan dari Aryan. Di dalam hati mereka masing-masing, mereka juga sangat merindukan kelinci manis mereka. Mereka merindukan teriakannya, merindukan kejahilannya, merindukan ejekkannya dan sifat-sifatnya yang lainnya.


***


[KAMPUS]


Saat ini Azka berada di halaman depan kampus. Dirinya duduk sendiri disana. Tubuhnya ada di kampus, tapi pikiran melayang entah kemana. Kilasan-kilasan masa lalu berputar-putar di kepalanya.


[Bibi kesini mau menjemputmu]


[Menjemputku? Tapikan yang akan menjemputku adalah kak Kaivan]


[Nanti bibi jelaskan semuanya di mobil. Sekarang Aka masuk dulu ke dalam mobil]


Nayazka menurut dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil milik sang bibi.


[Sekarang katakan padaku, Bi! Kenapa bibi yang menjemputku?]


[Bagaimana ya?? Bibi bingung harus mulai dari mana. Ini sebuah Rahasia besar keluarga dan tidak boleh dibeberkan. Termasuk padamu, Aka! Karena ini akan membuatmu terluka dan sakit hati]


[Maafkan bibi, sayang]


[Katakan, Bi! Aku siap dan aku akan menerima apapun yang terjadi]


[Kau.. Kau bukan putra kandung dari keluarga Kim. Mereka menjaga dan merawatnya selama ini, hanya untuk menepati janji mereka pada orang tua kandungmu]


[Disaat usiamu dua puluh tahun, mereka akan mengembalikanmu pada keluargamu. Karena keluargamu akan datang menjemputmu. Mereka adalah Paman dan Bibimu, adik dari ibu kandungmu]


[Bibi sempat mendengar pembicaraan mereka. Bibi dengar semuanya kalau mereka tidak benar-benar sayang padamu. Mereka melakukan itu semua padamu karena janji mereka saja, tidak lebih dari itu]


[Dan satu hal yang harus Aka tahu. Kedua orang tua Aka sudah meninggal. Dan keluarga Hanendra sudah mengetahuinya. Tapi mereka tak peduli akan hal itu. Mereka tetap pada perjanjian awal. Mereka harus mengembalikanmu pada orang tua kandungmu]


[Turunkan aku disini!]


[Tapi ini tempat sepi, sayang!]


[Aku bilang turunkan aku disini]


"Kenapa kalian lakukan ini padaku? Kenapa kalian membohongiku? Apa tujuan kalian sebenarnya?" Tanpa sadar air matanya mengalir membasahi wajah tampannya.


[Mami merindukanmu sayang]


[Sungguh. Mami benar-benar merindukanmu. Tidak pernah sedikit pun Mami melupakanmu]


Karin melepaskan pelukannya dan menatap wajah tampan putra bungsunya itu. Tangannya bergerak menghapus air matanya dan memberikan ciuman yang bertubi-tubi di wajah putranya itu.


[Cup.. Cup.. Cup]


Karina kembali memeluk putranya


[Aka sayang]


[Papi merindukanmu sayang. Aka kemana saja selama ini? Semenjak kami kehilanganmu. Hidup kami benar-benar jauh dari kata bahagia. Kami selalu memikirkanmu, merindukanmu]


Bagas melepaskan pelukannya dan menatap wajah tampan putra bungsunya.


[Kau tampan sekali sayang. CUP]


Bagas mencium kening putra bungsunya.