Missing The Youngest

Missing The Youngest
BAB 13



Aryan dan kelima saudara sepupunya memutuskan untuk mengikuti Azka. Mereka tidak mau terjadi sesuatu pada Azka. Sedangkan yang lainnya masih di kampus.


Andrew, Diaz, Harris dan Zayan menatap tajam kearah Arga. Kemudian mereka berjalan mendekati Arga.


BUGH!!


Diaz meninju rahang Arga tidak tanggung-tanggung sehingga membuat Arga mengerang kesakitan.


"Aaakkhhh!"


"Puas kau, huh?! Puas kau sudah membongkar semuanya? Dimana otakmu? Apa kau tidak memakai otakmu sebelum berbicara? Apa kau tidak memikirkan perasaan Paman Dhava? Kalau sampai Paman Dhava mengetahui masalah ini, dia pasti akan sedih. Kau tahukan? Bibi Danisa belum ditemukan sampai detik ini. Paman Dhava koma dirumah sakit. Hanya Azka... Hanya Azka yang dimiliki Paman Dhava saat ini. Azka adalah penyemangat untuk Paman Dhava. Dan sekarang kau membongkar semuanya dan kau menyuruh Azka untuk pergi dari keluarga Adhinatha. Dimana otakmu, Arga Zahir Adhinatha!" teriak Diaz dan teriakan serta ucapan didengar oleh seluruh penghuni kampus.


"Kau bilang kau menyayangi Paman Dhava dan Bibi Danisa. Tapi apa yang sudah kau lakukan sekarang? Kau sudah merebut kebahagiaan mereka. Kebahagiaan mereka adalah Azka. Azka Ahza Adhinatha!" bentak Andrew.


"Paman Dhava dan Bibi Danisa sangat menyayangi Azka. Mereka memanjakan Azka dan tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya. Karena Azka itu adalah putra kesayangan mereka. Tapi kau malah menghancurkannya disaat kita semua masih dalam keadaan sedih dan terluka. Dikarenakan kondisi Paman Dhava masih koma dan Bibi Danisa belum ditemukan. Sekarang kau menyuruh Azka pergi," ucap Harris emosi.


"Bersiap-siaplah kau menerima amarah dari Paman Adelard. Kau tahukan sifat Pamanmu yang satu itu," kata Rayan.


Setelah mengatakan hal itu pada Arga. Andrew dan yang lain pergi meninggalkan kampus. Mereka ingin menyusul Azka. Lebih tepatnya mencari Azka.


***


[TAMAN KOTA]


Azka saat ini sedang duduk di sebuah bangku yang ada di sekitar Taman tersebut. Air matanya tak henti-hentinya keluar. Tanpa Azka sadari ada enam pasang mata yang sedang mengawasinya dan siap mendengar semua keluh kesahnya.


"Hiks.. Kenapa Tuhan? Kenapa nasibku seperti ini? Kenapa kau tidak membiarkan aku hidup bahagia? Kenapa kau membuatku harus mengingat masa laluku yang ingin aku lupakan? Hiks.. Kenapa kau tidak membiarkanku menjadi seorang Azka saja selamanya? Kenapa kau tidak membuatku menjadi putra dari keluarga Adhinatha yang sesungguhnya? Apa salahku Tuhan?" ucap Azka sembari menangis terisak.


"Masa lalu? Apa Azka punya masa lalu yang sangat suram? Sehingga Azka ingin melupakan masa lalunya?" batin Aryan, Alfan, Randy, Attala, Alman dan Pandy.


"Aku seperti barang yang diopor dari satu tempat ke tempat yang lain. Awalnya aku tinggal dikeluarga Hanendra. Dan berakhir dikeluarga Adhinatha. Aku pikir mereka keluarga kandungku. Tapi dugaanku salah. Lagi-lagi aku harus merasakan sakit untuk yang kedua kalinya."


"Tapi.. tapi.. Hiks!! Aku sangat merindukan mereka. Bagaimana kabar mereka sekarang? Apa mereka masih ingat denganku? Apa mereka masih peduli padaku? Papi, Mami, kakak. Kalian dimana? Apa kalian pernah mencariku?"


DEG!!


"Kenapa Azka bicara seperti itu?" batin Randy


"Apa dia.....??" batin Aryan.


"Kakak Ayas, kakak Ivan, kakak Ayan. Aku merindukan kalian. Apa kalian disana juga sama sepertiku?"


Aryab sudah tidak bisa menahan kesedihannya. Tubuhnya jatuh lemah di tanah saat mendengar apa yang diucapkan Azka.


"Aryan." Alfan memeluk tubuh Aryan.


"Kak Alfan. Apa Azka itu Aka? Aku yakin dia Aka adikku, kak! Kak Ayas, Kak Ivan, Ayan. Semua nama-nama itu panggilan dari Aka karena saat itu Aka tidak bisa memanggil kami secara lengkap. Tidak mungkin Azka yang orang lain bisa mengetahuinya," ucap Aryan yang sudah berlinang air mata.


"Aku benar-benar merindukan kalian. Kak Afan, bagaimana kabarmu? Apa kau merindukanku kak? Kak Andy. Apa kau masih tetap sama seperti dulu? Apa tinggi badanmu bertambah? Atau masih bantet seperti dulu?"


"Sialan kau Azka. Tidak Aka. Tidak Azka. Sama saja. Kau tidak pernah berubah. Masih saja mengataiku," kesal Pandy.


Sedangkan Alfan, Randy, Attala dan Alman seketika tertawa. Aryan yang sedih pun ikut tertawa.


"Aku yakin 100% Azka adalah Nayazka. Nayazka Sadana Hanendra. Adik kita!" seru Randy.


"Beruang kutub. Si wajah pucat. Berhati Es. Apa hatimu masih beku seperti dulu, kak? Apa cara bicaramu masih pedas seperti sambal? Kalau kakak masih sama seperti dulu, semoga saja tidak ada perempuan yang suka padamu. kak!! Kak Randy, aku merindukanmu."


"Dasar kelinci nakal sialan. Beraninya dia mengataiku seperti itu," kesal Randy.


"Diantara kita, memang Aka yang berani padamu, Ran! Jadi terima saja dan jangan mengeluh," ejek Alfan.


"Aka. Kakak juga merindukanmu," balas Randy.


"Kuda hitam, tengil. Apa kau masih seperti dulu? Joget sambil jingkrak-jikrak, nyanyi teriak-teriak tak jelas seperti orang gila. Aku harap kau sudah tidak seperti dulu lagi ya. Bertobatlah sebelum terlambat. Kak Talla. Apa kau merindukanku? Aku rindu bermain denganmu kakak."


"Wah. Benar-benar nih bocah. Minta disabit. Pertama Pandy, kedua kak Randy. Sekarang aku. Dasar mulutnya benar-benar pedas," kesal Attala saat mendengar ucapan Azka.


"Azka itu kak Randy yang kedua setelah kak Randy," ucap Alman.


"Eemm. Apa wajah Ayan sudah berubah ya?? Dulukan kak Ayan wajahnya jelek sekali, mirip alien. Tapi sekarang, bagaimana ya wajahnya?? Apa kak Ayan ku tampan? Hiks... kakak. Kak Ayan. Aku merindukanmu. Bagaimana kabar kakak?"


Aryan sudah terisak mendengar penuturan Azka. Dia sangat merindukan umpatan dan ejekan dari adiknya itu. "Kakak juga merindukanmu, sayang!" lirih Aryan.


"Kak Al. Kakakku yang paling bijak dan perhatian. Apa kakak merindukanku? Aku merindukan semua kata-kata bijakmu. Aku merindukan senyumanmu. Aku merindukan pelukanmu kakak."


"Aka, kakak juga merindukanmu." Alman berucap lirih.


"Aku merindukan kalian. Apa kalian tahu itu, huh?! Aku yakin kalian tidak pernah merindukanku sama sekali. Aku yakin kalian semua sudah melupakanku. Pasti saat ini hidup kalian bahagia tanpa aku? Karena aku pergi dari kehidupan kalian. Itukan yang kalian inginkan selama ini. Iya kan?! Aku membenci kalian semua. Aku membenci kalian. Kalian semua hanya masa laluku!" teriak Azka.


Setelah puas duduk di Taman Kota. Dan puas meluapkan semua kesedihan, kekecewaan dan rasa sesak di hatinya. Azka pun memutuskan beranjak dari sana.


Saat baru beberapa langkah, tubuhnya oleng. Dan rasa sakit di kepalanya kambuh lagi.


"Aakkhhh!" Azka meremas rambutnya. "Sa-sakit sekali. Bi-bi Hanna."


BRUKK!!


"Azka!" teriak Alfan, Randy, Attala, Alman, Pandy dan Aryan. Mereka pun keluar dari persembunyian dan menghampiri Azka.


"Kita bawa pulang ke rumah saja, kak!" seru Aryan.


Mereka semua mengangguk. Mereka pun segera mengangkat tubuh Aza dan membawanya ke mobil.